I N S T A G R A M girlfriend Sommermarchen & boyfriend Hal //
seen from Japan
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Poland
seen from United States

seen from United States
I N S T A G R A M girlfriend Sommermarchen & boyfriend Hal //
someday
Ia sedang mengepak barang ketika sebuah suara di belakangnya berucap, “Hei.”
Hal berbalik. Mantan teman sekamarnya berdiri di ambang pintu yang terbuka, menunjukkan cengiran puas. “Finally, huh?” Nathaniel Gilbert memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Five years. And you’re finally going home.”
“I know,” Hal terkekeh, melanjutkan melipat pakaian. “It’s kinda crazy, isn’t it?” Kali ini giliran baju basketnya yang dimasukkan ke dalam ransel. Ia tidak sabar memberitahukan orang-orang di rumah kalau dia menjadi salah satu punggawa andalan—kapten, bahkan.
“Na’ah. Kau berjuang keras untuk itu, teman.” Nathaniel saksi matanya. Ia melihat bagaimana Hal belajar mati-matian setelah mengetahui bahwa siapapun yang mendapatkan peringkat satu dan dua akan mendapatkan hadiah pulang. Kadang ia harus ikut terbangun di malam hari gara-gara Hal menyalakan lampu belajarnya terlalu terang, atau karena suara-suara kecil yang diciptakan Hal ketika menyeduh kopi. Namun memang dasar Vivicakelewat brilian. Belum juga Brighton yang sama ambisiusnya, hingga Hal selalu tidak punya gap untuk menyusul.
Setidaknya sampai tahun ini.
“Oh.” Menyadari keberadaan kotak kayu di atas meja belajar, Nathaniel berinisiatif menyerahkannya. “Jangan sampai lupa. Ini barang penting.”
“How could I?” Hal memang sengaja menyimpan kotak itu sebagai barang yang terakhir masuk ke dalam tas. Isinya adalah surat-surat yang tak pernah bisa ia kirim kepada kekasihnya, bercerita tentang hari-harinya `terkungkung` di Tower Prep dan kerinduan yang sangat mendalam.
Jasmine. Membayangkan bertemu dengannya dan menyerahkan surat-surat ini saja sudah berhasil membuatnya tersenyum.
Barang terakhir sudah masuk, maka ia menutup ritsleting dan menyandang ransel ke punggung. Ia berbalik menghadap Nathaniel, memberikan sebuah pelukan yang dibalas dengan tepukan. “Thank you.”
“Have fun. You deserve it,” bisik Nathaniel, melepaskan rangkulannya. “Sampaikan salamku pada Jasmine. Dia beruntung punya kekasih sepertimu.”
He nods. “Ah, ya. Kau melihat Maren?”
“Maren? Oh—” Sommermarchen. Nathaniel juga tidak bisa mengucapkan namanya dengan benar, tapi ia tahu Hal selalu menggunakan nama itu untuk memanggil teman pirangnya. “Kantin. Biasa.”
Dengan itu, Hal melangkah menuju kantin. Ia menemukan Sommermarchen pada salah satu bangku bersama anggota Klub Pastry, melakukan obral musim panas dengan menyediakan kue serta minuman segar. Sosoknya tertutup oleh segerombolan orang yang mencoba untuk membeli sekaligus berinteraksi dengan si gadis Skapsvard As always; primadona Tower Prep, bahkan setelah lima tahun berlalu jumlah penggemarnya malah bertambah banyak. Berjinjit pun sama sekali tak membantunya untuk mendapatkan perhatian.
Namun Sommermarchen entah bagaimana berhasil melihat Hal dari celah-celah, dan ia memberikan sebuah kode agar pemuda itu menunggu. Tampak si gadis membisiki sesuatu pada juniornya, sebelum beranjak ke tempat Hal berdiri. Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan dengan satu botol limun yang masih berembun. “I made you a flatbread caprese,” ujarnya. “Untuk dimakan ketika perjalanan pulang.”
Hal terkekeh. “It’s not like I’m going to take an overnight flight.” Namun tangannya terulur mengambil. “Thanks anyway.” Meski sudah bergaul cukup lama dengan Sommermarchen, caprese tidak berhasil masuk dalam kamusnya—tidak seperti ganache atau meringue. Terlepas dari itu, ia tahu betul bahwa apapun yang dibuat gadis itu pasti lezat rasanya.
