Things that need truth, some demand explanations aside to whomever it is told.

roma★

blake kathryn
art blog(derogatory)
Cosimo Galluzzi

Love Begins

Kaledo Art
taylor price

tannertan36
sheepfilms
almost home
No title available

izzy's playlists!

Discoholic 🪩
noise dept.
wallacepolsom
KIROKAZE

PR's Tumblrdome
🩵 avery cochrane 🩵

★
todays bird
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from India

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Chile

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Italy

seen from Argentina
seen from Philippines
seen from Malaysia
@circ-an
Things that need truth, some demand explanations aside to whomever it is told.
Kaohsiung, 3 April 2016
“SUMPAH.” Sebuah suara terdengar sangat jelas di ruangan yang hening, asik membicarakan satu-dua kehidupan yang terlewat dengan suara yang lain, “LANTAINYA TERBALIK DAN, OH, KAU HARUS LIHAT MUKANYA JAZZ! KOCAK SEKALI BUAHAHAHAHAHA!”
Tawa lepas begitu menggelegar di kamar seorang pemilik yang tengah meniupkan kelima polesan krem kuku-kuku, sementara netra fokus menilik berkas-berkas di hadapan. Hanazawa Urara melirik sekilas ke persegi kecil di sudut kanan atas layar Mac-nya yang menampilkan satu potret menyebalkan dari pemilik tawa kurang ajar itu. Jauh di sana, entah di mana, seorang laki-laki berambut pirang tengah tergelak dengan tangan memegang perut dan mulut terbuka lebar; indikasi dari betapa menggelikan menurutnya lelucon tentang adik perempuannya, Jazzy, barusan. Lihat saja, bagaimana heboh kejadian yang menurutnya bukan lucu melainkan mengenaskan itu diceritakan tanpa memikirkan perasaan sang korban. Jazz pasti mencak-mencak kalau tahu dirinyalah yang menjadi objek guyonan obrolan mereka saat ini. Tapi, yah, memang sang kakak peduli? Dasar. Urara hanya geleng-geleng maklum meski bibirnya terkulum menahan senyum.
Tawa itu menular, tidak peduli betapa hambar lelucon yang dilontar pun cerita yang membingungkan. Tak jarang Urara harus mengurutkan dulu acak kronologinya lalu menemukan di mana letak humornya dan selalu berakhir menghela napas panjang mengingat hal tersebut hanya menyita waktu dan atensinya. Awalnya memang demikian, namun belakangan wanita separuh Taiwan itu menemukan hal menarik lain di samping menganalisis lelucon-lelucon garing; ia jauh lebih menikmati reaksi yang selalu tiba-tiba terjadi di tengah proses bercerita seperti menanti kejutan. Terkadang ekspresi datar yang ditampilkan, picingan mata, seringai misterius, sampai yang paling sering adalah gedebuk mengagetkan diikuti seruan, “OH!”. Sinting. Urara tersenyum mengingat kebiasaan ini sementara orang berisik itu masih sibuk mengoceh garing. Ia sadar, apa yang menyebabkannya seringkali mendengus lalu tertawa sebetulnya bukan inti dari nyaris semua guyonan, melainkan bagaimana ekspresi Muriel, laki-laki garing dari Azerbaijan itu terlihat. Tuturnya menggebu, tangannya melayang membentuk isyarat tertentu, kisahnya menyenangkan.
“Aku nggak bisa membayangkan betapa malunya Jazz,” potong Urara kemudian, “kau tahu, itu sih sudah kesialan pangkat tiga. Semua perempuan jelas malu bukan kepalang dipermalukan begitu, oleh orang yang disuka pula.”
