Hmm, entah mengapa, walaupun maknanya sedikit berbeda bagi saya, saya mempercayai kutipan Hotaro dalam novel Hyouka tersebut. Rasanya, kalau melintas kembali ke zaman SMA dulu, kehidupan SMA saya bukanlah barairo atau 'warna mawar' bagi saya. Namun, saya yakin kehidupan SMA saya saat itu merupakan titik balik kehidupan saya hingga saat ini.
Bahkan ketika 2025 telah dimulai, saya masih tidak melupakan kehidupan SMA itu. Ah, kalau dibilang SMA, mungkin lebih tepat "MAN" atau madrasah aliyah negeri, karena sekolah saya di bawah naungan Kementerian Agama saat itu.
Jadi, mengapa kehidupan MAN masih begitu membekas?
Saya murni mendaftar sekolah ini dengan keinginan sendiri. Saya masih ingat bagaimana mempersiapkan mengajukan surat rekomendasi pada kepsek SMP saya untuk bisa mendaftar di sekolah ini. Saya masih ingat bagaimana saya dibuat mabuk mengerjakan tes masuknya yang merupakan kombinasi tes IQ, olimpiade, bahkan bahasa arab yang awam bagi saya yang bersekolah di SMP negeri kala itu. Kesulitan itu, bahkan sebelum menjadi siswa secara resmi, hanya secuil batu di kehidupan tiga tahun selanjutnya.
Kembali pada kutipan Hotaro, kehidupan SMA itu barairo. Warna merah yang menggelora dan semanis wangi bunga mawar. Cocok sekali untuk anak-anak yang baru saja sedang di puncak keremajaannya. Namun tidak, tidak, bukan kehidupan MAN saya. Saat saya berada di puncak kejayaan remaja saya, saya belajar bersama satu atap dengan 78 santri. Saya belajar di bawah dedikasi ustadz dan ustadzah. Saya belajar bertukar pikiran dengan teman sebaya, ustadz-ustazah saya, dan adik-adik angkatan. Saya belajar memahami diri saya lebih baik. Saya belajar menyusun impian-impian saya, di sana.
Kini, tahun 2025, saya sudah satu tahun setengah terjun langsung sebagai shakaijin atau 'working adults' di kehidupan masyarakat. Meskipun begitu, saya tetap berani berpendapat bahwa kehidupan MAN sayalah kala itu merupakan masa tersulit saya, lebih dari masa menjadi mahasiswa miskin atau sebagai pencari kerja. Saya ditempa dalam kehidupan tersulit bagi saya kala itu, sehingga kini bisa tetap maju dengan bangga menghadapi masa depan saya apapun itu kelak.
Itulah makna barairo saya. Bukan kehidupan SMA yang menggelora, tetapi kehidupan penuh tantangan yang memaksa saya untuk terus mengasah diri hingga saat ini.
Sabtu pagi di pertengahan bulan November 2021, saya dikejutkan oleh suara bude di luar kamar. Saat itu, saya sedang kelelahan. Saya baru menyelesaikan waktu tidur empat jam karena harus mengerjakan tugas kuliah. Maklum saja, mahasiswa kurang lengkap rasanya tidak begadang untuk mengerjakan tugas.
“Nik, mau jalan-jalan gak?” suara lantang bude menembus pintu kaca kamar saya.
“Eh, jam berapa bude?”
Suatu kebiasaan saya untuk bertanya tentang waktu. Waktu penting bagi saya untuk mengukur aktivitas saya dengan aktivitas lain agar tidak saling bertabrakan.
Balasan bude saya cukup cepat. “Jam sembilan yo. Pagi.”
Makdegh. Saya kaget. Namun, saya juga tidak merasa heran. Tipikal bude saya memang seperti itu.
Hm. Kesempatan bagus. Saya juga sedang bosan dan tidak ada hal yang ingin dikerjakan. Tugas kuliah minggu ini juga sudah saya selesaikan. Saya mengiyakan ajakan bude setelah berpikir beberapa menit.
Kami berangkat sekitar pukul delapan pagi. Rombongan yang berangkat ada delapan orang: saya, bude, pakde, dan empat orang teman sekolah pakde. Perjalanan tampak cukup menyenangkan meskipun saya kerap menahan rasa mual—efek begadang kemarin malam.
