Hello Again - Goodbye Again
Aku bergegas menaiki bus yang akan segera bertolak ke Bandara, hari ini tunanganku akan dilantik setelah mendapatkan general lisence nya sebagai engineer. Sebenarnya tidak ada perayaan seperti hari kelulusan kuliah hanya saja aku ingin membuat kejutan dengan memberinya selamat langsung di tempat kerjanya. Ini hari yang penting aku tidak mau terlambat. Ku susuri bangku-bangku untuk mecari kursiku “Ah! itu disana nomor 13” Aku merapikan barang-barangku lalu duduk manis menunggu bus berangkat. Merapikan headset dan memutar playlist favoritku. Bus pun mulai dipenuhi penumpang lainnya namun kursi di sebelahku masih belum ada yang mengisi, tapi aku tak peduli, aku tetap asyik mendengarkan deretan lagu. Tak lama kemudian sopir bus mulai menduduki kursi kemudinya, bus sudah siap untuk berangkat. Tiba-tiba ada seseorang yang grasak-grusuk di sekitar kursiku dipandu kernet bus mencari nomor kursi 14 dan kemudian duduklah orang yang hampir terlambat itu di sebelahku.
“Hhh..” terdengar orang disebelahku menghela nafas sambil membuka topinya, mengibas-ngibaskan topi ke tubuhnya. Akupun menoleh dan tersenyum ke arahnya selayaknya tata krama pada orang yang baru ditemui. Diapun membalas senyumku lalu kami diam sejenak, rasanya aku mengenal orang itu. Mungkin diapun merasakan hal yang sama yang sontak membuatnya mengeluarkan respon kaget
“Eh?! Ja.. Janit ya? Janitra kan?!” ucapnya sambil mengerenyitkan kening.
“Hehe iya. Alfiyan kan? Mau kemana?“ tanyaku sambil melepas headsetku.
“Aku? Ke Bandara lah. Hehe”
"Iya, ngapain? Mau liburan?"
"Engga, kerja"
“Oooh, terus ini ko ada di Bandung?”
“Lagi dapet jatah libur”
“Oooh. Kerja dimana emang?”
“Maskapai singa terbang”
“Oooh..” jawabku kehabisan bahan obrolan.
Alfiyan tidak berubah, dia masih tetap dingin dan menjawab seperlunya sejak kami putus beberapa tahun lalu. Yah, Alfiyan adalah mantan kekasihku. Entah apa skenario Tuhan sehingga kami dipertemukan kembali di bus ini, setelah entah berapa tahun lamanya kami tidak pernah bertemu. Kami menjalin hubungan saat kami masih duduk di bangku SMA. Sebelum denganku, Alfiyan belum pernah berpacaran dengan siapapun, dan setelah dengaku diapun tidak pernah terlihat bersama perempuan lain. Alfiyan tahu bahwa aku telah bertunangan, karena tunanganku dulu satu sekolah dengannya dan sekarang sama-sama bekerja di Bandara hanya saja di maskapai yang berbeda.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak mengobrol dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Dulu saat kami masih bersama, Alfiyan pernah memintaku untuk menunggunya hingga dia memiliki pekerjaan, dia bilang mungkin sekitar tahun 2018 dia akan menyampaikan sesuatu padaku. Namun, hal itu tidak pernah terjadi karena kami sudah berpisah lima tahun yang lalu, saat kami masih di SMA. Dia pernah mengajakku kembali, dia berjanji selepas Ujian SMA namun berbulan-bulan ku lewati selepas ujian, dia tak kunjung memberikan kepastian. Selama masa galauku “digantung” olehnya dulu, aku selalu bercerita kepada Fathur. Fathur tahu seberapa besar cintaku terhadap Alfiyan dulu. Fathur juga tahu seberapa beruntungnya Alfiyan mendapatkan wanita sepertiku, -katanya. Yang Fathur tidak tahu, kenapa Alfiyan menyianyiakan, wanita yang diam-diam Fathur suka sejak lama. Dulu selama aku bercerita kepada Fathur, semua hanya tentang Alfiyan. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Fathur. Toh, Fathur pun tahu bahwa perasaanku pada Alfiyan begitu besar.
Aku pernah diperingatkan oleh Namira, sahabatku agar berhenti mengharapkan Alfiyan. Bukan tanpa alasan Namira berkata demikian, Namira pernah mengobrol dengan Alfiyan yang pada intinya Alfiyan berkata bahwa dia tidak pernah memberiku harapan untuk kembali bersama.
Mendengarnya, aku merasa bodoh. Sungguh-sungguh menunggu seseorang yang ternyata hanya bermain-main dengan perasaanku. Aku merasa hatiku yang utuh & seluruhnya telah aku berikan padanya, dia buang begitu saja. Aku lelah, aku kesal, membuatku memberanikan diri menemuinya saat dia menjadi panitia upacara kelulusan di sekolahnya. Aku menunggu sampai acara itu selesai agar tak mengganggu kegiatannya, dan saat itu pula aku mengatakan bahwa sebaiknya kita lanjutkan hidup kita masing-masing, aku lelah dengan janjinya yang tak kunjung dia tepati. Semenjak hari itu, Fathur mulai menunjukkan keseriusannya kepadaku hingga akhirnya kami bertunangan saat ini.
“Apa kabar Fathur?” Alfiyan membuka pembicaraan ketika bus mulai memasuki gerbang Bandara.
