BANDUNG, bipol.co – Gubernur Jabar Ridwan Kamil mendukung program strategis pemerintah pusat yang akan menghadirkan tujuh bendungan di Jawa Barat.
Setelah Bendungan Jatigede di Kabupaten Sumedang selesai, pemerintah pusat merencanakan membangun Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor, Bendungan Sukamahi (Kabupaten Bogor), Bendungan Sadawarna (Subang dan Sumedang), Bendungan Kuningan (Kuningan),…
Aksi Palyja Tindak Lanjuti Hari Air Sedunia REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Air Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 Maret tak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial oleh PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).
Hari Air Sedunia, Momentum Penghentian Swastanisasi Sumber Daya Air - Gosulsel
Makassar, Gosulsel.com -- Setiap tahun pada tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia berdasarkan hasil Sidang Umum PBB ke 47 di Brasil. Di mana pemerolehan Air adalah bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM) bidang Lingkungan Hidup dan...
22 Maret adalah Hari Air Sedunia atau World Water Day. Di tahun 2017 ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, UN-Water, badan antar lembaga PBB yang mengordinir pelaksanaan Hari Air Sedunia, telah merilis tema dan logo Hari Air Sedunia Tahun 2017.
Tema dan logo Hari Air Sedunia diangkat berdasarkan fokus utama kampanye tentang pentingnya air bagi kehidupan. Pun guna mengelola sumber daya air tersebut…
HARIANACEH.co.id — Grup band Slank ikut meramaikan peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh tepat pada hari ini, Minggu (22/3/2015) dengan menggelar konser mini di ajang car free day di Jakarta Pusat. Slank, yang memang diundang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyanyikan lima buah lagu, salah satunya adalah lagu berjudul “Krisis Air”.
Ruwatan Kali Surabaya akibat banyaknya pencemaran lingkungan. avit hidayat/enciety.co
Tingginya pencemaran lingkungan yang terjadi di Surabaya membuat ratusan aktivis lingkungan hidup menyelenggarakan ruwatan massal di sepanjang Kali Surabaya. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian peringatan Hari Air se-Dunia yang jatuh pada Minggu (22/3/2015).
Limbah Kali Surabaya saat ini sangat beragam. Mulai…
Air yang mencapai dua per tiga bagian permukaan bumi jumlahnya tidak pernah berubah, hanya bentuknya berubah dalam siklus hidrologi yang terus-menerus, yakni air di daratan-air laut-uap air-air hujan). Tetapi perlu diperhatikan dari seluruh air yang terdapat di muka bumi, 97,5% diantaranya merupakan air asin yang terdapat di laut. Dan hanya 2,5% saja yang berupa air tawar.
Dari jumlah 2,5 persen air tawar (freshwater) yang dimiliki bumi pun hanya sebanyak 0,4 persen yang terdapat di permukaan tanah (surface) dan atmosfir (atmospheric water). 0,4 persen air tawar inilah yang sering diperebutkan dan dikonsumsi oleh milyaran penduduk bumi. Selebihnya berupa glasier (gletser; bongkahan es) yakni sebesar 68,7%, ada pula yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk airtanah (groundwater) sebesar 30,1 % dan sebanyak 0,8% tersimpan dalam bentuk tanah beku (permafrost).
Laju pertambahan penduduk yang semakin cepat tentu berpengaruh pula pada meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Padahal ketersediaan air di muka bumi ini sangat terbatas menurut ruang dan waktu, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Penggunaan air tanah merupakan salah satu alternatif yang dilakukan manusia guna memenuhi kebutuhan akan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri. Masalah yang kemudian muncul adalah penyedotan air tanah secara besar-besaran dapat mempengaruhi kualitas lingkungan, dalam hal ini air dan permukaan tanah.
Percepatan laju pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan berakibat semakin besarnya air larian yang akhirnya mempengaruhi jumlah air tanah. Berkurangnya tanah sebagai daerah resapan air serta pohon-pohon yang menahan air mendukung semakin besarnya volume air larian. Air tersebut menggenang di permukaan dalam jumlah yang berlebihan, yang kita sebut banjir.
Kecilnya komposisi air tawar yang bisa kita konsumsi, serta daya renewable (perbaharuan) air yang sangat lama (Kecepatan renewable air adalah sepuluh pangkat minus dua cm per detik. Dengan kecepatan itu dibutuhkan waktu hingga beberapa generasi bagi air untuk memperbaharui dirinya), maka sudah saatnya kita menjadi bijak dalam menggunakan air. Langkah-langkah seperti membuat sumur resapan atau menabung air hujan dapat dijadikan alternative dalam menjaga ketersediaan air bersih demi kehidupan kita dan generasi penerus kita kelak.