Saya cenderung pasif di antara rombongan paruh baya ini. Mungkin dikarenakan saya paling muda di antara mereka dan juga tidak terlalu lancar berbahasa Jawa. Pakde, bude, dan teman-temannya juga saling berbicara dengan bahasa Jawa. Saya sesekali menanggapi kalau mereka bertanya sesuatu kepada saya.
Rombongan ini berencana menikmati tempat wisata di tengah sawah. Saya kurang tahu nama tempatnya, tetapi bude menunjukkan foto tempatnya pada saya. Foto rumah panggung di atas sawah. Kemungkinan rombongan ini mau bersantai sambil menikmati pemandangan hijau di sekitar.
Bukit Kabut
Kami sampai di tempat setelah memakan kurang lebih sejam perjalanan. Namun, sepertinya, rombongan paruh baya ini tidak yakin tempat wisata yang dituju adalah tempat wisata yang benar. Sebab, tempat wisatanya mahal dan penuh reservasi. Setelah saya telusuri lebih dalam, bude, pakde dan teman-temannya merencanakan perjalanan secara spontan. Mereka melihat rekomendasi dan foto tempat wisata yang ada di sekitar Jogja di internet, lalu langsung pergi ke lokasi tanpa perencanaan matang.
Akhirnya kami kembali ke dalam mobil. Teman-teman pakde berceloteh tentang kekecewaan mereka sementara saya bergelut dengan serangan sakit kepala.
“Gimana? Masih mau lanjut gak?” Pakde menyetir mobil sambil menanggapi celotehan teman-temannya. “Aku yo masih ada satu tempat lagi. Bagus katane.”
“Di mana e?”
“Itu... di bukit. Kayak negeri di atas awan gitu, banyak kabut.”
Foto: dok. pribadi
Rombongan paruh baya ini merasa sayang keluar rumah tanpa membawa pengalaman untuk dibawa pulang, akhirnya mengiyakan rekomendasi pakde. “Yowis, situ wae. Ngerti ra jalannya?”
“Wis ngerti. Pernah tak ambil penumpang ke sana kok.” Pakde meyakinkan teman-temannya.
Teman-teman pakde pun mengangguk mengiyakan ajakan pakde. Mobil kami akhirnya bergerak kembali. Kali ini, kami mengubah tempat tujuan ke Gunung Kendil.
Lokasi yang kami tuju ada di Kulon Progo. Kami melihat Gunung Kendil sebelumnya di internet. Hal yang mengusik rasa penasaran saya tentang Gunung Kendil adalah deskripsi tempatnya yang dipenuhi kabut tebal. Kabut yang sangat tebal sampai jarak pandangan kita terbatas. Saya sempat meragukannya, benarkah ada tempat seperti itu di Jogja.
Meskipun namanya “gunung”, Gunung Kendil bukan gunung sungguhan. Pakde menjelaskan bahwa tempat itu merupakan bukit yang sangat tinggi. Karena sangat tinggi, bukit tersebut dikelilingi oleh kabut yang tebal.
Medan perjalanan ke “bukit kabut” bukan medan perjalanan yang menyenangkan. Jalan sempit dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Semakin jauh kami bergerak, mobil menembus kabut yang tebal dan menaiki jalan yang menanjak. Pakde menaikkan persneling mobil beberapa kali agar bisa naik ke tanjakan.
“Wes, semua diam, takut.” Bude memecah ketegangan selama perjalanan ke Gunung Kendil. Beliau tertawa renyah.
“Yo, gimana tho, Wid. Wedi.” Salah satu teman pakde menanggapi Bude. “Ra wani aku kalau tahu kayak gini jalannya.”
Pakde ikut tertawa singkat. Ketegangan yang ada dalam mobil itu sedikit mencair. Namun tetap saja, bagi rombongan paruh baya menaiki jalan menanjak yang kabutnya semakin tebal sampai tidak bisa melihat ke depan adalah pengalaman yang menegangkan.
Justru sebaliknya, dengan sakit kepala dan rasa mual yang masih tertahan, saya merasa cukup tertarik dengan perjalanan menantang seperti ini. Kabut tebal di depan mata membuat saya penasaran dengan apa yang di baliknya. Semakin lama di dalam kabut ini, saya merasa terisap ke dunia lain.
Matahari yang Bersembunyi
Setelah melewati medan yang mengerikan, kami sampai di lokasi. Kabut benar-benar tebal di sana. Saya sempat meragukan pijakan saya sendiri ketika turun dari mobil karena takut bukan tanah yang saya pijak. Saya juga sempat takut akan kesulitan bernapas, tetapi selain hawa yang dingin, sepertinya saya baik-baik saja.
