Katakanlah,"Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.
QS. Al-Ahzab : 17
Lantas, masih mau bergantung pada yang lainnya? Kuyy, belajar ikhlas. Semoga selalu dikuatkan dan diberi keberkahan yaa..
Menyukai seseorang tidak perlu ditunjukkan dalam perhatian berlebihan, hingga orang tsb risih atas kehadiranmu. Cukup dengan mendoakannya, dan barangkali seperti itulah bentuk terbaik dari rasa suka.
Mastery Productions LLC - is a New York State registered Artist Representation and Production Company.It is the longest running O-1 and P Visa USCIS approved petitioner, since 2010.
Mastery Productions LLC brings excellence to artist development and productions. Our upcoming productions include Magnet Animals Mexico tour, Maoz (US) - Sirkis (UK) Duet: Part III - Secret Unit album release, Chant Records Festival @ Nublu, NYC; Beninghove's Hangmen, Edom European tour, Dimyon performances and more. As a USCIS approved petitioner, we have been proudly sponsoring O1 Visa for qualifies professionals since 2010.
We represent a diverse group of exceptional performers, musicians, film industry professionals, actors, models, dancers, designers, and artists, scientists or business personnel. We feature their creative works to customers in the USA.
H-1B, H-4, L-1, H-2B, and J-1 visa holders and applicants are also eligible for O-1, if qualified and approved by the USCIS.
For more details: https://www.masteryproductions.com/
Healthy Quarantine Journal: Sampai Kapan Jiwa Ekstrovertku Menjerit?
Aku merasa senantiasa membutuhkan orang lain agar aku lebih semangat menjalani hidup, terbukti, dari lahir saja aku butuh Mama untuk melahirkanku dan dokter yang membantu proses operasinya. Kenapa jadi ke sini? Haha.
Bukannya aku merasa sulit menjadi seorang ekstrovert, bukan juga menyudutkan introvert. Tapi, aku sangat terbiasa mengobrol secara langsung, makan bareng, ngobrol bareng, diskusi bareng. Aku senang bisa ketemu dengan orang-orang yang sepemikiran denganku, senang juga bisa kenal dengan orang-orang yang bersebrangan dengan nilai-nilai personalku.
Di pekan ke-3 karantina rasanya sedang puncak-puncaknya aku merindukan suasana asrama dan suasana kampus. Aku ingin kembali duduk di kelas, mendengarkan dosen dan mencatat atau malah mencoret-coret buku catatanku. Aku rindu bertemu dengan banyak teman ketika adzan dzuhur berkumandang, bertemu dengan teman-teman lintas jurusan namun selalu berjabat tangan ketika saling tatap.
Aku rindu sudut-sudut tongkrongan FISIP dan MBRC (Perpustakaan), di mana aku bisa berdiskusi dengan teman-teman entah mengerjakan tugas atau laporan turlap. Sudut-sudut Departemen Kesos menunggu giliran untuk supervisi praktikum atau menunggu Bang Budhi untuk rapat 10 pemuda.
Aku rindu sudut-sudut masjid Al-Hikmah FISIP yang di atasnya terdapat sebuah ruang kecil bernama sekre. Tempat biasa yang kujadikan sebagai pelepas penat dan pelepas kantuk, bukannya menahan tidur, tapi tidur. Aku rindu bagaimana suasana ramainya jam 5 sore, setiap orang bertebaran menuju titik-titik pertemuan bersama peer atau divisi organisasinya.
Semakin ke sini aku paham, bahwa situasi ini pun tidak ada yang menghendaki, kecuali Allah. Aku yang tidak pernah menggunakan zoom tiba-tiba jadi pengguna setianya. Google meet, google hangout, ms team, apalagi apalagi? Aku jadi dipaksa untuk melek teknologi dan memaksimalkannya.
Alhamdulillah tsumma alhamdulilah. Rindunya terobati, meskipun nggak ada drama-drama jabat tangan dan pelukan ala-ala yang biasa aku lakukan bersama teman-teman. Setidaknya suara dan energi positifnya masih sangat terasa.
Kemarin, akhirnya pertemuan impulsif nan hikmahful terselenggara tanpa wacana. Bu Dini, bukan sekadar wali asrama ataupun guru aqidah akhlak. Teman-teman lingkaranku juga bukan sekadar teman, melainkan layaknya saudara.
Pada akhirnya, lingkungan pertemanan adalah lingkungan kedua yang paling berpengaruh setelah keluarga, karena kepada siapa kita berteman akan memengaruhi bagaimana pengalaman yang kita dapat dari suatu peristiwa. Maka maksimalkan lingkaran ini untuk kebaikan, baik untuk diri sendiri, saudara-saudara di lingkaran ini, hingga kebaikan dan kemanfaatan yang meluas untuk masyarakat.
Maka perlakukan Ramadhan sebaiknya seperti saudara yang kita punya. Senantiasa anggaplah bahwa Ramadhan adalah sebuah kesempatan, maka kita tidak akan pernah menyia-nyiakannya.
Healthy Quarantine Journal: Peran dan Potensi Kebaikan
Katanya, manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang bukan hanya bisa berinteraksi sosial, tapi butuh untuk melakukan interaksi sosial. Saling membutuhkan satu sama lain, karena satu dan lainnya saling melengkapi.
Rupanya, hal ini termasuk hal yang Allah sampaikan di masa-masa awal diturunkannya wahyu. “Khalaqa al Insana min ‘alaq,”
Manusia diciptakan dari al-’alaq. Yang katanya, dari segi pengertian kebahasaan, kata ‘alaq antara lain berarti sesuatu yang tergantung. Dari ketergantungan selama tumbuh-kembang di dalam rahim ibu, sampai ketergantungan kepada pihak lain selama hidup.
