“Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukkan dengan hal–hal besar maka kamu akan disibukkan dengan hal-hal kecil”.(Abdul Wahab Azzam)
begitu menggunggah kata dan rasa ketika setiap hal dari diri kita punya daya liberasi. Dan ketika standarmu kecil hasilnya akan mengecil begitupun sebaliknya. Maka tugas seorang pemimpin adalah menyibukan diri dalam hal-hal besar. Artinya mereka yang sibuk dalam hal-hal besar berarti sudah menempatkan hal-hal kecil sebaik-baiknya perkara yang terselesaikan.
Seiring dengan berjalannya waktu, bersamanya agenda-agenda semakin banyak yang perlu segera di tuntaskan. Semakin banyak lagi, maka semakin deras juga hempasan dan rintangannya. Ibarat pohon, semakin tinggi maka semakin tinggi pula hempasan anginnya. Maka yang perlu disiapkan adalah akar yang lebih kuat mencengkram dan pondasi yang semakin kokoh. Kekokohan menunjukan kesiapan dan masak. Bicara tentang kokoh dan masak, jangan lupakan bahwa pohon yang kuat akan banyak kebermanfaatannya juga menghasilkan buah yang baik pula.itulah pohon, itulah kehidupan dan dakwah dengan segala hambatan dan rintangannya.
Saya harusnya lebih paham bahwa roda dakwah selalu berputar. Para pendahulu percaya yang meninggalkan akan digantikan dengan yang lebih baik, yang mundur akan digantikann yang lebih tangguh, yang lemah akan digantikan yang lebih tangguh. Dan roda kehidupan muslim senantiasa menempatkan keimanan sebagai dasar atas segala upaya dunia. Keimanan yang lekat pada muslim jelas di sebutkan bahwa takmuruna bil ma’ruf wa tanhauna annil munkar.¬ Selalu senantiasa mengikat pada unit-init amal. Unit amal dan roda kehidupan merupakan kesatuan muslim yang jelas, setiap aktivitas kehidupan memproduksi amal, setiap amalan selalu menjadi tujuan kehidupan. Dan amal-amal ini selalu berputar dalam kehidupan.
Tidak bisa kita pisahkan bahwa sesungguhnya aktivitas kita selalu diukur dengan produkktivitas amal. Sebuah syukur ketika senantiasa mengerjakan amal sebab diamnya seorang muslim menunjukan aibnya. Sibuknya dalam urusan-urusan. Menganggur berarti membuka pintu pagar untuk syetan. Irama ini selalu berputar terus menerus. Apabila telah selesai dengan satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain. Siklus yang menyehatkan raga dan amal. Sebab semua berlangsung atas keridhaan Allah.
Perjalanan ini panjang, maka yang diperlukan adalah persiapan ruhiyah fikriyah jasadiyah. Ruh yang selalu terisi dengan sikap yang tak pernah lelah. Sebab lelah berarti memperkecil potensi produktivitas. Jasad yang prima yang siap menyambut seruan. Juga wawasan yang cemerlang. Orientasi terus beramal harus selalu menjadi nyala semangat mengerjakan kerja-kerja besar. Nyalanya harus selalu di jaga dalam sanubari dan relung-relung kita!
Doakan untuk senantiasa menjaga nyalanya!