Hello, stranger

izzy's playlists!
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Jules of Nature
we're not kids anymore.
Cosimo Galluzzi
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Kiana Khansmith
🪼
Mike Driver

No title available
art blog(derogatory)
Keni
RMH

shark vs the universe
DEAR READER
todays bird
will byers stan first human second
Sweet Seals For You, Always

tannertan36
Stranger Things
seen from Tunisia
seen from Tunisia

seen from Pakistan
seen from United States

seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from Singapore

seen from Kyrgyzstan
seen from Denmark
seen from China
seen from Austria

seen from United States

seen from Colombia

seen from Indonesia
@nietzscha
Hello, stranger
#16: Gratitude Overcome
Ngomongin rasa syukur rasanya gak akan pernah selesai. Bukannya di Al-Qur'an sendiri tertulis kalaulah lautan itu dijadikan tinta untuk menuliskan nikmat dari Tuhanmu, ia tak akan pernah kering? Tapi memang sebagai manusia yang lemah, kadang susah sekali rasanya buat bersyukur di tengah kondisi yang nggak nyaman.
Setelah jadi istri, selalu fleksibel dalam berpikir tuh jadi lebih menantang. Segalanya jadi serba diperhitungkan. Kadang baperan, kadang bahagia, kadang tantrum, kadang bisa lebih wise dari biasanya, bahkan kadang ternyata kita punya sisi kekanakan yang sebelumnya kita tau itu bukan kita banget. Semua roller coaster emosi ini jujur bikin capek secapek-capeknya. Dan wanita paling gampang dihasut kalo lagi capek 👀
Pantes ya, ada Ustadz yang bilang, "wanita kalo gak disibukin sama ilmu, akan disibukan dengan perasaannya." Been there done that. Bahaya banget kalo misalnya si istri ini lagi capek, terus ketemu sama postingan-postingan orang yang lagi down. Nyuruh cerai, standar suami idaman, atau flexing kehidupan mewah. Yang padahal semuanya punya bias realita. Balik lagi, harus punya ilmu filter.
Sebenernya ini semua bukan tentang jadi istri sih. Tapi lebih ke perasaan yang berkecamuk ketika aku pertama kali tau bakal jadi ibu. Rasanya sulit dijelasin. Campur aduk. Bahagia, senang, terus tiba-tiba khawatir, insecure, gembira lagi, terus sedih. Ya ampun ternyata seseneng ini ya diamanahi benih di dalam perut. Aku bisa jadi ibu yang baik ga ya? Apa anakku akan bangga dilahirkan dari ibu yang seorang aku? Aku takut ngecewain anakku, dll.
Seiring berjalannya waktu, aku jadi nggak begitu terlalu tenggelam sama perasaan-perasaan tadi. Tapi memang bawaannya jadi sering sensitif. Rasanya mirip kayak balik ke masa puberty waktu jaman SMP/SMA dulu. Kebanyakan rasa ga nyaman sama diri sendiri dan susah digambarkan. Kalo belum nyaman sama diri sendiri tuh bawaannya jadi lebih struggling aja saat menghadapi orang lain. Dan ini tantangan yang lumayan berat buatku.
Alhamdulillah masih bisa berdo'a semoga selalu diberi kemampuan bersyukur. Minta tolong ke Allah semoga apapun kondisi yang lagi dihadapi, tetap bisa bersyukur. Walau kadang masih tetep ada tantrum-tantrum dikit nyelip.
Bersyukur ibu masih ada dan sehat. Meskipun aku calon ibu, ternyata tetep masih sebutuh itu sama ibuku sendiri. Bersyukur sama suami yang sabar dan mau kasih banyak maklum ke istrinya. Bersyukur dengan semua fasilitas dan dukungan orang terdekat yang ada saat ini. Alhamdulillah.
Mudah-mudahan situasi sulit bukan jadi penghalang untuk tetap bisa bersyukur. Jadi inget kisahnya Syaikh Utsaimin yang senyum-senyum kecil ketika sholat. Ketika ditanya ternyata beliau senyum karena merasa bahagia dan bersyukur bisa sholat di dunia. Karena setelah di akhirat kita udah gabisa lagi merasakan nikmatnya beribadah menyembah Allah. Bentuk syukurnya ulama besar emang beda ya :)
Overall semoga kita semua selalu diberi kemampuan untuk bersyukur, berprasangka baik sama Allah dan ketetapan-Nya, dan nggak putus asa terhadap takdir. Hidup sesingkat itu. Kematian dirahasiakan sebagai ujian. Apakah masih bisa bersyukur sampai akhir? Mudah-mudahan kita dituntaskan dengan hasil memuaskan dari ujian yang satu ini.
Saat Muak dengan Kesabaran
Udah lama nggak liat videonya Ustadz Nouman. Mungkin ada sekitar 2 tahun. Dulu setiap nonton videonya beliau, di akhir sesi air mata selalu berhasil turun. Seindah itu ya Qur'an kalau disampaikan dengan tepat dan nyaman.
Memang udah lama sadar kalau berguru itu perkara koneksi hati. Ke orang lain pun begitu kan? Kita lebih mudah nerima masukan dan berterus terang sama orang yang vibrasinya bikin kita nyaman, atau minimal gaya ngomongnya nyambung dengan cara kita memahami sesuatu. Buatku, salah satu orang itu adalah Ustadz Nouman (walau clearly aku ngga pernah bertemu langsung dan curhat² sama beliau).
Aku udah di titik sadar kalau bercerita ke orang lain tentang masalah kita hanya akan memperkeruh hati. Apalagi kalau orang itu bahkan nggak sadar dengan responnya sendiri. Bukan dia yang salah. Kita yang salah karena lebih milih nurutin hawa nafsu untuk bercerita dan nyari validasi, tanpa meneliti apakah orang itu siap mendengarkan cerita kita. Hey, nggak setiap orang mau mendengar keluh kesah orang lain dan kita pun nggak tau apakah dia justru lagi ngalamin masalah yg lebih berat. Jangan heran kalau kena adu nasib. Mungkin kitanya yg kurang bijak mencari "pelampiasan".
Balik lagi ke Ustadz Nouman. Udah beberapa lama ini rasanya aku masuk ke 'that limbo phase'. Seorang mentor di telfon bilang, kita terlalu menjauh dari Qur'an. Makanya sabar kerasa sulit. Beliau berkali² kasih wejangan kalau dunia ini memang tempatnya cape. Kita baru bisa istirahat kalau udah di surga.
Aku nggak menyalahkan ucapannya karena memang benar. Tapi jujur kalimat itu sama sekali nggak bikin aku jadi tenang. Rasanya malah aneh karena aku bahkan nggak menceritakan masalahku sama sekali. Kondisinya memang beliau tahu sendiri keadaanku dan berinisiatif nelfon untuk cek kabar. Aku tetap menghormati beliau karena biar gimanapun aku muridnya. Tapi waktu itu aku nggak puas dan tetap ngerasa sedih.
Kesedihan berlanjut hingga berminggu kemudian. Dan sampailah ke malam ini. Aku butuh lebih dari sekedar tilawah. Aku butuh pemahaman supaya hati ini tenang. Walau kebenaran kadang pahit. Tiba² tergerak buat cek video²nya Ustadz Nouman. Yang paling pertama keluar adalah video di atas.
Kisah tentang Nabi Musa yg berkelana mencari dua laut untuk bertemu hamba Allah yg lebih berilmu darinya. Di translasi mushaf Indonesia orang ini disebut Khidir.
Ustadz Nouman pake gaya khas ngejelasin perjalanan panjang Musa menuju Khidir. Perjalanan yang lelah dan berliku, sampai muridnya nyuruh berhenti aja. Tapi Musa bertekad kuat. Di sini Ustadz menekankan kalau tekad kuat adalah salah satu komponen penting dari mencari ilmu.
Tapi yang lebih digarisbawahi. Ilmu kali ini tidak akan didapatkan Musa dari kitab Taurat maupun penglihatannya sehari-hari. Bukan jenis ilmu yang bisa ditemui melalui buku atau sekedar kata² yang lewat. Ini adalah sesuatu yang harus dijalani seorang diri. Ilmu itu bernama PENGALAMAN.
Selama ini dalam kurun waktu terkait, Musa adalah seseorang yang paling berilmu dan paling banyak ujiannya. Jadi Musa cukup percaya diri dalam menempuh misi ini.
Tapi ketika bertemu Khidir, Khidir bilang Musa tak akan sanggup dengan kesabarannya. Padahal Musa baru saja melakukan perjalanan panjang untuk bertemu Khidir. Musa sudah mengalami banyak ujian. Melawan Fir'aun, difitnah hingga terasing, ditolak banyak orang. Tapi hikmahnya, Musa nggak berusaha nyari validasi sama sekali dengan menyebutkan semua yg udah dia alami. Musa hanya bilang, "Insyaa Allah kamu akan temui aku sebagai orang yang sabar."
Perjalanan Musa dan Khidir pun dimulai dengan ketiga pokok kisah mahsyurnya di akhir Surah Al-Kahf.
Musa selalu mempertanyakan perbuatan Khidir. Bukan untuk bermaksud kurang ajar, tapi hanya sebagai bentuk pemuasan logikanya aja. Khidir pada akhirnya selalu memberi penjelasan. Inilah perbedaan Khidir dari ilmu-ilmu yang sebelumnya Musa dapatkan. Khidir punya kemampuan bashirah. Pengetahuannya luas berdasarkan pengalaman dan hikmah dari Allah. Yang mungkin pada waktu itu nggak tertulis di kitab manapun.
Pengalaman yang dirasakan langsung akan lebih mudah membekas. Sesuatu yang pernah melekat di hati emang sulit dilupain kan? Otak menangkap kesan, bukan sekedar pesan.
Musa nggak tau kalau perahu dirusak supaya Raja nggak tertarik boikot perahu itu dan bikin nelayan yg bantu mereka jadi kehilangan sumber nafkah. Musa nggak tau kalau di masa depan, anak yg dibun*h itu bakal jadi anak durhaka yg jahat sama orangtuanya. Musa juga nggak tau kalau di bawah dinding rubuh itu ada harta peninggalan ortu yatim. Yang kalau dibiarkan rubuh, warga desa yg dzalim bisa aja ngambil alih semua harta yg tampak dan si anak yatim nggak bisa menerima haknya. Musa nggak ada bayangan sama sekali dari tiga kejadian itu.
Di akhir video Ustadz kasih statement. Kita mungkin akan mengalami beberapa ujian berkepanjangan seperti Musa. Ujian yang kadang nggak masuk akal. Ujian yang nggak terasa seperti kasih sayang. Ujian yang nggak terlihat seperti rahmah karena memang terasa menyakitkan. Dan kita mungkin nggak akan menemukan sosok guru seperti Khidir, yang selalu memberi penjelasan di akhir masalah supaya kita merasa tenang. Kita nggak punya guru yang bisa "membaca masa depan" supaya kita bisa lepas dari perasaan berat di hari ini. Tapi kita bisa mencontoh Musa yang pasrah menerima semua. Pasrah bukan dalam artian menyerah, tapi lebih ke.. tawaqqul sepertinya. Memasrahkan hasil kepada Allah.
Allah nggak minta kita supaya nggak marah, atau supaya jadi menahan diri. Allah nggak minta kita supaya nggak bersedih. Karena sabar itu memang berat. Kita tau sendiri seberapa susahnya mempertahankan kesabaran.
Tapi kita bisa belajar dari Musa. "Ya Allah, aku terima semua ini dariMu. Baik-buruknya."
Sabar adalah tugas seumur hidup. Meskipun kita udah berkali-kali menghadapi kasus berbeda, tantangan kesabaran selalu punya soal yang baru. Dan di saat itulah kita membutuhkan pertolongan Allah agar bisa melewatinya. Bagiku, salah satu pertolongan itu lewat video Ustadz Nouman. Beliau hanya manusia biasa. Tapi aku bersyukur Allah mempertemukan jalanku buat bisa nemu konten²nya.
Semangat buat para pejuang kesabaran. Semoga Allah mudahkan kita buat bisa sabar. Meski sulit. Bahkan sekelas Ustadz Nouman aja bilang kalau sabar itu emang susah. Tapi sekali lagi, semoga Allah mudahkan.
The 10 Commandprompts Sebelum Niqa
Dua pintu-satu jalan masuk. Hidup bukan lagi tentang kepentingan diri sendiri. Cha, saat kamu mengambil keputusan untuk menikah, sadari bahwa mulai detik itu juga hidupmu bukan cuma tentang kamu. Maksudnya bukan jadi melupakan jati diri. Tapi ada tanggungjawab lebih terhadap keluarga dan pasangan. Tak peduli apa kata para influencer di luar sana, sebelum menuntut hak, wajib hukumnya buat menunaikan peran dan tanggungjawab lebih dulu. Jangan kebalik. Karena di moment ini, hal-hal yang kerasa sepele bisajadi membutuhkan musyawarah panjang. Jaman awal gadis dulu suka sedikit bertanya-tanya dan heran sama teman yang sudah menikah lalu terkesan menghilang. Kenapa si anu yang dulu suka main bareng sekarang susah banget buat dihubungin, jarang ikut reuni, sepi dari radar sosmed, dst. Sekarang jadi agak paham kalau skala prioritas orang yang berkeluarga itu beda. Seperti biasa, bukan masalah personal. Hanya berbeda arah tumbuh aja.
