Dalam LindunganMu, Ku Mencintainya #1
Assalamu’alaikum. Halo semua, perkenalkan, namaku Adrian (nama samaran). Ini adalah kisahku, yang sebenarnya tidak murni kisahku, melainkan aku tambah dengan beberapa bumbu menyengak di dalamnya agar kisah ini tidak terlalu menyedihkan. Aku tidak meminta kalian untuk membaca. Aku hanya ingin menulis terhadap apa-apa yang tak pernah bisa kuceritakan pada siapapun, masalah ini, kehidupan ini, semuanya. Semua yang kutulis bisa dikatakan fiksi karena kebanyakan akan berisi mengenai impianku selama ini yang ingin sekali kuwujudkan namun tak akan pernah bisa demi sesuatu hal.
Aku menulis cerita ini sebagai pelampiasan hidupku yang Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana untuk mencari solusinya. Satu hal yang selama ini berusaha kulakukan adalah bertahan hingga ajal menjemputku. Aku tidak merasa jika hidupku selalu lebih berat daripada orang lain. Banyak yang lebih tidak beruntung daripada Aku, dan itu adalah salah satu alasanku untuk tetap hidup. Alhamdulillah, every thankful and praise is only for Allah.
Guys, mungkin dari kalian sering berpikir mengapa hidup ini begitu berat? Mengapa semua ini bisa terjadi begitu saja dengan mudahnya? Tapi mengapa semua itu sulit terlupakan atau teratasi? Katanya Tuhan tidak pernah tidur, katanya Tuhan tak akan pernah merusak hambaNya, katanya akan selalu ada jalan keluar dari setiap masalah, tapi di mana?
Mungkin masih banyak lagi yang ingin dipertanyakan. Tapi ketahuilah, guys. Engkau hanyalah manusia biasa, sadari itu. Kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Engkau memiliki Tuhan, dalam agamaku, Islam, Dia Allah, adalah Yang Berkuasa atas segala sesuatu di langit dan di bumi. Jika memang engkau percaya pada Tuhanmu, serahkan segalanya padaNya, maka engkau akan jauh lebih tenang menjalani hidup karena engkau telah mencoba untuk berpasrah padaNya. Sang Pencipta lebih tahu dari apa-apa yang diketahui ciptaanNya.
Nama saya Adrian Hamdan Al-Haziq (nama samaran). Biasa dipanggil Adrian, Hamdan, atau Haziq. Saya merupakan keturunan orang Jawa yang entah mengapa oleh beberapa orang sepuh menganggap bahwa saya memiliki ciri seperti orang Arab, padahal menurut saya tidak ada sama sekali arabnya dalam diri saya. Satu hal yang sangat arab bagi saya hanyalah kehidupan saya, mungkin. Ya, saya dilahirkan dari keluarga yang cukup mengenal baik akan agama Islam. Ayah dan ibu saya sebenarnya bukanlah orang-orang yang dipandang sebagai ahli ilmu agama seperti ustadz atau semacamnya. Hanya saja telah menjadi kewajiban kami untuk mengenal Tuhan kami, Allah. Ayah, ibu, saya, dan saudara-saudara saya hampir setiap waktu selalu mengaji, mencari ilmu agama, beribadah bersama, yang kesemua itu kami lakukan di masjid terdekat kita, bersama dengan warga lain yang juga merasakan hal yang sama.
Saya berasal dari salah satu peradaban di Jawa Tengah. Saya dilahirkan dan dibesarkan di sana. Mengarungi waktu, saya beranjak dewasa dari yang dulu hanya suka bermain di sawah dan sungai bersama dengan kawan-kawan saya di desa, kini saya banyak membuang waktu saya dengan hal random, tak jelas, tak tahu apakah bermanfaat atau tidak. Meskipun demikian, saya meyakini semua itu adalah yang terbaik bagi saya.
Hingga kemudian, muncul satu hal dalam hidup ini yang saya sangat sesali namun saya tak tahu bagaimana untuk mengubahnya. Di alam yang saya singgahi ini, orang-orang zaman sekarang biasa memanggil manusia jenis saya sebagai penyuka sesama jenis atau secara istilahnya bisa disebut dengan “gay”. Mengerikan? Kalian mau pergi setelah membaca ini? Silakan, saya tidak memaksa. Saya di sini memang hanya sekedar curhat saja. Ya, saya mengakui jika saya adalah gay. Walaupun sebenarnya saya merasa memiliki sedikit (sangat) perasaan terhadap perempuan, namun satu hal setelah mengalami begitu banyak fenomena, saya lebih cenderung seperti LSL (lelaki suka lelaki) daripada biseksual (penyuka dua gender). Sebenarnya saya tidak terlalu mengkhawatirkan istilah. Saya lebih concern pada apa yang telah terjadi. SAYA ABNORMAL dan itulah yang menimpa saya.
