Sudah menjadi sifat dasar manusia, yang selalu merasa kurang atas apa yang telah ia miliki. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Yaa, rasa syukur itu masih belum bersemi dalam hatiku. Bahkan aku cenderung konsumtif dan menghamburkan uang. . Ketika kakek mengingatkanku, aku selalu berdalih bahwa ini adalah kebutuhanku bukan hanya sekadar keinginan. Nyatanya, itu hanya sebuah alasan belaka yang sengaja aku reka, untuk mendapatkan keinginanku. . Dan sepeninggal kakek, semua berbeda. Seketika berubah 180 derajat. Apa yang selama ini telah menjadi milikiku, satu per satu terlepas dari genggamanku. Yaa, mungkin ini juga salahku. Yang tak pernah merasa puas dan cenderung konsumtif. . Dalam surat cinta-Nya, Allah pun telah menegaskan, bahwa sifat dasar manusia adalah menghamburkan uang dan berfoya-foya saat berada dalam kondisi berada, menghindari gaya kesederhanaan dan keseimbangan. . “Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûra: 27). . “Astagfirullah…” . Aku selama ini benar-benar telah menjadi orang yang merugi. Kerena selalu berbangga diri dengan apa yang aku miliki, serta berfoya-foya atas harta yang bukan milikiku tapi milik kakek. Hati ini kembali bertanya, “Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??” . . read more: http://www.ayumungil.com/2018/05/20/agamaku-mengajarkanku-hidup-sederhana/ . #LuruskanNiat! #HDIK #ayumungil #diarymungil (di Sedati, Jawa Timur, Indonesia)








