Hey Mr. Microphone
Hey Mr. Microphone,
Apa kabar? Apakah kamu saat ini baru saja selesai menjalankan tugasmu? Kalau mereka tau apa profesimu, maka mereka pasti paham kenapa aku menyebutmu dengan Mr. Microphone. Entahlah, aku pun juga tak begitu paham, apa sebenarnya nama alat yang identik dengan tugas sehari-harimu itu. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan microphone saja.
Ketidaksengajaanlah yang membawaku dapat bertemu denganmu. Di tengah hiruk pikuknya acara yang menjadi tanggung jawabmu, aku melihatmu di situ. Tubuh atletis yang tinggi menjulang, alis yang cukup tebal, kumis tipis yang menghiasi wajahmu, rambut pendek yang sengaja kamu rapikan ke atas dengan menggunakan kunciran, ditambah dengan seperangkat microphone dan headset yang menghiasi kepalamu, kamu berjalan ke sana ke mari. Berdiskusi dengan teman-temanmu yang lain, berkali-kali melihat ke arah kertas yang kamu bawa sambil melihat ke arah barisan kursi tribun, sampai pada akhirnya salah satu temanku yang saat itu sedang bersamaku, menghampirimu. Dengan sabar dan senyum manis kamu pun mengarahkan dan memberikan kode kepada temanku yang tentu saja pernah bekerja sama denganmu. Pada saat itulah, aku tak sengaja melihat namamu yang terpampang jelas di saku bajumu. Nama yang cukup bagus.
Ya, perjumpaanku denganmu memang sangat minim sekali. Bahkan bisa dihitung dengan jari-jari dalam satu tangan saja. Tapi aku bisa melihat bahwa apa yang kamu lakukan saat itu sungguh dapat membuat mataku terbelalak. Bahkan dalam setiap perjumpaan itu, mataku tak akan pernah bisa melepaskan sedikitpun darimu. Dengan cekatan kamu selalu saja dapat menyelesaikan tugasmu pada segmen demi segmen dengan durasi yang sangat terbatas. Setidaknya aku dapat melihat jelas, bahwa kamu benar-benar bertanggung jawab dalam mengerjakan tugasmu itu. Terkadang aku sengaja memanggil ingatanku kembali tentang penjelasan tugasmu yang pernah dijelaskan dengan rinci oleh salah seorang temanku, yang pernah berprofesi sama sepertimu. Biasanya setelah itu aku akan menyamakan penjelasan temanku tersebut dengan apa yang sedang kamu lakukan. Sungguh, tak pernah tampak wajah kelelahan, atau wajah murung yang kamu perlihatkan. Padahal bisa saja hari itu kamu pulang sampai larut demi menjalankan tugasmu. Bahkan bisa saja kamu hari ini pulang larut, kemudian esok pagi-pagi buta kamu harus bersiap kembali menjalankan tugasmu.
Hey Mr. Microphone, Aku tau, mungkin bila kamu bisa membaca surat ini, kamu pasti akan menyamakanku dengan mereka, para penggemarmu yang cukup banyak itu. Hmmm, sebenarnya aku agak keberatan bila disamakan dengan mereka. Setidaknya aku tak pernah terlalu memuja-mujamu, apalagi sampai meminta waktumu untuk berfoto denganku. Ya, walaupun harus aku akui, wanita manapun setidaknya akan menoleh kepadamu, meskipun hanya sebentar. Stage demi stage, acara demi acara, kamera demi kamera pun, telah kamu lalui. Ditambah dengan keramahanmu tiap menghadapi orang baru, maka aku tak heran bila makin banyak yang berlomba-lomba untuk dapat mengenalmu, atau bahkan sekedar menyapamu.
Hey Mr. Microphone, Aku ingin membuat pengakuan kecil. Sejak bertemu denganmu aku jadi semakin rajin melihat credit title yang muncul setiap selesainya acara yang ditayangkan dalam layar 32 inchi itu. Terkadang aku dengan cepat dapat menemukan namamu terpampang di sana dan sesudahnya aku akan tersenyum-senyum sendiri membacanya. Terkadang diam-diam aku pun sering mengintip kegiatan temanku, untuk sekedar mengetahui, apakah kamu sedang bertugas di sana atau tidak. Atau terkadang diam-diam aku menyimak berbagai foto yang kamu unggah dan kamu tandai. Kamu tahu, apa yang makin membuatku kagum padamu? Ketaatanmu pada-Nya. Dengan penampilanmu yang seperti itu, aku tak pernah menyangka ternyata kamu sebegitu taatnya. Bahkan terkadang aku jadi malu sendiri.
Hmmm, sepertinya aku sudah terlalu banyak memujimu dalam surat ini. Baiklah, aku rasa ini sudah cukup. Lebih baik aku akhiri saja surat ini daripada mereka menyebutku sebagai penggemarmu. Apabila semesta berkenan, aku tak keberatan bila akhirnya bisa bertemu denganmu lagi~ :D
NB : Hey setelah aku pikir-pikir, senyummu itu maut juga ya, apalagi kalau kamu tersenyum sambil berhiaskan microphone dan headset di kepalamu. Ya, ya, ya, baiklah, aku paham. Mungkin aku harus pasrah saja kalau mereka akhirnya menyebutku sebagai penggemarmu.