Muriel yang tiba-tiba terdistraksi pun menanggapi hanya dengan senyuman aneh saat Urara kembali meliriknya. Wanita itu akhirnya selesai dengan berkas-berkasnya untuk pagi ini dan mulai melakukan peregangan otot, terutama pegal-pegal di leher. Sejak pukul tiga lewat empat puluh lima, kesadarannya sudah harus ditarik dari dunia mimpi yang seakan tidak mengizinkannya untuk bangun dan menjalani hari. Bagaimana kalau tidur lagi dan bangun siang nanti? Goda batinnya yang memang suka mempertanyakan hal-hal bodoh. Tanpa ditanya juga Urara sebetulnya dengan senang hati menerima penawaran menggiurkan itu, tetapi empat belas hari waktu cuti mengingatkannya untuk tidak lupa diri. Jadilah dia mengerang dalam tidurnya dan menarik napas banyak-banyak sembari beranjak menuju wastafel dengan berat hati.
Itu terjadi tiga puluh lima menit lalu, kala paginya dimulai dengan mengecek ponsel untuk menyerap cepat informasi atas sebaris email dari atasan dan rekan yang membuatnya sekejap meraih laptop. Padahal baru kemarin dia tiba di bandara setelah tiga belas jam penerbangan dari Izumo. Agendanya di Foxconn pagi ini adalah menghadiri rapat mengenai revisi terbaru dari kalender finansial yang akhirnya menemukan titik terang setelah diskusi melelahkan dua minggu lalu, tepat sehari sebelumlibur panjangnya diberikan. Maksud terpenting yang dapat wanita kelahiran dua puluh satu April itu tangkap adalah bahwa dia, mereka, dan semua yang bekerja atas nama Foxconn harus giat lagi dalam mencapai target masing-masing untuk ke depannya, lebih-lebih berbenah diri mengingat kondisi perusahaan elektronik ternama tersebut belum lamakembali dilanda isu tak mengenakkan. Tipikal.
Jadi, perkenalkan Hanazawa Urara, wanita kelahiran Jepang pada musim semi dua puluh empat tahun silam yang memilih untuk berkarier sebagai wanita kantoran di bawah pimpinan Ketua Divisi Sumber Daya Manusia di Foxconn ini. Profesinya dalam mengevaluasi pegawai membuat Urara terbiasa detil dalam mengkritisi kinerja dan larut saat menganalisis tumpukan data. Kehidupan masa depan yang tengah dijalaninya ternyata melenceng jauh dari apa yang diprediksikan Hanazawa Gou dan Hsien Yu, kedua orang tua berbeda kewarganegaraan itu. Urara yang lahir di tanah Shimane, kota Matsue, dibesarkan di lingkungan sederhana dengan sedikit kerabat mengingat tempatnya tumbuh dan berkembang adalah prefektur dengan jumlah penduduk paling sedikit sebelum Tottori. Kakek buyutnya adalah perintis usaha Tamaikan yang diwariskan turun-temurun dan kini berada dalam kendali ayahnya. Berhubung tempat itu adalah penginapan, otomatis Urara sedari kecil tinggal di sana. Tidak banyak kenangan yang Urara dapatkan sampai remaja, karena meski orang-orang baru selalu hadir dan berlalu-lalang di Tamatsukuri, teman akrabnya masih bisa dihitung jari. Kebanyakan dari mereka datang dan tidak kembali.
Saat menjadi mahasiswi Universitas Shimane pun Urara mengambil konsentrasi bisnis dengan harapan dapat mengelola Tamaikan jauh lebih baik dari apa yang telah dijalani ayah serta kakek-kakeknya. Ia menyanggupi, tentu saja, tidak ada yang buruk tentang ide menjaga baik-baik warisan berharga keluarga. Tidak sampai kunjungan pertamanya ke Kaohsiung tujuh lalu bersama sang ibu setelah konflik lama akhirnya mereda. Orang tua Hsien Yu tidak pernah merestui pernikahan anak semata wayang mereka dengan Hanazawa Gou, ayahnya yang meski ditawarkan kondisi tetap tak mau menuruti. Mereka setuju tentang pernikahan kalau Yu tetap tinggal di Taiwan, tetapi syarat malah berakhir dengan pelanggaran karena nyatanya sampai Urara berumur delapan belas, ibunya tidak sekali pun pulang ke rumah. Meski hanya surat-surat tanpa balas yang wanita paruh baya itu kirimkan ke Kaohsiung, ketulusan di dalamnya akhirnya dapat tersampaikan.
