Sebuah Perjalanan ke Negeri Kabut
Foto: dok. pribadi
Sabtu pagi di pertengahan bulan November 2021, saya dikejutkan oleh suara bude di luar kamar. Saat itu, saya sedang kelelahan. Saya baru menyelesaikan waktu tidur empat jam karena harus mengerjakan tugas kuliah. Maklum saja, mahasiswa kurang lengkap rasanya tidak begadang untuk mengerjakan tugas.
“Nik, mau jalan-jalan gak?” suara lantang bude menembus pintu kaca kamar saya.
“Eh, jam berapa bude?”
Suatu kebiasaan saya untuk bertanya tentang waktu. Waktu penting bagi saya untuk mengukur aktivitas saya dengan aktivitas lain agar tidak saling bertabrakan.
Balasan bude saya cukup cepat. “Jam sembilan yo. Pagi.”
Makdegh. Saya kaget. Namun, saya juga tidak merasa heran. Tipikal bude saya memang seperti itu.
Hm. Kesempatan bagus. Saya juga sedang bosan dan tidak ada hal yang ingin dikerjakan. Tugas kuliah minggu ini juga sudah saya selesaikan. Saya mengiyakan ajakan bude setelah berpikir beberapa menit.
Kami berangkat sekitar pukul delapan pagi. Rombongan yang berangkat ada delapan orang: saya, bude, pakde, dan empat orang teman sekolah pakde. Perjalanan tampak cukup menyenangkan meskipun saya kerap menahan rasa mual—efek begadang kemarin malam.
Saya cenderung pasif di antara rombongan paruh baya ini. Mungkin dikarenakan saya paling muda di antara mereka dan juga tidak terlalu lancar berbahasa Jawa. Pakde, bude, dan teman-temannya juga saling berbicara dengan bahasa Jawa. Saya sesekali menanggapi kalau mereka bertanya sesuatu kepada saya.
Rombongan ini berencana menikmati tempat wisata di tengah sawah. Saya kurang tahu nama tempatnya, tetapi bude menunjukkan foto tempatnya pada saya. Foto rumah panggung di atas sawah. Kemungkinan rombongan ini mau bersantai sambil menikmati pemandangan hijau di sekitar.
Bukit Kabut
Kami sampai di tempat setelah memakan kurang lebih sejam perjalanan. Namun, sepertinya, rombongan paruh baya ini tidak yakin tempat wisata yang dituju adalah tempat wisata yang benar. Sebab, tempat wisatanya mahal dan penuh reservasi. Setelah saya telusuri lebih dalam, bude, pakde dan teman-temannya merencanakan perjalanan secara spontan. Mereka melihat rekomendasi dan foto tempat wisata yang ada di sekitar Jogja di internet, lalu langsung pergi ke lokasi tanpa perencanaan matang.
Akhirnya kami kembali ke dalam mobil. Teman-teman pakde berceloteh tentang kekecewaan mereka sementara saya bergelut dengan serangan sakit kepala.
“Gimana? Masih mau lanjut gak?” Pakde menyetir mobil sambil menanggapi celotehan teman-temannya. “Aku yo masih ada satu tempat lagi. Bagus katane.”
“Di mana e?”
“Itu... di bukit. Kayak negeri di atas awan gitu, banyak kabut.”
Foto: dok. pribadi
Rombongan paruh baya ini merasa sayang keluar rumah tanpa membawa pengalaman untuk dibawa pulang, akhirnya mengiyakan rekomendasi pakde. “Yowis, situ wae. Ngerti ra jalannya?”
“Wis ngerti. Pernah tak ambil penumpang ke sana kok.” Pakde meyakinkan teman-temannya.
Teman-teman pakde pun mengangguk mengiyakan ajakan pakde. Mobil kami akhirnya bergerak kembali. Kali ini, kami mengubah tempat tujuan ke Gunung Kendil.
Lokasi yang kami tuju ada di Kulon Progo. Kami melihat Gunung Kendil sebelumnya di internet. Hal yang mengusik rasa penasaran saya tentang Gunung Kendil adalah deskripsi tempatnya yang dipenuhi kabut tebal. Kabut yang sangat tebal sampai jarak pandangan kita terbatas. Saya sempat meragukannya, benarkah ada tempat seperti itu di Jogja.
Meskipun namanya “gunung”, Gunung Kendil bukan gunung sungguhan. Pakde menjelaskan bahwa tempat itu merupakan bukit yang sangat tinggi. Karena sangat tinggi, bukit tersebut dikelilingi oleh kabut yang tebal.
