Matematika, Teka-Teki, dan Asa
Sejak kecil matematika dan aku tidak pernah berteman baik. Ibu sepertinya butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa anak perempuannya jauh lebih suka bermain dengan imajinasi liar tanpa sekat. Tidak seperti matematika yang serba teratur dan sistemis.
Yang kutahu sejak dulu, matematika hampir selalu berujung membuatku dimusuhi orang lain dan dimarahi Ibu. Kehilangan teman, lalu nyaris terkena star sindrom berkepanjangan.
Puncaknya ketika aku akhirnya diputuskan untuk bergabung ke kelas akselerasi di tingkat SMP. Rupanya Guru Bahasa Inggrisku yang baik hati sangat mengapresiasi kemampuanku di bidang ajarnya. Apa dia tahu ya kalau aku punya love-hate relationship dengan matematika? Sepertinya sih tidak.
Perang terbesarku dengan matematika dimulai saat kelas 8. Aku yang sedang beradaptasi, baru saja tahu bahwa bahkan di kelas akselerasi yang konon terbaik dan dibanggakan itu; anak-anaknya juga terbiasa menyontek pada teman satu sirkel mereka. Simbiosis mutualisme dalam praktik nyata.
Aku mati-matian memahami kenapa huruf harus masuk dan ikut bersanding dengan angka untuk menciptakan sebuah penyelesaian yang bahkan aku tak paham mengapa ia perlu diselesaikan. Lebih dari itu, Guru Matematika kami yang agung berpikir bahwa anak di kelas akselerasi sudah sebegitu hebatnya sehingga tidak memerlukan penjelasan mendetail dalam belajar. Ya, mereka memang hebat sih.. dalam transaksi gelap mata pelajaran.
Sejak saat itu aku selalu mengalami serangan panik mendadak setiap melihat jadwal pelajaran. Berjam-jam memandangi latihan soal matematika dengan tatapan kosong. Tidak ada teman yang bisa kutanyai karena mereka sudah punya sirkelnya masing-masing. Aku juga bukan anak hits yang parasnya luar biasa menampar mata lelaki. Tinggal di kampung membuatku sulit untuk mengakses rumah guru di kota (guru ini rupanya jauh lebih senang dan fokus mengajar saat les privat dibanding saat menjalankan kewajibannya di sekolah). Jangan tanya soal internet. Terlalu muluk-muluk untuk anak kampung di tahun itu.
Rasa frustasi saat menghadapi PR aku telan sendiri. Di tengah keadaan rumah yang panas dan "patah", aku harus membagi rasa putus asa ke dalam dua hal: keluarga dan matematika.
Keesokan harinya aku hanya melamun di kelas. Di saat anak-anak lain sibuk berkongsi jawaban, aku terlalu takut untuk meminta. Sebelumnya aku selalu menjadi anak berprestasi di kelas. Menyontek tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Aku mencoba berani untuk menghadapi kenyataan apa adanya; bahwa kali ini, aku benar-benar kesulitan memahami pelajaran.
Tak disangka, aku betul-betul menjadi bintang utama. Saat absen nilai, hampir seluruh anak di kelas mendapat nilai 100. Aku terlalu sibuk menghitung rasa khawatir saat aku menyadari kalau nilaiku paling rendah. Paling rendah sebenarnya tidak buruk. Yang membuatnya spektakuler adalah karena poinku hanya 1,75 dari total 100! Alias jawabanku hanya benar satu. Itupun kukerjakan dengan mati-matian. Semua orang spontan menengok ke arahku. Termasuk si Guru. Di depan semua orang, dirinya menggiring opini bahwa aku tidak pantas berada di kelas itu. Aku terlalu mencurigakan untuk berada di sana. Mengapa aku bisa sebodoh itu. Aku mencetak sejarah di sepanjang perjalanan kelas akselerasi; si anak yang pernah mendapat nilai 1,75 di antara para jenius. Dengan intensi yang jelas, Guru itu berkata intinya aku tak pantas bergabung dengan mereka.
Aku bingung sekali. Bukan keinginanku juga untuk ada di situ. Aku bisa saja menyebutkan beberapa nama yang mungkin akan bernasib sama sepertiku jika mereka tidak sibuk menyontek sebelum jam masuk berbunyi. Tapi aku hanya diam, sibuk mencari jawaban paling tepat akan kondisiku. Kenapa aku harus dieksekusi seperti itu di saat yang aku lakukan hanya berusaha mempertahankan prinsip? Selain kenyataan memang aku lemah dengan matematika.
Cha, mungkin tanpa sadar luka ini yang membuat kamu selalu mendadak bertingkah defensif saat berbuat kesalahan. Berusaha mati-matian menyelesaikan masalah di saat yang seharusnya kita lakukan hanya pasrah. Terkadang tanpa sadar setiap masalah yang datang kamu sikapi dengan cara yang sama. Seolah-olah Guru itu sedang menyudutkan kamu di ruang kelas dengan tatapan syok teman-teman yang lain. Cha, 1,75 tidak seburuk itu saat kamu memutuskan untuk tidak menyontek.
Memang, ada yang bilang bahwa bahasa tertua di alam semesta adalah Bahasa Matematika. Karena dunia ini sesungguhnya mengandung seperangkat rumus yang sangat rumit dan kompleks. Tapi kamu bukan manusia super yang bisa memahami semua itu dalam sekali hidup.
Sadari bahwa kamu tidak membenci matematika, kamu hanya membenci kenangan yang terbentuk saat bersamanya. Aku meminta maaf kamu harus mengenal matematika dengan cara yang tidak menyenangkan.
Tidak semua hal dalam hidup harus kamu kalkulasikan secara berlebihan seperti matematika. Ada beberapa misteri yang sebaiknya memang tersimpan sampai kita mati. Ada beberapa takdir yang memang cukup kita terima tanpa perlu kita pertanyakan rumusnya. 1,75 menjadi bukti bahwa kamu memang manusia yang memiliki kelemahan. Dan tidak seperti Guru itu, Allah tidak akan mengeksekusi kamu hanya karena kamu lemah. Allah tidak akan mempermalukan kamu hanya karena kamu belum bisa memahami suatu makna kehidupan yang sengaja Ia kirimkan. Dia setia menunggumu bertaubat dan mengakui kesalahan, sambil menutup rapat -rapat seluruh aibmu di hadapan seluruh makhluk. Iya, hanya Allah yang tidak pergi.
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا
(28) And Allāh wants to lighten for you [your difficulties]; and mankind was created weak. (An-Nisaa: 28)