Filosofi Poci Teh Cina Tua. Tak ada yang tahu kondisi air teh dalam teko selain orang yang membuat dan menuangkannya. Dari luar bisa terlihat dingin namun nyatanya teh masih hangat mengepul. Atau sebaliknya. Terlihat mewah dan menawan dari luar, tapi isinya dingin dan hambar. Yang terpenting adalah orang lain nggak perlu tahu seluk-beluk urusan rumah tangga kamu. Jangan gampang membeberkan permasalahan rumah tangga. Mau lewat apapun itu platformnya. Apapun jenisnya. Lagi seneng jumpalitan atau lagi sedih merana, keep it to yourself! Ingat-ingat lagi apa esensi pernikahan yang kamu tuju. Lagipula dari awal juga kita sudah kontemplasi berkali-kali. Kalau kata Sartre, hell is other people. Dan orang bijak yang sudah pernah melihat gambaran neraka akan banyak merenung, bukan banyak berkoar. Jangan karena emosi sesaat lalu jadi bikin rugi sampe ke akhirat. Pasangan kamu wajib kamu jaga aib-aibnya.
Jalan panjang dalam lingkaran kubah. Cha, ingat lagi ya. Menikah disebut sebagai ibadah terpanjang bukan tanpa alasan. Silakan berkaca ke masa lalu. Apakah selama ini kamu selalu sholat wajib dan sunnah dalam keadaan semangat? Rajin sedekah tanpa tapi tanpa absen? Tetap berbuat baik ke orang lain yang sebenernya perilaku orang itu ngga bikin kamu nyaman? Nahan diri buat ngga ngeghibahin perilaku absurd orang lain? Intinya, apa selama ini kamu selalu hidup dalam mode zen dan tanpa cela? Pasti nggak kan. Ada masanya sholat kerasa berat bahkan yang wajib sekalipun. Ada momentnya baca Qur'an kerasa hambar. Ada saatnya ngerasa balik kesel sama orang lain, dll. Tapi bukan berarti kita jadi meninggalkan semua hal tadi hanya karena suasana hati kita lagi nggak bagus. Karena mager, bukan berarti jadi ngga sholat, karena hampa bukan berarti jadi ngga ngaji. Sama halnya dengan nikah. Yang notabene ibadah paling panjang. Ngga dipungkiri kita akan menemukan banyak hal yang kerasa menguras mental, tapi bukan berarti kita harus quitting the marriage itself.
Jangan berburu kupu-kupu, bangunlah taman bunga sendiri. Waktu itu pernah baca kutipan sebuah tulisan yang menginspirasi, sayang banget lupa nemu di mana dan siapa yang nulis. Kalau tak salah dari quora, dan si penulis juga nge-quote entah dari buku atau film. Inti tulisannya, saat kamu menikah maka tujuan utamamu adalah mempertahankan pernikahan itu sendiri. Ada banyak cara dan penafsiran. Tapi Cha, saat kamu memutuskan menikah, secara sadar kamu harus paham bahwa kamu juga ikut bertanggungjawab menjaga rumah agar tetap dalam kondisi nyaman, aman, hangat, dan menyenangkan. Terkesan terlalu idealis ya? Well bukan berarti kita ngga akan pernah bertemu badai, tapi at least karena belajar, kita jadi tahu bagaimana cara bertahan dari badai itu, bagaimana caranya comforting dan repair keadaan. Sesuai dengan ilmu dan ketentuan yang bisa diterima. Perawatan tiap tanaman bisa berbeda-beda. Hanya karena kamu terlalu mencintai mawar, bukan berarti kamu harus menyiraminya tiap satu jam sekali. Yang ada bunga itu akan layu dan mati. Cintai pasanganmu dengan cara yang dia suka. Bukan dengan cara yang kamu mau.
Tong kosong tidak akan bisa berbagi apapun. Cha, waktu itu ada penelitian. Katanya otak manusia lebih mampu menerima rasa sakit daripada menoleransi rasa bosan. Bukan bukan. Maksudnya bukan menyakiti pasangan kamu biar ngga bosen. Gausa kebiasaan toxic ekekek. Bukan berarti juga kamu harus seperti content creator yang mesti produksi puluhan konten tiap hari. Kreatif sesuai momentnya aja. Saat memutuskan menikah, kamu harus secara sadar paham bahwa diri kamu mampu bahagia tanpa bergantung pada objek apapun. Jadilah bahagia tanpa membuat gerah orang lain. Kamu tau nggak? Nanti aura bahagiamu itu akan menguar dengan sendirinya. Dan semoga pasanganmu bisa bersyukur bahkan hanya dengan kehadiranmu aja. Kamu ngga bisa berbagi cinta kalau kamu sendiri selalu merasa kurang. Jadilah penuh tanpa menguras milik orang lain. Ini tantangan yang mungkin berat banget buat kamu. Tapi kata pepatah, pura-pura aja dulu. Acting aja dulu. Fake it till you make it.
Lambaian siren pada para pelaut. Ingat makhluk mitologi yunani yang namanya siren? Makhluk magis setengah ikan yang buruk rupa. Hobi menggoda para pelaut supaya bisa dimangsa. Daya pikat siren ada di kemampuan bersenandungnya dan halusinasi yang dia ciptakan. Seolah tampak seperti wanita cantik yang menggiurkan, lalu hap! Kamu sudah pindah alam. Cara mengalahkan siren sebenarnya cukup sederhana. Kamu tidak perlu sajam yang mutakhir atau bom atom. Cukup diabaikan saja dan kamu akan selamat. Saat menikah, anggaplah setiap orang yang usil dengan pernikahanmu sebagai siren. Siren ini bisa berbentuk dalam banyak format. Sawang sinawang, setiap komentar, pertanyaan kurang penting, godaan lawan jenis yang sok simpati, tips konten influencer yang tanpa ilmu, atau basa-basi kosong bagai musikal siren yang (malah) sumbang. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa untuk memvalidasi mereka. Cukup tersenyum dan abaikan saja. Teruslah berlayar ke tujuan. Saat kamu punya tujuan besar, segala hal yang ngga relevan jadi kerasa ngga penting untuk diperhatiin.
Prince Charming juga butuh istirahat. Cha, selalu perlu diingat bahwa yang kamu nikahi itu adalah manusia. Merdeka dan punya jalan pikirannya sendiri. Punya masa lalu, hormon, level keimanan, dan emosi yang juga bisa naik-turun sama seperti kamu. Atur ekspektasi serendah mungkin. Tolong jangan perlakukan dia seperti sebuah properti. Saat kamu menikah, kamu harus sadar bahwa ini bukan soal memiliki satu sama lain. Ikatan pernikahan justru menjadi bukti paling nyata bahwa mulai detik itu kalian saling memiliki porsi tanggungjawab terhadap keimanan satu sama lain. Yang bisa termanisfestasi dalam banyak hal. Tapi tetep ngga membenarkan diri kamu untuk merasa memiliki dia seutuhnya. Itu pemikiran konyol yang cuma bakal bikin sengsara. Hormati suami kamu sebagaimana dirinya adalah imam, jangan ganggu teritorinya hanya karena kamu merasa dia "teman". Jangan kurang ajar. Udah ngga perlu dibahas lagi lah ya betapa banyaknya hadits perintah taat sama xuami. Semestinya cukup buat bahan renungan.
Kamu bisa tetap berkarya saat liburan di tempat singgah! Jangan jadikan pernikahan sebagai alibi kamu untuk berhenti berkarya ya. Ngga perlu ngotot dengan tema besar. Mulai dari hal-hal kecil aja dulu. Jangan jadikan status istri dan ibu sebagai alasan kamu lupa sama jati diri. Kamu bukan budak di jaman penjajahan, kamu seorang manusia merdeka yang punya mimpi. Bahkan jika mimpi itu sesederhana bikin anak kamu doyan makan real food. Yakin kalau kamu bisa tetap pelan-pelan merajut mimpi sambil memenuhi tanggungjawab keluarga. Ingat ya Cha, pelayanan kamu ke keluarga itu tugas yang mulia, bukan beban patriarki. Urusan pasangan yang pengertian atau ngga itu harusnya udah tuntas sebelum kamu memutuskan mau menikah dengan siapa. Esensi dari hal ini adalah, jangan sampai rasa lelah mengubur kamu dari mengenali diri kamu sendiri. Don't push yourself too hard. Jadikan karya sebagai stress-release, bukan malah deadline yang mengundang tekanan batin.
40:60. Selalu berikan ruang lebih untuk pasangan. Jadilah angka 40 untuk menggenapkan 100 kalian. Biarkan dia mengambil porsi 60 nya. Perbanyak syukur, sabar, sabar, dan sabar lagi. Semakin kalah, semakin banyak menangnya. Apapun dan gimanapun keadaan rumah tanggamu nanti, kamu wajib bersyukur sama Allah. Jangan sampe keluhan yang keluar dari mulut kamu lebih banyak ketimbang rasa terima kasih sama suami. Ingat, ini ibadah terpanjang. Maka godaan, futur, dan uji mentalnya bisa jadi lebih panjang juga. Banyakin usaha, buang keluhannya ke atas sajadah. Jangan malah diumbar ke sesama manusia. Kamu mungkin akan sampai di titik terendah, tergoda sama pencapaian bahtera lain yang jauh lebih gemilang, dapat hasutan, dll. Ingat yaa, salah satu puncak kesuksesan setan adalah saat ia berhasil membuat sepasang suami istri saling membenci dan akhirnya berpisah. Ketika semua ini terjadi, ambil jarak dan ruang sendiri. Cukup sama Allah aja kamu pasrahkan semuanya. Take your time. Jangan sekali-kali tenggelam dalam prasangka buruk. Mungkin akan ada moment tertentu saat suami kerasa nyebelin, dan suami ngga bisa mengerti kamu. Saat memutuskan untuk menikah, di saat itu juga secara tak langsung kamu memutuskan untuk harus mau banyak mengalah. Minta maaf sekalipun kamu ngga merasa salah, jadilah sosok cewek manja yang dulu suka bikin kamu geli itu. Jangan liat suami kamu sebagai patokan. Ini soal janji yang kamu sepakati di hadapan Allah saat menikah. Pantang tidur dalam kondisi pasanganmu gondok sama kamu.
Musafir yang rindu rumah. Pada akhirnya, semua ini adalah tentang jalan menuju pulang, kepada Allah. Terakhir dan yang paling utama. Seberat-beratnya ujian hidup di dunia, ngga ada yang lebih celaka daripada urusan tanya-jawab di alam kubur sama malaikat. Betapa ngerinya saat kamu bangun dan kamu sadar kalau kamu seenggakbisa itu menjawab pertanyaan. Jangan sepelekan pedihnya siksaan neraka dan panjangnya perjalanan kita di alam barzakh. Berat, berat banget. Jadi intinya, jadikanlah Allah sumber utama kebahagiaan kamu. Yang pertama kali kamu jadikan tujuan di saat kamu punya masalah, sekecil apapun masalah itu. Tempat kamu beristirahat dari bisingnya manusia. Suami dan keluarga kamu hanya wasilah. Sebaik apapun, mereka hanya hadiah yang Allah titipkan. Bukankah seharusnya kita jauh lebih merindukan sosok yang gemar memberi kita hadiah ketimbang hadiah itu sendiri? Dan kalaupun ia buruk, keburukannya nggak akan mengalahkan kengerian neraka. So everything seems fair enough. Cukup Allah aja, Allah lagi, dan Allah terus. Kalo ngerasa berat, inget-inget lagi yaa, afterlife lebih berat. Selamat beribadah, selamat bersahabat dengan rasa lelah 😉
Seperti biasa, point seperti ini sengaja gw tulis di tumblr dalam rangka ntms dan pesan ke masa depan. Saat ada notif notes dari tetangga, otomatis jadi membuka ingatan lagi. Meski cuman sebiji-dua biji (makasii tetangga yg baiq hatii. Lewat notes love secara tak langsung kamu ikut me-reminder aku hihi), kadang momentnya suka pas aja. Sesuai dengan kondisi yang lagi dihadepin.
"Oh gw pernah nulis kayak gini ya?", "Ternyata gw pernah segalao itu wkwk," "Hah, ini gw lagi ngomongin siapa ya waktu itu wkwk," dll. Esensinya sebagai ingatan supaya tidak blunder dengan kata-kata sendiri, jadi bahan refleksi. Kamu dulu pernah punya pikiran begini lho ternyata, sekarang kenapa malah ngelakuin hal yang berkebalikan?Tbl sama diri sendiri. Menulis di tumblr jadi paramater apakah diri ini semakin upgrade atau malah downgrading.
