*Mengenal dengan Hati* . Dalam perjalanan kita akan bertemu dengan berbagai orang. Ada yang menetap sebagai teman berjalan, ada yang hanya singgah, dan ada pula yang hanya untuk bertegur sapa saat berpapasan di jalan. . Lalu, bagaimanakah sikap kita pada mereka? Apakah kita sudah terbuka pada siapapun yang menghampiri? Apakah kita yakin sudah mengenal orang-orang yang sering ada dalam hidup kita? Ataukah kita masih hidup dalam sebuah kotak-kotak persamaan, kepercayaan, dan prasangka? . Kadang kita membuat kotak-kotak, membuat batas, menanamkan prasangka kepada orang-orang yang hadir dalam hidup. Akhirnya kita hanya mampu mengenal apa yang terbiasa terlihat oleh kedua mata. Tak mampu mengenal mereka dari hati. Seolah-olah kenal, padahal tidak. Kita membuat batas, menjadikan mereka asing, padahal ada di depan mata. Kita tidak sungguh-sungguh peduli pada mereka. . Mungkin untuk orang-orang yang terbiasa, mereka tidak mempermasalahkan atau tidak terlalu berdampak jika hidup dalam kotak-kotak yang telah dibuat. Namun, pernahkah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang pernah memiliki riwayat ganguan jiwa (ODGJ)? Tentu mereka akan merasa kesulitan untuk berbaur di tengah masyarakat yang terbiasa mengkotak-kotakan manusia. Mereka banyak yang kehilangan kepercayaan diri, merasa berbeda dan merasa tertolak. Pernahkah membayangkan bagaimana mereka melanjutkan hidupnya dengan perasaan tertolak seperti itu? . Sampai kapankah kita akan hidup dalam kotak-kotak yang dibuat seperti ini? Bukankah lebih indah dan terasa damai jika semua orang mampu membuka diri dan bersedia mengenal setiap orang yang datang dengan hati? #happydaywithbeatifullmind #karenamerakajugamanusiayangpunyahati #oneweekonepost @wifibandung @irmasusantiirsyadi @wifindonesia @rezky_passionwriter @witofatah @siaware @glasanefa #relawansetengahhari









