Riak-riak hujan menenangkan siang ini. Basah, bau tanah menyergap. Di depan supermarket aku berdiri menikmati hujan, seorang anak perempuan mendekatiku sambil berkata, "anak yatim kak". Dengan suara yang memelas dan mata yang mengisyaratkan, lihatlah kemari, ke jari yang tak sempurna, tangan sebelah kiri tidak ada ibu jari, tangan sebelah kanan memiliki ibu jari cacat. Pakaiannya rapi tak bernoda, ia tahu bagaimana terlihat layak. Dek, siapa yang mengajarimu meminta? Kataku pelan-pelan dalam hati. Riak hujan semakin ramai, semakin ramai pula anak-anak kecil bermain hujan sembari membawa payung lebar, 'ojek payung' itu biasa disebut. Tak hanya menawarkan payung untuk dipinjami tapi menawarkan tenaga untuk membawa belanjaan menuju mobil masing-masing konsumen supermarket. Masih muda, tak terlihat malu, bersemangat, sehat wal'afiat, baju basah bahkan ada yang tak memakai alas kaki tapi senyum masih lebar untuk para calon konsumennya. Dek, siapa yang mengajarimu bekerja? Hujan berkurang derasnya, di pertengahan jalan di rimbunan taman penghijauan ada seorang pemuda sedang menghitung recehan, berbagi dengan teman di sampingnya. Payung lebarnya hanya memayungi dirinya sendiri, tampaknya teman di sampingnya tak mempermasalahkan hujan membasahi, ia lebih tertarik pada hitungan recehan dari temannya. Kurasa mereka tukang parkir tempat makan pinggir jalan. Panas hujan menjadi keseharian. Yang penting halal bukan? Yang penting bisa buat makan. Dek, siapa yang mengajarimu bersabar? Bahkan saat hujan si adik bercerita tentang seorang tukang gorengan memberikan kembalian lebih dari uang yang ia berikan. "Kembalikan, dosa jika diambil". Kata mamah. Banyak cerita di bawah naungan hujan. Dan lebih banyak lagi cerita di dunia, di bawah langit ke satu, dua sampai tujuh. Tentang kamu, tentangnya, tentang mereka, tentang komitmen menjadi hamba. Bahkan tentang yang tak kau ketahui sama sekali.