Karena kadang saat diri susah dinasehati, dapet reminder blunder jadi tool efektif biar ngerasa malu. Minimal malu pernah nulis a b c d di tumblr terus di real life-nya zonk gitu.
Afterall, semoga Allah jadikan diri kita sebagai sosok pasangan yang baik, yang meneduhkan, dan mampu memberi rasa nyaman. Dan semoga Allah pasangkan kita dengan seseorang yang baik pula. Yang sama-sama mau bertumbuh ke arah kebaikan.
Stand still, stay strong—Aicha
Update 30 November 2024
حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ.
“Hak bagi seorang suami atas isterinya adalah jika saja ia (suami) mempunyai luka di kulitnya, kemudian sang isteri menjilatinya, maka pada hakikatnya ia belum benar-benar memenuhi haknya.”
[Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3148)], Ahmad (XVI/227, no. 247)
.
.
Notif masuk tepat hari ini setelah ada miskom kecil sama Bang Dika. What a day. But I really thankfull for this little reminder.
Cha, menikah itu bukan lagi soal diri sendiri. Ga ada lagi tuh istilah, "itu kan urusan dia, bukan urusan aku". Ga ada yang namanya konsep kesetaraan gender dalam berumah tangga, adanya kesetaraan dalam hal berbuat baik sebanyak mungkin antara satu sama lain. As a moslem you should remember, yang membedakan kalian di mata Allah adalah iman dan taqwa. Bukan adu ego. Mostly my ego problem si.
Guru sama kepala sekolah punya hak yang sama buat menerima tunjangan, mereka setara dalam hal ini. Tapi semua orang juga tau kan, kalau guru sama kepala sekolah itu sampai kapanpun gak sama posisinya (?)
.
.
Ternyata mengontrol diri untuk tetap keliatan baik² aja itu masih cukup susah buatku. Dan gatau kenapa semenjak nikah aku jadi rada HSP gitu (atau mungkin dari dulu tapi akunya aja yg ngga nyadar 🤷♀). Alhamdulillah punya suami sabar yang kalau istri tantrum itu langsung dipeluk, nggak diceramahin. Tapi mau sampai kapan memanfaatkan passcard yg ini? Sometimes I just really tired with myself 😔
I don't wanna hurt anyone, esp those who I love. But this self-controll has been cracked too much.
Gapapa, jangan lelah belajar ya. Rumah tangga itu nggak ada sekolahnya. Semua punya ujian yang berbeda. Dikasih kisi-kisi juga belum tentu dapetnya soal yang sama. Makanya berserah diri ke Allah jadi point yang sangat penting ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang serba tak pasti, sulit ditebak, dan ambigu. Tapi hidup ngga serancu itu kok. Your mind was.
Banyakin bersyukur, persempit mengeluh, latihan husnudzan. Semuanya dengan niat untuk dapetin ridha-Nya Allah.
Anw, inilah kenapa aku lebi suka nulis di tumblr. Supaya lebih mudah diingatkan lewat betapa banyaknya hujjah dari orang lain yang baca dan react tulisan kita.
Terima kasih notes-nya orang baik, secara tak langsung kamu sudah ikut menasehati aku ♥
Leaving 25
"Engkau hanya memiliki apa yang tidak akan hilang dalam kapal yang karam. Waktu adalah amanah dari Allah, dan kehilangannya adalah musibah terbesar."
— Al Ghazali
Alhamdulillah Nissa telah sampai di puncak usia 25. Umur yang kupikir sudah terlalu tua ketika aku masih ada di angka 18. Pada kenyataannya, hidup di umur ini rasanya lebih melambat, dan jadi nggak begitu peduli dengan kesan "tua".
25 buatku adalah momen hidup di mana aku banyak sekali menggunakan mode autopilot daripada mindfull. Banyak berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain tanpa benar-benar merasa "hadir". Mungkin di tahun ini aku harus belajar menyadari betapa pentingnya "be presence" di tiap momen berharga daripada hanya sekedar kalap mencari kesibukan.
25 juga tahun yang terlalu cepat buatku. Rasanya seperti hidup dalam lampu sorot. Mulai dari berusaha menghapus jejak orang lama, sampai akhirnya berbenah menyiapkan hati untuk orang baru, pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja baru, keluar-masuk lingkungan baru, dan tiba-tiba harus tinggal dan beradaptasi dengan kebiasaan baru, di rumah baru, milik keluarga baru.
Semua kebaruan ini pada mulanya amat sangat nggak berasa. Mungkin karena aku masih hidup di mode autopilot tadi. Dan tanpa sadar di satu malam, aku hanya ngerasa lelah, jenuh, dan hampa. Nggak terlalu bisa membedakan momen bahagia ataupun sedih. Yang ada cuma sesak.
Dulu aku pikir hidup tanpa emosi dan jadi stoic itu hal yang bagus. Sampai lambat laun aku mulai memandang semuanya dari satu sisi, tanpa ada kesan negatif/positif. Ternyata bagiku ini berdampak buruk ke keimananku di waktu itu. Aku jadi sulit bersyukur dengan apa yang aku punya. Padahal untuk bisa merasakan syukur, kita juga harus bisa merasa. Sebelum melihat fajar, kita harus melalui senja. Sebelum merasakan bahagia, kita perlu merasakan—setidaknya—satu derita. Supaya perasaan sukacita itu bisa diresapi dengan nikmat.
Ingat kaidah dalam bukunya John Green; sesuatu yang terlalu diobral dan mudah didapat akan kehilangan harganya dan menjadi terasa biasa saja. Nothing special. Sedangkan Allah dalam firmanNya berkata; "....Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia." (Q.S. Ali Imran: 181).
Nggak ada yang sia-sia, Cha. Termasuk seluruh emosi yang berusaha kamu repress itu. Kita hanya perlu berusaha mengembalikan lagi segala sesuatu ke tempatnya, secara tepat, tidak kurang–tidak lebih, sesuai dengan ukuran yang sudah tertulis.
25 adalah tahun yang sulit aku mampatkan ke dalam satu tulisan. Terlalu kompleks dan riuh. Tulisan soal usia dinamika roller-coaster itu rupanya bukan sekedar bualan. Cause sometimes I just want to get over it, gosh.. kidding LOL.
Dulu waktu umur sekitar 23an aku pernah join kelas kesehatan mental. Psikolognya bilang, seseorang yang jiwanya sehat punya beberapa karakteristik, salah satunya bersemangat menyambut hari esok dan antusias mengeksekusi rencana. Well, ternyata usia 25 ku ngga begitu sehat. Rasanya semua rutinitas stuck di kepala dan alhamdulillah-nya tetap terlaksana meski harus dalam keadaan autopilot. Cuma ya gitu, jadinya nggak optimal.
Kembali ke masalah utama:
Tidak bisa presence, tandanya tidak fokus. Tidak fokus menuntun ke..
—kurang bisa mengatur prioritas. Akhirnya nggak bisa living the moment, buntutnya ngerasa overwhelmed. Lalu jadi..
—sulit untuk bisa merasa bersyukur. Selalu ngerasa ada yang kurang. Dan akhirnya demot..
—gak ada rasa tanggungjawab, jadi bodoamatan, nugas a la kadarnya. Gatau sampe kapan. Jenuh, overwhelmed lagi, terus tantrum. Emosinya meledak.
Padahal yang dibutuhin cuman..
Selesaikan hutang-hutang tanggung jawab lama, ambil jeda, abis itu baru atur prioritas baru. Dan kali ini komitmen buat menyelesaikan satu terlebih dulu sebelum beralih ke tanggung jawab yang baru. Simpel, tapi 25 nya Icha kewalahan.
Malam ini baru join lagi mondate setelah sekian lama. Speaker-nya bahas akar kata Insan (manusia) yang berasal dari kata nisyan (lupa). Iya, udah sering denger kalo manusia itu tempatnya lupa dan salah. Tapi nggak pernah nyangka kalau lupa yang dimaksud itu bisa sedahsyat ini dampaknya. Mereka yang selamat adalah mereka yang sampai akhir selalu berusaha mengingat Allah (istiqomah). Seketika hati ini ngerasa tergerak kembali.
Iya, mungkin setahun kemarin aku udah terlalu lama membiarkan diri jauh dari mengingat Allah. Terlalu lama hidup dalam keadaan go with the flow tanpa arah dan alasan yang signifikan. Ternyata hidup tanpa setting goals dan memuraja'ah niat bisa semenyesakkan itu.
Hidup di dunia sejatinya adalah ujian, ujian yang silih berganti. Orang yang bermaksiat dan orang yang taat sama-sama berusaha keras untuk usahanya. Sama-sama merasakan kesedihan dan kesulitan. So choose your battle. Mau pilih sulit yang mana.
Selamat mengarungi 26. Selamat berpetualang kembali mencari tapak di atas jalan-Nya Allah. Selamat belajar lagi. When life give you a lemon, don't make it a lemonade. When life gets hard, remember Allah and reconnect with Him instead. You've might lost your signal.
.
.
.
📍Sanggau, November 2024
24 : 211
Aku nggak punya happy place yang secara spesifik ada di dunia nyata. Kebanyakan happy place-ku terbentuk di ruang virtual atau di dalam kepalaku sendiri.
Mungkin itu sebabnya kisah cintaku yang paling epic *ehem*, sadly, juga berlangsung secara virtual. Tanpa aku pernah paham jika kasusnya benar-benar berjalan normal selayaknya orang biasa di dunia nyata, akankah hasilnya seemosional itu juga?
Stoa bilang bahwa kebahagiaan sejati berasal dari diri sendiri. Sampe maskot cinta di yutub dan ige pun menyarankan kegembiraan natural yang alami dari hati bakal mampu menarik perhatian lawan jenis tanpa kita bersusah payah permak sana-sini.
Tapi sebenarnya, apakah bahagia itu memang sesuatu yang bisa kita ciptakan dengan sendirinya, atau justru anugerah dari Yang Maha Kuasa? Karena kalau kita memang seberkuasa itu atas diri kita, seharusnya bukan hal yang sulit buat para anak muda di jaman sekarang untuk bisa ngerasa heppi tanpa perlu pusing mikirin atensi netijen lewat instastory.
Membahas happy place aku jadi inget salah satu episodenya B99 waktu Rosa mau sidang banding di pengadilan dan harus tampil sepersuasif mungkin. Itu hal yang sulit buat dia karena karakter Rosa itu auranya membunuh. Alih-alih bikin para juri bersimpati, dia cuma bakal makin memberatkan posisi korban yang lagi dia bela. Akhirnya Boyle nyaranin Rossa buat mindfull meditation pake konsep happy place. Supaya Rosa bisa lebih kalem dan terkendali pas sidang nanti.
Happy place-nya Boyle adalah restoran bintang lima dengan round-walk table model restoran sushi yang nggak kunjung berhenti nyuguhin makanan gratis. Seketika bayangan soal happy place itu bikin dia ngerasa rileks. Rossa nggak bergeming dan sidangpun berjalan panas. Sampe akhirnya dia ngide buat nyobain sarannya Boyle. It did work well dan Rosa berhasil nge-handle sidang dengan pembawaan yang tenang. Kasuspun dimenangkan mereka. Pas Boyle nanya happy place macam apa yang bisa bikin Rosa mendadak tenang di tengah panasnya sidang.
Well, gak disangka, happy placenya Rossa adalah gubuk reot di tengah hutan di mana di situ dia bebas menyiksa pengacara yang jadi lawannya di sidang tadi. Rasanya puas banget bagi Rosa buat menghabisi lawannya yang kekeuh banget mengonfrontasi dia sepanjang sidang. Yah, tiap orang memang punya stress release yang berbeda-beda sih.
Sekarang coba pikirkan tentang surga, tempat di mana keindahan tak terkira yang menjadi menu utamanya. Nggak ada lagi kesedihan, kehampaan, dan kebosanan. Semua konsep waktu jadi nggak bermakna dan ngga berlaku di sana. Bukankah selama ini orang-orang takut pada waktu?
Surga, nggak ada omong kosong dan keshallowan di sana. Setiap kuntum bunga yang kamu petik hanya akan mengeluarkan lebih banyak lagi pucuk-pucuk rahasia kehidupan. Kamu bebas menonton siaran ulang penciptaan dunia hingga milyaran detail-detail sejarah yang luput dari buku pelajaran maupun paper para professor di bumi.
Kamu bisa melakukan apapun, apapun yang terhormat di dalam sana. Tapi aku yakin orang yang benar-benar bisa menginjak surga, adalah mereka yang terpilih dan merindukan wajah-Nya. Karena saat mereka berhasil berjumpa dengan-Nya, keindahan dari keagungan-Nya akan lebih dari cukup untuk membuatmu tidak ingin melakukan hal yang lain, apapun itu yang sebelumnya amat menarik hatimu. Kendatipun kamu bisa. Wajah-Nya, adalah alasan dari keseluruhan dunia ini ada, alasan dari keberadaan dirimu sejak berupa debu-debu ruh semesta hingga kembali ke ketiadaan.
