Review : A Music Network Gigs 12
Setelah tirai proyektor dibuka munculah kedua MC favorit kita Jimi Multhazam dan Buluk (Superglad). Dengan gaya mengigit sebuah wortel kecil, memulai A Music Network Gigs 12 disertakan jokes kreatif dan membagikan CD dan poster secara gratis.
Terlihat seusai JIMBUL (JIMi dan BULuk) membuka acara, sudah menanti Nadafiksi di panggung yang siap menarik perhatian kita sejenak. Dwi Kartika Yudhaswara (gitar/vokal), Paramita Sarasvati pada (pianika/vokal), Ebong Permana (cello/gitar) serta ditambahnya instrumen kecapi menghiasi keindahan stage dengan folk era 60'an. "Menari di udara" menjadi tembang pertama dari mereka. Lirik yang lebih diperhatikan lagi seperti sajak puisi, berhasil dibawakan dengan intonasi suara yang heavy dari Yudhaswara. Jika kalian ingat single "Donna Donna" yang dipopulerkan Joan Baez, pada malam itu Nadafiksi berhasil mearansemen ulang lagu tersebut secara sempurna versi mereka. Terlihat dari mimik muka para penonton dimejanya menikmati penampilan muda-mudi asal Bandung ini saat melantunkan "Bunga Matahari", "Seketika", hingga lagu penutup "Burung".
Sebagai penampil kedua Anwer Sheet band asal Yogyakarta ini membuka cakrawala baru bagi saya dan sebagian besar hadirin, karena menunjukkan kalau alat musik ukulele tidak harus diaransemen menjadi lagu-lagu Jack Johnson tetapi bisa memiliki karakter tersendiri yang lebih menarik. Atas kecintaan kepada ukulele Wafiq Giotama dan Mas Gilang Karebet menciptakan lagu berjudul "Chapter One, Istas Promenade", "The Pleasant Drink Of United Ink", "A Regretful Season", "Kyoto", dan "Stay Leave" yang menjadi songlist untuk performance mereka di AMNGIGS 12. Sehabis "Riverside" seharusnya mereka membawakan single pamungkasnya berjudul "Sadranan" sebagai lagu terakhir, karena masalah teknis pada keyboard akhirnya tak jadi dibawakan.
Saat Jimi dan Buluk membahas soal pempek apa yang terbaik di kota Palembang, munculah Rian Pelor dari ((AUMAN)) mengklarifikasi tentang pembahasan mereka tersebut. Dan tentunya mengarahkan kita dengan band selanjutnya yaitu SEMAKBELUKAR. Dibuka oleh "Sejuknya Matahari" keempat pria berpakaian tradisional Palembang itu memukau penampilanya dengan nada-nada alterna-folk yang khas. Buah pemikiran dari David Hersya (Vokal/Perkusi) menghasilkan genre baru di ranah skena musik Indonesia yaitu Alternatif-folk Melayu. Kuartet asal sungai Musi ini tidak lupa mendengdangkan lagu-lagu di album terbarunya bertajuk "Drohaka", seperti "Be(re)ncana", "Gita Gempala", dan menutup aksi hebatnya dengan "Malasmarah".
Dilanjut oleh duet akustik-folk asal Bandung yang pernah kita ulas yaitu Teman Sebangku. Suara dari Sarita Rahmi Listya (Vokal/Triangle) dibalut petikan gitar Doly Harahap, memulai dengan "Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari" atmosfir keceriaan yang dipancarkan mereka selalu mencerahkan suasana hati. Sebelum menyanyikan sebuah lagu, Sarita selalu bercerita tentang latar belakang lagu yang dia buat seperti "Perempuan Pagi", "Berhenti Sejenak", dan "Menari". Efek Rumah Kaca mungkin menjadi inspirasi besar buat mereka, sehingga menata ulang "Mosi Tidak Percaya" yang dibawakan secara akustik. Dan mengakhiri penampilannya dengan "Di Semesta".
Seorang pianis selalu dikaitkan dengan sosok yang terkesan manis dan romantis. Tapi untuk performa Luky Annash diatas panggung sering melankolis, humoris dan provokatif, tergantung emosi apa yang terkandung dalam lirik lagunya tersebut. Adik dari Eka dan Rully Annash, yang pada malam itu penampilannya sedikit liar dan atraktif saat menyanyikan "Waitress", "Kritik Tanpa Solusi", serta "Disturbia" memecahkan kesunyian bersama bandnya. Menuju klimaks saat "Bajingan Ibukota" dikumandangkan. Tapi nyatanya "Enjoy The Silence" milik Depeche Mode dipilih menjadi penurun tensi dari lagu sebelumnya dan juga penutup dari Luky Annash serta berakhirnya AMNGIGS episode 12.
Text: Robby Wahyudi Photo: Jennifer Bako











