Balasan untuk Literasi Hati (Sebuah Review)
“Kisah aku dan kamu, masih saja sebatas hampir. Kita hampir bertemu, kita hampir melempar sapa. Kita hampir bertukar senyum, kita hampir berbagi cerita. Kita hampir, menjadi kita.” (Hampir, hal 4).
Pun bagiku, “Kita bukan saja sekadar hampir, tapi apa-apa hanyalah mampir. Aku tak tahu bagimu apa juga berlaku untuk rindu? Bagiku saja, mungkin. Sebab aku tak pantas lagi menyebutmu sebagai sebuah ‘mungkin’.”
Katamu, “Berdoa saja semoga ini semua belum usai, semoga kisah kita belum selesai. Berdoa saja untuk itu, sembari kita memahami bahwa apa yang telah kita lakukan adalah suatu kesalahan. Sembari mencoba mengerti, bahwa pelarian hanya membawa kita bertemu dengan berbagai macam kekecewaan.” (Semoga Belum Usai, hal 16)
“Iya, semogakan saja kemungkinan paling baik untuk kita. Semogakan saja bahwa kebenaran berlaku jika kita menjadi sebuah ‘satu’. Setelah kepergian, lalu menyadari harus kembali beriringan.” sahutku.
Kaupun bercerita saat kita sedang bahagia-bahagianya, namun berakhir duka.
“Padamu, aku sudah terlampau jatuh. Namun padaku, kamu terasa kian menjauh.” (Tak Ada Tempat Pulang, hal 69)
Akupun menyahutnya dengan sebaris prosa, “Padamu, aku kian menikmati perjalanan yang berlabuh. Namun padaku, suaramupun tak bersauh.”
Kau perjelas lagi kronologinya bahwa,
“Kita saling memunggungi, mencoba tak peduli, mempercepat langkah untuk menegaskan pisah, menantang hujan turun agar tak hanya pipi yang basah. (Menantang Hujan, 79)
Akupun bercerita, “Kau dan aku bahkan saling menutupi. Menghindari rindu yang tergeletak sepanjang perjalanan seharian, mengelak bahwa pernah ada kisah bahagia yang ternyata berujung perpisahan.”
Kau tak berhenti mengulang penyesalan.
“Sepanjang perjalananku menujumu, ternyata itu sangat melelahan bagiku. Ada banyak tenaga yang terbuang untuk itu, ada banyak perasaan yang aku abaikan demi menjadi seseorang yang bukan aku.” (Bukan Topeng, hal 81)
Dan akupun berhasil tenggelam dalam kesedihan.
“Lalu di sebuah persimpangan, sedih menghampiriku memohon-mohon diutamakan. Aku bahkan tak mengerti mengapa kebahagiaan kita terenggut hanya dalam kurun waktu sepersekian? Kau yang terengah-engah memahamiku, aku yang terperangah sebab mulai, kehilanganmu.”
“Aku tulus mendoakanmu bahagia, tentu saja dari jauh. Menyebut namamu sesering mungkin saat bermunajat pada Tuhan, hingga bisa jadi membuat para malaikat menjadi jengah dan bosan.” (Dari Jauh, hal 87)
Aku hanya membalasnya dengan,
“Sajadahkupun di malam yang sepertiga terus-menerus menjadi alas sujud, memohon padaNya agar kau dan aku hanya pergi sementara untuk kembali yang bersama.”
Di atas merupakan beberapa kutipan prosa pilihan dari Literasi Hati, yang di sela-selanya aku balas sepotong prosa agar menjadi sebuah cerita.
Membaca buku kak Ichwan sangat menikmati. Diksi, pengulangan rima dan metafora yang sederhana namun indah bisa kalian temukan pada buku ini. Selain itu, membaca buku kak Ichwan sama dengan membaca monologku sehari-hari. Di beberapa bagian, aku berpikir “Kok kayak bercermin ya?” Ehehehe.. Mungkin kita sama-sama gemar menulis prosa yang memang demikian gaya penulisannya. Bukan berarti mirip semirip-miripnya, hanya saja gayanya seperti bertemu kembaran yang beda rupa. Itulah mengapa, aku menikmati pula membalas sepotong prosa-prosanya. :D
Jangan lupa taruh Literasi Hati jadi salah satu buku di rakmu, ya!