Sekarang, kapanpun hidup bisa terasa sulit di depan mata, pikirkan tentang surga. Surga yang sangat mahal. Surga, istana penuh keteduhan tiada tara. Yang keindahannya sangat amat dekat. Hanya jika kamu bersabar dengan ikhlas. Sabar saja. 5 detik lagi. Hitung saja sampai 5. Pikirkan surga yang sesederhana dalam otakmu terasa seindah dunia Barbie di jaman SD. Mungkin aku terdengar gila. Tapi jauh lebih gila lagi kalau aku berharap hidup lebih lama dan berjuang demi dunia yang lebih sering berkhianat, denial bahwa kematian itu tidak pernah benar-benar ada.
Notifnya naik lagi, tepat setelah ngalamin kejadian yg nggak ngenakin dan bikin capek hidup. Alhamdulillah jadi reminder.
Terima kasih orang baik ♥
M Word Series #2:
Tirakat Ibu
الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” — (HR. Al-Hakim jalur 'Ali bin Abi Thalib)
Aku kadang masih suka gak percaya kalau aku ternyata udah nikah. Terus tau-tau udah lewat sebulan aja. Rasanya nggak ada perubahan yang signifikan atau semacamnya. Mungkin jadi sedikit jauh lebih rajin aja karena dipaksa keadaan wgwgwgwg.
Semenjak Bapak meninggal hidup jadi berubah drastis. Rumah rasanya nggak sama lagi walau nuansanya jadi jauh lebih tenang. Tapi yang paling terdampak tentu adalah Ibu. Tiba-tiba harus jadi zanda di tanah rantau tanpa ditemani saudara seorang pun, masuk ke dalam list paranoidnya Ibu. Dan itu akhirnya jadi kenyataan.
Setelah kecewa dengan pengkhianatan beberapa orang, di sela-sela waktu keluarga, Ibu selalu bilang ke aku kalau Ibu gak pernah putus berdo'a; supaya dipertemukan sama orang-orang sholeh. Do'a ini Ibu ulang setiap habis sholat, saat aktivitas, atau di waktu random lainnya. Menurut Ibu, karena jauh dari keluarga, Ibu gatau harus mengandalkan siapa in case ada hal buruk terjadi.
Bertahun-tahun kemudian Allah ijabah do'anya Ibu. Waktu Bapak meninggal, banyak sekali orang taklim yang ikut bantu. Mulai dari ngurus pemakaman, bayar tanah, ngasih sumbangan, bahkan support moral yang jauh lebih berasa ketimbang saudara sedarah sendiri. Akhirnya, walau gak berhasil ngumpulin 3 M di masa tuanya, I considered my mom as a successfull women..
Di usianya yang udah melewati garis 60, Ibu bisa tetap fokus menuntut ilmu, pergi taklim, punya banyak koneksi dari berbagai kalangan, menghabiskan waktu dengan keluarga, main bareng temen-temennya yang sefrekuensi, atau simply ngejalanin hobinya yaitu masak dan bagi-bagiin hasil masakannya itu ke siapapun yang beliau mau.
Lalu sampai di momen ketika ibu pikir aku harus bahagia. Terus aku bilang, aku udah bahagia dengan kehidupan yang sekarang. "Ibu tau, tapi maksud Ibu.. kamu juga harus bisa ngerasain bahagianya jatuh cinta sama lawan jenis, dicintai balik, dan saling berkasih sayang satu sama lain." Aku terdiam.
Mungkin karena banyaknya pengalaman buruk tentang ketidakberhasilan rumah tangga yang terjadi di sekitarku, aku tumbuh jadi seseorang yang nggak begitu mendambakan pernikahan. Do'aku ke Allah waktu itu, kalau seandainya ditakdirkan menikah, tolong pasangkanlah dengan seseorang yang baik hatinya dan bisa tulus menyayangi kita. Kalaupun nggak, lebih baik tidak usah menikah kalau harus berjodoh dengan orang yang salah (salah dalam artian sangat buruk dalam memperlakukan kita sebagai istrinya). Udah itu aja. Bukan jenis do'a yang sering kuulang juga.
Trust me, aku udah menyaksikan langsung betapa sengsaranya hidup dengan seseorang yang nggak bisa memperlakukan pasangannya dengan penuh hormat. Dampaknya ngga cuma ke istri/suaminya, tapi juga ke orang-orang di sekitar mereka. Dan menyembuhkan trauma itu butuh waktu yang ngga sebentar. Pokoknya terlalu ribet dan membuang-buang waktu.
Tapi rupanya, ibuku yang gritnya tinggi itu, ngga berpikir sepesimis aku. Aku udah bilang ke ibu tentang semua ketakutanku soal pernikahan. Tapi ibu dengan pandangan nanar, selalu berusaha bikin aku yakin. Ibu bilang, hidupku bakal berbeda karena Ibu selalu mendo'akan yang terbaik, Ibu nggak akan membiarkan aku sakit karena laki-laki, Ibu selalu berdo'a agar aku berpasangan dengan seseorang yang memang bisa tulus sayang, bisa membimbing dan bertumbuh bersama, bersabar dengan kekurangan yang aku punya, dan aku pun begitu terhadap dirinya.
Aku nggak bermaksud kurang ajar, tapi kadang aku pikir gak masuk akal. Hampir semua Ibu di dunia ini pasti sudah selayaknya menginginkan yang terbaik buat anak mereka kan? I mean.. mereka pasti juga berdo'a yang bagus-bagus buat anaknya. Tapi tetap ada aja yang blas, anak mereka tetap tersakiti di pernikahannya. Aku cuma takut aku termasuk ke dalam persentase itu. Bukan apa, capek mental aja sih. Menghadapi konflik batin yang sama. Intinya, waktu itu aku masih tetep skeptis. Maafin aku bu, hiks.
Lalu tibalah waktu di mana akhirnya pak suami bertamu ke rumah. Saat pertama kali lihat, jujur sebenarnya aku udah suka, I was like.. "omg he's so cute." Cuma kehalang gengsi aja wokwok. Gamau jadi needy juga. Kan malu ya kalo dianya ternyata B aja. Obrolan mengalir ditutup dengan dia yang keliatannya buru-buru banget mau pulang.
Dari situ aku nggak terlalu berharap banyak. Aku tetep sibuk dengan kegiatanku dan melanjutkan hari-hari seperti biasa. Lagian dia juga keliatannya cuek banget. Sesekali bertanya kabar aja ke Ibu, ga ada yang lain. Aku sempet mau mundur setelah 3 bulan kerasa stagnan. Biasa, classic Nissa. Tapi ternyata dia mau lanjut dan ngerasa di waktu sebelumnya ada miskom. Tau-tau dia bawa keluarganya, kami khitbah, 3 bulan kemudian sah.
Setelah nikah aku tanyakan semua rasa penasaran yang tadinya belum bisa diutarakan. Ternyata beliau juga ngerasa klik waktu pertama kali ketemu. That's why beliau ngerasa grogi dan mendadak pengen buru-buru pulang. Dan waktu aku bilang mau mundur, katanya langsung drop banget waktu itu. Minta kompromi, dan untungnya lanjut.
Dari sinilah cerita Ibu berlanjut. Yang jauh lebih stress menghadapi persiapan nikah adalah Ibu. Sebagai Ibu tunggal dan tanpa saudara, di tanah rantau pula, ibu ngerasa kesulitan me-manage acara. Aku jadi ikutan stres juga waktu itu. Bingung mesti mulai dari mana. Tapi tetep keajaiban dari Allah memang sulit dinalar manusia.
Lagi-lagi, temen-temen taklim turun gotong royong membantu. Ada yang nyediain rumahnya buat jadi dapur konsumsi, nyumbang logistik yang amat sangat tidak sedikit, ngeluarin tenaga tanpa dibayar, pergi ke sana sini bantu ibu sama aku belanja, dll. Keluarga suami juga sebaik itu prepare banyak hal. Nggak menuntut banyak, dan yang pasti berkorban banyak waktu dan tenaga juga.
(Aku sengaja nulis ini biar kalau aku tantrum di masa depan karena masalah sepele, aku harus ingat kalau pernikahan ini melibatkan banyak orang, merepotkan banyak keluarga, dan ada banyak orang yang sukacita membantu tanpa pamrih. Jangan hanya egois dengan mikir kalau nikah tuh ya cukup urusan kamu dan suami aja. Karena tanpa bantuan orang lain, kita nggak akan sampai di titik ini.)
Ibu sampai terhenyak dengan temen-temen yang segampang itus ngeluarin duit sama logistik 'cuma' buat bantuin ibu urus nikahan. Belum lagi tenaga yang bener-bener terkuras habis.
Ternyata keheranan ini gak hanya terjadi di ibu, tapi di sesama teman taklim yang lain. Mereka heran ibu bisa dapet besan sebaik mertuaku, yang nggak cerewet dan literally rajin banget sedekah. Bahkan sangat welcome menerima aku. Dan mudah berbaur sama temen-temen taklim yang lain. Aku pun kadang heran.
Lalu ada yang bilang ke Ibu, "jangan sungkan ya Bu. Kami bantu Insyaa Allah ikhlas karena Allah. Semua ini dari Allah, bukan dari kami. Allah yang gerakin hati ini buat turun membantu. Dan ibu selama ini juga udah sering ngebantu temen-temen taklim yang lain. Jadi sekarang giliran kami." Ibu berlinang air mata waktu cerita ini.
Serius deh, mikirin resepsi nikahan, negoisasi printilan, dan kompromi sana-sini tuh secape itu. Belum lagi suara-suara julid yang selalu nemuuu aja celah buat ngomentarin sesuatu. Ngga jarang ngundang stres juga. Jadi sekalinya ada yang bantu tuh rasanya melegakan banget. Kita jadi ngga merasa berjuang sendirian. Apalagi supportnya buka cuma materi, ditambah dukungan moral. Ibu terima dari semua teman-temannya. Dan Ibu jadi amazed sendiri sama kebaikan Allah..
Lalu setelah nikah sekarang aku mulai sadar kalau karakter suami adalah karakter pasangan ideal yang selalu aku idam-idamkan. Gatau sih ini pengaruh karena baru nikah apa gimana. Tapi ya rasanya tenang aja. Teduh. Bukan jenis cinta yang menggebu-gebu, tapi jenis lain yang ketika kamu bersamanya, rasa gundah dan panas di dada seketika hilang. Aku juga heran. Ternyata ada ya perasaan kayak gini. Rasanya seperti pulang ke tempat yang udah lama kamu cari, tapi gak kunjung ketemu, dan ternyata kamu akhirnya menemukan rumah itu.
Aku gatau kalau aku seberuntung itu. Dan aku perlahan sadar kalau salah satunya mungkin karena buah dari tirakat Ibu. Ibu yang selalu berusaha mengutamakan Allah, Ibu yang selalu sengaja bekal permen atau kue kecil buat dibagiin ke anak-anak kalau ketemu di jalan, Ibu yang selalu menerima curhatan orang lain dengan senyum dan sabar, Ibu yang selalu berusaha bikinin makanan kesukaan anak-anaknya dengan wajah gembira, Ibu yang seniat itu bikinin makanan kesukaan teman-temannya yang lagi sakit atau ngidam, Ibu yang selalu berusaha buat taklim meskipun harus jalan kaki belasan kilo waktu gak ada motor (waktu itu aku lagi di Bandung). Ibu yang selalu berusaha menunaikan hak-hak Allah sebelum meminta. Ibu yang sebaik itu. Mudah²an Allah memang sayang dan mengijabah do'anya Ibu.
Ibu kadang bilang kalau Ibu bukan sarjana dan minta maaf karena gabisa jadi Ibu yang membanggakan buat anak-anaknya. Padahal Ibu gatau, ada banyak orang yang sayang sama Ibu simply karena Ibu selalu berusaha jadi orang yang bermanfaat buat orang lain. Dan aku juga terinspirasi untuk bisa jadi seorang Ibu dan istri yang seperti itu. Makasih banyak ya, Bu. Icha bersyukur bisa lahir dari rahim Ibu dan terpilih jadi anaknya Ibu. Meski kadang jarang ngucapin apresiasi secara langsung.
Semoga siapapun yang sedang mendamba, Allah permudah jalannya, Allah pertemukan dengan kebaikan, dan Allah gampangkan seluruh urusannya. Dengan cara yang paling baik. Seperti kata Nabi Zakariya, "dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepadaMu." (Maryam:4)
Banyak orang rakus dalam meminta, namun lupa menunaikan hak-hak Allah terlebih dahulu. Ketika do'a itu tak kunjung terjawab, mereka merasa Allah mengabaikan mereka, padahal mereka yang abai dengan tanggungjawabnya. Semoga kita nggak termasuk ke dalam golongan orang-orang ini.