Sommermarchen tersenyum lebar. “I’m so happy you’re going home.” Ia mengucapkan seolah-olah ia yang akan pulang, bukan Hal. “Jasmine juga pasti akan sangat senang kau kembali.”
“Entahlah…. Aku agak takut membayangkan reaksinya,” Hal menghela napas. “It’s been five years, after all.”
“Hei, hei. Lihat aku.” Ia bisa merasakan tangan Sommermachen di kedua sisi wajahnya, diikuti dengan biner madu yang menatap langsung ke matanya. “If she loves you, she’ll wait. Dan walaupun aku nggak pernah membaca pikiran Jasmine, I know she loves you. Trust me.”
Jernihnya biner Sommermarchen membuat Hal bisa melihat refleksinya sendiri di sana, mencoba mencari keyakinan. Pada akhirnya, ia mengangguk. “Wish me luck.”
“Oh, ucapkan halo dariku kepada Nora, Ashley dan Little Ed, will you?” Maren bahkan mengingat nama adik-adiknya. “Dan please, aku akan sangat senang mendapat resep chili ibumu.”
“Let’s see what I can do.” Ibunya pelit soal yang satu itu. “Well. I’m off.”
Sebelum ia beranjak, ia bisa merasakan Maren menarik tubuhnya ke dalam rengkuhan—pelukan persahabatan yang sama seperti yang Nathaniel berikan. Hal pun melakukan hal yang sama; membalas dengan menepuk punggung gadis itu, sebelum berbisik, “Jangan lama-lama. Aku bisa dibunuh penggemarmu.”
Dengan itu, Maren melepaskannya, dan Hal pun melangkah pergi.
.
.
Dia berteleportasi, lalu ia melihat hamparan hijau beserta bau biji-bijian rumput yang terpanggang oleh sinar matahari.
Ia mengidentifikasi pohon oak besar di pinggir jalan. Rumahnya hanya lima menit dari sini, jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki tanpa menggunakan kekuatan supernya, berusaha untuk menikmati momennya sebagai manusia normal. Ia sampai tak lama kemudian, mengetuk pintu hanya untuk menambahkan elemen kejutan. Benar saja; Lilian Abrams nyaris histeris ketika menemukan putra sulungnya sudah jauh lebih tinggi dibanding terakhir kali.
Keributan kecil mereka berhasil mengundang atensi seisi rumah. Hal terperangah bagaimana kedua adik perempuannya tumbuh menjadi sangat cantik (dan sentimental; Ashley langsung menerjangnya dengan tangisan). Little Ed pun sudah tidak kecil lagi. Dan Eric—ayahnya—berdiri di belakang. Matanya membelalak terkejut, tetapi enggan untuk ikut bergemul. Hal menyadari bagaimana pria itu melempar pandang, dan dahulu sebelum keberangkatannya, barangkali ia akan berlalu begitu saja. Namun Hal Abrams sudah dewasa, sudah belajar banyak dari berbagai pengalaman. Maka ia menghampiri ayahnya dan dengan jiwa besar mengajak berjabat tangan.
“We miss you, son.”
Hal Abrams telah pulang.
Kebetulan sekali; ibunya telah menyiapkan santap siang bersama. Berkumpul di meja makan dengan seluruh anggota keluarga tak pernah terasa semenyenangkan ini. Chili buatan Lilian Abrams langsung membuat Hal merasa utuh kembali, tetapi itu tak menghentikannya untuk berlama-lama menghabiskannya. Ia menjadi yang pertama untuk bangkit dan mengambil kunci Chevy mereka. “Aku mau pergi menemui Jasmine.”
Suara sendok berdenting mengadu piring.
“Hal—”
“I can’t wait to show her something.” Senyumnya sumringah, tetapi tak dibarengi muka suportif dari seluruh anggota keluarganya. Namun loverboy—dia rindu dan dia dibutakan oleh hal itu. Segera ia menggamit ransel menuju garasi, menyesuaikan diri dengan kursi kemudi setelah sekian lama. Di tengah perjalanan, ia menemukan daisy untuk dipetik; pacarnya itu suka sekali bunga liar.
