Tidak Ada Profesi yang Superior atau Inferor
🌸 Mbak e te ngelesi a?
🌹Iya mbak. Jan, padahal malam minggu 😆
🌸 Mantap wes, malam minggu panggah kerjo 😆
Small talk saya dengan salah satu temen kos waktu kemarin maghrib jadi membuat saya memikirkan beberapa hal tentang sebuah pekerjaan.
Teman saya memakai kata kerja meskipun saya kerjanya mengajar. Which is okay for me. It really is (Saya mengatakan seperti ini karena ada sebagian orang yang berpikir bahwa mengajar itu tujuannya bukan kerja). Karena ya memang niat saya kerja sih, untuk bayar kos dan beli makanan. Saya ngajar di instansi atau enggak ya memang tujuannya adalah nyari duit.
Nggak jarang juga mendengar kalimat seperti ini, "Diniati ibadah. Jadi guru itu nanti pahalanya banyak."
Kan mencari nafkah juga salah satu bentuk ibadah, saudara. Kalau urusan pahala mah siapa saya kok berani-beraninya ikut ngitung? Dapat pahala atau enggak, itu urusannya Tuhan.
"Guru itu pekerjaan paling mulia," they said. I beg to differ. Semua, saya ulangi, semua pekerjaan itu mulia, asal membawa kebaikan untuk orang lain ataupun dirinya sendiri. Mau kamu menjadi pengusaha, dokter, polisi, guru, sopir, petugas kebersihan, ataupun penjual cilok, semuanya mulia.
Hal ini juga mebgingatkan saya pada tanggal 30 bulan lalu. Saya kembali dari Gresik ke Malang pakai motor. Waktu sampai di daerah Surabaya, ada suara sirine. Nggak lama, ada beberapa petugas damkar lewat, pakai motor dan unit mobil. Nggak tahu kenapa waktu itu saya refleks menangis karena berpikir, "Gila ya, pengorbanan mereka demi nyelametin orang lain seluar biasa itu."
Nggak sekali itu aja sebenarnya. Saya beberapa kali dibuat menangis waktu motoran di jalan cuma karena papasan dengan mobil ambulans berkecepatan tinggi dilengkapi sirinenya, atau bapak-bapak di pertigaan yang membantu menyeberangkan pengendara, atau bapak-bapak pasukan oranye yang membersihkan jalan.
Seringkali saya juga merasa kalau pengabdian saya ke manusia lain nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Tapi, ya memang kita punya porsi masing-masing, pengabdian kita ke manusia lain bentuknya berbeda-beda. Tugas kita adalah memaksimalkan apa yang dipercayakan kepada kita.
Jadi, mau bekerja apapun, asal membaikkan orang lain dan diri kita sendiri, saya rasa itu adalah hal yang mulia. Nggak ada pekerjaan yang superior. Dengan kita bekerja dan menghasilkan uang untuk kelangsungan hidup kita (dan sebagian orang juga untuk menghidupi keluarga) itu juga sudah bentuk ibadah.
Last but not least, kalau kita bekerja sesuai dengan passion, hobby, atau jurusan kita, itu adalah sebuah privilese. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan privilese itu sebaik mungkin untuk membaikkan sesama.
Malang, 19 Januari 2020
















