Tantangan 15 Hari Zona #5 Day 1
Assalamu’alaykum, good readers :)
Seperti yang telah saya sampaikan di prologue pada postingan sebelumnya, pada tantangan kali ini saya memilih untuk melakukan project mind map dan sedikit me-review apa yang telah saya baca.
Happy Family : Membangun Fondasi, Meraih Mimpi merupakan buku yang akhirnya saya pilih untuk saya baca dan saya buatkan mind map serta sedikit me-review-nya. Kenapa? Karena saya rasa saya butuh ilmu dari buku tersebut untuk kehidupan rumah tangga saya kedepan. Bagaimana saya menjadikan project ini bukan hanya sekedar menyelesaikan tantangan pembelajaran di Kelas Bunda Sayang IIP, namun juga untuk kehidupan saya.
Di Bab 1 buku ini, saya merasa ‘ditampar’ oleh kenyataan bahwa manusia -saya khususnya- memang sulit untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang sudah Allah tetapkan. Saya sering menjadikan bahagia sebagai tujuan tanpa tau sebenarnya apa makna kebahagiaan itu sendiri. Deuh, lieur..
Dalam buku tersebut, dijelaskan dengan sangat baik mengenai kenapa kita sulit untuk merasa bahagia, karena yang sering kita gemakan adalah “Saya INGIN bahagia”, bukan “SAYA BAHAGIA”. Sedangkan, kata ingin itu merujuk pada sesuatu yang ‘nanti’ bukan ‘saat ini’. Mengapa nanti? Mengapa tidak saat ini?
Terlebih, kita juga sering terjebak dalam citra bahagia, bukan bahagia yang nyata. Seiring dengan mudahnya kita melihat kehidupan orang lain, kita juga dimudahkan untuk melihat citra yang orang lain ciptakan, yang mungkin saja kenyataannya tidak seindah itu. Disinilah saya merasa malu kepada diri saya sendiri, bagaimana bisa kita bersyukur dengan apa yang kita miliki saat kehidupan orang lain yang kita inginkan?
Padahal, rumus menjadi bahagia itu sederhana. Dalam buku ini disebutkan, menurut Elizabeth Hurlock ada tiga A yang menjadi aspek kebahagiaan, yaitu acceptance (penerimaan), affection (kasih sayang), dan achievement (pencapaian). Kebahagiaan bukanlah unsur tunggal, atau berdiri sendiri. Namun tersusun atas 3 aspek yang saling berkaitan satu sama lain; Sikap menerima, curahan kasih sayang, dan prestasi atau pencapaian.
Acceptance adalah sikap terbaik dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai harapan, baik yang terjadi di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang. Affection bersifat fitrah kehidupan, tanpa curahan kasih sayang, maka kehidupan manusia akan kering dan seperti robot. Dan yang terakhir adalah Achievement, dimana pencapaian lahir dari kompetensi, kerja keras, usaha, doa, dan bertawakal kepada Allah. Namun yang harus juga diingat adalah pencapaian tidak selalu dilihat dari hal-hal yang sangat besar dan istimewa. Jika kita pandai melihat secara positif segala kejadian dalam kehidupan, kita akan lebih banyak bersyukur karena adanya achievement pada setiap situasi dan kondisi yang sering kali tidak mampu dilihat orang lain.
Di akhir bab 1 ini, juga dijabarkan mengenai forgiving untuk kebahagiaan. Menjadi orang yang pemaaf, akan membebaskan orang tersebut dari tekanan dan ketidakbahagiaan. Memaafkan juga salah satu ciri orang yang bertaqwa ‘aafiina ‘aninnaas - memiliki kemampuan untuk memaafkan kesalahan orang.
Namun memaafkan bukan hanya berlaku untuk orang lain, kita juga harus memaafkan diri sendiri, atau self-forgiveness. Dimana kita berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atas terjadinya sesuatu, berhenti dari perasaan merasa tidak berharga, bersalah, atau perasaan bahwa diri kita tidak pernah cukup.
Hmm.. menyedihkan bukan? bahwa ternyata untuk menjadi bahagia hanya bermula dari diri sendiri, kita tidak bisa berpegang stigma yang ada di masyarakat. Yang ada, kita terjebak pada hedonic treadmill, istilah tersebut menggambarkan orang yang mengejar kebahagiaan dengan terus berlari, menambah kecepatan, dan tidak pernah puas dengan kecepatan yang dicapai. Namun sampai dimanakah mereka? Tetap ditempat semula.
Sebagai penutup, saya akan mengutip sebuah tulisan dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ighatsatul Lahafan yang menyatakan, “Para Pecinta Dunia tidak akan terlepas dari 3 hal: Kegelisahan terus menerus, keletihan yang berkelanjutan, dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.”
Semoga kita semua dijauhkan dari hal tersebut ya, dan melatih diri sendiri untuk bahagia dengan apa yang sudah kita capai dan miliki.
Sekian review saya untuk Bab 1: Membangun Kebahagiaan, terima kasih sudah meluangkan waktu kalian ya good readers..
Wassalamu’alaykum :)












