Ia berjalan santai, tidak seperti sebelum sebelumnya yang lebih sering cemas jika ketinggalan kereta pukul dua pagi. Menyaksikan kereta mendekat secara perlahan dari sisi jalan menjadi hal yang khusyuk ia nikmati, bahkan melebihi ibadahnya kepada Tuhan. Langit gelap dan suasana stasiun yang sunyi, bertumpuk-tumpuk gerbong yang sudah tak terpakai dan mulai memperlihatkan karatnya justru menjadi hal yang unik untuk disaksikan, bahkan belakangan menjadi objek berfoto dan dipajang di tiap akun media sosial. Dini hari itu, sama seperti dini hari kemarin dan yang sudah sudah, tak ada yang diekspektasi, tak ada pikiran lain selain dapat barang sejam atau dua jam memejamkan mata yang mulai berat, hingga ia duduk berhadapan dengan romantismenya.
Duduk diapit oleh dua penumpang bak zombie dengan mulut yang menganga ketika tertidur membuatnya meminimalisir ruang untuk dirinya, sebisa mungkin tidak kena tomprok kalau-kalau kedua orang di kanan kirinya ini sebenarnya bukan tidur tapi pingsan. Di hadapannya, juga seorang yang baru naik dari stasiun ini, ia melihat jaket maroon itu sebelumnya dua meter lebih depan dengan hoodie yang sudah menutupi hampir setengah wajahnya bagian atas. Tidak ada yang spesial, mereka sama-sama mencari posisi yang nyaman di tengah orang yang sudah tewas dalam dengkurnya, memasang earphone dan mulai mencari playlist untuk dimainkan sembari mengiringi tidur singkat mereka sampai di stasiun akhir. Tas ditaruh di depan dan di peluk, lebih erat dan mesra daripada memeluk pacar, kadang merebahkan kepala di atasnya. Ruang yang terlalu sempit untuk mendapatkan privacy itu akhirnya membuat mereka saling menatap, tidak melalui mata berkantung hitam yang menjuntai dengan lancangnya, namun dengkul yang saling menarik diri ketika tak sengaja bergesekkan.
Kereta lintas kota bukan shinkansen yang bisa membuat koin tetap berdiri pada pinggirannya sangkin stabilnya, gerbong pun berbelok mengikuti lihai sang masinis mengendalikan roda untuk tetap berada pada rel-nya. Kedua dengkul pun mau tak mau saling menyentuh, cukup kasar untuk permulaan. Keduanya berusaha menghindar, saling menarik ketika dirasa akan bersentuhan lagi. Mata masih saling tertutup, tak mau menyia-nyiakan waktu meski posisi sama sekali tak bisa membuat terlelap. Belokan tajam tak dapat dihindari, membuat salah satu dengkul mau tak mau menjadi penahan dengkul yang lain yang lebih kecil, yang lebih terombang-ambing, hingga saat jalur kembali lurus dengan kerikil-kerikil kecil di pinggirnya.
Kali ini tak ada yang saling menarik, seakan membiarkan diri untuk saling menyamankan diri. Lama-lama, sepasang dengkul saling menempel, seperti tak dipisahkan oleh lapisan celana yang dikenakan, entah merasa tidak enak akan mengganggu, atau malah kelewat nyaman. Beberapa gerakan kadang tercipta, namun bukan rasa gelisah ingin berpisah. Seperti menemukan pembicaraan seru di tengah ketidaktauan satu sama lain. Benar juga, mereka bahkan tidak tau satu sama lain, hanya penumpang kereta yang naik dari stasiun yang sama dan kemungkinan turun di stasiun yang sama pula. Kedua mata masih terpejam, atau mungkin salah satu sempat mencuri pandang, tapi tak pernah benar-benar bertemu. Sepasang dengkul yang terus menyatu saling menghangatkan tanpa bertatap mata, tanpa berkata sepatah kata, tanpa tau nama, sampai salah satu tak bisa berpura-pura tertidur pulas lagi, sampai gerbong berhenti dan kembali pada pagi yang dibeli.