Saya tidak menyangka ada tempat seperti ini di sudut kota Jogja. Sinar matahari tidak dapat menembus tebalnya kabut sehingga saya kesulitan menerka waktu. Kami sampai di lokasi bertepatan dengan jadwal azan zuhur, tetapi tidak ada matahari yang menyambut kami di tempat ini.
Segalanya bagi saya terlihat seperti langit yang mendung. Saya tidak bisa melihat apa pun kecuali warna abu-abu di atas kepala saya. Saya jadi bertanya-tanya di manakah sinar matahari bersembunyi.
Selang kami turun dari mobil dan melaksanakan ibadah zuhur, hujan datang. Kedatangan hujan membuat kabut berangsur-angsur hilang. Namun bukan berarti matahari langsung terlihat dari kabut yang luntur karena hujan. Tetap tidak ada! Meskipun hujan memberikan jarak pandang yang lebih jauh di balik kabut ini, tetap saja sinar matahari tidak terlihat. Wah, kabut di sini benar-benar tebal sampai tak terkalahkan oleh hujan, pikir saya.
Kami menyantap bakso sambil menunggu hujan reda. Hujan benar-benar turun deras selama dua jam dan sinar matahari tetap tidak bertamu ke tempat ini. Langit masih terlihat abu-abu, sampai-sampai saya tidak menyadari hari sudah sore sampai azan asar terdengar. Kami melaksanakan ibadah asar terlebih dahulu sebelum menjelajah tempat wisatanya.
Tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat wisata ini selain berfoto ria. Pengunjung terlihat banyak walaupun tidak ramai karena kondisi pandemi. Saya mengambil banyak foto dan menjadi fotografer dadakan untuk rombongan pakde saya. Sesekali bude atau teman pakde meminta saya mengambil foto mereka, “Nik, nik, fotokan nik.”
Mereka juga menyuruh saya untuk ikut berfoto juga untuk mengambil kenang-kenang, seperti, “Nik, ayo sini gabung!”
Setelah puas mengambil foto dan melihat-lihat bangunan setempat, kami memutuskan pulang. Perjalanan pulang tidak semenyeramkan tadi karena jalan cukup menurun. Bude, pakde, dan teman-temannya juga mulai berceloteh ria karena sudah tidak setegang berangkat ke lokasi.
Foto: dok. pribadi
Sepanjang perjalanan pulang, saya merasa seolah pulang dari negeri awan. Kabut yang ditembus mobil makin lama berkurang dan pada akhirnya jalan kembali melandai. Kami sampai di jalan utama Jogja. Seiring sakit kepala dan rasa mual yang menyerang saya berkurang, saya melihat ufuk jingga yang semakin menggelap. Rasa lelah langsung menghampiri ketika saya pulang ke rumah. Seolah-olah rasa lelah melenyapkan momen saya di negeri awan pada hari itu.[]
I watched “Parasite”. Actually, this film has not been discussed in class, but was asked to watch it to discuss thriller films. According to my personal preference, I don’t really like thrillers or movies that have jumpscare scenes. And unfortunately, “Parasite” has things I don't like.
Source
“Parasite” tells the story of a poor family. One day, the eldest son of the poor family was asked by a friend to replace him as a tutor for the daughter of a rich family. Ki Woo (the eldest son) is not a campus student, so he asks his sister to help him make fake documents. It was these fake documents that he used to attract the attention of a rich family to recruit him as their daughter’s tutor. Starting from here, poor families continuously fooling the rich family so that they can enjoy that family’s wealth too (as parasites).
While watching this film, I felt uneasy. This movie doesn’t have any jumpscare or scary scenes, but it makes me feel disgusting. The poor family is obsessed with becoming a ‘parasite’ of the rich family. This film is successful in making a big gap between poor and rich. One of the signs I like the most in this film is the scenes when a poor family is forced to leave the house of the family they are parasitizing on. Ki Taek, Ki Woo, and Ki Jung have to go down many stairs from the mansion to their poor house. The scene of going down the stairs repeatedly emphasized the reality that they had to be aware of their real position.
Honestly, it’s a good film. However, there will be many things that can make you uneasy while you are watching this film. If you’re not a thriller fan, then “Parasite” isn’t the best film for you.
