Kaohsiung, 3 April 2016
“SUMPAH.” Sebuah suara terdengar sangat jelas di ruangan yang hening, asik membicarakan satu-dua kehidupan yang terlewat dengan suara yang lain, “LANTAINYA TERBALIK DAN, OH, KAU HARUS LIHAT MUKANYA JAZZ! KOCAK SEKALI BUAHAHAHAHAHA!”
Tawa lepas begitu menggelegar di kamar seorang pemilik yang tengah meniupkan kelima polesan krem kuku-kuku, sementara netra fokus menilik berkas-berkas di hadapan. Hanazawa Urara melirik sekilas ke persegi kecil di sudut kanan atas layar Mac-nya yang menampilkan satu potret menyebalkan dari pemilik tawa kurang ajar itu. Jauh di sana, entah di mana, seorang laki-laki berambut pirang tengah tergelak dengan tangan memegang perut dan mulut terbuka lebar; indikasi dari betapa menggelikan menurutnya lelucon tentang adik perempuannya, Jazzy, barusan. Lihat saja, bagaimana heboh kejadian yang menurutnya bukan lucu melainkan mengenaskan itu diceritakan tanpa memikirkan perasaan sang korban. Jazz pasti mencak-mencak kalau tahu dirinyalah yang menjadi objek guyonan obrolan mereka saat ini. Tapi, yah, memang sang kakak peduli? Dasar. Urara hanya geleng-geleng maklum meski bibirnya terkulum menahan senyum.
Tawa itu menular, tidak peduli betapa hambar lelucon yang dilontar pun cerita yang membingungkan. Tak jarang Urara harus mengurutkan dulu acak kronologinya lalu menemukan di mana letak humornya dan selalu berakhir menghela napas panjang mengingat hal tersebut hanya menyita waktu dan atensinya. Awalnya memang demikian, namun belakangan wanita separuh Taiwan itu menemukan hal menarik lain di samping menganalisis lelucon-lelucon garing; ia jauh lebih menikmati reaksi yang selalu tiba-tiba terjadi di tengah proses bercerita seperti menanti kejutan. Terkadang ekspresi datar yang ditampilkan, picingan mata, seringai misterius, sampai yang paling sering adalah gedebuk mengagetkan diikuti seruan, “OH!”. Sinting. Urara tersenyum mengingat kebiasaan ini sementara orang berisik itu masih sibuk mengoceh garing. Ia sadar, apa yang menyebabkannya seringkali mendengus lalu tertawa sebetulnya bukan inti dari nyaris semua guyonan, melainkan bagaimana ekspresi Muriel, laki-laki garing dari Azerbaijan itu terlihat. Tuturnya menggebu, tangannya melayang membentuk isyarat tertentu, kisahnya menyenangkan.
“Aku nggak bisa membayangkan betapa malunya Jazz,” potong Urara kemudian, “kau tahu, itu sih sudah kesialan pangkat tiga. Semua perempuan jelas malu bukan kepalang dipermalukan begitu, oleh orang yang disuka pula.”
Muriel yang tiba-tiba terdistraksi pun menanggapi hanya dengan senyuman aneh saat Urara kembali meliriknya. Wanita itu akhirnya selesai dengan berkas-berkasnya untuk pagi ini dan mulai melakukan peregangan otot, terutama pegal-pegal di leher. Sejak pukul tiga lewat empat puluh lima, kesadarannya sudah harus ditarik dari dunia mimpi yang seakan tidak mengizinkannya untuk bangun dan menjalani hari. Bagaimana kalau tidur lagi dan bangun siang nanti? Goda batinnya yang memang suka mempertanyakan hal-hal bodoh. Tanpa ditanya juga Urara sebetulnya dengan senang hati menerima penawaran menggiurkan itu, tetapi empat belas hari waktu cuti mengingatkannya untuk tidak lupa diri. Jadilah dia mengerang dalam tidurnya dan menarik napas banyak-banyak sembari beranjak menuju wastafel dengan berat hati.
