Lessons learned from a three-year journey
"Allah memberikan banyak sekali anugrahnya. Bahkan apa-apa yang ditunda pun merupakan kebaikannya dalam bentuk perlindungan dari keburukan yang tidak kita ketahui dibalik pinta. Maka janganlah berburuk sangka dan terlarut dalam kesedihan atas hal-hal yang belum terijabah."
Kisah tentang cara mendapatkan beasiswa mungkin akan selalu kuceritakan karena semenakjubkan dan semudah itu Allah dalam memberikan karunia-Nya. Kehidupan selama hampir 3 tahun di negeri ginseng juga banyak sekali mendapat kemudahan dari Allah. Inilah beberapa pelajaran hidup yang kudapat dari proses keberangkatan dan kehidupan di Korea Selatan.
Pengabulan doa dari arah yang tak disangka-sangka
"Ketika kita jujur dan benar-benar berserah pada-Nya, maka akan ada pengabulan dari arah yang tak disangka bahkan melebihi dari yang dipinta."
Ramadan 2022, aku merasa sangat khawatir akan masa depan dunia. Banyak hal-hal yang diusahakan tapi terasa sangat jauh dari keberhasilan. Beberapa bahkan terlihat mustahil jika mengandalkan kemampuan diri. Waktu itu, aku desperately meminta pertolongan ke Allah. Salah dua dari yang aku pinta yaitu bisa naik haji sebelum umur 40 tahun dan dapat beasiswa ke luar negeri yang juga jadi cara untuk bisa naik haji menggunakan kuota negara itu.
Alhamdulillah, sekitar 1-2 minggu setelah lebaran (sekitar bulan Mei 2022), Allah membukakan jalan dari arah yang tak disangka-sangka. Salah seorang teman kerja memberikan informasi bahwa professornya mencari mahasiswa S3 di Korea ke Dekan Fakultasku. Karena saat itu, dosen yang belum S3 di bidang tersebut tinggal aku sendiri, jadi tawaran itu diberikan ke aku.
Tawaran baik itu langsung aku terima. Proposal penelitian dan CV pun kukirim ke email professor. Saat itu, balasan emailnya hanya memberikan informasi bahwa beliau akan mempertimbangkan biodataku. Setelah sekitar 1-2 minggu, temanku menginfokan bahwa kata professor, aku diterima tapi diminta berangkat Februari tahun depan. Buat aku ini adalah suatu ketidakpastian atau merupakan penolakan secara halus. Kalaupun benar diterima, tidak ada yang menjamin hati manusia bisa sama dalam waktu 6-8 bulan.
Terbukti hati manusia bisa berubah kapan saja. Beberapa hari setelahnya, temanku memberikan informasi bahwa Professor memintaku berangkat untuk semester itu. Dokumen pendaftaran ke Universitas harus masuk akhir Juni. Aku mengiyakan dan mengirimkan email ucapan terima kasih. Namun, tak ada balasan dari professor.
Perempuan yang kadar anxiousnya cukup tinggi ini, akhirnya menjadi ragu, “Apa benar diterima? Kenapa tidak ada balasan?” Kata-kata itu yang kuulang berkali-kali yang membuat ibuku ikut ragu memberi izin. Aku pun menyampaikan keinginan mundur ke teman. Saat itu, dia menjawab, “Wah, professor pasti kaget kalau dengar ibu mundur.” Dari jawabannya ini, aku jadi yakin kalau professor benar-benar menerimaku. Akhirnya aku mencoba diskusi ke ibu kembali dan akhirnya diizinkan. Setelah benar-benar yakin, barulah aku mengusahakan dengan sungguh-sungguh. Tentunya selama proses, doa istikharah sering dipanjatkan.
Alhamdulillah, walau ada tantangan dalam setiap tahapannya tapi selalu ada jalan keluar. Prosesnya berjalan dengan sangat cepat. Mei kirim cv dan proposal. Juni mengurus dokumen pendaftaran ke Universitas. Juli wawancara. Agustus pengurusan visa dan tiket. Voila, September tiba di Korea.
2. Allah akan mudahkan dan mampukan orang yang ingin berhaji
Tadi sudah aku ceritakan bahwa ibuku awalnya ragu memberi izin. Bukan hanya karena tak ada informasi resmi tetapi juga karena jumlah beasiswa yang ditawarkan di awal itu sangat terbatas. Namun, setelah aku yakinkan bahwa professor benar-benar menerima dan aku siap menjalani risikonya, akhirnya ibuku menyetujuinya. Walaupun kalau dihitung-hitung, maka impianku untuk bisa haji perlu diiringi dengan usaha menghemat yang luar biasa.
Nah, ternyata Allah mempunyai rencana pengabulan doa untuk naik haji dengan cara yang luar biasa sekali. Waktu daftar ke Universitas, aku benar-benar tidak tahu banyak hal, hanya mengikuti arahan temanku saja. Ternyata, aku mendaftarnya lewat jalur beasiswa BK Scholarship. Jadi selain mendapat gaji dari project professor, aku dapat juga beasiswa dari BK schorlarship. Dengan dua beasiswa itu, aku bisa menabung untuk haji tanpa harus bersusah payah berhemat. Alhamdulillah, uang tabungan cukup untuk mendaftar haji setelah 1,5 tahun di Korea.
3. Belajar bergantung ke Allah
"Setiap kebaikan dari sekitar itu adalah wujud dari kebaikan Allah kepada kita."
Setelah sampai di Korea, jujur ada perasaan senang, tidak menyangka bisa sampai sini, tapi juga penuh dengan segala kekhawatiran akan kegagalan. Khawatir tidak bisa berbaur. Khawatir pulang tanpa gelar. Khawatir mengecewakan Professor. Karena inilah, setiap kali, aku merasa kesulitan atau , tidak enak hati, aku meminta pertolongan pada Allah. Aku meminta penjagaan Allah selama di sini.
Alhamdulillah walaupun pada awalnya sulit untukku berbaur dan akrab dengan seluruh anggota laboratorium. Namun, mereka sangat baik dan siap untuk menolong. Sekarang, di tahun-tahun terakhir, Alhamdulillah sudah sedikit bisa cair ngobrol dengan beberapa anggota laboratorium. Yang membuat akupun semakin terharu yaitu pada saat mau sidang Mei kemarin. Mereka yang memastikan segala kebutuhan sidang terpenuhi dan memintaku untuk focus saja ke persiapan sidang.
Teman-teman mahasiswa muslim di IMUSKA dan Rumaisa juga sangat membantuku untuk tidak merasa terlalu kesepian. Walau aku satu-satunya muslim dan orang Indonesia di departemenku, aku terkadang pergi ke luar kota untuk mengikuti acara IMUSKA dan Rumaisa. Dari acara-acara itu, aku belajar untuk tetap berusaha taat di lingkungan yang minoritas muslim.
4. Belajar bersyukur
Dari beberapa doa yang belum terkabul, itu hanyalah sedikit, sangat sedikit dibanding seluruh kebaikan yang Allah beri. Banyak sekali kemudahan dan pertolongan yang Allah kasih. Mulai dari hal sederhana, sampai hal yang terasa berat. Sesederhana ketika aku ingin membelikan teman-teman laboratoriumku yang cukup banyak itu kopi. Namun, membawa 10 cup kopi dari café ke laboratorium juga lumayan berat. Aku hanya berucap dalam hati, semoga ada salah satu anak lab lewat, dan ternyata langsung dikabulkan. Semoga mulai hari ini sampai nanti masa hidup di dunia habis, aku bisa menjadi hambanya yang bersyukur.
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(QS: al-Ahqaf: 15).














