Muda, Kedinginan dan Tak Bisa Buang Air Kecil
Dalam satu waktu itu, saya benar-benar mempertanyakan keumuran saya. Saya memang muda, tapi nyatanya saya kedinginan dan susah sekali buang air kecil!
Ini adalah pengalaman beberapa pekan lalu saat saya mengikuti agenda outing kantor di Sukabumi dalam bentuk arung jeram. Lumayan lah, melepas penat pekerjaan (meskipun malamnya harus begadang menggantikan pekerjaan hari saat outing itu). Haha dan saya suka tantangan! #pret
Singkat cerita sampailah kami di sana dan dibagilah kami lima orang per kelompok. Lalu satu persatu kami pun berangkat menggunakan perahu karet menyusuri sungai yang berbatu. Karena sudah masuk musim kemarau jadi debit air memang lagi ga begitu banyak. Sehingga batu-batu lebih terlihat. Ada 22 jeram yang kami lalui dengan total jarak 12-13 km, dan waktu tempuh hampir 3 jam (sudah sama istirahat 15 menit).
Semua berjalan seru dan menyenangkan. Pemandu kami juga orang yang menyenangkan dan mampu mendinamisasi jalannya arung jeram. Seperti misalnya menceburkan teman kami saat air sedang tenang. haha atau berbalas menyiram air kepala perahu lain yang berpapasan dengan kami.
Hingga sampailah kami di kira-kira jeram ke 16 atau 17 saya agak lupa, yang pasti satu jeram setelah kami istirahat dna minum air kelapa. Saya mulai merasa kedinginan setelah menceburkan diri sebelum berangkat lagi selepas istirahat. Dan dingin membawa kepala hasrat lain yang sangat manusiawi: keinginan buang air kecil! Oke, saya pikir di jeram depan ketika banyak air yang datang saya akan sekalian mengeluarkan air kencing saya, biar sekalian terbasuh. Nyatanya jeram yang kami lalui cukup ekstream sampai saya tidak bisa fokus. Saya bertekad jeram selanjutnya saya harus bisa.
Ternyata saya tidak sendiri, kawan samping saya tiba-tiba bertanya kepada pemandu kami: “Di sini boleh nyebur ga sih kang?”. Saya langsung tembak kalau dia kebelet kencing juga. Haha dan ternyata benar. Akhirnya di air tenang sebelum jeram selanjutnya, saya dan kawan satu perahu saya yang laki-laki itu nyebur bersama untuk melaksanakan tugas badaniyah. Tapi di air tenangpun tidak semudah yang dikira. Kami agak lama berada dalam air, menanti sesuatu keluar dari tubuh. Dan kikuknya, kawan kami di kapal masing menunggu.
Nahas, jeram selanjutnya sudah terlihat. Kawan saya berhasil menuntaskan tugasnya dan naik ke perahu sementara saya masih tersangkut menunggu sesuatu cair. Saya sempat beberapa kali menghantam batu sebelum akhirnya berhasil naik dibantu pemandu dan kawan saya, tepat sebelum puncak adrenalin jeram. Kami semua tertawa lepas sekali mengetahui saya belum berhasil kencing. Ada semacam penolakan dalam kepala saya, bahwa ini bukanlah tempat yang benar untung buang air kecil, yang menghalangi sistem ekskresi saya bekerja pada saat itu. Kawan sayapun sebenarnya memiliki problem yang sama, namun ia berhasil menipu otaknya bahwa kencing di sini tidak apa-apa.
Saya hampir menyerah, dan akan bertahan sampai selesai arung jeram dan bisa kencing betulan di toilet setelah sampai. Namun kami maish beberapa jeram lagi untuk sampai. Akhirnya di jeram 20, sungai mulai melebar karena bertemu arus dari sungai lain dan arus cukup tenang. Saya ijin kembali kepada kawan-kapan dan pemandu. Beruntung ada kawan lain yang ingin nyebur juga, karena selama arung jeram belum sempat nyemplung.
Turunlah kami di sini perahu yang berbeda. Saya mencoba konsentrasi kembali sambil menatap langit dan menahan rasa dingin. Berusaha membayangkan saya masuk ke dalam toilet umum, melewati westafel dan masuk ke satu kamar kecil. Sial, konsentrasi saya terganggu karena kaki saya masih harus bergerak agar tetap di atas. Itu beberapa detik yang menegangkan. Dalam satu waktu itu, saya benar-benar mempertanyakan keumuran saya. Saya memang muda, tapi nyatanya saya kedinginan dan susah sekali buang air kecil! Seperti kisah orang-orang tua (terutama pria) yang saya ketahui. Semakin tua, semakin sulit buang air kecil.
Akhirnya saya mencoba cara lain, mungkin saya butuh pijakan agar kaki saya juga bisa tenang. Dan benarlah, ketika saya berpijak pada sebuah batu, pelan-pelan saya mulai bisa buang air kecil seperti biasa. Namun saat lagi syahdu-syahdunya, ada kapal lain lewat dan itu cukup memalukan sih. Haha karena terlihat sekali hanya saya yang di bawah dan kami di tengah-tengah sungai dan seperti sedang tidak melakukan apa-apa. Apalagi pemandu berteriak: “Toilet umum pak, kencing 2000. Haha”. Tapi siapa peduli lah, yang penting saya sudah berhasil buang air kecil.
Begitulah kira-kira kisahnya. Sangat tidak bervaedah sih, tapi emang mau cerita aja pengalaman buang air kecil paling penuh upaya ini. Hehe Terima kasih kalo ada yang baca sampai sini