Seperti biasa, ia parkir di sisi trotoar, di depan toko musik milik Mr. Jazz. Musim panas seolah berjalan cerah-cerah saja ketika ia mematikan mesin, meraih segala barang bawaannya dan turun dari mobil.
Sampai akhirnya ia melihat Jasmine.
(…mendaratkan kecupan di bibir pria lain.)
Jasmine Lincoln tahu betul Hal Abrams mudah sekali terpancing. Maka ketika gadis itu melihat Hal berdiri di seberang jalan dengan wajah emosi, ia menyambar keluar dengan panik sambil mencoba menghalangi Hal untuk berjalan lebih jauh. Namun pemuda yang mendapatkan ciuman itu salah langkah; ia malah mengikuti Jasmine keluar dan berhasil dihadiahi sebuah kepalan tinju di pipi kirinya. Hal bisa mendengar Jasmine menjerit, tetapi dalam tahap itu Hal sudah sama sekali tidak peduli. Pukulan demi pukulan dilayangkan kepada si anonim malang, sampai akhirnya kakak-kakak lelaki Jasmine keluar dan menariknya mundur.
Jasmine berseru di depannya, setengah menangis, “Pergi, Hal. Aku akan jelaskan semuanya nanti. Kumohon.”
Berontak, Hal melepaskan diri. Ia masuk ke mobil, membanting pintu yang sudah usang lalu mengebut pulang. Ia berpapasan dengan ibunya yang tampak tidak heran dengan wajah putranya yang seperti terbakar. Buru-buru ia menuju ke kamar; terletak di lantai dua bekas kandang ternak (sekarang garasi di lantai satu), yang disulap menjadi kediaman pribadinya sejak ia merengek minta kamar sendiri sewaktu masih berumur sepuluh tahun. Di sana ia melampiaskan segala kemarahannya pada benda apapun yang bisa dijangkau; buku di rak, meja yang ditendang, termasuk fotonya dengan Jasmine yang kemudian ia banting.
Tubuhnya dilempar ke atas kasur yang tadinya rapi tanpa kerutan. Ia memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Tidak ada yang menghampirinya sesuai dugaan; satu rumah tahu tabiatnya kalau sudah marah.
Entah berapa lama kemudian, baru terdengar suara langkah. Hal tidak perlu mengintip untuk tahu siapa yang datang, oleh karenanya ia mendudukkan diri. Mengetahui tebakannya benar, ia terkekeh sinis.
“Sekian tahun,” ujarnya memulai. “Sekian tahun aku setuju dengan aturan tidak PDA-mu, lalu hari ini kau mencium orang di restoran begitu saja.”
“Dengarkan aku,” Jasmine menyela. “It’s not like I didn’t try. Tanya ibumu berapa kali aku datang dan menanyakan kapan kau akan kembali—yang ngomong-ngomong, tidak bisa dijawab olehnya. Tanya juga bagaimana aku selalu datang seminggu sekali untuk membereskan kamarmu dan memastikan tidak ada debu yang menempel. Tapi lima tahun tanpa kepastian, kau pikir itu menyenangkan? I love you, but I can’t wait forever.”
Perkataan Jasmine hanya membuat Hal mengutuk dirinya sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh—harusnya kau memang tidak perlu memasang ekspektasi yang tinggi.
“I met Tony—”
“Jangan ceritakan apapun tentangnya.”
“No, you have to listen,” suara Jasmine bergetar. “Aku bertemu Tony di kampus. Dia memahamiku dan menghiburku ketika aku kesepian karena kehilangan kau. Dan begitu saja dia berhasil mengisi spasi yang kau tinggalkan bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa menolaknya? Aku butuh pegangan, Hal.”
“Kau pikir aku nggak menderita di sana?”
“Oh, ya. Sebelum itu, apa yang kau maksud dengan `di sana`?”
Hal terdiam. Ia berusaha mencari kata yang tepat untuk diutarakan, yang bisa menjelaskan abstainnya tanpa harus menjelaskan program rahasia Tower Prep. Namun dia kehabisan waktu, dan Jasmine sudah keburu memberikan setengah senyumnya. “See? Kau bahkan sudah tidak bisa memercayaiku lagi.”
“Jasmine—”
“Kuharap kau senang, apapun yang kau lakukan sekarang. Dan semoga ada gadis baru yang bisa lebih memahamimu dan selalu ada untukmu.”