Gadis itu memeluk kakinya, menyejajarkan kedua lututnya bertemu dengan puncak kepala. Kaos gamblong yang sedang dipakainya seirama dengan rambut hitam kebanggaannya yang sudah kusut. Kulitnya pucat, matanya terhiasi oleh kantung mata. Pikirannya hampa.
Baginya ini salah seseorang, yang perkataanya terus berdenging di telinga mungil sang gadis. Kata-kata yang menginjak-injak dan memupus semua perasaannya.
“A-aku, aku menyukaimu!”
Hembusan angin yang lembut menerpa kedua insan berbeda jenis tersebut. Background: taman di samping sekolah yang sepi dan backsound: suara angin yang melintas dan menciptakan keheningan untuk beberapa lama. Sang gadis menundukkan kepalanya, berupaya menyembunyikan rona di wajah.
Sementara lawan jenisnya tak memasang ekspresi apapun. Kedua tangan yang disorong paksa masuk ke dalam saku celana dan alis hitam yang saling bertaut. Perlahan, dia menghampiri gadis tersebut.
Iris hazel menawan mengawasi gadis tertunduk tersebut.
“Sea.”
Si gadis mengangkat kepala dengan hati-hati. Suara yang memanggil namanya begitu tegas, tak terbantahkan. Semburat merah di wajahnya bukan semakin berkurang, namun makin bertambah begitu wajahnya berhadapan satu garis lurus dengan pemuda tampan di hadapannya.
Tak berekspresi, masih terpampang di wajah sang pemuda. Bibirnya terbuka, mengucapkan kata-kata yang tergantung.
“Maaf,” Sea menunggu kelanjutan kata-katanya—meski harus menempuh waktu-waktu yang tak pasti.
Sang pemuda menghela napas. Ia membalikkan tubuhnya, menampilkan punggung gagahnya. Sudah pasti, ia membelakangi Sea: bersiap untuk pergi.
Kalimatnya sengaja tergantung di antara atmosfir yang tercipta.
Sea sudah tahu. Ia tahu sambungan dari kata-kata barusan.
Cukup, dia sudah tahu—lebih dari siapapun.
“Aku—“
Sea tak mau tersakiti.
Jangan kau lanjutkan, kalimat itu!
“... aku menyukai gadis lain.”
Oh. OH.
Kakinya kram. Sang gadis menggerakkan beberapa jari kakinya, mengusir pegal yang ada. Wajah sembabnya ia angkat, memberikan kebebasan bagi paru-paru menghirup udara—sekali lagi.
“Argh ....”
Dengusan berat menguap dari mulutnya. Kepalanya terasa pusing, pikirannya terasa berputar di ruang imajinasi. Otaknya merefleksikan ruangan gelap—kamarnya—melalui kedua bola mata.
“Aku,” Matanya perlahan menutup, tidak ingin berlama-lama memandang realita hidup. “Aku sudah tahu ....”
Ya, tentu saja dia sudah tahu.
Bahwa sang pemuda menyukai temannya. Sahabatnya sendiri.
Juga, sang pemuda pasti lebih memilih dia daripada dia.
Matanya berair: bersiap untuk menangis—entah untuk kesekian kalinya. Sang gadis memeluk lututnya lebih lama yang dia bisa.
Ini salahnya. Masih memberanikan diri menyatakan rasa di dalam dirinya, meski dia sudah tahu jawabannya.
Kusadari dersik yang lewat melalui kulit. Kuturunkan pandanganku, menatap telapak--yang entah kenapa--bergetar. Aku menghirup napas. Lebih dalam dari biasanya.
Kusadari juga, ada debaran aneh dalam jantungku.
"Bian? Ada apa?"
Pandanganku kembali beralih. Gadis itu masih di sana, menatap mataku seperti biasanya. Helai rambutnya berayun pelan, terlihat tipis dan lemah. Sama sekali bukan atribut yang pas untuk gadis sarkatis sepertinya.
Kembali, dersik ini membawa atensiku padanya.
Aku mengumpulkan jemariku dan membawanya turun. Kutatap manik matanya. Langsung. Seraya mengumpulkan keberanian.
"Ara."
Gadis itu memindahkan posisi tangannya. Mengarahkan tubuhnya lurus padaku. Membalas tatapanku. Seperti mencari sesuatu di mataku.
Kupikir kebenaranlah yang dicarinya. Namun gadis itu bergeming. Posisi tubuhnya diam dengan manik mata yang menghunjam pikiranku. Dia menunggu.
