Virus Corona dan Jejak Sejarah Sakit "Grubug" di Bali dan Indonesia (1). Potret seorang anak disuntik vaksin cacar tahun 1941. Di tahun 1871, sebaran wabah cacar meluas di Hindia Belanda. Jawa, Ternate, Ambon, dan Bali jadi wilayah yang terdampak paling parah. Di Bali, misalnya, di mana 18 ribu orang dilaporkan meninggal akibat cacar. Catatan tersebut jadi modal penting bagi penanganan cacar kala itu, sebelum akhirnya Belanda membawa vaksin untuk disebar ke pelosok negeri. Ketika terjadinya wabah cacar Pemerintah Hindia Belanda memproduksi vaksinisasi yang diproduksi langsung dari Pusat Pengendalian Wabah di Jenewa, Swiss untuk kemudian dikirimkan ke Batavia melalui Kapal Elisabeth. Sebelum sampai ke Hindia Belanda vaksin ‘impor’ tersebut singgah ke beberapa tempat seperti Basra Irak, India, ke Pulau Isle de France, hingga sampai ke Batavia. Begitu sampai di Hindia Belanda kemudian vaksin segera didistribusikan ke beberapa wilayah Jawa diantaranya Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Jepara dan juga ke wilayah timur sebagai wilayah yang terdampak parah dari penyebaran wabah cacar. Adanya vaksin jadi angin segar bagi pemerintah Hindia Belanda zaman itu. Jean Gelman Taylor, dalam buku Kehidupan Sosial di Batavia menjelaskan bagaimana imunisasi jadi perlawanan terhadap pengobatan kuno berbau mistik yang sebelumnya banyak dilakukan masyarakat lokal dalam memerangi penyakit cacar. Hasilnya adalah ketika tahun 1941 penurunan wabah cacar semakin mengalami penurunan yang sangat drastis hingga mencapai 0% kasus yang terinfeksi cacar. 📸 Nationaal Archief Via @sejarahbali . Yuk Follow‼️@karangasemnow_official Support Us ❤Like 🗣️Coment 📢Share . #karangasemnow_official #sejarah #grubug #bali #pandemic https://www.instagram.com/p/CEVWMyJB7A6/?igshid=1rkdu8qmbva97