Begitu saja, Jasmine Lincoln pergi—dari kamarnya, juga dari kehidupannya.
.
.
Lilian Abrams hampir kembali histeris begitu mengetahui Hal akan kembali ke akademi secepat itu. Baru dua hari, dan tiba-tiba ranselnya sudah kembali di punggung. Tentu Lilian paham apa alasan di balik kepergian Hal yang sangat mendadak ini, hanya saja ibu mana yang ingin melihat anaknya pergi?
Namun Hal sudah terlanjur mengontak akademi. Teleportasi siap dalam waktu singkat, dan begitulah ia kembali ke Tower Prep. Hari sudah malam. Komplek sekolahnya itu sudah sepi, hanya beberapa pendar lampu yang tersisa. Kalau dia terus-terusan berdiri diam, bukan tidak mungkin para monitor akan memergokinya dan memberikan hukuman akibat melanggar jam malam.
Ia memasuki gedung Asrama Barat. Koridor juga sudah sama gelapnya. Ia sedang mencari kunci kamarnya ketika ia mendengar suara memanggil dari belakang, “Hal?”
Sommermarchen berdiri di tangga dengan pakaian tidurnya, dan Hal memasang ekspresi seolah-olah ia adalah anak kecil yang kepergok mencuri permen.
“Kenapa kembali cepat sekali?”
Hal menghela napas dalam-dalam, sengaja tidak menjawabnya secara verbal, tetapi dia membatinkan alasannya. Ia bisa melihat wajah Sommermarchen berubah prihatin dengan bantuan temaram bulan—gadis itu pasti baru saja membaca pikiranya.
“Hal, aku—”
“Apa kau takut dengan monitor?” Hal menginterupsi. “Kurasa aku butuh udara segar. Mungkin kau mau menemaniku.”
Ia sengaja tidak mengakhiri ucapannya dengan nada tanya, menggantikannya dengan sebuah harapan agar Sommermarchen menyetujui tawarannya—because he needs a company so badly. Untunglah gadis tersebut mengiyakan. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah duduk bersisian di pinggir danau, di dekat semak dengan harapan dedaunannya yang rimbun bisa menyamarkan sedikit keberadaan mereka.
“How’s that happen?”
“Kau sudah membaca pikiranku.”
“Tapi aku ingin mendengar langsung darimu. Who knows, menceritakannya langsung mungkin akan membuat perasaanmu lebih lega.”
Hal menunduk, lalu sejurus kemudian kata-kata itu mengalir dengan lancar dari mulutnya; tentang bagaimana ia menemukan gadis itu mencium pemuda lain, tentang Hal yang bisa merasakan kebencian yang amat dalam tatkala menginjak-injak pemuda berengsek itu, bagaimana Jasmine melangkah begitu saja dari kamarnya tanpa berbalik, juga bagaimana surat-surat itu akhirnya tidak pernah disampaikannya.
“I feel like an idiot, wasting my five years hoping that she will wait.” Tawanya terdengar sangat hambar.
“You’re not an idiot,” Sommermarchen berucap. “It’s just you being so tenacious, and you cannot blame yourself for that. Itu malah membuatmu jadi pribadi yang sangat baik.”
Hal merasakan genggaman di tangannya. “Someday, someone will walk into your life. Dia akan menghargai kegigihanmu lebih dari yang Jasmine lakukan, dan sebagai ganti atas kegigihanmu, dia akan rela menunggu selama apapun, karena percaya kau sedang berjuang untuk kembali kepadanya,” —semakin erat, genggaman itu.
“Jadi bersabarlah. Past is past. Kau masih punya banyak waktu. Jangan biarkan pemikiran itu membuatmu membuang-buang kehidupan yang menyenangkan.”
Matanya melirik tangan yang saling bertumpu. Kepalanya menengadah, kini tatapannya beralih ke Sommermarchen. Setengah-senyumnya memberikan efek yang jauh berbeda dengan setengah-senyum yang diberikan Jasmine pada pertemuan mereka; milik Sommermarchen memberikan ketenangan tersendiri, lebih tenang dari air danau pada malam itu. Kurvanya membuat wajah si gadis bersinar lebih terang daripada bulan purnama yang sedang berada di puncaknya, seolah mengajak si pemuda untuk sama-sama menghapus beban di pundak.