“Kau gimana di Fox?”
Pertanyaan Muriel membawanya kembali ke dunia. Ia memang menyebut Foxconn, satu dari kiranya semua perusahaan yang menurutnya membosankan itu, hanya dengan Fox; masih belum gemar bertanya panjang lebar. Kelihatannya Muriel kehabisan bahan pembicaraan karena jarang sekali ia repot-repot menanyakan kabar kantor. Laki-laki yang ditemuinya di Danau Shinjiko lima tahun lalu itu sedikit banyak tahu tentang Urara dan sebaliknya. Mereka biasa berkabar lewat Skype dan telponan ketika sudah bosan melihat wajah masing-masing. Lewat keduanya, ada satu ciri yang sukar berubah, yaitu latar dan bising yang membelakangi suara Muriel. Pasti berbeda. Satu saat hiruk-pikuk dengan keindahan alam yang membentang, saat yang lain pekik nyaring orang-orang dengan warna-warni properti panggung. Meski pilihan lokasi biasanya hanya dua; teater pusat kota atau tanah orang, Urara masih kesulitan menebak di mana laki-laki itu tengah berada.
“Baik, kau di Baku, anyway? Aku ingat kamarmu.”
Mereka melanjutkan percakapan selama tiga puluh menit ke depan, sampai akhirnya Urara beranjak dari kasur dan meraih handuknya. Selesai mandi, Urara mendapati sambungan Skype-nya sudah terputus, jadilah dia bersiap dengan pakaian dan aksesori untuk hari ini. Sepotong blus toska membalut tubuhnya yang ramping dipadu dengan rok span putih selutut. Urara kemudian mengeluh memikirkan gaya rambutnya, bingung karena dia sebenarnya sudah lama menginginkan potongan seleher. Praktis, tidak usah diapa-apakan. Niat ini sudah pernah dipraktikkan enam tahun lalu, yang menyebabkan amarah cukup serius Gou kala mengetahui rambut hitam anaknya telah habis dipangkas. Sang ayah frustrasi dan menenggak lebih banyak sake malam itu. Urara awalnya tidak begitu peduli daripada makin pusing, toh nanti pasti tumbuh lagi; tetapi Gou melancarkan aksi ngambeknya dengan mendiamkan Urara selama nyaris seminggu.
“Digerai? Diikat?”
Tanyanya pada diri sendiri. Ah, sudahlah. Urara menggulung tinggi rambut lurusnya menjadi satu cepol dengan ikat biru. Selesai memasang anting, wanita itu memakai jam hitam kesayangannya dan memasukkan sebagian berkas serta laptop yang sudah lebih dulu dinonaktifkan ke tas selempang di atas meja rias. Ia menyapukan sedikit riasan ke wajahnya dan menyambar blazer putih sebelum turun untuk mencomot selembar cokelat roti. Setelah meneguk air, Urara melangkah ke kamar yang berada di depan dapur, membuka pelan pintunya, dan mengendap tanpa suara. Ia membungkuk untuk mencium kedua sosok yang masih terlelap dalam tidur; kening untuk kakek dan pipi untuk nenek. Ya, Urara kini tinggal bersama mereka selepas lulus kuliah.
“Ittekimasu.”
Butuh waktu paling lama lima belas menit untuk sampai di kantor pusat pemasaran yang terletak tiga blok dari kediaman keluarga ibunya. Dengan sepatu tinggi senada warna blus, Urara menyusuri turunan dan berjalan lebih cepat dari biasa. Dia menyukai Kaohsiung di pagi hari; udara segar dan cicitan burung, ramah tamah para tetangga, dan pengantar koran, keramaian yang selalu menyejukkan. Belok ke kiri, terlihat sudah gedung pencakar langit tempatnya menandatangani kontrak. Urara sampai dua menit kemudian dan langsung menuju ruangan divisinya untuk mengambil catatan yang tertinggal. Tidak lupa ia menyapa penghuni Foxconn dan mereka yang belum berada di lantai tujuh.
