“Aku merindukannya dan tidak bisa mendapatkan dia keluar dari pikiranku, jujur aku tidak bisa melupakannya.”
— Milea (Dalam novel Dilan 1990)
Hey, bagaimana kabarmu?
Aku sedikit kesal terhadap kabarmu yang tak bersua. Ku dengar kamu merinduku, begitupun diriku. Namun saat ini kamu menghilang.
Seminggu ini kamu melakukan kegiatan study tour. Sementara aku masih bergelut dengan perkuliahanku. Begini adanya, tiada yang istimewa. Bahkan kabar darimu saja bisa kuhitung jumlahnya. Aku tahu kamu lelah, aku tahu saat ini kamu sibuk dengan kegiatanmu. Bahkan dimomen kebersamaan kita yang ke-26 bulan, aku tak ingin memperkeruhnya.
Aku senang caramu kemarin mendeskripsikan senyumku dilaman media sosialmu. Sudah lama atau bahkan aku sudah lupa dengan caramu membuatku tersipu malu. Jarak ini terkadang menghambarkan kasih yang kita jalin. Tapi entahlah, kamu selalu memupuk kasih itu.
Dibulan ini, aku sangat ingat bagaimana berkali kubilang aku bosan dengan hubungan kita. Namun kamu, lihai dalam memendam bosan itu. Dari meneleponku, membuatkan lelucon lucu, hendak mengajak ku pergi berwisata ke destinasi baru, hingga membelikan barang yang sebenarnya tak terlalu kubutuhkan?
Uh…kamu selalu tak terduga.
Beberapa minggu yang lalu kamu mengajak ku pergi ke sebuah kampus swasta ternama di ibukota. Kamu berjanji untuk menjaga dan menemaniku ketika disana, walau kutahu kamu saat itu menjadi koordinator acara tersebut.
Jauhnya perjalanan dan lamanya kegiatan, membuat badanku lelah. Tiba-tiba, kamu mengeluarkan ponselmu. Aku ingat bagaimana kamu yang sulit kuajak foto, namun untuk mengembalikan mood ku, kamu mengajakku berselfie ria. Sebelumnya pula, jari kaki ku terluka, namun dengan perhatian kamu melepaskan sepatuku. Kamu langsung mengambil sebuah tisu dan memijit kakiku itu.
Bukti sikap sayangmu mungkin bisa kamu tunjukkan dari cara-cara sederhana itu. Walau berkali aku jengkel dan mengatakan bosan, namun kamu tak hendak pergi.
Malam ini sungguh aku rindu. Aku ingin menyapamu, aku ingin berbagi cerita denganmu. Namun hanya saja, aku tak hendak menggagumu. Kubiarkan dirimu untuk beristirahat. Aku hanya cukup berimajinasi dengan kasihmu dimasa silam. Karena kurasa ini sudah cukup menghibur hatiku, daripada harus menggangumu dan membuatmu marah padaku.
— — — — —
n.b:
Selamat tanggal 28 yang ke-26, Tuan!
Hujan dikotaku, seolah menemani sosokmu yang sulit hilang dari pikiran. Baik-baiklah kamu disana. Segala tentangmu yang bersemayam diingatan adalah kenangan yang berbicara dan segala kasih yang kamu beri padaku adalah lekuk senyum tak bersuara.
🌹Dariku yang (masih) menunggu sapamu.
Senin, 28 November 2016 • 20:20 WIB
Mengingat seseorang di kota seberang, tentu saja cemasku sudah meradang.
Siang ini, kamu bilang dikotamu sedang hujan dan aku belum usai dari perkuliahan hanya bisa menengok keluar jendela mengambang pandang.
***
“Baik-baiklah kamu disana, Tuan.
Hati-hati ketika kamu keluar, yang kutahu jalanan sudah pasti licin dan aku tak mau kamu tergelincir.
Dan jangan lupa, kenakanlah mantel ataupun jaket tahan air, agar derasnya air hujan tak menusuk tubuhmu berbulir-bulir.”
Secepat kilat lamunku telah menjalar. Pandang kosong tadi seolah menarikku untuk mengingat kamu.
Aku ingat bagaimana kamu seminggu lalu mengatakan ingin kembali menemuiku. Kamu bilang rindu dan adakalanya terucap angan tentang mengajakku berwisata ke pulau seberang. Bisa kubayangkan, disana kita menghabiskan waktu bersama mengunjungi beberapa lokasi wisata dengan panorama alam nan apik dan ber-selfie ria.
Lain cerita, nyatanya kamu juga berharap dua tahun kelak tiada lagi jarak dalam hubungan kita.
Kamu memang terlalu cepat ingin membawaku untuk tinggal seatap denganmu. Entah bagaimana caranya, kamu juga bicara akan berusaha untuk mencapai tujuanmu dengan segala rejeki yang kamu dapatkan.
***
Tuan…
Aku tahu kita masih muda.
Namun mimpimu memang terlalu indah untuk kubayangkan.
Setiap harinya, pasti selalu ada cinta yang kamu taruh. Bagaimana tidak, tadi pagi saja kamu bilang sangat menyayangiku. Hal ini sudah pasti buatku semangat dalam menjalani hari. Bahkan dihari sebelumnya, kamu melulu memujiku dan kamu bilang jika aku yang terbaik dibandingkan perempuan-perempuanmu yang dulu.
Selama ini yang kutahu, kamu memang selalu berusaha membuatku bahagia.
Kamu pun juga setia, walaupun kutahu kamu pula tempramental. Kamu selalu menjadi orang utama tempatku bercerita. Saking percayanya aku padamu, sampai-sampai apa yang kuceritakan tak kupilah dan kadang hal itu yang membuatmu sakit hati.
Aku ya begini adanya, dengan segala kepolosan, kemanjaan, dan ketidakpekaan, hanya mampu mengucap kasih dalam tulisan.
Bolehkah aku memohon, Tuan?
Walaupun aku memiliki banyak keterbatasan dan bahkan setelah kamu tahu nantinya yang terjadi dalam tubuhku ini, tetaplah kamu menjadi jagoan. Karena inginku tidak hanya kamu temani kini, namun pula masa depan.
——————
nb:
Selamat tanggal 28 yang keduapuluhlima, terima kasih untuk segala kenangan manis yang tercipta.
🌹Dariku yang mencintaimu tiada dua.
Jumat, 28 Oktober 2016 • 13:25 WIB