Little Thing Called Happiness
Kebahagiaan seseorang tidak tergantung pada pasangan, anak, harta, jabatan, pekerjaan, kondisi orang tua, outfit apalagi paras. Kebahagiaan itu sejajar dengan dosa dan pahala, hanya akan diberikan pada mereka yang melakukannya.
Seperti saat kita melihat, tentu kita tidak meminjam mata orang lain untuk melihat. Atau saat kita mendengar, bahkan saat kita mencium aroma, semua rangsangan yang datang itu kita tangkap melalui indera kita sendiri. Itulah yang namanya kebahagiaan, kita tidak bisa meminjamnya dari orang lain.
Sebagaimana indera kita bekerja, mata tak bisa melihat tanpa cahaya, telinga tak bisa mendengar tanpa adanya suara bahkan hidung tak akan bekerja jika tidak ada aroma, kebahagiaan juga tidak akan datang tanpa adanya rangsangan dari luar. Tapi apakah hanya berhenti di situ? Tentu tidak.
Keberadaan cahaya belum tentu membuat kita mampu melihat jika ada yang bermasalah dengan penglihatan. Pendengaran tak akan mamu menangkap suara jika ada kerusakan dengan telinga kita. Penciuman yang melemah tak akan mampu merasakan lezatnya aroma masakan jika mengalami anosmia. Itulah kebahagiaan, bukan hanya faktor rangsangan dari luar tapi juga faktor reseptor dari dalam yang harus terus bangkit untuk mengusahakannya. Supaya kita mendapatkan kebahagiaan yang bertanggungjawab, tanpa merugikan org lain namun juga tidak merendahkan diri kita sendiri.
Happiness is really simple, but we insist of making it complicated
















