"Ada salam dari Keira, Bid," itu hal pertama yang disampaikan Ito kepadaku saat kami bertemu di kampus, janjian di tempat parkir sepeda listrik terdekat dari gerbatama.
"Wa'alaykumsalam," jawabku sambil sedikit berpikir, jarang sekali ada pasangan dari temanku yang nitip salam kepadaku. Mengingat aku juga tidak begitu kenal dengan Keira, bahkan belum pernah bertemu.
Pasti Ito suka cerita tentangku pada Keira.
Satu pelajaran baru yang bisa diambil dan kusimpan rapi yaitu bentuk pernikahan yang menyenangkan adalah saat sepasang manusia bisa hidup layaknya seorang teman. Seperti Keira yang memberikan kebebasan pada Ito untuk nongkrong bersama teman-temannya. Percaya penuh bahwa Ito akan baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya. Ternyata, tidak melulu sepasang suami istri menyembunyikan atau menjaga jarak dengan teman dekat pasangannya. Saat Ito menyampaikan salam dari Keira, aku merasa dihargai dan dihormati sebagai seorang teman. Dan aku cukup yakin bahwa sikap seperti itu merupakan hasil dari image yang dibangun oleh Ito di depan Keira. Sebuah kesan baik bahwa Abidah adalah anak yang bisa dipercaya untuk menjaga Ito.
Sepanjang hari di akhir pekan ketiga bulan Maret ini, aku menghabiskan waktu untuk keliling kampus naik sepeda listrik bersama Ito. Nostalgia banyak hal. Mencoba kafe dengan dessert dan minumannya yang enak. Cerita banyak hal tentang kehidupan. Dapat nasihat, dapat doa-doa serta kebaikan.
Sebelum pulang, aku mengantar Ito sampai ke stasiun terdekat. Tanpa sengaja aku melihat isi chat antara Ito dan Keira saat duduk menunggu kereta. Tapi alih-alih membaca isi pesannya, mataku malah tertuju pada nama kontak Keira yang Ito simpan, lengkap dengan ikon anak ayam warna kuning. "Sebutan nama itu dari mana, To?" tanpa menahan diri aku langsung saja bertanya. Ito tersenyum manis, "Lo tahu kan, Bid, kalau gue dulu sekantor sama Keira? Nah, karena bos kita sama dan gak mau ketahuan kalau kita lagi dekat, si Erik gue kasih nama Erika. Tapi karena dia gak suka, gue anagram jadi Keira," jawab Ito lancar.
Padahal aku lebih penasaran sama ikon anak ayam warna kuning di sebelah nama Keira, hehe. Menariknya, sehari bersama Ito membuatku belajar bahwa kisah yang sederhana, memiliki panggilan dan kosakata khusus dengan seseorang ternyata selucu itu. Seperti kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Pun jika ada orang lain yang akhirnya tahu, hanya mereka yang merasakan 'sejarah' munculnya kosakata unik itu.
Memang menyenangkan punya pasangan yang benar-benar seperti teman yang menemani hidup.
Sebelum kami berdua naik kereta menuju arah Jakarta, aku juga baru tahu bahwa Keira lebih muda usianya satu tahun dibanding Ito, temanku sejak SMP di sekolah boarding khusus perempuan. "Meskipun dia lebih muda, dia lebih dewasa dari gue dari berbagai aspek terutama cara berpikir, Bid," tambah Ito setelah membaca air wajahku yang terlihat surprised.
Memang surga di akhirat perlu diraih dan diusahakan, tetapi surga di dunia, bisa kita ciptakan bahkan sejak hari ini. Barakallaah Ito dan Keira, terima kasih sudah memberikanku banyak pembelajaran bahwa pernikahan itu indah dan bisa dirayakan dengan kesederhanaan melalui rasa saling menghargai serta saling percaya.