Itu terjadi tiga puluh lima menit lalu, kala paginya dimulai dengan mengecek ponsel untuk menyerap cepat informasi atas sebaris email dari atasan dan rekan yang membuatnya sekejap meraih laptop. Padahal baru kemarin dia tiba di bandara setelah tiga belas jam penerbangan dari Izumo. Agendanya di Foxconn pagi ini adalah menghadiri rapat mengenai revisi terbaru dari kalender finansial yang akhirnya menemukan titik terang setelah diskusi melelahkan dua minggu lalu, tepat sehari sebelumlibur panjangnya diberikan. Maksud terpenting yang dapat wanita kelahiran dua puluh satu April itu tangkap adalah bahwa dia, mereka, dan semua yang bekerja atas nama Foxconn harus giat lagi dalam mencapai target masing-masing untuk ke depannya, lebih-lebih berbenah diri mengingat kondisi perusahaan elektronik ternama tersebut belum lamakembali dilanda isu tak mengenakkan. Tipikal.
Jadi, perkenalkan Hanazawa Urara, wanita kelahiran Jepang pada musim semi dua puluh empat tahun silam yang memilih untuk berkarier sebagai wanita kantoran di bawah pimpinan Ketua Divisi Sumber Daya Manusia di Foxconn ini. Profesinya dalam mengevaluasi pegawai membuat Urara terbiasa detil dalam mengkritisi kinerja dan larut saat menganalisis tumpukan data. Kehidupan masa depan yang tengah dijalaninya ternyata melenceng jauh dari apa yang diprediksikan Hanazawa Gou dan Hsien Yu, kedua orang tua berbeda kewarganegaraan itu. Urara yang lahir di tanah Shimane, kota Matsue, dibesarkan di lingkungan sederhana dengan sedikit kerabat mengingat tempatnya tumbuh dan berkembang adalah prefektur dengan jumlah penduduk paling sedikit sebelum Tottori. Kakek buyutnya adalah perintis usaha Tamaikan yang diwariskan turun-temurun dan kini berada dalam kendali ayahnya. Berhubung tempat itu adalah penginapan, otomatis Urara sedari kecil tinggal di sana. Tidak banyak kenangan yang Urara dapatkan sampai remaja, karena meski orang-orang baru selalu hadir dan berlalu-lalang di Tamatsukuri, teman akrabnya masih bisa dihitung jari. Kebanyakan dari mereka datang dan tidak kembali.
Saat menjadi mahasiswi Universitas Shimane pun Urara mengambil konsentrasi bisnis dengan harapan dapat mengelola Tamaikan jauh lebih baik dari apa yang telah dijalani ayah serta kakek-kakeknya. Ia menyanggupi, tentu saja, tidak ada yang buruk tentang ide menjaga baik-baik warisan berharga keluarga. Tidak sampai kunjungan pertamanya ke Kaohsiung tujuh lalu bersama sang ibu setelah konflik lama akhirnya mereda. Orang tua Hsien Yu tidak pernah merestui pernikahan anak semata wayang mereka dengan Hanazawa Gou, ayahnya yang meski ditawarkan kondisi tetap tak mau menuruti. Mereka setuju tentang pernikahan kalau Yu tetap tinggal di Taiwan, tetapi syarat malah berakhir dengan pelanggaran karena nyatanya sampai Urara berumur delapan belas, ibunya tidak sekali pun pulang ke rumah. Meski hanya surat-surat tanpa balas yang wanita paruh baya itu kirimkan ke Kaohsiung, ketulusan di dalamnya akhirnya dapat tersampaikan.
“Kau gimana di Fox?”
Pertanyaan Muriel membawanya kembali ke dunia. Ia memang menyebut Foxconn, satu dari kiranya semua perusahaan yang menurutnya membosankan itu, hanya dengan Fox; masih belum gemar bertanya panjang lebar. Kelihatannya Muriel kehabisan bahan pembicaraan karena jarang sekali ia repot-repot menanyakan kabar kantor. Laki-laki yang ditemuinya di Danau Shinjiko lima tahun lalu itu sedikit banyak tahu tentang Urara dan sebaliknya. Mereka biasa berkabar lewat Skype dan telponan ketika sudah bosan melihat wajah masing-masing. Lewat keduanya, ada satu ciri yang sukar berubah, yaitu latar dan bising yang membelakangi suara Muriel. Pasti berbeda. Satu saat hiruk-pikuk dengan keindahan alam yang membentang, saat yang lain pekik nyaring orang-orang dengan warna-warni properti panggung. Meski pilihan lokasi biasanya hanya dua; teater pusat kota atau tanah orang, Urara masih kesulitan menebak di mana laki-laki itu tengah berada.
