Sebulan di Wageningen
Yeay, tulisan pertama di Belanda. Akhirnya nulis juga setelah banyak yang penasaran, hehe…
Hidup sebulan di kota Wageningen ini cukup memberikan gambaran kehidupan dan kebiasaan orang-orang Eropa. So far, saya menyukainya, cuma kurang suara azan aja nih, dan suara langkah-langkah orang-orang ke masjid.
Kota Wageningen adalah salah satu kota kecil di provinsi Gelderland, yang bisa dikelilingi seharian dengan bersepeda. Kotanya mirip-mirip desa gitu, tapi kekotaan karena fasilitas dan apa-apa juga lengkap di sini (kecuali stasiun kereta api), biaya hidup lebih murah. Ada banyak tanah lapang, hutan, gak ada mall, danau, gak macet, sepi dan damai. Sejauh ini gak ada masalah dengan kondisi seperti ini but somehow, kangen juga dengan keramaian Jogja dan Makassar.
Minggu-minggu ini adalah minggu terdingin selama saya tinggal disini (berkisar minus 1-10, feels like minus 16). Kukira winter bakal segara berakhir setelah melihat bunga-bunga pada bermekaran, ternyata tadi pagi saya lihat, bunganya kembali layu. Ini yang paling saya gak tahan sebenarnya, dinginnya membuat kulit saya gatal-gatal, luka, dan merah-merah. Kering dan perih. Hidung juga jadi kering, bleeding dan sulit rasanya bernafas dengan normal, kepala pusing. Winter ini semakin menidaknyamankan karena angin Belanda yang super kenceng, membuat saya oleng. Biasanya kalo dingin-dingin begini, saya akan kebayang bakso, soto, atau indomie kuah lah, tapi itu hanya khayalan belaka, realitanya tiap hari saya makan roti, telur dan keju.
Saya tinggal di daerah Haarweg, jarak 3 Km lebih dari kampus. Housing saya ini mirip container, perkamar gitu, jadi gak ada koridornya. Di dalamnya udah lengkap kamar mandi, kulkas, kompor, dapur dll. Agak mewah memang, ini sebulan harga sewanya 415e (all includes), setara 7jtan (mahal banget kan). Saya lebih memilih kamar dengan private facilities ketimbang shared, soalnya housing disini kan campur cewek cowok, agak risih juga kalo harus shared, jadilah saya dapat kosan yang agak jauh dan mahal.
Jarak tempuh ke kampus Wagenigen Univesity and Research dengan sepeda 12 menit untuk dutch yang dari kecil naik sepeda, sedangkan untuk saya yang terbiasa kemana-mana motoran, bisa jadi 20 menit lebih. Karena kondisi lagi berbadan dua, saya kadang hanya naik sepeda sampe halte 5 menit, atau jalan kaki 10 menit.. trus naik bus (ini juga mahal, sekali jalan 1.3e), saya gak kuat dingin sama anginnya. Naik sepeda dua menit ngos-ngosan. Jadi ingat jaman semester 1 waktu masih pake trans jogja yang haltenya jauh dari kosan, atau jaman SMA yang turun dari angkot harus jalan kaki baru nyampe rumah, atau jaman SD yang pulang balik jalan kaki. Untunglah saya cukup kuat kalo hanya sekedar berjalan kaki di tanah datar, Alhamdulillah.
Naik bus lumayan enak, hangat, cepet, tapi ya itu harus estimasi waktu nunggu bus di halte juga, jadi kadang saya start dari kamar, satu setengah jam sebelum masuk kuliah. Sampe di kampus, saya cari mesin minum untuk menghangatkan diri, saya beli coklat atau teh (harga 0.4-0.6e). Untuk lunch, karena saya gak sempat masak, saya biasa pesen catering sama istri mahasiswa PhD yang usaha catering gitu, atau beli di karadaq, satu-satunya resto turki di lingkungan kampus dan halal. Saya mengeluarkan uang untuk lunch 3.5-4e, lumayan, ini saya bagi dua sekalian untuk dinner. Untuk minum, tinggal bawa botol minun aja, cukup diisi pake air kran. Sebenarnya saya ngerasa ini agak boros, tapi ya mau gimana lagi daripada sakit dan gak nyaman.
Haarweg ini begitu sepi, sesama tetangga, kita gak saling temu karena toilet dan dapur sudah punya masing-masing di kamar. Keluar kamar, langsung liat langit. Sebenarnya saya gak terbiasa hidup dilingkungan seperti ini, biasanya dulu waktu S1, hidupnya penuh kebisingan di kontrakan atau di asrama, yang apa-apa yang saya lakukan pasti ketahuan sama orang lain, ada yang ngerecokin dan lain-lain. Tapi gak papa, hidup kan berputar. Namanya juga perantau perjuangan.
Saya sukanya di sini, semuanya serba mandiri dan mengandalkan kejujuran. Apa-apa self-service, foto kopi, isi bensin, bayar parkir, pas photo, tap kartu kereta/bus, belanja di supermarket, mompa sepeda, menabung di bank, membersihkan meja makan di resto, ya semuanya akan kamu lakukan sendiri dengan bantuan teknologi. Pertama kali datang, saya juga banyak katroknya. Haha...ya ampuun, negeriku begitu jauhkah kita tertinggal?
Enaknya disini, udah pake bilingual, jadi gak bingung masalah bahasa, dan orang-orang pada ramah, suka menolong, dan cuek aja gitu ngelihat muslimah-muslimah berjilbab lebar atau baju kita aneh dan gak match. Malah kadang yang di indo, ada yang sampe lihatin dari atas sampe bawah, di sini mah orang cuek-cuek aja.
Udah dulu ya, kapan-kapan mungkin saya akan nulis tentang perkuliahan di WUR atau system kesehatan di Belanda khususnya pengalaman hamil di Belanda. Semoga ada kesempatan, InsyaAllah, btw, dua minggu lagi exam week soalnya.
2 March 2018|Haarweg 333-Wageningen|RM Hamid