- Perhatikan batas-batas diri, mana yang dalam kontrol, mana yang tidak. Kita tidak bisa menyelamatkan dan menyenangkan semua orang, termasuk diri sendiri--kadang tidak bisa senang jika ada hal di luar kontrol yang terjadi, setidaknya dengan aware batas kontrol, kita menjadi lebih legowo.
-Membantu orang lain = membantu jiwa kita. Tidak akan habis harta dibagi.
- Muliakan orang tua, nggak akan bisa kita membalas segala kebaikan mereka
- Rida suami penting, karena bagaimanapun beliau nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya termasuk kita di dalamnya.
- Jangan sombong, minta selalu untuk dijauhkan dari sifat sombong
- Ada yang tidak perlu diungkit : kesalahan orang lain dan kebaikan diri sendiri
- Anak-anak belajar paling banyak dari melihat orang tuanya, jadi versi terbaikmu, biar mereka bisa meneladaninya.
- 3 kata ajaib : maaf, tolong, dan terima kasih. Biasakan ke siapapun, tanpa pandang status sosial.
- Keberkahan harta itu penting, hidup secukupnya dengan sumber harta jelas halal lebih baik daripada hidup mewah tapi sumber harta abu-abu.
- Nuruti dunia engga ada habisnya, sesuaikan gaya hidup, orang yang kaya itu sesungguhnya yang tahu di batas mana dia merasa cukup.
The Girl's breath traps oxygen into her lungs. Her chest movement moves to a regular rhythm. Her eyes lowered to see the thin line of oxygen. These oxygens have determined her destiny.
Across the table, a shadow loomed over the Girl's frail body. The Giant Shadow stole the oxygen around them greedily. His rough fingers tapped on the table, calculating how much more oxygen he had to steal from the Girl.
"Say," the Shadow said harshly, "did you do it?"
The Girl is still looking for the remaining oxygen. Her eyes were blinking because it was too painful to see in the dim light. A few strands of her hair slid as she glanced at the pale hands on her knees.
The tapping of the Shadow's fingers sounded impatient. Its giant body moved forward. His ugly face approached the Girl's face. His eyebrows were raised, and his eyes glared sarcastically.
"Hey, kid." The Girl glanced at the Shadow through her bangs. “You think I care, you damn bastard? Make my work easier today!" The Shadow grabbed the Girl's hair. "Say it!"
The Girl's head was slammed violently. Her hair was a mess. She tried to smell the rust-scented oxygen.
"Yes." The Girl looked up and whispered. Her grin scared the Shadow. "I killed him."
Suddenly, the Shadow fell. His breathing stopped because the stolen oxygen was scattered out of his alveolus. He saw a red colour gushing across his chest.
“You…” The Shadow waved his big hand to strangle the Girl. Unfortunately, the oxygens have betrayed him. “Bas... tard....”
The Girl smiled. Her pale fingers slammed the scalpel against their cold floor.
“Thank you for listening to my confession this time, Papa.”
I want to know,
your glare,
pity gaze,
anxious gaze,
desperate gaze,
why do you emit it all,
to me?
I want to know,
when you gently stir your tea,
when you grind your teeth slowly,
when your silent face after a tiring party,
when your innocent eyes are always with me,
what did you feel?
Manusia membutuhkan manusia lain sebagai makhluk sosial, dan karenanya manusia terikat pada lingkungan sosialnya. Sekumpulan manusia yang saling membutuhkan berkembang menjadi penduduk. Penduduk, mereka yang semakin berkembang dan membutuhkan dalam satu wilayah tempat tinggal yang sama, membentuk sistem sendiri menjadi sebuah masyarakat. Pada akhirnya, manusia terikat pada masyarakat dan tidak bisa melepaskan diri darinya.
Ada kisah menarik dari film pendek berjudul “Tilik”. “Tilik” diambil dari bahasa Jawa yang bermakna menjenguk. Penamaan film ini menggambarkan keseluruhan isi film berdurasi setengah jam yang diisi dialog-dialog berbahasa Jawa. Film ini sangat menarik karena berhasil mempresentasikan keterikatan manusia terhadap masyarakat itu sendiri.