Saya sangat menyadari betul mengapa saya seperti ini. Dulu sekali, ketika saya masih kecil, saya memang sering berkelana dan bermain bersama teman laki-laki saya. Ya, seperti laki-laki pada umumnya. Namun, saya juga sudah biasa bermain bersama perempuan, yang saat itu saya suka bermain rumah-rumahan, masak-masakan, dan entah mengapa itu terjadi begitu saja ketika masih kecil, dan saya pun tidak dilarang oleh kedua orang tua saya. Mungkin karena mereka tidak pernah tahu anaknya selama ini pergi ke mana saja dan melakukan apa? Entahlah.
Orang tua saya bekerja setiap hari. Ibu saya adalah seorang staf di suatu sekolah, namun ketika saya masih kecil, beliau sambil menyelesaikan kuliah S1-nya agar dapat menjadi seorang guru. Ayah saya bekerja di suatu puskesmas di pedesaan. Beliau sebenarnya sering pulang cepat, hanya saja entah mengapa saya merasa sangat kurang bercakap dengan beliau setiap hari. Hanya di waktu tertentu saja, seperti di hari Minggu atau hari libur lain yang mana sekeluarga biasa pergi keluar untuk makan bareng atau jalan-jalan bareng. Ya seperti keluarga normal pada hakikatnya. Namun, saya jarang berkomunikasi dengan ayah dan ibu saya semenjak kecil. Saya adalah macam anak yang pendiam dan suka asyik sendiri dengan sesuatu yang saya tertariki. Walaupun begitu, saya masih enjoy dengan teman-teman saya, termasuk teman-teman mengaji saya di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di masjid terdekat.
Waktu berlalu, beranjak dewasa, saya kian malu terhadap orang lain (Mungkin kepribadian saya yang asli mulai nampak dan saya baru menyadarinya sekarang). Saya malu ketika ditunjuk untuk menjadi imam sholat ketika TPA. Saya malu ketika disuruh untuk azan di masjid. Saya takut ketika saya diminta untuk berceramah. Mengapa saya? Sebelumnya saya mohon maaf, bukan bermaksud sombong, tapi menurut saya, dulu saya adalah anak yang tergolong cepat menangkap ilmu. Record saya dalam pengajian terhitung sangat baik. Saya bisa menghafal doa lebih cepat daripada yang lain. Lebih semangat mengaji, lebih cepat memahami arab, tajwid, bacaan sehingga di usia muda pun sudah dapat membaca Alquran dengan fasih. Mungkin dari itulah saya diharapkan untuk menjadi seorang generasi penerus unggulan. Namun satu hal yang tidak berubah (dan bahkan hingga sekarang), mental saya sangat lemah. Karena saya takut dan malu, saya mulai malas untuk mengaji. Saya tidak tahu mengapa hal itu bisa sangat berbanding terbalik dan terjadi secepat itu. Rasa malas itu membuat saya lebih suka hanya bermain playstation ketika itu dan menjalani sekolah saja, ya, duniawi saja. Saya tidak pernah ikut mengaji anak-anak lagi. Keselanjutnya saya menjadi seorang remaja, saya tidak pernah mengikuti pengajian remaja. Saya hanya mengikuti pengajian yang ketika itu ada orang tua saya. Orang tua sama sekali tidak mempermasalahkan saya. Saya semakin sibuk sehingga sering pulang malam karena les. Orang tua semakin “memaklumi” saya untuk jarang mengaji padahal ketika itu ada orang tua saya. Hal itu terjadi terus hingga saya tak pernah menyangka jika semua itu berpengaruh besar di masa mendatang, hingga sekarang.
Suatu saat, ketika saya baru masuk SMP, saya diperkenalkan oleh alat yang cukup canggih di waktu itu. Ya, modem internet. Saya sangat excited mengetahui bahwa saya ketika itu masih sangat blank tentang internet. Saat itu, saya hanya menggunakan internet di sekolah dan itu pun terbatas. Hingga kemudian saya memiliki portal pembuka internet pribadi, saya selalu curious terhadap internet. Meskipun orang tua selalu menyimpan ketika waktu malam, entah apa yang merasuki saya, saya dengan lihainya dapat menemukan dan memperoleh modem tersebut. Saya lakukan surfing, surfing, dan surfing di internet. Game online saya mainkan, komik online saya temukan. Banyak hal yang bisa saya lakukan hingga saya tidak tersadar bahwa inilah gerbang awal dari segala kerusakan yang terjadi pada diri saya. Kerusakan yang hidup seperti sel kanker, menjalar dan menggerogoti diri saya. Ya, sejak SMP itu pula saya mulai menjadi seorang “gay”.
Saya tidak ingin menceritakan lebih banyak lagi mengapa saya bisa menjadi gay. Terlalu kelam, dan entah mengapa saya akan selalu merasa depresi ketika mengingatnya. Yang jelas, setelah kejadian itu, saya mulai seringkali mengakses konten tak layak dan mulai berpikiran kotor terhadap beberapa kawan sesama jenis. Tapi kemudian saya ikut mengaji lagi. Dan saya mulai sedikit tersadarkan dan berangsur-angsur sadar bahwa saya telah jatuh ke lembah dosa dan saya harus kembali kepadaNya.
