Gede rasa, bahasa gaulnya geer.
Manusia mana sih yang tidak pernah merasa geer. Sudah menjadi fitrahnya seorang manusia merasa dia memiliki suatu kelebihan yang bisa dibanggakan. Tapi, kalau geernya sudah merambah ke seolah-olah tahu segala hal tentang orang lain, bikin sebel dong ya.
Misalnya aja nih ada orang dengan bangganya menasehati kita tentang apa itu kesabaran dan kita harus kuat melewati segalanya karena dia merasa dia paling tahu sebab dia sudah pernah mengalaminya. Ya, terimakasih. Tapi, dia nyadar gak sih apa memang yang dia alami, hasilnya akan sama dengan yang kita alami? Sepertinya enggak sih.
Contoh lain jika dihadapan kita ada dua pasang wanita yang sama-sama menunggu kepastian dari kekasih yang sudah lama mereka pacari tetapi belum juga ngasih kepastian (beuh), harus memilih jalan keluar yang sama? Andaikan mereka memilih jalan keluar yang sama, katakanlah bertahan, apa itu bisa menjamin hasil akhirnya sama?
Begitu pun jika mereka mengambil jalan keluar yang berbeda. Belum tentu hasilnya bisa berbeda.
Namanya hidup, segala kemungkinan itu ada. Jadi, geer terhadap urusan orang lain apalagi merasa urusan mereka bisa selesai dengan jalan keluar yang kamu berikan karena kamu merasa pernah mengalaminya, sebaiknya dikurung jauh-jauh di dalam hati. Ingat ya geer terhadap urusan orang lain, kalau sharing pengalaman sih beda lagi.
Sharing pengalaman lebih ke arah ingin berbagi apa yang telah dilewati dan berharap yang diajakin ngobrol bisa mengambil hikmah. Kalau geer, lebih ke arah memaksa jalan yang dia ambil pasti, akan, dan harus sama dengan apa yang orang lain jalani.