“Ayo, Urara,” ajak Sun Jing, rekannya sesama divisi, “sebentar lagi rapat dimulai.”
Wanita itu mengangguk dan menyusul Sun Jing ke lift, bersama memasuki ruangan rapat yang sudah ramai oleh entitas dari semua divisi. Urara melihat Hachouji Ryouichi, ketua divisinya, Scarlett Qiu, seorang wanita independen pun populer dari HRD, dan masih banyak yang lain.
“Ekhm.”
Urara menoleh, mendapati seseorang yang ia tahu berasal dari divisi finansial menduduki spasi di samping kirinya. Sedikit canggung, Urara pun refleks ber-ojigi, bentuk sapa tersopannya mengingat bersuara pun tidak akan terdengar. Well, entah memang begitu senyumannya atau apa, Urara tidak ingin memikirkan lebih jauh. Hari-hari pertama sebaiknya ia fokuskan ke pokok masalah perusahaan dengan sungguh-sungguh agar dapat menjadi seseorang yang benar produktif dan berguna.
“Selamat pagi.”
Pak Bos memasuki ruang rapat dan menyapa Foxconn dengan wibawa yang tak perlu lagi dipertanyakan. Pintu telah ditutup dan beliau menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Keseriusan yang menguar terasa dua kali lebih pekat. Setelah hening menggantikan bising, proyektor utama dinyalakan, laptop siap di hadapan, satu tarikan napas diembuskan, well, yeah, selamat datang hari penuh kepenatan.
Seoul, 20 Maret 2016
Baek Eun Jo mengepalkan jemarinya erat-erat; satu upaya terbaiknya dalam menekan habis emosi yang sesungguhnya ia harap dapat keluarkan. Pendingin udara yang bekerja baik seperti biasa, setelan kaus hitam berlengan panjang dengan jin dan kets putih yang membuatnya tampak necis seperti biasa, ide baru untuk melengkapi koreografi yang muncul tiba-tiba seperti biasa pun tak serta merta membuat amarahnya mereda barang seujung kuku. Kelas terakhir usai sudah lebih dari tiga jam yang lalu, satu dari kelas lain yang menurutnya tidak lebih berguna daripada tidur-tiduran di studio menunggu kebahagiaannya tiba. Tarikan napas ditahannya lama, cukup sampai pemuda populer itu terpaksa mengembuskannya perlahan agar tidak terdengar seperti dengusan kasar. Proses itu diulangnya kembali, beberapa kali, terus sampai dirinya merasa stabil dalam arti melupakan sejenak bahwa memang ada satu hal buruk yang tengah terjadi.
Seperti biasa, Eun Jo, lewati hal ini seperti biasa—batinnya mengingatkan.
“Sayaka?” panggilnya dengan intonasi tinggi, berlagak mencari.
Desas-desus terdengar spontan nyaris sedetik setelahnya mengeluarkan suara, satu dari tipikal keramaian yang paling dibencinya di dunia. Pemuda itu mendengus, ingat betapa sudah cukup merepotkan untuknya terus memasang senyum palsu sepanjang hari selama berada di Seoul Arts. Setahun lagi, dan dia akan benar-benar terbebas dari semua omong kosong ini. Derap langkah menyusul, terdengar menjauh bersama bisikan-bisikan cemas yang turut mengabur. Satu, dua, tujuh orang— Eun Jo menghela napas, tidak habis pikir bagaimana hal bodoh ini terus menerus terjadi. Satu hal bodoh yang dengan bodohnya ia tidak bisa singkirkan begitu saja. Mengambil sedikit waktu untuk mendinginkan kepala sejenak, pemuda itu lalu melangkah menuruni tangga dan berhenti tepat di hadapan seseorang yang berdiri mematung. Sial, perasaannya kembali berkecamuk sekarang.