Medan perjalanan ke “bukit kabut” bukan medan perjalanan yang menyenangkan. Jalan sempit dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Semakin jauh kami bergerak, mobil menembus kabut yang tebal dan menaiki jalan yang menanjak. Pakde menaikkan persneling mobil beberapa kali agar bisa naik ke tanjakan.
“Wes, semua diam, takut.” Bude memecah ketegangan selama perjalanan ke Gunung Kendil. Beliau tertawa renyah.
“Yo, gimana tho, Wid. Wedi.” Salah satu teman pakde menanggapi Bude. “Ra wani aku kalau tahu kayak gini jalannya.”
Pakde ikut tertawa singkat. Ketegangan yang ada dalam mobil itu sedikit mencair. Namun tetap saja, bagi rombongan paruh baya menaiki jalan menanjak yang kabutnya semakin tebal sampai tidak bisa melihat ke depan adalah pengalaman yang menegangkan.
Justru sebaliknya, dengan sakit kepala dan rasa mual yang masih tertahan, saya merasa cukup tertarik dengan perjalanan menantang seperti ini. Kabut tebal di depan mata membuat saya penasaran dengan apa yang di baliknya. Semakin lama di dalam kabut ini, saya merasa terisap ke dunia lain.
Matahari yang Bersembunyi
Setelah melewati medan yang mengerikan, kami sampai di lokasi. Kabut benar-benar tebal di sana. Saya sempat meragukan pijakan saya sendiri ketika turun dari mobil karena takut bukan tanah yang saya pijak. Saya juga sempat takut akan kesulitan bernapas, tetapi selain hawa yang dingin, sepertinya saya baik-baik saja.
Saya tidak menyangka ada tempat seperti ini di sudut kota Jogja. Sinar matahari tidak dapat menembus tebalnya kabut sehingga saya kesulitan menerka waktu. Kami sampai di lokasi bertepatan dengan jadwal azan zuhur, tetapi tidak ada matahari yang menyambut kami di tempat ini.
Segalanya bagi saya terlihat seperti langit yang mendung. Saya tidak bisa melihat apa pun kecuali warna abu-abu di atas kepala saya. Saya jadi bertanya-tanya di manakah sinar matahari bersembunyi.
Selang kami turun dari mobil dan melaksanakan ibadah zuhur, hujan datang. Kedatangan hujan membuat kabut berangsur-angsur hilang. Namun bukan berarti matahari langsung terlihat dari kabut yang luntur karena hujan. Tetap tidak ada! Meskipun hujan memberikan jarak pandang yang lebih jauh di balik kabut ini, tetap saja sinar matahari tidak terlihat. Wah, kabut di sini benar-benar tebal sampai tak terkalahkan oleh hujan, pikir saya.
Kami menyantap bakso sambil menunggu hujan reda. Hujan benar-benar turun deras selama dua jam dan sinar matahari tetap tidak bertamu ke tempat ini. Langit masih terlihat abu-abu, sampai-sampai saya tidak menyadari hari sudah sore sampai azan asar terdengar. Kami melaksanakan ibadah asar terlebih dahulu sebelum menjelajah tempat wisatanya.
Tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat wisata ini selain berfoto ria. Pengunjung terlihat banyak walaupun tidak ramai karena kondisi pandemi. Saya mengambil banyak foto dan menjadi fotografer dadakan untuk rombongan pakde saya. Sesekali bude atau teman pakde meminta saya mengambil foto mereka, “Nik, nik, fotokan nik.”
Mereka juga menyuruh saya untuk ikut berfoto juga untuk mengambil kenang-kenang, seperti, “Nik, ayo sini gabung!”
Setelah puas mengambil foto dan melihat-lihat bangunan setempat, kami memutuskan pulang. Perjalanan pulang tidak semenyeramkan tadi karena jalan cukup menurun. Bude, pakde, dan teman-temannya juga mulai berceloteh ria karena sudah tidak setegang berangkat ke lokasi.
Foto: dok. pribadi
Sepanjang perjalanan pulang, saya merasa seolah pulang dari negeri awan. Kabut yang ditembus mobil makin lama berkurang dan pada akhirnya jalan kembali melandai. Kami sampai di jalan utama Jogja. Seiring sakit kepala dan rasa mual yang menyerang saya berkurang, saya melihat ufuk jingga yang semakin menggelap. Rasa lelah langsung menghampiri ketika saya pulang ke rumah. Seolah-olah rasa lelah melenyapkan momen saya di negeri awan pada hari itu.[]

