“Dia baik, Alhamdulillah”
“Kerja dimana sekarang?”
“Sama kaya kamu di Bandara. Tapi dia di sangkar burung”
“Ooh.. Kamu pergi sekarang untuk ketemu dia?”
“Iya. Kenapa?”
“Oh..”
Hai.. selamat bertemu lagi Aku sudah lama menghindarimu Sialkulah kau ada di sini Sungguh tak mudah bagiku Rasanya tak ingin bernafas lagi Tegak bediri di depanmu kini Sakitnya menusuk jantung ini Melawan cinta yang ada di hati
Dan..upayaku tahu diri.. Tak slamanya berhasil Pabila kau muncul terus begini Tanpa pernah kita bisa bersama Pergilah,menghilang sajalah lagi
Tiba-tiba music player di bus memainkan lagu itu. Aku hanya tersenyum sambil melepas dan merapikan headsetku.
“Turun dimana?” Tanyaku
“Di pool. Kamu?”
“Sama”
“Di jemput Fathur?”
“Engga, dia lagi pelantikan abis dapet GL”
“Oh.. udah dapet GL.. Trus dapet buku nikahnya kapan?” Tanya Alfiyan
“Tahun ini, in syaa Allah. Datang ya!”
“Hah? Hehe.. in syaa Allah“ jawabnya sambil menganggukkan kepala dan mengalihkan pandangan
Bye, selamat berpisah lagi Meski masih ingin memandangimu Lebih baik kau tiada di sini Sungguh tak mudah bagiku Menghentikan sgala khayalan gila Jika kau ada dan ku cuma bisa Meradang menjadi yang di sisimu Membenci nasibku yang tak berubah
“Kenapa? Masih sensi sama Fathur?” Tanyaku sambil bercanda
Bus mulai sering berhenti di tiap terminal bandara untuk menurunkan penumpang.
“Hah? Apaan engga.. Sensi apaan..”
“Terus kalo nggak sensi kenapa dulu kamu ngeunfriend kita di facebook?”
“Ya itu karena..“
“Karena?”
“Karena..”
“Mending ngomong sekarang Yan, udah mau turun bentar lagi. Gatau kapan bisa ketemu lagi. Karena apa?”
“Karena dulu aku belum rela ngelihat kamu bahagia sama Fathur, Jan.”
“Loh hahaha, kenapa? Toh dulu kamu sendiri yang ngebuang aku kan?” Jawabku lagi sambil sedikit tertawa. Aku memang berusaha untuk tidak terlalu serius menanggapi pembicaraan ini agar tidak terbawa perasaan.
“Ngebuang apa? Aku dulu mau ngajak kamu balikan, Jan. Kamu gak inget?”
“Inget ko, yang digantung lama banget itu kan? Kamu gatau kan segimana aku terus terjebak sama bayang-bayang kamu selama kamu ninggalin aku dulu. Kamu gatau kan gimana aku harus berjuang bangkitin diri aku sendiri supaya bisa fokus ujian dan gak inget-inget kamu. Saat itu yang ada cuma Fathur, yang standby buat dengerin ceritaku, yang standby dengerin aku nangis di telepon. Kamu kemana? SMS atau teleponku gak pernah kamu respon tuh. Bahkan waktu aku dateng ke upacara kelulusanpun kamu seolah nganggep aku ngga ada.”
“Ya lagian kamu ngapain ke sekolahku, aku jadi gak enak sama temen-temenku”
“Loh, kenapa mesti gak enak, dulu kita sering pulang bareng kan, temen-temen kamu juga udah tau aku”
“Aku.. aku bingung harus respon SMS atau telepon kamu kaya gimana, Jan. Aku sayang sama kamu, tapi kamu putusin aku karena alasan yang gak jelas. Makanya aku minta kamu nunggu, aku mau langsung ngelamar kamu, Jan”
“Gitu? Trus kenapa bilang sama Namira kalo kamu belum bisa sama aku? Kenapa kamu bilang sama Namira kalo kamu gak pernah ngasih aku harapan buat balikan?”
“Namira? Aku gak bilang gitu sama Namira. Aku cuma bilang kalo aku belum siap. Aku belum mapan, aku belum bisa saat itu. Tapi sekarang aku udah bisa Jan, aku udah siap, aku juga udah kerja sekarang.”
Berkali-kali kau berkata Kau cinta tapi tak bisa Berkali-kali ku tlah berjanji Menyerah….
Bus pun mulai masuk ke pool, mencari tempat parkir untuk menurunkan penumpang.
“Terus? Setelah semua yang kamu lakuin kamu pikir aku masih mau nunggu kamu? Hahaha yang bener aja. Di saat ada orang yang beneran sayang sama aku, bener-bener nunjukin keseriusannya sama aku, aku harus relain dia demi nunggu kamu yang gak jelas perasaannya sama aku? yang gak pernah ngasih kabar atau kode kalo kamu masih mau sama aku? Telat Yan. Aku nikah tahun ini. Semua rasa buat kamu udah selesai. Aku berharap kamupun kaya gitu ya. Jangan lupa dateng ke hari pernikahanku, nanti aku kasih undangannya. Sukses dengan kerjaan kamu sekarang. Yuk ah, aku turun duluan ya, udah sampe. Daah :)”
Pergilah,menghilang sajalah lagi…