“Jo-ah,” ia memanggilnya nyaris dalam bisikan.
Dalam saat-saat seperti ini, Eun Jo berharap mengutuk sekeras-kerasnya adalah hal yang paling benar untuk dilakukan di atas pelampiasan-pelampiasan kotor lain. Asal tahu saja, pemuda itu tidak pernah dan tidak akan menjadi sebaik yang publik kira, lebih-lebih sesabar yang mereka sangka. Mereka memandangnya dengan kekaguman luar biasa, tidak tahu saja sumpahlah yang selalu dia umpatkan dalam hati. Jika tidak ada tatapan yang mengisyaratkannya untuk tetap bungkam, Eun Jo barangkali sudah menendang apa pun yang berada di dekatnya dan menghakimi mereka satu per satu tanpa ampun detik itu juga. Dengan pemikiran seperti itu saja tatapan Sayaka untuknya masih lekat, tidak goyah barang sedikit pun. Dia tidak tahu lagi, kecuali keyakinan bahwa gadis itu sesungguhnya masih terguncang. Meneguk berat, Eun Jo membawa dirinya mendekat, cukup dekat untuk merengkuhnya dalam pelukan erat yang ia harap tidak menyakiti.
Begini sudah cukup—batinnya mengingatkan, lagi dan lagi.
Ya, begini sudah cukup.
Seoul, 14 Februari 2016
Ashihara Shiika melangkahkan kakinya lebar-lebar, asik bersenandung dengan sendok es krim yang bertengger nyaman di mulut. Tas ransel ia jinjing di punggung, tampak tidak terganggu meski di dalamnya berisi banyak, banyak sekali barang. Yang dapat disebutkan hanyalah laptop beserta headphone-nya, sebuah album besar, polaroid hijau, baju ganti, sekotak perias wajah, sampai yang paling tidak umum—tidak paham juga kenapa Shiika kerap membawa barang-barang ini—adalah katapel dan papan catur. Tidak biasa, memang, tetapi apa yang dia butuhkan sewaktu-waktu tampaknya dapat ditemukan dengan mudah di sana.
Lampu lalu lintas menyala merah dan gadis itu kembali menyendok semangkuk es krim yang tinggal tersisa setengahnya. Buah-buahan seperti persik dan stroberi tak lagi tersisa untuk menyegarkan diri kala cuaca lebih terik dari hari-hari biasa. Seoul di musim panas memang tidak jauh berbeda dari kebanyakan negara di musim yang sama; sama-sama menyebabkan banjir keringat dan membuat potongan segar semangka rasanya jauh lebih menggiurkan dibandingkan lima botol soju. Di musim menggerahkan seperti ini, teriknya matahari akan terasa dua kali lipat, malam seakan menjadi jauh lebih sabar menunggu giliran menyejukkan kota yang begitu gersang, dan rasanya memang menyiksa bukan kepalang.
Meski begitu, Shiika adalah satu dari sedikit orang yang betul-betul menikmati musim panas tanpa merasa risih sama sekali. Ketika orang-orang sibuk mengenakan topi dan payung mereka, gadis itu hanya akan menyeka peluh tanpa perlu repot-repot berteduh. Hari-harinya terasa lebih menyenangkan dengan menyusuri jalan setapak dan menyebrangi jalan-jalan besar tanpa tujuan, seringnya dengan pemanis mulut seperti cokelat dan semangkuk es krim seperti yang tengah ia santap saat ini. Hari ini pun tak terkecuali. Pagi-pagi sekali dia sudah keluar dari tempatnya menginap di pusat kota. Cerah matahari menularkan keceriaannya pada Shiika yang bahkan tidak mau repot-repot mengunci pintu kamar. Ia baru saja selesai dengan cepolan tingginya dan langsung menyambar sandal bertali untuk dipakai di dalam lift.