Alur utama film “Tilik” berkisah tentang warga yang ingin menjenguk Ibu Lurah mereka, tetapi fokus permasalahan film ini adalah konflik yang melibatkan pandangan masyarakat dengan ketidakpantasan perilaku menantunya Ibu Lurah, yaitu Dian. Pandangan masyarakat dalam film diwakilkan oleh tokoh bernama Bu Tejo. Bu Tejo membicarakan Dian, yang bahkan tidak bersama mereka hampir sebagian besar di sepanjang film, yang perilakunya dianggap meresahkan masyarakat. Bu Tejo menggambarkan perilaku Dian yang tidak bekerja namun mempunyai pendapatan tinggi dan Dian yang belum menikah meskipun usianya sudah mencukupi sebagai perilaku tidak pantas di dalam masyarakat. Jika individu dalam suatu masyarakat berperilaku tidak pantas, mereka akan mendapatkan penghakiman dari individu lain.
Mengapa individu-individu dalam masyarakat selalu mengawasi satu sama lain? Melansir pernyataan Dedi Hantono dalam National Academic Journal of Architecture, manusia hidup dalam waktu maupun ruang dimana antara keduanya saling berinteraksi dan mempengaruhi. Para manusia yang hidup dalam waktu dan ruang yang sama melibatkan emosional individual dan sosial dalam lingkungan bermasyarakat. Salah satu alat penggambaran emosional individual dan sosial ini ditunjukkan dengan gosip.
Gosip dalam masyarakat diartikan sebagai ungkapan subjektif seseorang, baik positif maupun negatif, terhadap orang lain yang tidak hadir ketika pembicaraan gosip berlangsung. Dalam “Tilik”, gosip lebih besar perannya sebagai alat proteksi diri. Karakter Dian menimbulkan kekhawatiran sehingga para ibu bergosip dengan tujuan untuk melakukan perlindungan diri. Individu menarik analogi antara dirinya dan orang lain melalui gosip. Jika mereka merasa analogi sosial tidak menguntungkan individu tersebut, sosok objek gosip akan membuat orang merasa khawatir reputasi mereka akan terancam (Fakhirah, 2020).
Alur dalam film pendek “Tilik” hampir keseluruhan memakai gaya bercerita gosip. Bu Teja adalah pelaku utama yang menggerakkan gosip sebagai gaya cerita dalam film ini. Objek penghakiman dalam gosip di “Tilik” adalah Dian, yang dianggap melanggar norma masyarakat. Meskipun Dian hampir tidak ada keberadaannya di sepanjang film, tetapi melalui gosip, Dian sebagai individu tidak bisa lepas dari pengawasan masyarakat.
“Tilik” berhasil membawa gosip sebagai media masyarakat sebagai bukti individu mengawasi individu lain dalam bermasyarakat sosial. Pembawaan gosip dalam “Tilik” semakin hidup dengan akting dari Bu Tejo, Yu Ning, dan aktris lain sebagai ibu-ibu. Figur ibu-ibu paruh baya sangat lekat dengan kebiasaan bergosip sehingga ketika hal ini dimunculkan dalam “Tilik” membuat gosip semakin hidup. Gosip dibawakan dengan salah satu bahasa daerah di Indonesia sehingga terasa kesan “masyarakat” hidup dalam film ini.
“Tilik” adalah film yang menarik untuk disimak. Durasinya tidak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam. Sehingga film ini bisa dinikmati ketika waktu senggang seperti perjalanan di kereta dan sebagainya. Meskipun begitu, penggunaan bahasa daerah yang menjadi bahasa utama film ini akan menjadi kesulitan bagi mereka yang bukan penutur bahasa daerah tersebut. Film ini menyediakan subtitle Indonesia, tetapi tentu saja akan sulit bagi penonton menyesuaikan kecepatan membaca subtitle dengan kecepatan pendengaran mereka.
Referensi:
“Film Pendek - TILIK (2018).” YouTube, uploaded by Ravacana Films, 17 Aug. 2020, www.youtube.com/watch?v=GAyvgz8_zV8&feature=youtu.be.
Hantono, Dedi, and Diananta Pramitasari. “Aspek Perilaku Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial pada Ruang Terbuka Publik.” Nature: National Academic Journal of Architecture, vol. 5, no. 2, 2018, p. 85., doi:10.24252/nature.v5i2a1.
Inayaturrobbani, Fakhirah. “Memahami Fungsi Gosip Dalam Masyarakat Melalui Film Pendek ‘Tilik.’” TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater Dan Sinema, vol. 17, no. 2, 2020, pp. 41–54, doi:10.24821/tnl.v17i2.4353.
Puspitasari, Dwi Ratih. “Nilai Sosial Budaya Dalam Film Tilik (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce).”Semiotika: Jurnal Komunikasi