Guru pun perlu selalu belajar, meningkatkan kemampuannya agar bisa berkarya dengan sebaik-baiknya demi kemajuan anak bangsa.
Demikianlah beberapa foto pada saat Professional Development Day bulan September 2015. PD Day untuk para guru Special Education kali ini adalah tentang mengajarkan konsep keempat operasi Matematika (penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Dalam kesempatan ini kami belajar bersama & menghasilkan beberapa cara atau tips & tricks bagaimana mengajarkan sebuah konsep matematika (perkalian misalnya) bagi murid-murid berkebutuhan khusus. Kami diingatkan kembali pada hakikat Matematika sebagai ilmu pemecah masalah sehari-hari yang menggunakan berbagai simbol. Oleh karena itu, sangat penting bagi kami guru-guru bagi murid berkebutuhan khusus untuk mengaplikasikan ilmu ini dalam membantu murid memecahkan berbagai persoalan matematikanya sehari-hari.
Bahwasanya penting bagi murid untuk memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari di sekolah, sehingga dalam mengajarkan sebuah konsep pun ada berbagai tahapan yang perlu dilakukan guru. Jujur saja, sering kali, mungkin kita juga pernah mengalami, konsep matematika diajari di sekolah dengan cara hafalan. Murid jarang atau tidak pernah dibantu memahami bagaimana sebuah konsep Matematika bisa seperti itu.
Apakah kalimat matematika di atas berarti "dua-nya ada 3 kali" atau "ada 2 kelompok masing-masing isinya tiga"? Jika ada soal cerita "kemarin mama membeli 2 tas untuk aku dan adikku. Masing-masing tas berisi 3 buku. Berapakah jumlah buku kami?", kalimat matematika manakah yang tepat digunakan? 2 x 3 = 6 atau 3 x 2 = 6?
Kelihatannya sepele ya... Bahkan beberapa orang akan berkata "ah kan sama aja mau 2 x 3 atau 3 x 2", namun bagi beberapa murid, khususnya murid-murid saya yang spesial itu, persoalan di atas bisa jadi sangat pelik.
Jika kita mau telaah lebih teliti lagi, ada banyak variabel yang harus bisa diidentifikasi murid supaya sukses memecahkan soal cerita tersebut :
Untuk siapakah tas tersebut?
Apakah mama termasuk orang yang punya tas juga?
Berapa orang yang punya tas tersebut?
Kata "masing-masing" artinya apa?
Kata "jumlah" artinya apa?
Kata "kami" itu maksudnya siapa saja?
Apa yang harus dilakukan setelah bisa identifikasi kedelapan variabel sebelumnya?
Bagaimana cara menuliskan simbol matematikanya?
Nah lo!! 1 soal cerita saja bisa sampai 10 tahap yang harus dilalui murid supaya betul-betul paham & bisa menyelesaikannya secara benar. Tentu butuh waktu lebih, kesabaran ekstra & berbagai variasi latihan untuk sampai pada tingkat PAHAM. Jalan pintas yang sering kita ambil ya hanya ajarkan anak atau murid secara sekilas, berharap mereka bisa identifikasi pola soal-nya supaya kemampuannya bisa tergeneralisasi untuk menyelesaikan soal cerita lainnya. Sayangnya hal ini tidak berlaku jika kita mau mengajar murid-murid berkebutuhan khusus. Idealnya kita mengajarkan tahap demi tahap agar murid benar-benar paham. Namun guru perlu juga menyesuaikan tingkat kesulitan sesuai dengan kemampuan muridnya. Sungguh kurang bijak menurut saya jika hanya mengajarkan konsep soal cerita secara hafalan padahal muridnya belum memiliki kemampuan memahami kata-kata yang tertulis. Tidak masuk akal jika murid yang masih belajar konsep angka (misalnya bahwa angka 1 sama dengan hanya ada 1 barang/item dan bahwa jumlah angka 1 lebih sedikit dari 2) disuruh belajar memecahkan soal cerita di atas.
Tentu saja ada saat-saat dimana seorang guru ABK (misalnya saya) merasa dilema ketika umur murid ini seharusnya sudah sampai pada tingkat belajar perkalian namun penambahan & pengurangan saja belum ajeg. Berbagai penyesuaian pun harus saya lakukan melalui tahapan identifikasi berikut ini :
Observasi & uji ulang kemampuan murid saat ini
Ukur gap antara umur kronologis dengan umur mentalnya
Lihat kebutuhan murid tersebut. Tentukan apa saja kebutuhannya
Tentukan prioritas: hanya mau mengejar kemampuan secara superfisial dulu atau berusaha membantunya memahami sesuatu?
Sesuaikan dengan guideline atau kurikulum yang ada
Komunikasikan dengan orang tua secara terbuka mengenai kemampuan & tantangan murid tersebut, serta apa saja yang akan dipelajarinya.
Biasanya setelah melewati keenam tahapan tersebut, saya dan teman-teman guru ABK lainnya bisa lebih tenang dan fokus dalam mengajar murid :) Semoga artikel ini bisa berguna ya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!