“Hmmhh,” Shiika memandang pantulan dirinya di pintu lift, tampak berpikir, “hari ini enaknya ngapain, ya.”
Itu terjadi empat puluh menit yang lalu, mengingat kini dia tengah diam bertumpu telapak kaki yang mulai terbakar sinar matahari. Ah, siapa peduli, yang penting segala keinginannya terpenuhi. Namun, kebosanan dengan cepat menghampiri, karena di samping ketiadaan uang untuk menghibur diri (ya, ya, salahkan sifat pembangkang nan pemborosnya yang menjadi-jadi tiga tahun belakangan ini), dia belum mengenal Seoul sebaik dia mengenal DC. Bagaimanapun, dia harus secepatnya bergerak sebelum sesuatu membuatnya kembali lari, lagi dan lagi.
Kepada mentari yang menyapa pagi, kubangkit dengan segenap hati. Cicit-cicit kukila menggoreskan nila di atas putih, memadupadankan cerahnya jingga oleh cahaya hari. Kepada candra yang memeluk malam, kurebah diri dalam pekatnya kelam. Kepik-kepik jangkrik menorehkan kelabu di atas hitam, mewarnai kealpaan kalam dalam sepinya temaram. Kepada dirinya yang menyebabkan degupan, jingga tak lagi putih dan hitam tak lagi kelabu. Kepada dirinya yang meninggalkan kehidupan, kutemukan warna-warna berpadu menjadi satu.
Seoul, 13 Januari 2014
Aku baru mendengar beritanya, setelah lama dialamatkan kepadaku namun tak jua sampai. Bukan salahku, tentu, karena kejujuran itu seharusnya telah datang jauh sebelum aku memahami kondisi yang tengah terjadi. Selama ini aku tak sadar aku kerap menunggu, tetapi nyatanya ketidaksukaan itu gagal melampaui waktu.
Aku mencari, tetapi sakitnya tak jua berhenti, jadi kutahan diri untuk tidak menarik kembali dirinya, segala tentangnya, yang kulepas perih. Aku jadi lebih sering berdiam diri, letih, dan memantapkan hati untuk tidak kembali.
Makanya aku masih di sini, hari demi hari. Kutanyakan perihal yang sama lagi dan lagi— apa, mengapa? Aku tidak peduli, aku tidak mencampuri, aku tidak pula mengingkari. Aku yang dibatasi, apa aku egois? Yah, memang kedengaran begitu, pantas saja aku tak berani kembali.
Aku tidak peduli, toh tetap perih.
Hanya kini aku sadar aku telah begitu lama merindukan embus angin yang membawa pergi kesedihan, kepulan yang menghangatkan, dirinya yang kusebut kebahagiaan.
“I want to get stronger.”
Dunia membangunkanku pukul empat dua puluh delapan, di tengah ketidakingatanku akan mimpi yang seringnya memang absurd, tidak jelas, tidak penting, tidak pula berharga. Otakku langsung mengingat perihal yang sebenarnya tidak begitu ingin kuingat, tentang tarikan napas kali pertamaku di dunia sembilan belas tahun lalu. Tidak ada yang istimewa, tentu saja, hanya aku berusaha mengambil alih pikiran dengan tetap bertingkah biasa saja. Tidak berharap akan sesuatu membuat segalanya jadi lebih mudah, tetapi kemudian Ibu memanggilku selepas salat.
“Selamat ulang tahun, De.”
Ucapannya pelan, yang kurasakan pun nyaris hampa, tetapi kata-katanya membekas hingga kini, dan kuharap akan selalu begitu sampai nanti. Aku tidak terkejut, jadi kuhampiri beliau dan ia mencium pipiku. Kuingat mataku memanas tak lama setelahnya.
“Sabar, ya.”
Aku tidak pernah berpikir sedalam apa aku menyayanginya, tetapi tersadar akan satu hal sesederhana bahwa ialah yang pertama mengucapkannya, setelah semua yang telah dan masih terjadi, aku belum pernah merasa begitu bersyukur telah terlahir ke dunia.
Selamat pagi. Cuaca menyejukkan hari ini, jadi tetap bahagia, ya.