13 November 2024
lololol i thought it was just like that bc of the original wednesday
M word series #1:
After Niyyah
Salah satu hal menantang yang aku rasakan setelah menikah, ternyata adalah; membangun kesadaran bahwa ketaatan kepada Allah tetap menjadi hal utama. Bahwa semua keindahan yang dirasakan hanya titipan, dan bahwa kita tetap bertanggungjawab penuh terhadap keimanan masing-masing.
Dulu aku termasuk anak yang skeptis dengan pernikahan. Kenapa harus menikah jika tujuannya hanya beribadah? Uwais Al-Qarny pun dijamin masuk surga padahal tidak menikah dan hanya sibuk mengurus Ibunya sampai tua. Begitupun Bunda Maryam yang menjadi penghulu surga para wanita bahkan tanpa menikah. Tapi sombong rasanya jika kita berani membandingkan diri dengan kedua manusia mulia tersebut.
Di detik-detik terakhir khitbah, aku masih belum yakin dengan tujuanku menikah. Ragu sering mampir. Dan aku terus menerus mencari alasan paling tepat dari hakikat sesungguhnya mengapa seseorang harus menikah. Meski secara fikih hukum asal pernikahan kembali kepada maslahat individu tersebut. Terdapat pengecualian bagi beberapa jenis orang tertentu.
Baru sadar beberapa lama setelah akad, ternyata begini rasanya diperlakukan dengan penuh hormat. Begini rasanya melakukan sesuatu yang benar secara syariat. Menikahi orang yang memang menginginkan kita dan kita pun menyukainya ternyata semenyenangkan itu. Marry someone who match our energy is something else.
Rupanya begini ya rasanya dicintai.
Dari hal ini juga aku jadi belajar; betapa mudahnya melihat perbedaan antara laki-laki yang bisa melihat value di diri kamu, dan mana laki-laki yang hanya mau manfaatin kamu untuk syahwatnya aja. Laki-laki yang memang mau sama kamu dan memang siap, nggak akan menyulitkan kamu. Mereka dengan sendirinya akan rela berkorban tanpa rasa berat hati, karena dengan dapetin kamu aja mereka udah bahagia. Kamu gak perlu minta kepastian, karena mereka udah memastikan itu duluan. Jadi ada benernya ya sepertinya yang berseliweran di timeline, "kalau kamu dibikin bingung, mungkin bukan kamu orangnya."
Jadi,
jangan
pernah
mengemis
kepada
siapapun
apalagi
lawan jenis
Di satu sisi, menikah bukan hanya tentang beribadah kepada Allah. Yang aku temui, justru pernikahan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah pada hamba-hamba-Nya. Betapa Islam sangat memuliakan wanita, dan menjaga laki-laki agar tetap bisa mencicipi kenikmatan dunia tanpa melanggar koridor.
Menikah bukan untuk Allah, karena Allah nggak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Justru Allah lah yang menyediakan fasilitas pernikahan untuk manusia, agar manusia itu bisa saling merasa nyaman dan mengasihi satu sama lain. Merasa tenang, tentram. Keberadaan pasangannya menjadi energy booster, meneduhkan hati setelah lelah berjibaku dengan bisingnya dunia luar.
Pasangan yang sangat baik dan segala kemudahan ini kadang bikin aku khawatir. Khawatir kalau aku terlena dan lupa bahwa semuanya pemberian Allah. Bukan karena aku yang sholehah, bukan karena andil si A, si B, si C. Meski ya, sangat betul bahwa setiap orang memegang peranan. Tapi tetap, hasil akhirnya selalu berada di tangan Allah. Semuanya berasal dari Allah dan mudah saja bagi Allah untuk membolak-balikkan hati makhluk-Nya.
Pada akhirnya, harus sering-sering menekankan ke diri sendiri; jaga hubungan baik dengan Allah, Allah akan urus sisanya. Hablumminallah sebelum hablumminannas.
Nggak bermaksud jadi influencer pernikahan. Hanya sekedar berbagi perspektif dari seorang anak yang tadinya skeptis dengan pernikahan, lalu jadi terheran-heran sendiri ketika semuanya jauh lebih baik dari apa yang dicita-citakan. Semoga kita dimudahkan untuk menjadi golongan orang-orang yang Allah ridhoi.
Day 9: Relationships Evolved
Setelah ada begitu banyak hal yang dialami, bisa diambil kesimpulan bahwa selayak-layaknya hubungan adalah hubungan yang bisa membantu diri bertumbuh ke arah lebih baik.
Bahkan dengan Ibu dan Robi yang membersamai dari sejak zaman zigot saja, hubungan kami terus berkembang. Selalu ada sisi baru yang bisa ditemui. Dewasa melalui momentum yang meletup-letup seperti kembang api di tahun baru.
Tapi bahkan dengan keadaan yang sebaik itupun, selalu ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh seseorang yang lain. Sesuatu yang hanya bisa dipahami setelah kita harus melewati perjalanan itu sendirian. Jenis yang berbeda dari sekedar rasa platonik.
Aku baru tahu kalau aku orang yang seegois itu saat memaksa meninggalkan kamu, Man. Cuma karena aku takut ditinggal duluan. Hubungan yang sudah terlalu kusut untuk diurai karena runyamnya ego masing-masing. Tak pernah terpikir kalau drama roman picisan yang biasanya kucela di televisi itu datang menghantamku lewat kamu, Man.
Aku masih ingat samar-samar, saat kamu begitu bersemangat bercerita serunya kuliah di kampus kuning itu. Pesta, cinta, dan buku katamu. Menjadi himne euphoria di tengah beragam rasa gundah saat memikirkan masa depan yang lebih pasti tapi tak jelas rimbanya.
Seseorang yang berani mengonfrontasi selalu jadi pihak antagonisnya ya, Man? Sampai kamu sebenci itu melihat aku "pergi". Lalu segera jadi yang paling bahagia untuk memulai yang baru.
Musim berganti lalu membawaku ke kenyataan bahwa membaca buku ternyata tidak selalu semenarik itu ya, Ben? Aku masih ingat bunyi tawamu itu saat menurutmu pertanyaanku terlalu absurd. Kamu tak pernah yakin apakah mataku sipit atau bulat karena setiap geraknya selalu menimbulkan persepsi baru. Sama seperti aku yang tak pernah yakin dengan sikap dan kata-katamu.
Saling membicarakan masa lalu masing-masing seolah itu pertandingan bola yang panas kemarin sore. Aku masih bisa mengenali setitik semangat dalam nada suaramu saat membicarakan perempuan masa lalu itu. Sama sepertimu yang kerap merasa aku memasang standar berdasar laki laki masa laluku. Kita bermain api sambil tertawa pahit.
Bagai hujan di musim kemarau, begitu katamu tentang diriku. Kalimat yang mungkin sudah kau lemparkan pada selusin perempuan lain sebelum aku. Namun bualan pertama yang kutelan mentah-mentah dengan rasa bahagia.
Tapi kamu tidak tahu kan, Ben? Bahwa ternyata kamu orang yang bisa mematahkan pemikiranku terhadap banyak hal. Salah duanya kecintaanku akan buku, dan keyakinanku bahwa mustahil rasanya bisa mencintai orang baru. Berkali-kali membuatku merasa seperti perempuan bodoh yang tak bisa membedakan kencur dan jahe. Bahwa tak semua perhatian bermakna cinta dan kasih sayang. Aku akui, kamu sehebat itu, Ben.
Berkatmu Ben, aku semakin yakin bahwa setiap orang bisa tergantikan. Meski membutuhkan waktu satu juta tahun cahaya, cinta selalu datang dalam bentuk yang baru.
Dari sesuatu yang pernah kubaca, konon dalam sebuah relasi, seseorang akan dihadapkan dengan dua pertanyaan yang menjadi penentu kesuksesan hubungan mereka—berlaku dalam jenis relasi apapun.
Apakah kamu merasa nyaman saat bersama dirinya
Apakah kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri saat bersama dirinya.
Banyak orang berhasil melalui pertanyaan pertama. Namun hanya sedikit sekali yang berhasil melewati pertanyaan kedua. Sampai saat ini, aku bukan termasuk golongan yang sedikit itu.
Yang justru membuat masa depan terlihat lebih optimistis. Seperti Taylor yang berterima kasih kepada seluruh perempuan dari masa lalu lelakinya. Karena pada akhirnya dia yang menikmati seluruh tingkah laku dan kematangan berpikir hasil dari jerih payah luka di masa lalu itu.
Aku tak akan memakimu, Ben, Man. Pertemuan-pertemuan kita sebetulnya bukan sesuatu yang harus disesali. Karena pada akhirnya aku tumbuh menjadi lebih baik. Dan kuharap begitupun dengan kalian. Maaf untuk segala kesulitannya. Tolong jangan terlalu memandangku jahat. Biar kita nikmati hasil panen masing-masing.
Terima kasih sudah membantu melewati fase cinta yang kekanak-kanakan, cinta yang serakah, ambisi yang tidak masuk akal, cinta yang penuh kontrol karena lemahnya rasa percaya diri.
Tak ada yang perlu diperbaiki dari sesuatu yang sudah usai. Kita sudah selesai sambil menerima rapor masing-masing. Seperti anak SD yang harus terus melanjutkan pendidikannya hingga kelak matang saat terjun ke masyarakat.
Masa laluku tidak akan pernah menjadi pemenang dari siapapun yang akan kutemui di masa depan. Setelah semuanya, aku berharap bisa mencintai dengan lebih baik lagi, sungguh mengabdi dalam ikatan sakral yang apabila ada takdir buruk di dalamnya, tidak akan pernah membuatku meromantisasi masa lalu. Karena penyesalan tidak akan pernah menghantui mereka yang berlaku benar.
Seperti Hawa yang ditakdirkan untuk Adam seutuhnya. Setegar dan setangguh apapun sosok yang terlihat, tulang rusuk tetap menjadi ruang pelindung paling nyaman bagi jantung yang rapuh itu.
Aku ingin menjadi rumah yang seperti itu untukmu. Dan kuharap kamu tidak akan memaksa meluruskanku karena aku akan patah. Atau terlalu membiarkanku karena aku akan karat. Kepadamu, aku ingin belajar mencintai dengan benar. Kita bisa bertualang menemukan bagian baru dari diri kita setiap harinya. Bersamaku, kau tak harus selalu berpura-pura menjadi orang lain yang tegar. Bersamamu, rasa bosan adalah diksi yang mendadak lenyap dari kamus hidupku. Kita berjalan pelan dan intens, dengan sederhana, tak perlu grasa-grusu.
I know I'm not the most exciting girl you've ever met. But I'll stay devoted to you for the rest of my life.
Update September 18, 2024: finally I found you ♥
Terlalu Banyak Ngasih
Pagi ini saat random scroll yutub, just found this video. Wow ternyata ada penjelasan mendalamnya, padahal w kira selama ini w aja yang merasa aneh.
Mengapa semakin banyak kita memberi, semakin sulit orang tersebut untuk menetap sama kamu atau bahkan menyukai kamu balik.
W hidup di lingkungan orang baik yang Maasyaa Allah kalau ngasih tuh nggak perhitungan dan Insyaa Allah memang ikhlas. Tapi di beberapa kondisi, w pernah menemui beberapa orang yang 'kelewat baik' dengan memberikan terlalu banyak sampe w rasanya nggak nyaman.
Semua memang soal intensi dan kita manusia sebagai makhluk dzohir nggak akan pernah bisa melihat secara utuh niat seseorang karena itu termasuk situasi ghaib, kecuali kalo orang itu ngomong sendiri atau Allah tunjukin sendiri faktanya. Tapi itu kan kejadian yang amat sangat langka (?)
W selalu percaya bahwa energy never lies. Saat w merasa nggak secure/nyaman dengan sesuatu atau seseorang, w akan bersikap lebih jaim dan waspada. Lebih berhati-hati ambil sikap. Salah satunya dengan orang yang kelewat baik dan terlalu banyak memberi atau menawarkan bantuan.
Sebenernya nggak ada yang salah dari memberi. Yang menjadi masalah tuh adalah ketika hal ini udah berlebihan. Atau dalam video ini, disebutnya overgiving.
Sebenernya apa alasan utama kamu memberikan terlalu banyak ke orang lain? Apakah emang murni pengen ngasih atau sebenernya hanya bentuk lain dari pencarian validasi dan emotional support untuk diri sendiri? Jujur aja kita bisa merasa bahagia ketika kita bermanfaat dan memberi banyak ke orang lain, terkadang demi kepuasan batin kita sendiri, bukan karena orang itu.