Cobaan Tuhan sebagai bentuk kasih sayangNya pada hambaNya, saya mulai kesulitan untuk berubah. Tiap kali ada sesuatu di luar sana yang “menarik”, meskipun ketika itu berusaha menahan hawa nafsu, terkadang sesampainya di dalam kamar, saya kembali mengakses konten buruk itu padahal sebelumnya saya telah berjanji untuk tidak mengulangi. Saya semakin takut, takut untuk mengulangi hal yang serupa. Semakin menjadi-jadi, banyak hal muncul berkaitan dengan masalah ini. Saya mulai terkena penyakit yang bisa dikatakan sepele namun cukup membuat saya depresi karena tidak bisa disembuhkan. Saya tidak tahu mengapa bisa demikian terjadi. Allah benar-benar mencoba saya apakah saya benar-benar hambaNya yang setia. Hingga sekarang pun, saya masih mencoba untuk bertahan. Saya tidak menyalahkan Allah karena saya tahu semua ini ada karena kesalahan saya. Saya harus ikhlas dengan apa yang telah terjadi karena telah menjadi takdir saya, dan saya hingga sekarang masih berusaha untuk bertahan agar tidak berbuat keburukan lagi, minimal tidak mengulangi dosa yang sama dan tidak memperburuk diri lagi. Jujur, hingga sekarang pun masihlah sulit, namun saya yakin, saya bisa bertahan karena saya punya Allah. Allah jauh lebih besar daripada masalah saya.
Ada satu cobaan yang cukup membuat saya tertekan. Cobaan yang lebih dari sekedar menahan hawa nafsu. Sesuatu yang timbul di masa remaja yang saya mulai concern terhadapnya mengingat saya hanyalah manusia biasa yang membutuhkan orang lain. Ya, cinta. Saya mulai jatuh cinta terhadap seseorang. Ya, hanya satu orang. Saya sangat bisa membedakan mana rasanya nafsu, mana yang benar-benar jatuh hati. Ketika SMP, saya murni lebih banyak memakai nafsu. Namun ketika SMA, ketika kepribadian saya mulai mematang dan memunculkan wujudnya, saya mulai jatuh hati pada seseorang. Namun, satu hal yang saya sadari betul adalah bahwa cinta yang saya rasakan ini adalah cinta terlarang. Ya, saya jatuh hati pada seorang laki-laki, teman saya sendiri.
Ketika itu saya biasa saja ketika awal berjumpa. Lama-kelamaan, ketika saya tahu bahwa dia adalah anak yang sangat pandai, saya mulai kagum. Bukan hanya itu, dia juga anak yang humoris, suka berolahraga (padahal sedikit gendutan), dan lihai dalam bermusik. Benar-benar seseorang yang sempurna di mata saya. Dia dekat dengan siapapun, terlebih-lebih dengan teman sekelasnya. Saya adalah classmate nya dan saya terkena dampaknya. Lebih buruknya lagi, saya sering digoda olehnya karena dia memang terkenal “ngeres” padahal saya tidak pernah berpikir demikian. Yang saya tahu betul adalah dia sangat pandai dan sangat serius ketika telah masuk waktu pelajaran. Saya bahkan pernah melihatnya kecewa ketika dia memperoleh nilai yang mungkin dia tidak sepantasnya peroleh padahal sudah cukup tinggi jika menurut saya. Begitulah, hingga saya semakin kagum dan entah mengapa saya mulai merasa malu dan canggung ketika bertemu. Saya tak mampu berhadapan langsung dengannya. Saya menjadi sering melihat wajahnya ketika dia berpaling. Ketika dia menghampiri saya dan menggoda saya, saya sering keras ketika berbicara dengannya dan kemudian menjauhinya. Saya takut perasaan ini semakin dalam. Saya takut jika orang lain, terutama teman-teman saya tahu akan hal ini. Saya pun mulai merasa kesepian dan ketakutan, semakin dalam dan membuat saya sulit menerima kenyataan.
Tapi, ada satu hal yang bisa saya lakukan. Saya akan lulus dari SMA, itu artinya saya memiliki kesempatan untuk kuliah. Mengetahui orang yang saya suka itu akan melanjutkan studinya ke Yogya, saya pun memilih kota lain agar tidak berjumpa lagi dengan dia. Saya tidak memilih kuliah di kota tempat saya bersekolah karena terlalu dekat dengan rumah. Saya menjauhi rumah karena di tempat itulah saya banyak berbuat aniaya. Sesuai dugaan, banyak dari teman saya yang memilih Yogya sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Alhasil, saya benar-benar harus memulai awal yang baru, di sebuah kota besar di kawasan barat Jawa. Saya tidak mengerti apa-apa lagi selain berharap akan pertolongan Allah di sini. Akan tetapi, takdir berkata lain. Ibarat berlari dari kejaran api, namun arang kecil yang terbawa oleh hembusan angin lebih cepat mengejar.