Lagi
Lagi. Lagi-lagi aku bertemu denganmu. Di tempat yang sama, di waktu yang sama. Sama dengan beberapa hari lalu. Beberapa minggu lalu, dan bahkan beberapa bulan lalu.
Lagi. Lagi-lagi aku hanya bisa berdiri termenung. Mengamatimu dari ujung kaki sampai kepala, sambil diam-diam menelan ludah. Melihatmu dengan nafas yang sedikit tertahan di paru-paru, dan melihatmu datang dengan kenanganku.
Lagi. Lagi-lagi seakan-akan aku sedang melihatnya berdiri di depanku. Wajah yang selalu ku rindukan. Wajah yang sering hadir di tiap malamku. Wajah yang tak pernah dapat ku lihat lagi beberapa tahun belakangan ini. Wajah dengan lengkung senyum yang juga tak kalah ku rindukan itu.
Lagi. Lagi-lagi aku melihatmu menggunakan hoodie itu. Melihatmu memasukkan tanganmu ke dalam saku celanamu. Melihatmu menggenggam ponsel itu. Melihatmu memamerkan tawa dengan gigi-gigimu yang rapi. Melihatmu memperlihatkan mimik serius, dan melihatmu menghadirkan wajah penuh kenangan.
Lagi. Lagi-lagi kamu memandangku dengan tatapan aneh, kemudian aku akan balas memandangmu dengan tatapan sendu. Mengamati hidungmu yang mancung. Alismu yang tebal. Tubuhmu yang tinggi dan kurus. Kulitmu yang sedikit gelap. Bibir yang entah mengapa selalu membuatku tercekat. Rambut hitammu yang tersisir rapi ke samping, dan sinar mata itu.......sinar mata yang selama ini selalu aku rindukan.
Lagi. Lagi-lagi aku tak pernah paham, mengapa Ia selalu saja menghadirkan wajah-wajah yang mirip dengannya. Bahkan kali ini dihadirkan-Nya dengan “komposisi” yang sama tetapi dalam “kemasan” yang berbeda.
Lagi. Lagi-lagi aku hanya bisa berdiri mematung di sebelahmu. Melihatmu sebagai dirinya. Memutar pita kaset kenangan dalam otak. Menikmati detik demi detik, menit demi menit yang seakan-akan terus menyiksaku sebagai budak kenangan.
Lagi. Lagi-lagi aku harus menyimpan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di dada dan menyimpan rasa yang tak terdefinisi. Ingin rasanya ku lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja tak akan pernah bisa kau jawab. Seolah-olah kaulah sebenar-benarnya dia.
Lagi. Lagi-lagi aku harus bersiap-siap menghadapi kenyataan, bahwa sesaat lagi aku tak akan bisa melihat wajahmu itu. Wajah yang menghadangku dengan kenangan. Wajah yang membuatku seakan melayang ke kota kenangan.
Lagi. Lagi-lagi aku bertemu denganmu, hei lelaki misterius pembawa kenangan~
NB : Seandainya aku bisa memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu, aku ingin meminta maaf karena aku sering menatapmu dengan tatapan sendu itu. Oh ya, aku pernah mendengar ada yang memanggilmu Mei. Itu kah namamu? Hei namamu memang Mei, tapi sesungguhnya kamu seperti November. Kamu-sungguh-sangat-mirip-dengannya.