Konsep ini nggak selalu mudah dipahami oleh orang yang kita beri, tapi bagi orang yang normal (read: bukan mental pengemis), diberi terlalu banyak bisa menimbulkan perasaan terbebani oleh balas budi, atau jadinya si penerima merasa dirinya dituntut untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih. Kurang lebih ini sih yang disinggung di video itu.
Lucunya saat orang yang kita beri banyak menjadi terlena dan balik minta ke kita secara terus menerus, kita malah menjadi risih. Jadi pertanyaannya,
Apakah kamu memberi banyak karena orang itu memang butuh atau karena kamu emang nggak bisa berhenti ngasih aja?
Dan kalaupun orang itu nggak butuh, terus apa alasan kamu tetap memberi?
Kalaupun kamu nggak bisa berhenti, apa yang jadi alasan sebenarnya?
Salah satu hal kenapa w menghindari orang yang terlalu banyak memberi adalah, karena w takut suatu hari nanti orang itu akan berkata "udah dikasih ini-itu kok kamu malah bersikap gini ke aku?" atau "padahal udah banyak dibantu tapi malah gatau diri." See? Emotional burden.
Padahal di satu sisi kita tidak meminta, dan kita pun tidak ingin mengecewakan orang lain. Tapi ketika diri kita tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan si pemberi tersebut, lantas mereka menjadi kecewa. Dan kita pun jadi bingung salahnya kita di mana.
Lagian gak mungkin kita hidup untuk memenuhi ekspektasi semua orang yang pernah memberi kepada kita. See? Emotional burden. Makanya kadang ketika liat konten-konten sedekah atau sejenisnya, w bukannya ngerasa terinspirasi atau kagum, malah jadi ngerasa tambah kasian sama si orang yang dikasih. Udah mah dikasih, diframe jadi orang susah (meski mungkin emang beneran susah), malah dikontenin. What an emotional burden. Call me a weirdo but it's just my two cent.
Jadi iseng terpikir, apa ini salah satu hikmah kenapa Allah berfirman kayak gini ya?
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS.17:29)
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا ࣖ
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS.17:30)
Setelah w cek tafsirnya, kurang lebih begini detailnya. Disclaimer, w bukan ahli Qur'an jadi semua tulisan ini bentuknya hanya sebagai tadabbur, bukan hukum mutlak pengertian sebuah ayat. Apalagi sok menafsirkan.
Semoga kita semua senantiasa diberi hidayah bahkan ketika kita berpikir bahwa kita sedang melakukan hal baik. Selalu diberi hidayah dan kesadaran bahwa ketika kita memberi atau menolong orang lain, itu bukan karena kita baik atau hebat. Tapi karena Allah yang memberi kita kesempatan dan mampukan kita untuk beramal.
Semoga selalu diberi kesadaran bahwa ini adalah bentuk kasih sayangnya Allah sehingga kita diberi kemampuan untuk beramal sholeh. Karena kayak lagunya Opik, sebaik-baik teman di akhirat adalah amal sholeh. Dan Allah sudah atur itu saat kita hidup di dunia, tapi kitanya kadang suka nggak sadar dan malah overproud sama diri sendiri, menganggap diri baik dan mampu nolong orang.
Kita tidak akan bisa menolong semua orang miskin di dunia ini, kita nggak akan mampu ngasih makan semua orang lapar di muka bumi. Jadi saat ada kesempatan berbuat baik, w baru sadar bahwa sebenernya kebaikan itu buat diri kita sendiri, untuk menolong diri kita di akhirat kelak. Itu juga kalau amalnya diterima. Makanya jadi penting banget bagi kita untuk mindfull, paham alasan dan niat kita dalam melakukan sesuatu.
Jadi seharusnya nggak perlu ngerasa kecewa kalau kebaikan kita tidak dibalas dengan bentuk kebaikan yang sama oleh orang yang sama. Nggak perlu merasa harus menerima balas budi. Semoga selalu diberi hidayah dan kesadaran bahwa setiap perbuatan dilandaskan karena Allah aja, bukan yang lain.
Death's Game: Ketika Musuh Sesungguhnya adalah Pikiranmu Sendiri
Respon yang pertama kali muncul ketika nonton series ini adalah; "Ini scriptwriter-nya pernah baca Qur'an kali ya?"
Setelah hampir satu tahun tidak berselera nonton apapun, akhirnya malam ini w berhasil menamatkan Series Korea berisi 8 episode ini. Awalnya nggak terlalu berekspektasi, tapi lama-lama kok seru ya. Akhirnya tau-tau tamat.
Banyak banget hikmah dan pelajaran yang rasanya relate sama keadaan w akhir-akhir ini. Terutama soal overthinking. Beberapa hal terjawab melalui plot di series ini.
Garis besarnya menceritakan tentang seorang pemuda bernama Kim Seong Hyeop yang memutuskan untuk bun*h diri setelah beberapa kali menemui kegagalan dalam hidup. Begitu mati Seong Hyeop ternyata nggak langsung diadili di pengadilan akhirat. Dia diajak keliling neraka dulu sama malaikat maut. Lalu ternyata dikasih kesempatan hidup 12 kali di tubuh orang yang berbeda, mengalami jenis kematian yang berbeda-beda dan menyakitkan, sampai akhirnya menemui hukuman kekal di neraka. Dia bisa selamat asal dia harus memutus rantai kesalahannya dulu.
Seperti biasa beberapa plot yang berkesan akan w rangkum ke dalam beberapa point:
Di moment perdana Seong Hyeop diberi hukuman, dia marah dan kesal ke malaikat maut karena merasa semua itu nggak adil. Dia udah menjalani kehidupan yang menyedihkan, lalu bund*r, tapi harus merasakan hidup sekali lagi lalu mati sebagai orang lain. Si maut cuman ketawa terus nanya, "apa kamu nggak mikir kalau perbuatanmu itu (read: bun*ir) menyakiti orang lain?" Seong Hyeop dengan yakin bilang bahwa dia nggak merugikan siapapun dengan kematiannya. Dia cuma bun*h diri, bukan melukai orang lain. Jadi kenapa lagi dia harus dihukum. Di akhir episode dia baru menyadari bahwa ternyata bun*ir yang dia anggap sepele itu merupakan hal besar bagi orang sekitarnya. Ini part sedih banget menurut w. Di kesempatan terakhir si Seong Hyeop harus mengalami hidup sebagai ibunya. Dan dia baru sadar bahwa ternyata keputusannya itu amat sangat melukai hati ibu dan kekasihnya. Ibunya hanya tinggal sebatang kara, diremehkan orang lain karena anaknya mati bun*h diri. Dan yang paling sedih ibunya ini jenis orang yang gigih dengan keadaan. Sedari muda udah berjuang jadi single parent (suaminya meninggal muda), nggak pernah menyerah dengan hidup karena dia merasa sayang banget dan bertanggungjawab ke anaknya yaitu Seong Hyeop. Ini episode paling heartmelted :") Lalu setelah semua perjuangan itu dia harus ngeliat anaknya sendiri mati bun*h diri. Ibu mana yang nggak merasa bersalah? Seong Hyeop bahkan gak kepikiran bahwa setelah dia pergi, Ibunya hidup dengan menyalahkan diri sendiri dan kehampaan karena merasa gagal menjadi Ibu :(
Di moment lain si malaikat maut ini banyak banget nyindir Seong Hyeop. Dia udah bilang bahwa manusia itu bebal, susah dikasih tahu, terus-terusan melanggar perintah sekalipun udah dikasih kesempatan, dan nggak kunjung belajar dari kesalahan. Tapi untungnya in the end Seong Hyeop belajar dan menyadari kesalahannya kok.
Setelah berkali-kali hidup di tubuh orang lain dan berulang kali mati di tubuh yang berbeda, Seong Hyeop mulai sadar bahwa alasan terbesar dia mati tuh bukan karena hidupnya menyedihkan, tapi karena cara pandang dia soal kehidupan itu sendiri, dan tentang bagaimana cara dia merespon masalah. Hanya karena beberapa kejadian, Seong Hyeop memilih fokus sama emosi negatif yang dia rasakan. Ngerasa insecure sama pacarnya, padahal pacarnya nggak pernah insecure sama dia dan selalu support gimanapun keadaannya. Ngerasa gagal karena telat bayar sewa dan berujung diusir dari kost, gak keterima kerja, lalu diremehkan berulang kali. Semua hal itu bikin dia lupa bahwa di sisi lain, Ibunya nggak pernah menuntut dia buat jadi anak sukses yang biayain keluarga, pacarnya nggak pernah nuntut dia soal nikah, dan yaa sebenernya hidup dia nggak separah yang dia pikirkan. Tapi karena kenaifannya, butuh 10 kali kematian di tubuh orang yang berbeda supaya dia bisa sadar dengan apa yang dia punya.
Di series ini dikasih gambaran bahwa beberapa orang memilih bun*h diri karena mereka lebih fokus dengan hal-hal negatif di hidup mereka daripada fokus dengan apa yang mereka punya. Iya, w tau sih. Lingkungan yang nggak suportif dan keadaan buruk yang berlangsung stagnan itu kadang bisa bikin gelap mata. Tapi kalau mau dipikirkan matang-matang, sebetulnya manusia nggak pernah hidup di salah satu sisi aja secara terus menerus. Sometimes, it's just a bad day, not a bad life.
Seong Hyeop "kalah" dengan pikiran negatif dan asumsi buruknya sendiri. Yang ternyata setelah dia lihat dari POV yang berbeda, semua asumsi dia itu salah. Dia terlalu dihantui ketakutannya yang dia karang-karang sendiri. Akhirnya hal itu malah bikin orang sekitar dia juga ikut tersakiti. Pantes aja ada yang bilang kalo insekuriti itu membunuh hubungan secara perlahan. Sampai Seong Hyeop lupa kalo ibunya juga seberjuang itu buat dirinya, tapi ibunya nggak menyerah dengan keadaan seperti dia.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Indeed, Allah does not wrong the people at all, but it is the people who are wronging themselves. (QS.10:44)
Ibu
Belakangan ini konsepku soal waktu berantakan banget. Sementara kewajiban terus-terusan datang dan akhirnya menumpuk jadi PR yang ngga tau kapan kelarnya. Sementara aku (lagi-lagi) keburu burn out dan stuck banget. Bingung mau mulai dari mana.
Puncaknya malam ini pas datang ke taklim, ada pesan dari salah satu ummahat tentang cara ngajarku yang mungkin menurut beliau itu kurang efektif. Seharusnya ini bukan masalah besar. Namanya kerja pasti ada aja komplain dan kritiknya. Tapi berhubung dari kemarinan pikiranku udah penuuuh banget, akhirnya hal ini jadi pelatuk yg bikin aku tantrum.
Sampe rumah aku ngelamun kayak orang bego, literally ngelamun yang sampe bikin aku gak denger suara lain selain suara di kepala. Kepala nyut-nyutan. Lapar tapi selera makan meragukan. Ternyata kegundahanku tercium sama instingnya Ibu.
Ibu nggak basa-basi dan langsung nanya, aku kenapa? Aku cuma geleng-geleng kepala tapi air mata pelan-pelan ngerembes. Akhirnya sesengukan. Biasanya Ibu suka ikutan sebel kalo lihat aku gak jelas gini. Tapi kali ini kayaknya Ibu tau aku beneran lagi susah dan bukan sekedar drama hehe.
Ibu terus desak aku buat cerita. Tapi aku gak tega. Suara-suara di kepala makin kenceng, otomatis nangisku makin gede.
"Aku capek, tapi aku tau semua orang juga pasti capek. Bahkan mungkin jauh lebih capek. Tapi mereka nggak nangis lebay kayak aku."
"Apa aku separah itu? Gini aja nangis. Mana pake mau cerita ke Ibu segala lagi."
"Aku pusing banget sama masalahku. Tapi setiap orang tuu pasti punya masalah. Bahkan mungkin lebih gede. Masalah mereka lebih kompleks, tapi mereka enjoy aja. Nggak kayak aku."
Aku terus-terusan ngerasa sedih sekaligus ngerasa bersalah karena aku ngerasa sedih. Pusing gak tuh? Akhirnya jadi lingkaran setan.
Ngeliat aku nangis, mata Ibu tiba-tiba ikutan berkaca-kaca. Aku pun makin nangis. Terpikir Ibu yang udah tua tapi harus ngeliat anak gadisnya yang udah berumur dewasa ini nangis kayak anak umur 10 taun (aku nggak tantrum kek anak TK juga sih).
Aku ngerasa jadi orang yang gagal. I dunno. Setiap kali aku nunjukin my vurnurable side, rasanya kayak orang gagal aja. Even to my mom. Tapi kali ini Ibu ikut bersedih sama aku. Ibu bilang, gapapa. Cerita aja. Apa ada yang nyakitin aku, atau mungkin Ibu yang nggak sengaja nyinggung aku? Atau Icha lagi banyak pikiran? Kata Ibu.
Aku cuma bilang aku bingung.
