MISI ASIK 1, PEJUANG LITERASI
Melalui tulisan ini saya akan menyampaikan opini dan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dalam Misi Asik 1 Pejuang LIterasi (PL). Pertanyaan yang diajukan dalam misi asik pertama adalah mengenal darimana PL, kesan pertama tentang PL, dan harapan saat sudah menjadi bagian dari pasukan literasi
Pertama saya akan bercerita tentang awal mula saya mengenal PL dan kesan pertama saat bergabung di PL. Jadi awal mula saya mengenal PL bisa dibilang tidak sengaja. Suatu hari saya mendapat ajakan untuk mengikuti webinar bertema “Self-healing Writing” yang dikelola oleh tim rumbel menulis pada komunitas yang saya ikuti. Walaupun berada dalam komunitas yang sama, namun saya bukanlah anggota dari rumbel menulis. Saya anggota dari rumbel lain namun juga suka pada dunia tulis menulis. Karena tertarik dengan tema webinar tersebut, maka saya pun turut mendaftar dan mengikuti webinar yang disajikan oleh mba Hessa Kartika selaku pemateri. Mengikuti webinar Mba Hessa, saya memahami bahwa sebuah tulisan juga bisa menjadi self-healing untuk diri sendiri. Disitu saya semakin tertarik lebih jauh lalu mengikuti sosial media mba Hessa yang beliau bagikan dalam profil pemateri. Dari sanalah awal mula saya mengetahui adanya akun media sosial yang diberi nama Markas Pejuang Literasi yang diinisiasi oleh salah satunya mba Hessa. Dan kebetulan saat itu, postingan terakhir di markas pejuang literasi adalah info mengenai pembukaan pendaftaran kelas batalyon angkatan ke-2. Kesan pertama saya membaca “Markas Pejuang Literasi” saja sudah membuat saya tertarik. Eeeh apa lagi ini, “kelas batalyon”? Pikir saya. Unik sekali penamaan yang diberikan. Setelah saya pertimbangkan, akhirnya daftarlah saya menjadi salah satu bagian di Pejuang Literasi. Awalnya saya sempat khawatir, karena beberapa hari setelah saya mendaftar saya tidak mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai tahapan selanjutnya setelah mendaftar. Namun setelah saya menghubungi kontak yang tertera, legalah hati saya mendapatkan kepastian bahwa saya sudah terdaftar dalam kelas batalyon angkatan 2 dan beberapa minggu kemudian tergabung dalam whatsapp grup (WAG) pejuang literasi kelas batalyon angkatan 2. Begitulah kira-kira awal mula saya mengenal Pejuang LIterasi.
Belum habis rasa takjub saya dengan penamaan unik Markas Pejuang LIterasi, Pejuang LIterasi dan Kelas Batalyon, lagi-lagi saya dibuat geleng-geleng kepala dengan sapaan sesama anggota dengan sebutan Komandan. Wah, apalagi ini? Pikir saya. Lalu setelah saya membaca tentang sejarah berdirinya Pejuang LIterasi dan filosofi yang ada di dalamnya barulah saya benar-benar memahami arti dari penamaan-penamaan yang diberikan oleh ketiga perempuan hebat pendiri Pejuang Literasi. Demikianlah kesan pertama saya mengenai pejuang literasi. Harapan saya saat sudah menjadi bagian dari pejuang literasi adalah semoga saya dapat terus bertumbuh, berkarya, dan berbagi bersama teman-teman saya, para komandan di kelas batalyon angkatan 2 sebagaimana slogan dari Pejuang Literasi dan bisa menebar manfaat melalui karya yang kelak kami buat dalam bentuk tulisan. Aamiin,










