Fix your thought, fix your heart
“When you get what you need, and not what you want .... be grateful~~~” *ngganti lirik lagu orang -_-”
But, I mean it. Jika kamu mendapatkan apa yang kamu butuhkan, tapi bukan yang kamu inginkan, maka bersyukurlah! Satu-satunya cara bersabar akan hal itu adalah dengan bersyukur.
Jadi di sini saya ingin berbagi pengalaman dan perasaan saya dalam menjalani hidup ini, yang kemudian mampu merubah cara pandang saya. Pada postingan sebelumnya berjudul Tidak Selamanya Harus Memilih, sudah saya beberkan mengenai cita-cita saya setelah lulus S1. Ya, melanjutkan ke jengjang yang lebih tinggi hingga S3 dengan niat mempersiapkan madrasah terbaik untuk anak-anak saya kelak. Dan Alhamdulillah Allah mengijabah doa saya. Allah memberikan saya kesempatan untuk melanjutkan studi hingga S3 dengan beasiswa di Korea Selatan.
Waw, sungguh saya sangat beruntung.
Itu yang seharusnya saya pikirkan kan? Namun jujur, pertama kali mendengar pengumuman bahwa saya lolos, ada perasaan yang campur aduk, antara senang dan sedih. Sedih? Iya sedih, karena sebenarnya negara tujuan saya selama ini adalah Jepang, sebagaimana amanah dan janji kepada ibu saya. Perasaan ini lah yang mengganggu saya.
“Kenapa kamu terima beasiswa yang ke Korea kalau begitu?”
Begini. Saya teringat akan nasehat dosen pembimbing skripsi saya, saat saya menjelaskan kepada beliau mengenai rencana S2 saya. Saya bercerita bahwa saya ingin lanjut studi ke Jepang. Beliau mengatakan,
“Bagus mba kalau memang ingin lanjut ke luar. Tapi, mba harus pintar-pintar dalam menerjemahkan setiap keputusan Allah. Kalau mba sudah ikhtiar ke Jepang, namun belum keterima, tidak apa-apa masih ada jalan lain, misal kembali kuliah di UGM. Bisa jadi rezeki mba di tempat lain”
Itu adalah inti nasehat beliau yang saya jabarkan dengan kalimat saya sendiri :D Ya begitulah, wkwk.
Berbekal nasehat beliau, perlahan saya mulai melihat dan menerjemahkan keputusan yang Allah berikan, sebelum memutuskan menerima beasiswa itu. Satu-persatu mozaik ingatan saya mengenai ikhtiar ke Jepang, saya telaah kembali. Benar. Saya merasa takdir tidak meloloskan saya ke Jepang. Maksud saya adalah, setiap rencana saya ke Jepang selalu terkendala dengan satu-dua hal, sebagai contoh :
- Waktu itu saya belum memiliki satupun publikasi internasional. Ini terjadi di bulan Maret 2017 (bulan di mana ibu saya meninggal) ketika itu saya mencoba melamar internship di NAIST, Jepang. Saat wawancara di Indonesia, dengan calon dosen penguji (wkwk dengan Pak Ahmad, the best nih beliau <3) saya merasa yakin akan lolos, karena TOEFL-ITP saya bisa dikatakan tinggi. Walaupun presentasinya kacau balau karena mendadak diminta pakai Bahasa Inggris, sedangkan persiapannya pakai Bahasa Indonesia -___-. Dan benar dosen reviewer meloloskan saya sebagai calon peserta internship dari UGM. Namun, qadarullah saat tanggal 10 April 2017 (hari saya sidang skripsi :D), malamnya saya mendapatkan email bahwa saya tidak lolos seleksi dari NAIST. Mengapa? Karena yang diloloskan adalah peserta yang setidaknya memiliki satu publikasi internasional. Padahal jika melihat tahun sebelumnya, yang lolos adalah peserta yang memiliki TOEFL tinggi. Munculah argument saya, mungkin rezeki saya bukan di Jepang.
- Seperti yang saya jabarkan sebelumnya TOEFL saya masih ITP. Mengapa masih ITP? Karena untuk biaya tes toefl yang paling murah adalah ITP, dan selain itu beasiswa LDPD masih mensyaratkan minimal menggunakan TOEFL-ITP. Sayang sekali, karena toefl ITP saya itu pula berkas pengajuan beasiswa saya ditolak oleh pihak MEXT (beasiswa dari pemerintah Jepang). Nah ada beberapa kasus yang unik, dari teman saya yang melanjutkan di Jepang, ada yang dapat lolos MEXT meski menggunakan TOEFL-ITP. Selain itu rencana awal saya untuk mendaftar mendaftar LPDP untuk ke luar negeri harus saya kubur terlebih dahulu. Karena qadarullah muncul syarat baru untuk peserta yang akan mengajukan beasiswa LPDP ke luar negeri, yakni pelamar harus menggunakan TOEFL iBT atau Ielts. Keberadaan syarat baru ini memperkuat argument saya, mungkin rezeki saya bukan di Jepang.
- Meski begitu, saya masih belum menyerah. Bulan Agustus 2017 lalu saya memperoleh informasi penawaran beasiswa di Jepang. Agar tidak terulang hal yang sama, saya berniat menyiapkan segala dokumennya sejak awal. Seperti segera membuat paspor, mempersiapkan test TOEFL iBT agar dokumen saya diterima, mengurus surat rekomendasi untuk beberapa beasiswa dan universitas ke dekanat FMIPA UGM, ikut konferensi internasional, hingga memulai menabung biaya pendaftaran administrasi sebesar 3 juta. Tidak hanya sampai di situ, saya juga berburu professor Jepang yang sekiranya mau menerima saya dan background penelitian saya. Namun sekali lagi, qadarullah dari 5 professor yang saya hubungi tidak ada yang bersedia menerima saya dengan alasannya masing-masing. Saat itu saya sempat down. Saya merasa, ya Allah mengapa begitu banyak rintangan yang saya hadapi. Apakah ini pertanda dari Mu bahwa rezeki saya mungkin bukan di Jepang?
Nah, di saat saya down, Allah seperti menjawab pertanyaan saya. Qadarullah saya melihat ada informasi mengenai beasiswa Kookmin University di Korea Selatan dari grup WA riset non-linear dan angkatan fisika 2013. Deadline pengiriman berkasnya tanggal 27 September 2017. Tidak seperti biasanya, saya tertarik untuk mendaftar. Dan saya pun mencoba mendaftar.
Hingga akhirnya (tidak menyangka) bahwa saya dinyatakan lolos beasiswa. Untuk cerita proses pendaftarannya insya Allah akan ada di postingan selanjutnya :)).
Inilah alasannya mengapa saya memutuskan memilih beasiswa di Korea Selatan. Alasan ini pulalah yang mendorong saya bersyukur dengan beasiswa ini. Saya menyimpulkan bahwa Allah mentakdirkan saya untuk belajar di negara tetangga Jepang. Dan semoga saya tidak salah dalam hal itu. Aamiin.
Yang perlu saya lakukan sekarang adalah tetap bersyukur, dan kembali berikthiar untuk memperjuangkan jalan ini. Jalan mengabdi yang sudah ibu saya amanahkan. Mungkin terlihat sepi, namun semoga saya mampu istiqomah.
Semoga bermanfaat :)) Pesan saya adalah, always try to see the good things even in the toughest time, because it is a blessing from Allah :).
Keep Hamasah! and believe in Allah ^^