"Bu, kenapa sih jadi orang dewasa itu susah banget? Capek banget. Tapi kita dituntut kuat. Icha salah nggak sih kalau nangis kayak gini? Padahal masalah Icha nggak sebesar masalah orang lain. Ibu juga pasti jauh lebih capek dari Icha. Icha minta maaf ya, Bu. Kalau selama ini sering bikin Ibu ngerasa susah. Padahal hidup Ibu udah berat, harusnya banyak istirahat. Tapi malah ngeliat Icha nangis."
Ibu menjawab dengan sangat tenang, sambil mijitin tangan aku pelan-pelan. Ibu bilang gapapa kalau mau nangis. Sedih dan capek itu manusiawi, hal yang normal. Gak perlu dipendam. Ibu memvalidasi perasaan aku. Hanya karena masalah aku lebih kecil, bukan berarti aku nggak boleh ngerasa sedih.
Ibu bilang dunia tempatnya capek dan lelah. Bersedih aja sebentar, terus lanjut jalan lagi, karena kita gak pernah tau kapan akan ketemu ajal. Ibu tau Icha anak yang kuat, yakin terus sama Allah. Banyak berdo'a, Allah nggak akan meninggalkan hamba-Nya yang taat. Aku makin nangis, karena aku sadar aku masih jauh banget dari kata taat. Sementara aku butuh banget pertolongannya Allah.
Terus Ibu nyeritain langganan urutnya. Sering banget mereka curhat-curhat nangis ke Ibu. Cerita random aja. Orang yang aku kenal ceria sehari-hari, ternyata pernah nangis dan curhat ke Ibu soal kerjaannya. Padahal beliau udah pengalaman jadi guru puluhan tahun. Ada juga Ibu muda yang udah dianggap kayak keluarga sendiri sama Ibu, sering nangis dan cerita ke Ibu soal mertuanya. Beliau ini trophy wife banget, jago masak, penampilan tetep bersinar meski udah punya anak 3, tapi tetep aja mertuanya ngerendahin beliau. Padahal dia udah nyaris sesempurna itu jadi istri.
Ibu cerita semua itu bukan untuk menjelekkan siapapun, tapi untuk ngasih gambaran. Bahwa setiap orang yang kelihatannya baik-baik aja, juga menyimpan masalah. Orang dewasa juga masih bisa nangis dan itu hal yang wajar. Bahkan jika mereka keliatan berpengalaman di bidangnya, tetep aja mereka bakal nangis kalau ngerasa sedih dan nggak kuat.
Denger itu semua aku malah jadi makin sedih dan nangis. Tapi kali ini bukan karena masalah-masalah tadi. Aku sedih banget mikirin kebersamaanku dengan Ibu yang entah akan bertahan sampai kapan. Di dunia ini, hanya Ibu manusia yang mau menerima aku apa adanya. Baik-boroknya aku, randomnya aku. Bahkan di saat aku menyakiti perasaan Ibu. Tapi entah kenapa aku jarang banget sadar soal ini.
Aku sadar bahwa setelah menikah, aku nggak akan bisa lagi menunjukkan sisi diri aku sembarangan. Aku nggak akan bisa leluasa jadi diri sendiri lagi bahkan di hadapan Ibu. Karena aku harus menjaga marwah suami. Aku nggak bisa ngebiarin suami aku ngeliat aku tantrum dan demot tiap ada masalah, karena dia pun pasti capek. Iya tau sih, orang bilang carilah pasangan yang bisa menghibur kamu saat kamu sedih dan mau menerima sisi buruknya kamu. Tapi tetep aja realitanya nggak bisa begitu. Kasian juga suami yang capek pulang ke rumah, pengennya istirahat malah harus ketemu istri tantrum yang gampang demot tiap ada masalah.
Aku gak tau apakah semua cewek seperti ini atau cuma aku yang lebay. Rasanya kalau udah capek ngurusin banyak hal, muka tuh suka otomatis bete dan keliatan banget nekuknya. Ini jadi kekhawatiranku juga saat udah nikah nanti. Takut suami kena imbasnya. Padahal kegiatanku di luar rumah nggak lebih penting dari keutamaanku di dalem rumah. Kan kasian kalau malah orang rumah yang jadi tumbal.
Tapi Ibu, Ibu nggak pernah kecewa meskipun aku nunjukin sisi lemah dan rapuhku berulang kali. Ibu nggak pernah berniat ninggalin aku meskipun aku sering bikin Ibu sedih. Bahkan setelah 25 tahun, Ibu tetap mandang aku sebagai anak gadis kecilnya. Kesadaran ini yang bikin hatiku sakit, mikirin sisa waktuku bersama Ibu yang tinggal menghitung minggu.
Kalau boleh jujur, ternyata aku nggak siap jadi orang dewasa, Bu. Tapi beberapa pilihan memang tak bisa dihindari. Takdir akan tetap berjalan sejauh apapun kita menghindar.
Walau udah dikasih izin, aku gatau apakah aku bakal tetap mampu ngajar setelah nikah. Dan kalaupun aku resign, aku nggak akan menghabiskan waktuku lagi di rumah Ibu. Aku bakal pulang ke rumah baru, yang aku selalu khawatir apakah aku akan bisa beradaptasi dengan baik di sana. Apakah aku akan diterima dengan kekuranganku. Karena rasanya capek banget menyalahkan diri sendiri karena mengecewakan orang lain, atau memenuhi ekspektasi orang lain dan berakhir gagal. Capek aja.
Dulu suka mikir kenapa aku mau dilahirkan ke dunia. Walau aku gamau naif, banyak juga kenikmatan yang udah Allah kasih ke aku. Tapi tetep rasanya capek aja. Just wondering hal apa sih yang bikin ruhku mau diturunkan ke dunia. Mungkin karena waktu itu aku dikasih liat gambaran bahwa hidup di dunia balasannya bisa surga yang sangat indah. Dan di surga itu aku diberi bentuk rupa yang sangat indah, bersama seseorang yang keliatan meneduhkan dan sayang banget sama aku. Mungkin itu sosok Ibu di dunia, atau pasanganku kelak. Dan ternyata sebelum aku diberi semua itu, aku harus transit dulu di bumi, dunia yang serba tidak sempurna ini. Iya, kayaknya sih begitu.
Ibu, sehat-sehat dan panjang umur ya. Setua ini, pasti banyak banget kesedihan dan luka yang udah Ibu alami. Tapi Ibu masih tetap tegar buat meladeni anak perempuannya. Semoga Allah sayang Ibu, jauh lebih sayang daripada sayangnya Ibu ke Icha. Love U Bu
Apa yang kamu pikirkan dulu?
Kita mungkin menganggap diri kita tidak pernah tumbuh sebagaimana kita melihat orang lain. Bahkan saat ini, hidup di badan yang mungkin sudah berumur 30-an, rasanya pikiran ini masih kemarin sore menjadi anak-anak atau remaja tanggung yang lagi mencari jati diri.
Rasanya seperti belum layak untuk menanggung semua tanggungjawab. Dipaksa hidup mandiri. Dianggap mampu oleh keadaan. Dan juga dinilai sudah cukup berumur untuk menjadi lebih bijak.
Tapi rasanya, masih seperti anak anak yang tak tahu apa-apa. Kini harus berhadapan pada urusan-urusan yang melelahkan. Bekerja untuk membayar biaya hidup. Memikirkan masa depan. Mengurus keluarga. Dan juga hal-hal lain yang membuat kehidupan saat ini, rasanya semakin berat.
Dulu kupikir menjadi dewasa itu seru. Bisa punya motor sendiri dan jalan-jalan sesuka hati. Apa yang pernah kamu pikiran saat dulu anak-anak tentang menjadi dewasa? Apakah apa yang kamu pikirkan terjadi sekarang?
Semakin berumur, orang lain akan semakin sulit menoleransi kesalahan yang kamu buat. Sekalipun kesalahan itu bukan sesuatu yang sengaja kamu lakukan.
Saat anak-anak, orang akan cenderung bilang, "gapapa. Namanya juga anak-anak." Lain halnya ketika usiamu sudah memasuki usia 17+, kalimat yang keluar akan jauh berbeda. "Udah umur **, kok masih kayak gitu?", "udah umur ** kok masih belum bisa bla bla, masih belum punya bla bla,"
Nyatanya hidup tidak selalu berjalan linear seperti sistem di dunia utopia. Setelah dewasa pun kita masih rentan berbuat salah, masih bisa menemukan kegagalan. Hasil sangat bisa mengkhianati usaha.
Hidup di usia dewasa ternyata tentang menerima takdir seutuhnya di tengah dunia yang serba tak pasti. Sekalipun semua orang meragukan diri kamu karena beberapa kesalahan yang berulang kamu lakukan, kamu harus tetap berjalan. Karena ada tanggungjawab yang mesti ditunaikan.
Kebebasan dunia orang dewasa di mata anak-anak itu, ternyata hanya fatamorgana. Semu. Kita hanya berpindah dari satu siklus ke siklus lain, bernama tanggungjawab dan kewajiban. Mungkin itu sebabnya kenapa dalama agama Islam disebut sebagai mukallaf. Sedari kecil, kita dipersiapkan menanggung banyak tanggung jawab di usia dewasa kelak. Pada akhirnya, yang hanya bisa menolong hanya Allah.
Key of Power
Pernah denger istilah ini gak;
"Kamu baru menyadari sesuatu itu berharga setelah hal tersebut menghilang dari hidupmu."
I just found a fascinating fact about it. Yang nggak suka tema manipulasi silakan skip.
Saat random buka halaman bukunya Robert Green yg 48 Laws of Power, ada satu bab yang khusus membahas tentang pengaruh absennya kehadiran kita to gain respect and honor. Sering kita dengar, kalau kita terlalu baik dan available, orang akan mudah menganggap remeh diri kita, menyepelekan kita, bahkan di tahap ekstrim bener-bener bisa menjatuhkan harga diri kita di hadapan orang lain.
Terus kita jadi orang jahat aja gitu? Nope. Ternyata ini semua cuma soal mind games. Ngga harus jadi jahat dan tega buat mendapat hormat orang lain. Orang mungkin jadi takut sama kamu, tapi dengan cara ini, orang cuma akan menunggu waktu dan moment yg tepat buat backstabbing u.
Jadi di bab ini, ada satu sample cerita (based on true event) yang nunjukkin kisah cinta seorang lady dan penyair kerajaan. Ceritanya panjang. Intinya si penyair ini awalnya dikasih tau temennya, "kalau mau meningkatkan rasa cinta pasangan, cobain rujuk setelah konflik besar, rasanya bener² luar biasa." Si penyair penasaran dan iseng ingin menguji ide ini. Awalnya dia love bombing dengan segala skill-nya, terus sengaja tarik ulur supaya si lady makin jatuh cinta sama dirinya. For a moment it works, sampai si lady itu ngemis-ngemis dan desperate banget buat dapetin perhatiannya si penyair.
Turns out si penyair jadi ilfeel. Yes, laki-laki itu rupanya bisa merasakan kalau kamu terlalu desperate dan craving attention too much. Si penyair jadi merasa kalau si lady kehilangan keanggunannya, have no self respect, dan bikin jenuh. Akhirnya si penyair lanjut ngetes si lady dengan pura² marah besar di hadapan semua orang. Kali ini giliran si lady yang ilfeel. Dia marah dan akhirnya mutusin buat nggak melanjutkan ketertarikannya ke si penyair. Yang tadinya rajin kirim surat permintaan maaf, kali ini benar-benar hilang tak berjejak sampai berbulan lamanya. Si penyair baru menyadari kesalahannya dan menyesal. Sebisa mungkin berusaha kasih penjelasan atas semua tingkah laku absurdnya selama ini. Si lady awalnya ogah, tapi dia mempertimbangkan banyak hal positif yang dulu ia kagumi di diri si penyair. Yah akhirnya happy ending sih. They're back together dan si penyair berhasil membuktikan uji ide temennya dulu walau sempat bermasalah di tengah jalan.
Point yang digarisbawahi:
Saat si lady ngemis-ngemis perhatian si penyair, si penyair jadi kehilangan ruang untuk dirinya sendiri. Furthermore, si penyair kehilangan image tentang diri si Lady di benaknya. Yang tadinya kelihatan anggun, cerdas, elegan, mahal, jdi kerasa desperate, murah, too easy too available
Keadaan si Lady yang menarik diri bikin si penyair kebakaran jenggot. Karena aslinya si penyair memang sudah beneran jatuh hati dengan lady ini. Jadi saat si Lady menghilang, dia takut dirinya kehilangan kesempatan kedua dan bener-bener dibuang.
My Pov
Ternyata tanpa sadar aku udah nerapin ini dari jauh sebelum aku ketemu buku ini. Dulu aku udah punya pikiran bahwa saat kita terlalu mengejar sesuatu/seseorang, justru semakin jauh hal itu kita dapatkan.
