Heroisme di Hari Pahlawan
Destiny.. Here I am.. Giving all my day.. (Homogenic - Destiny)
Ada kesan tersendiri tiap tanggal 10 November dalam hidup saya. Bukan hanya karena hari pahlawan semata, tetapi bagaimana cara memperingati dan memaknai kepahlawanan dalam diri saya.
Singkat cerita, hari ini saya dan sahabat saya sejak SMP (sebut saja Vani, nama aslinya) menghabiskan hari di Perpustakaan Nasional Salemba, selain menemani saya mengumpulkan literatur dan memanggil kembali ingatan akan topik skripsi yang kian tercecer, hari ini kami juga berniat mempelajari dan memperingati sesuatu.
Peringatan akan kegalauan dalam kedewasaan.
Pembelajaran akan sikap hidup yang sesungguhnya belum kami pelajari, sepenuhnya.
Setelah malam sebelumnya saya menginap di rumahnya, saya akhirnya mendapati berbagai kenyataan. Bukan hanya persoalan galau dan persahabatan semata, melainkan juga: masa lalu dan masa kini dari seorang saya.
Faktanya, saya masih terjebak di antara dua orang (yang saya pilih sendiri) yang ternyata masih terjebak juga dengan masa lalunya. Bukan, bukan terjebak nostalgia seperti judul lagu hits baru itu.
Ketika mengetahui bahwa pilihan-pilihan saya itu nyatanya memang belum move on, otomatis saya (merasa) mendapat petunjuk bahwa mungkin sudah saatnya saya move on.
Daripada terjebak masa lalu atau tersesat di masa kini, lebih baik tergelepar oleh masa depan bukan? Ya, setidaknya menurut saya seorang, semata, sehidung, dan sebagainya.
Disini semua berubah.. Walau seribu tanya bicara.. Terbungkam oleh pesona.. Tanpa arah semakin jauh ku bertahan (Homogenic - Seringan Awan)
Kepahlawanan yang saya maksud disini bukan hanya mengenang pahlawan-pahlawan, sejauh mana kau sudah bermanfaat untuk bangsa dan negara agama termasuk sekitarmu, tapi sejauh mana kau menaklukkan keinginan diri sendiri yang (mungkin) tidak begitu penting. Mengalahkan hawa nafsu, mengendalikan emosi, mengontrol kedewasaan dalam tali kendalimu (sebisanya).
Tadi ada sebuah banner yang menghimbau untuk merenungi hari pahlawan dalam "mengheningkan cipta" serentak pada pukul 08.15 WIB. Tentunya saya yang terlambat mengetahuinya karena sedang di jalan dan terlalu sibuk ini itu hanya bisa menggumam dalam hati, sepatah dua patah doa semestinya cukup. Disertai niat bahwa untuk menjadi pahlawan tidak perlu menggunakan cara yang sulit dan muluk-muluk:
cukup berniat dan berusaha dari diri sendiri bahwa kau akan dengan berani mengalahkan sesuatu dan seseorang dua orang yang tak akan menganggapmu penting. Pentingkanlah hanya sesuatu yang akan membawamu ke tingkatan selanjutnya. Selebihnya itu hanyalah distraksi. Jangan terkecoh!
(masih menyenandungkan lagu-lagu Homogenic yang baru diketahui belakangan ini)