“Baik, kau di Baku, anyway? Aku ingat kamarmu.”
Mereka melanjutkan percakapan selama tiga puluh menit ke depan, sampai akhirnya Urara beranjak dari kasur dan meraih handuknya. Selesai mandi, Urara mendapati sambungan Skype-nya sudah terputus, jadilah dia bersiap dengan pakaian dan aksesori untuk hari ini. Sepotong blus toska membalut tubuhnya yang ramping dipadu dengan rok span putih selutut. Urara kemudian mengeluh memikirkan gaya rambutnya, bingung karena dia sebenarnya sudah lama menginginkan potongan seleher. Praktis, tidak usah diapa-apakan. Niat ini sudah pernah dipraktikkan enam tahun lalu, yang menyebabkan amarah cukup serius Gou kala mengetahui rambut hitam anaknya telah habis dipangkas. Sang ayah frustrasi dan menenggak lebih banyak sake malam itu. Urara awalnya tidak begitu peduli daripada makin pusing, toh nanti pasti tumbuh lagi; tetapi Gou melancarkan aksi ngambeknya dengan mendiamkan Urara selama nyaris seminggu.
“Digerai? Diikat?”
Tanyanya pada diri sendiri. Ah, sudahlah. Urara menggulung tinggi rambut lurusnya menjadi satu cepol dengan ikat biru. Selesai memasang anting, wanita itu memakai jam hitam kesayangannya dan memasukkan sebagian berkas serta laptop yang sudah lebih dulu dinonaktifkan ke tas selempang di atas meja rias. Ia menyapukan sedikit riasan ke wajahnya dan menyambar blazer putih sebelum turun untuk mencomot selembar cokelat roti. Setelah meneguk air, Urara melangkah ke kamar yang berada di depan dapur, membuka pelan pintunya, dan mengendap tanpa suara. Ia membungkuk untuk mencium kedua sosok yang masih terlelap dalam tidur; kening untuk kakek dan pipi untuk nenek. Ya, Urara kini tinggal bersama mereka selepas lulus kuliah.
“Ittekimasu.”
Butuh waktu paling lama lima belas menit untuk sampai di kantor pusat pemasaran yang terletak tiga blok dari kediaman keluarga ibunya. Dengan sepatu tinggi senada warna blus, Urara menyusuri turunan dan berjalan lebih cepat dari biasa. Dia menyukai Kaohsiung di pagi hari; udara segar dan cicitan burung, ramah tamah para tetangga, dan pengantar koran, keramaian yang selalu menyejukkan. Belok ke kiri, terlihat sudah gedung pencakar langit tempatnya menandatangani kontrak. Urara sampai dua menit kemudian dan langsung menuju ruangan divisinya untuk mengambil catatan yang tertinggal. Tidak lupa ia menyapa penghuni Foxconn dan mereka yang belum berada di lantai tujuh.
“Ayo, Urara,” ajak Sun Jing, rekannya sesama divisi, “sebentar lagi rapat dimulai.”
Wanita itu mengangguk dan menyusul Sun Jing ke lift, bersama memasuki ruangan rapat yang sudah ramai oleh entitas dari semua divisi. Urara melihat Hachouji Ryouichi, ketua divisinya, Scarlett Qiu, seorang wanita independen pun populer dari HRD, dan masih banyak yang lain.
“Ekhm.”
Urara menoleh, mendapati seseorang yang ia tahu berasal dari divisi finansial menduduki spasi di samping kirinya. Sedikit canggung, Urara pun refleks ber-ojigi, bentuk sapa tersopannya mengingat bersuara pun tidak akan terdengar. Well, entah memang begitu senyumannya atau apa, Urara tidak ingin memikirkan lebih jauh. Hari-hari pertama sebaiknya ia fokuskan ke pokok masalah perusahaan dengan sungguh-sungguh agar dapat menjadi seseorang yang benar produktif dan berguna.
“Selamat pagi.”
Pak Bos memasuki ruang rapat dan menyapa Foxconn dengan wibawa yang tak perlu lagi dipertanyakan. Pintu telah ditutup dan beliau menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Keseriusan yang menguar terasa dua kali lebih pekat. Setelah hening menggantikan bising, proyektor utama dinyalakan, laptop siap di hadapan, satu tarikan napas diembuskan, well, yeah, selamat datang hari penuh kepenatan.