Namun saat itu, Hal Abrams sudah terlalu lelah. Dia butuh pegangan yang lain.
Oleh karena itu, dia menciumnya.
Dia mencium Sommermarchen, tepat di bibirnya. Perlahan tapi frustrasi, seolah si pemuda sudah menyerah dan gadis itu adalah pelampiasan. Genggamannya itu diubah menjadi sebuah cengkraman, secara tersirat mengungkapkan permohonan Hal: tolong jangan pergi, aku membutuhkanmu.
Tetapi, Sommermarchen pergi—atau setidaknya, terperanjat mundur dan menatap Hal tak percaya. Hal, sementara itu, baru saja menyadari tindakannya ketika melihat horor di mata gadis itu; dan pemikiran bodoh, bodoh itu tak ayal kembali.
“Aku—” Gadis itu seperti lupa tiap kata yang pernah dipelajarinya. “W-we should go. Para monitor bisa melihat kita.”
Nyatanya, hanya Sommermarchen yang beranjak, meninggalkan Hal yang masih duduk terdiam mengutuk dirinya sendiri.
.
.
Malam itu, si pemuda tidak bisa tidur.
Ia memikirkan semuanya; mulai dari hari pertama ia bertemu Jasmine Lincoln, mengajaknya berkencan, mencium gadis itu untuk pertama kali, bergandegan tangan dengan bangga melintasi koridor sekolah, ketika Jasmine membuat steak sebaik mungkin untuk makan malam ulang tahunnya keempat belas, hingga akhirnya ia mencium lelaki lain dan meninggalkannya.
Lalu ia mengingat hari pertama ia bertemu Sommermarchen, ketika ia berteriak dengan konyol ke dinding yang bisu dan gadis itu membaca pikirannya. Lalu ketika gadis itu bilang ia ingin bernyanyi saat pesta awal tahun. Juga ketika gadis itu menghampirinya membawakan cupcakes dan limun.
Jasmine bilang, semoga ada gadis yang lebih memahamimu. Sommermarchen selalu paham.
Jasmine bilang, semoga ada gadis yang selalu ada untukmu. Somermarchen selalu ada.
Sommermarchen bilang, suatu hari akan ada seseorang yang datang ke hidupnya. Maybe someday came today.
(God, it’s always been her.)
Keesokan harinya, ia mencari Sommermarchen di tempat favoritnya: dapur. Di sanalah gadis itu berada, sedang memasak. Gadis itu nyaris terperanjat melihat Hal di ambang pintu, tetapi Hal hanya tersenyum kecil sambil berucap, “It’s okay. I won’t take long.”
Hal bahkan tak merepotkan diri dengan masuk. Toh, barangkali Sommermarchen masih syok dengan tindakannya semalam. “I’m sorry,” dia mulai berucap. “I shouldn’t have kissed you at the first place. It’s not nice.” Apalagi ia mencium gadis itu dalam keadaan setengah sadar dan frustrasi. She deserves better.
“Tapi,” ia melanjutkan. “Kuharap kau mau memberiku kesempatan sekali lagi. The next time, I’ll do it in a proper way.” Bibirnya memulas senyum. “Kau bilang aku gigih, jadi aku akan menggunakannya untuk memenangkanmu. Aku akan berusaha menonjol di antara para penggemarmu dan berharap kau akan memilihku pada akhirnya.”
Sommermarchen tidak membalas, dan Hal memang tidak berharap gadis itu akan berkata apa-apa, jadi ia mencoba memecah keheningan dengan berkelakar, “ngomong-ngomong, aku lapar tapi juga mengantuk karena kurang tidur, jadi…boleh aku minta pesan antar?”
They’re both giggling, and then smile at one another.
“Akan dikirim segera, Tuan.”
“Why, thank you,” ujar Hal. “Just put it on my bill, ‘kay?”
Dengan itu, Hal Abrams melangkah kembali ke kamarnya, meninggalkan sejumput harapan di dapur bahwa Sommermarchen Skapsvard akan membalas kata-katanya suatu hari nanti. Tak perlu buru-buru, tak usah tergesa-gesa.
Let “someday” become someday. Eventually, it will come anyway.