Ketergantungan seorang hamba dengan Rabb Yang Menciptakan, misalnya. Berapa banyak sebetulnya, kehendak-kehendak kita yang terwujud atas dasar murni usaha-usaha kita sendiri? Hampir bisa dipastikan tidak ada. Akan selalu ada, bagian-bagian lain -yang tidak terhitung banyaknya, yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Yang hanya dapat diwujudkan oleh Allah, Penyebab dari segala penyebab.
Namun, di samping ditentukan oleh Allah, perjalanan manusia juga tidak dapat dipisahkan dari peran orang lain. Bahkan memperoleh bantuan dari pihak lain rasanya sudah menjadi kebutuhan tersendiri, lantaran kebutuhan setiap orang sesungguhnya lebih banyak daripada potensi dan waktu yang tersedia untuknya.
Hal ini mau tidak mau mendorong terbentuknya interaksi sosial antar-manusia di tiap tatanan kehidupan. Dari ruang lingkup terkecil seperti keluarga, misalnya. Pilarnya; suami-istri, saling melengkapi. Juga anaknya nanti, mau tidak mau membutuhkan peran orangtua, yang nantinya juga akan melengkapi tatanan keluarga itu sendiri. Sampai tingkat setinggi hubungan antar-negara, sejatinya banyak didasari atas alasan saling membutuhkan.
Seiring waktu, ruang lingkup interaksi sosial seorang manusia biasanya juga ikut semakin membesar. Setelah orangtua, akan ada orang-orang baru yang mengisi hari, seiring dengan laju tumbuh kembang diri. Saudara, teman, guru, tetangga, semuanya tanpa sengaja hadir.
Interaksi ini sepertinya memang sudah menjadi sunnatullah sebagai seorang manusia, seperti yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, “..Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal..” (Q.S. Al-Hujurat: 13)
Istimewanya, interaksi tidak berhenti sampai di interaksi.
Ia melahirkan peran, yang akan otomatis muncul seiring dilakukannya interaksi. Peran sebagai seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang murid, seorang kawan, seorang sahabat, seorang tetangga, atau peran-peran lain yang memang dengan penuh kesadaran kita ambil. Menjadi bagian dari suatu organisasi, salah satu contohnya.
Demi terlaksananya peran dengan maksimal, saya meyakini bahwa mengenal satu sama lain menjadi hal yang krusial. Ibaratnya; bagaimana akan menjadi seorang kawan yang baik, jika tidak mengenal kawannya? Bagaimana akan menjadi seorang tetangga yang baik, jika tidak mengenal tetangganya?
Dan proses perkenalan ini adalah proses seumur hidup. Ia adalah proses panjang tak berujung, kecuali masa kita sudah habis. Sejatinya akan selalu ada yang kita tidak tau dari sesuatu. Bahkan katanya, pasangan yang sudah berpuluh tahun hidup bersama pun setiap harinya tetap adalah sebuah perkenalan. Dan rasanya ia tidak hanya berlaku bagi pasangan. Sebagai seorang teman, saya belajar mengenal teman setiap hari dari interaksi yang terbangun. Sebagai seorang kakak, akan selalu ada hal baru yang dipelajari dari interaksi dengan adik setiap harinya. Sebuah interaksi dua arah; sehingga harusnya keduanya dapat saling belajar mengenal.
Di zaman canggih seperti saat ini, dunia maya sebetulnya dapat menjadi sarana kebaikan tak terputus jika digunakan dengan benar. Ia memegang peranan penting interaksi sosial antar-manusia, terutama di masa-masa terbatas seperti masa-masa karantina ini. Meskipun saya sebetulnya termasuk tim yang akan sangat lebih senang dengan interaksi tatap muka di dunia nyata, tapi di situasi saat ini, mau tidak mau dunia maya bisa menjadi salah satu solusi.
Lagipula kita memang harus pandai-pandai mencari solusi, jika tidak mau potensi kebaikan dari memaksimalkan peran tadi menjadi hilang. Dan lagi, mungkin karena memang dasarnya manusia makhluk sosial yang butuh bersosial, saya yang dominan introver ini juga rupanya bisa capek dan ‘kangen ketemu orang’ setelah berminggu-minggu berdiam diri di rumah.
Tiba-tiba semua interaksi menjadi daring. Perkuliahan formal, rapat-rapat organisasi, kajian-kajian rutin, sampai kawan-kawan lama yang sudah lama tidak bersua, tiba-tiba terwujud pertemuan maya yang tidak direncanakan sebelumnya. Alhamdulillaah.
Pada akhirnya, setiap kita di dunia punya peran sosial masing-masing, dan setiap peran melahirkan potensi kebaikan. Terus jadi inget lagi kan, kata-kata tadi pagi,
“Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena kita nggak akan tau yang mana yang Allah ridhoi dan mampu mengantarkan kita ke surga,”
Selamat memaknai peran masing-masing. Semangat untuk kita semua. Bismillah:)
ALERT: USCIS has submitted H-4 EAD Recission Regulation to OMB
ALERT: USCIS has submitted H-4 EAD Recission Regulation to OMB
USCIS has submitted its proposed regulation to rescind the H-4 EAD regulations that have been in place since February 25, 2015. While this is not a huge surprise, as USCIS has had this on their agenda since the new Administration has been in power, it is still somewhat of a surprise as it has taken them a long time to actually put this together and submit it.