Walau konteksnya bukan ke lewan jenis, lebih ke saat aku ngajar. Aku mulai sadar ketika kita jadi pengajar yang terlalu welcome sama murid, serba iya, tanpa ketegasan dan batasan yang jelas, justru malah bikin mereka semakin merasa nyaman berbuat sebebasnya. Termasuk salah satunya menggertak guru mereka sendiri. Gampang protes, mengabaikan sopan santun, dan sulit diberi arahan.
Akhirnya pernah ngide buat switch jadwal, jadi nggak terlalu rutin ketemu dan membatasi interaksi, membatasi reaksi juga, bersikap welcome seperlunya dan berani menunjukkan kemarahan karena ngerasa terusik, bukan karena benci. And voila..
What I Found
Saat baca bab ini entah kenapa aku malah keingetan sama kisah vakumnya wahyu turun. Jadi setelah pertemuan pertama Nabi Muhammad dengan Jibril, wahyu itu sempat vakum beberapa bulan bahkan tahun lamanya (perbedaan pendapat ulama).
Nabi Muhammad sempat dikisahkan merasa sedih teramat dalam bahkan depresi hingga sering sengaja mencoba menjatuhkan dirinya setiap kali melewati tebing curam atau bukit. Namun dihalangi oleh Jibril. Bayangkan perasaan Nabi saat itu. Setelah ketakutan bertemu Jibril untuk pertama kalinya sampai disangka jin, lalu menerima kalam yang berat (Al-Qur'an), dan diberi tahu bahwa dirinya diutus menjadi Rasul. Lalu tiba-tiba aka *poof*, keterangan selanjutnya seolah-olah hilang tak berbekas, mungkin serasa di-ghosting, apalagi ini untuk perkara yang amat sangat besar. Galau dan gundah gulana. Hingga akhirnya beliau kembali menerima wahyu setelah penantian cukup lama. Hal ini tentu membuat Nabi merasa sangat lega dan dibanjiri kebahagiaan karena ternyata Allah tidak meninggalkannya.
What I Get
Ingat kejadian mafia minyak goreng? Kelangkaan minyak tanah? Atau barang² limited edition yang sengaja dijual per musim aja. Dalam ilmu ekonomi ada yang namanya scarcity theory. Aku bukan anak eko jadi nggak kapabel buat menjelaskan secara detail. Tapi yang kutangkap garis besarnya, "kesenjangan antara sumber daya yang tersedia dan kebutuhan hidup yang bertambah secara gak langsung membuat value sumber daya tersebut menjadi tinggi." Semakin langka, semakin mahal.
Semakin kita pandai mengatur waktu kita, energi yang kita curahkan, ke-available-an kita, semakin kita akan lebih mudah untuk dihargai. Not everyone deserve our attention.
Di buku terbarunya Ustadz Risalah Amar dan Bang Sebastian Wahyu, ada bocoran riset kecil-kecilan tentang alasan terbesar seorang suami merasa bosan dengan istrinya; 1) mereka sudah tahu cara istrinya berpikir, 2) mereka sudah hafal berbagai kekurangan istrinya, 3) tidak ada lagi tantangan yang bisa ditemukan, 4) orang di luar terlihat lebih menarik, dll dst. Paradoks yang lucu bukan? Karena saat kita berpindah ke orang lain, orang itu juga sudah bisa dipastikan punya kekurangan walau mungkin kadar dan posisinya berbeda dengan pasangan kita. Lalu kalau kita memutuskan pindah ke orang baru, rantai ini akan berulang. Kita akan bertemu lagi dengan sosok bernama jenuh. Gitu terus sampai kita paham bahwa esensinya bukan dengan bergonta-ganti pasangan (walau dalam beberapa kasus ada hal yang sebaiknya memang diganti yang baru saja). Intinya, saat telah berumah tangga dan hidup seatap, otomatis kita akan mulai menemukan banyak hal tentang pasangan kita dan di titik tertentu mungkin kita akan bertemu dengan rasa bosan. Hal ini salah satunya karena faktor availability tadi di mana kedua pasangan terus berinteraksi tanpa memberi ruang untuk diri sendiri antara satu sama lain. Kalau disambungin ke teorinya si Robert Green tadi; masing² pasangan jadi kehilangan sosok imaginary person mereka tentang orang yang dulunya mereka cintai. Mungkin ini kenapa banyak konselor relationship yang menyarankan kita supaya tetap meluangkan waktu untuk self-improvement meskipun sudah menikah.
I dunno. Bahkan lewat 'absennya' wahyu yang turun kepada Nabi, ada power yang sangat kuat dalam jeda waktu tersebut. Salah satu hikmahnya untuk membungkam mulut para kafirun yang menuduh bahwa Qur'an adalah karangan Nabi. Karena bagaimana mungkin Nabi sampai bersedih hingga nyaris depresi jika beliau memang bisa mengarang wahyu sendiri. Allah amat sangat menyayangi dan mencintai Nabi. Saat wahyu kembali turun setelah bertahun lamanya, tentu perasaan Nabi jadi jauh lebih bahagia dan terharu daripada yang sebelumnya. Wallahu a'lam. Walau gak bisa disamain, barangkali euforianya mirip dengan apa yang dirasakan oleh si penyair di kisah pertama tadi. Rekonsiliasi setelah konflik memang semelegakan itu, dan ini jadi memperkuat bonding yang udah ada sebelumnya. Been there done that.
Indeed, there's power in silence. Ada energi dan kekuatan besar dari jeda, jarak, dan ketiadaan yang kita ambil. Jeda nggak selalu buruk, pull away di moment yang tepat bukan hal yang buruk, dan keputusan kita untuk mengabsenkan diri dalam sebuah situasi terkadang adalah hal yang bijak. Apa hal ini memang sunnatullah yang udah Allah tetapkan? Wallahu a'lam.
Hidup itu beneran indah saat kita mengerti cara mainnya, memahami aturannya, dan tau batasannya. Jadi ngerti kenapa setan jauh lebih takut sama orang berilmu daripada ahli ibadah. Dan kenapa seorang penuntut ilmu itu mendapat udzur bahkan dimudahkan jalannya untuk menggapai surga. Setelah baca bab ini, jadi semakin kagum dengan cara Allah mengatur kehidupan dan menyusun kompleksitas berpikir manusia dan psikologinya. Pantes aja saat malaikat keheranan dengan penciptaan manusia, Allah jawab, "sesungguhnya Aku mengetahui yang tidak kamu ketahui." Wallahu a'lam.
There's power in silence. Tanpa Allah, we're nothing. The world is meaningless.
Matematika, Teka-Teki, dan Asa
Sejak kecil matematika dan aku tidak pernah berteman baik. Ibu sepertinya butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa anak perempuannya jauh lebih suka bermain dengan imajinasi liar tanpa sekat. Tidak seperti matematika yang serba teratur dan sistemis.
Yang kutahu sejak dulu, matematika hampir selalu berujung membuatku dimusuhi orang lain dan dimarahi Ibu. Kehilangan teman, lalu nyaris terkena star sindrom berkepanjangan.
Puncaknya ketika aku akhirnya diputuskan untuk bergabung ke kelas akselerasi di tingkat SMP. Rupanya Guru Bahasa Inggrisku yang baik hati sangat mengapresiasi kemampuanku di bidang ajarnya. Apa dia tahu ya kalau aku punya love-hate relationship dengan matematika? Sepertinya sih tidak.
Perang terbesarku dengan matematika dimulai saat kelas 8. Aku yang sedang beradaptasi, baru saja tahu bahwa bahkan di kelas akselerasi yang konon terbaik dan dibanggakan itu; anak-anaknya juga terbiasa menyontek pada teman satu sirkel mereka. Simbiosis mutualisme dalam praktik nyata.
Aku mati-matian memahami kenapa huruf harus masuk dan ikut bersanding dengan angka untuk menciptakan sebuah penyelesaian yang bahkan aku tak paham mengapa ia perlu diselesaikan. Lebih dari itu, Guru Matematika kami yang agung berpikir bahwa anak di kelas akselerasi sudah sebegitu hebatnya sehingga tidak memerlukan penjelasan mendetail dalam belajar. Ya, mereka memang hebat sih.. dalam transaksi gelap mata pelajaran.
Sejak saat itu aku selalu mengalami serangan panik mendadak setiap melihat jadwal pelajaran. Berjam-jam memandangi latihan soal matematika dengan tatapan kosong. Tidak ada teman yang bisa kutanyai karena mereka sudah punya sirkelnya masing-masing. Aku juga bukan anak hits yang parasnya luar biasa menampar mata lelaki. Tinggal di kampung membuatku sulit untuk mengakses rumah guru di kota (guru ini rupanya jauh lebih senang dan fokus mengajar saat les privat dibanding saat menjalankan kewajibannya di sekolah). Jangan tanya soal internet. Terlalu muluk-muluk untuk anak kampung di tahun itu.
Rasa frustasi saat menghadapi PR aku telan sendiri. Di tengah keadaan rumah yang panas dan "patah", aku harus membagi rasa putus asa ke dalam dua hal: keluarga dan matematika.
Keesokan harinya aku hanya melamun di kelas. Di saat anak-anak lain sibuk berkongsi jawaban, aku terlalu takut untuk meminta. Sebelumnya aku selalu menjadi anak berprestasi di kelas. Menyontek tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Aku mencoba berani untuk menghadapi kenyataan apa adanya; bahwa kali ini, aku benar-benar kesulitan memahami pelajaran.
Tak disangka, aku betul-betul menjadi bintang utama. Saat absen nilai, hampir seluruh anak di kelas mendapat nilai 100. Aku terlalu sibuk menghitung rasa khawatir saat aku menyadari kalau nilaiku paling rendah. Paling rendah sebenarnya tidak buruk. Yang membuatnya spektakuler adalah karena poinku hanya 1,75 dari total 100! Alias jawabanku hanya benar satu. Itupun kukerjakan dengan mati-matian. Semua orang spontan menengok ke arahku. Termasuk si Guru. Di depan semua orang, dirinya menggiring opini bahwa aku tidak pantas berada di kelas itu. Aku terlalu mencurigakan untuk berada di sana. Mengapa aku bisa sebodoh itu. Aku mencetak sejarah di sepanjang perjalanan kelas akselerasi; si anak yang pernah mendapat nilai 1,75 di antara para jenius. Dengan intensi yang jelas, Guru itu berkata intinya aku tak pantas bergabung dengan mereka.
Aku bingung sekali. Bukan keinginanku juga untuk ada di situ. Aku bisa saja menyebutkan beberapa nama yang mungkin akan bernasib sama sepertiku jika mereka tidak sibuk menyontek sebelum jam masuk berbunyi. Tapi aku hanya diam, sibuk mencari jawaban paling tepat akan kondisiku. Kenapa aku harus dieksekusi seperti itu di saat yang aku lakukan hanya berusaha mempertahankan prinsip? Selain kenyataan memang aku lemah dengan matematika.
Cha, mungkin tanpa sadar luka ini yang membuat kamu selalu mendadak bertingkah defensif saat berbuat kesalahan. Berusaha mati-matian menyelesaikan masalah di saat yang seharusnya kita lakukan hanya pasrah. Terkadang tanpa sadar setiap masalah yang datang kamu sikapi dengan cara yang sama. Seolah-olah Guru itu sedang menyudutkan kamu di ruang kelas dengan tatapan syok teman-teman yang lain. Cha, 1,75 tidak seburuk itu saat kamu memutuskan untuk tidak menyontek.
Memang, ada yang bilang bahwa bahasa tertua di alam semesta adalah Bahasa Matematika. Karena dunia ini sesungguhnya mengandung seperangkat rumus yang sangat rumit dan kompleks. Tapi kamu bukan manusia super yang bisa memahami semua itu dalam sekali hidup.
Sadari bahwa kamu tidak membenci matematika, kamu hanya membenci kenangan yang terbentuk saat bersamanya. Aku meminta maaf kamu harus mengenal matematika dengan cara yang tidak menyenangkan.
Tidak semua hal dalam hidup harus kamu kalkulasikan secara berlebihan seperti matematika. Ada beberapa misteri yang sebaiknya memang tersimpan sampai kita mati. Ada beberapa takdir yang memang cukup kita terima tanpa perlu kita pertanyakan rumusnya. 1,75 menjadi bukti bahwa kamu memang manusia yang memiliki kelemahan. Dan tidak seperti Guru itu, Allah tidak akan mengeksekusi kamu hanya karena kamu lemah. Allah tidak akan mempermalukan kamu hanya karena kamu belum bisa memahami suatu makna kehidupan yang sengaja Ia kirimkan. Dia setia menunggumu bertaubat dan mengakui kesalahan, sambil menutup rapat -rapat seluruh aibmu di hadapan seluruh makhluk. Iya, hanya Allah yang tidak pergi.
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا
(28) And Allāh wants to lighten for you [your difficulties]; and mankind was created weak. (An-Nisaa: 28)
"Cha, inget. Air laut cuma masuk ke kapal yang bocor."
11:38