“Halaman yang Berubah Menjadi Rumah Kehidupan: Kebun Organik sebagai Cermin Diri” Oleh: Rina Afriani
Kembali saya teringat ke masa lalu he he. berawal dari kehadiran seorang guru besar sekolah kehidupan yang nama sapaan keren nya adalah Mas shd atau mas guru pada bulan Juni tgl 4, 2024 ke kota kelahiran saya Payakumbuh bertempat di kediaman saya, sebelum masuk kedalam rumah mas guru berdiri dan memandang di sekeliling dan sempat juga mengambil foto di sekitar, mas guru bicara sambil geleng geleng kepala, hmmm ini halaman cukup luas, kenapa sih tidak di manfaatkan? Dari pada kamu ngayal nggak ada guna mending bertanam tanaman seperti cabe, tomat, sayur setidaknya udah bisa untuk kebutuhan dapur, ndak perlu lagi beli ke pasar dan tentunya juga lebih sehat dengan hasil kebun sendiri.
Kata kata ini sangat mengusik saya, saya merasa tertampar, namun pada saat itu kondisi saya yang memang lagi sakit dan tak bisa untuk bekerja berat apalagi mencangkul atau bertanam tanam, dengan semangat yang pantang menyerah saya coba pelan pelan tapi gagal, ahirnya saya minta bantuan teman di RPI, kami mulai bekerja mencangkul dan memberi pupuk yang kami dapat dari pak Andreas ( saya lupa n tak tau namanya apa? Yaah harap maklum saya tak pernah tertarik dan tak berminat untuk bertanam tanam tapi karna merasa tertampar oleh kalimat mas guru saja ( ini pandangan awal saya) .
Setelah kami coba dengan bekerja maksimal ahirnya teman teman menyerah karna emang menurut mereka tanah ini sangat tidak layak untuk di olah, semua penuh dengan bebatuan, sampah, plastiik dan sebagainya, ini tanah urukan, akhirnya semua perjuangan terhenti. Kami tidak lanjutkan lagi.
Cukup lama saya fakum dan berpikir apa langkah yang harus saya lakukan..?? Tiba tiba anak saya membawa tanaman kunyit dan daun pandan. “Umi,” anak saya memangil saya, “ Kata Bunda, tanamlah ini di halaman rumah dari pada gersang begitu saja,” katanya pada saya saat itu. Singkat cerita saya coba tanam di tanah meskipun saya berpikir rasanya tak mungkin bisa tumbuh tanaman itu.
Aneh bin ajaib, ternyata tanaman itu tumbuh meski kurang bagus, wah secercah harapan mulai hadir. Muncul ide untuk mengambil tanah di tempat parak (lahan orang) yg bisa saya minta tanahnya. Lalu saya timbun di sekitar tempat yg mau saya tanami. Dan akhirnya, perlahan-lahan tanah tersebut mulai ada perubahan. Saya sering menyirami tanah itu dengan Eco Enzym, ampas eco enzyme, sehingga mulailah tampak kehidupan dari tanah tersebut. Muncul cacing-cacing di sekitarnya. Mulailah saya tanami berbagai bunga biar area lahan terlihat makin asri.
Setelah bunganya ramai dan tanah makin bagus, saya coba menanam tanaman yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari seperti kunyit, serai. Lalu saya juga coba pakai polyback untuk menanam sayuran, karena belum percaya sepenuhnya dgn kondisi tanah saat itu jika untuk menanam sayur-sayuran. Kemudian perlahan-lahan saya mulai ertarik dengan berkebun di halaman. Saya mulai menanam tanaman yang bermanfaat lainnya untuk di konsumsi seperti bunga telang dan jahe. Sekarang di kebun organic halaman rumah saya, sudah banyak tanaman yang saya tanam, diantaranya: pohon alpokat, mangga, cabe, tomat, pakchoi, selada, terong, kangkung, bayam, daun bawang, dan strawberry. Terkhusus untuk Alpokat saya tanam mulai dari biji yang di semai, dan sekarang sudah tumbuh besar dengan baik.
Semua tanaman ini saya rawat sendiri, mulai dari menanam, menyiram dan memberi pupuk, sering saya siramin dengan air beras, eco enzyme sebagai pupuk juga. Beberapa bulan ini saya dan teman komunitas membuat pupuk organic. Saya pakai pupuk organic tersebut pada tanaman saya. Dan hasilnya bagus. Sejauh ini, Saya rasa hampir tidak merasa ada kesulitan lagi dalam merawat tanaman ini. Saya menyirami tanaman di kebun saya ini dua kali dalam satu hari. Pagi dan sore hari dengan mengangkat air pakai ember langsung dari kolam ikan sambil olah raga ( tidak pake air kran) .
Jika kembali mengingat perjuangan di awal berkebun, benar-benar merasa repot. Rasa jengkel, marah-marah, kecewa, putus asa sering dialami. Karena selain proses memulihkan tanahnya yang perlu kerja keras, juga dikarenakan sebelumnya tanaman di kebun saya yang belum dipagari saat itu, seringkali diganggu ayam atau dicuri orang.
Lalu apa manfaat yang saya rasakan saat ini? Wooow rasanya tak bisa untuk diucapkan dengan kata kata. Namun lebih sederhananya yang saya rasakan adalah Saya senang, saya bahagia, apalagi ketika saya duduk di beranda rumah sambil menikmati kebun yang berada di halaman rumah, rasanya nggak ingat waktu, nggak terasa panas yang buat kulit saya makin ireeng dan kering .. 😂😂😂
Jika malam tiba, saya paling senang duduk di teras sambil menatap tanaman, menyanyi-nyanyi kecil. Tersenyum sendiri, menikmati kopi atau teh hangat. Kadang saya lakukan meditasi di momen tersebut. Kadang saya ajak anak-anak duduk bareng di teras untuk menikmati momen bersama. Waaah rasa bahagia itu benar-benar nyata, meski terkadang rasa tak percaya, nggak kebayang saya bisa punya kebun sendiri dan merawatnya sendiri…??
Alhamdulillah hasil kebun organic di halaman rumah ini juga hasilnya sudah bisa saya nikmati. Dari hasil kebun ini saya bisa panen kangkung, bayam, daun bawang, kucai, dan cabe rawit. Saya juga bisa nikmati tomat ceri yang rasanya manis dan strawbery yang dipanen dari kebun dan dimakan bersama anak-anak saya. Ada juga bunga telang dan serai dari hasil kebun yang saya minum tiap pagi sebagai pengganti the. Wooooow kereeen lah… Thks mas guru, kang dudung, yg udah buat saya seperti ini. 🙏🙏.
Saya bersyukur juga lewat berkebun ini, saya merasakan ada perubahan dalam kepribadian saya. Diantaranya saya menjadi lebih sabar, mulai lebih telaten, dan lebih produktif ( tak ada waktu utk . ngayal babu, 😂😂). Ada muncul rasa lebih sayang dan cinta terhadap bumi, tanah dan tanaman.
Tips langkah membuat kebun organic versi Rina :
Siapkan Tanah yang Sehat
Gemburkan tanah dengan cangkul atau garpu taman.
Tambahkan kompos atau pupuk organik untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Pilih Bibit atau Benih Organik
Gunakan benih yang baik
Pilih tanaman sesuai iklim lokal dan kebutuhan keluarga (sayur, buah, atau herbal).
Gunakan Pupuk Alami
Kompos dapur, pupuk kandang, atau pupuk hijau bisa menjadi sumber nutrisi.
Hindari pupuk kimia agar ekosistem tanah tetap terjaga.
Manfaatkan Air Secara Bijak
Siram secukupnya, jangan berlebihan.
Rawat dengan Konsistensi
Lakukan penyiangan rutin agar gulma tidak mengganggu.
Perhatikan tanda-tanda kesehatan tanaman dan segera tangani dengan cara alami










