Cinta Dalam Semanngkuk Sop Kaki Kambing karya Ifa Avianty. Harga 42.000 diskon 10% #ifaavianty #novelislami #novelkomediromantis #jualbukuhargadiskon #jualbukumurahmeriah #bukuislami #bukubestseller (di Toko Buku Hamdalah)
Rumah itu adalah sebuah tempat dimana sejauh-jauhnya kita pergi, kita akan selalu rindu pulang padanya. Sebab hanya disana, keletihan kita terobati. Ada istri yang penuh cinta menyambut dan menemani kita, saling berbagi dan bercerita. Ada anak-anak yang akan makin maramaikan hidup Kalian, membuat Kalian terus belajar menjadi bijak. Rumah itu adalah sarang yang hangat yang membuat kita ingin selalu berdiam di dalamnya, tetapi kita tetap harus terbang untuk mencari bekal agar semuanya menjadi lebih baik.
----
Novel kesekian dari Mbak Ifa yang aku baca. Aku benar-benar suka gaya bahasa, deskripsi, pilihan katanya, sifat tokohnya, yang pasti jalan ceritanya. Kali ini tentang rumah. Fisik dan non fisik. Sungguh berartinya sebuah rumah dalam kenangan seseorang.
Awal baca, tokoh-tokohnya agak mirip dengan tokoh di ‘Simply Love’, karya Mbak Ifa juga. Wisnu dan Truly, kedua tokoh utama di ‘Home’, adalah sepasang sahabat sejak SMA. Wisnu cenderung pendiam dan Truly agak hiperaktif. Karna terlalu akrab, mereka diangggap pacaran oleh teman-temannya. Kemudian, mengingat mereka sudah sangat dekat, sudah sama-sama bekerja, dan sudah siap untuk menikah, Wisnupun melamar Truly. Bukan hal yang mudah memang, tapi akhirnya mereka beneran nikah. Sampai sini aja kesamaan dengan tokoh Wim dan Keke di ‘Simply Love’, selanjutnya beda masalah.
Wisnu bekerja sebagai Kepala Sekolah Islam Terpadu yang sibuk. Sedangkan Trudy mengelola katering miliknya selain tugas utamanya sebagai ibu dari tiga putri yang cantik-cantik. Pasangan yang tetap romantis walau masih suka ledek-ledekan layaknya sahabat.
Papa Kurt dan Mama Bea adalah ‘pasangan sesepuh’ dalam cerita ini. Mereka orang tua Wisnu. Papa Kurt adalah pensiunan diplomat yang introvert, tegas, kaku, jarang bicara, dan sangat disegani keluarga. Sementara Mama Bea adalah ibu rumah tangga yang anggun, penyayang dan hobi masak. Sifat Papa Kurt yang seperti rezim bagi anak-anaknya membuat fungsi Mama Bea sekaligus sebagai ‘jembatan’ penghubung suami dan anak-anak. Hubungan yang sangat kaku. Ada tembok besar terbangun sejak anak-anak masih kecil hingga sudah menikah semua.
Papa Kurt hendak menjual rumah besar mereka di Menteng (HHAA? MENTENG?? Euungg..). Alasannya karna sudah tidak sanggup mengurus rumah sebesar itu sementara mereka hanya berdua (plus pembantu-pembantu) tanpa anak dan cucu disana. Padahal jelas-jelas Papa Kurt merasa kesepian sekaligus tertekan dengan setiap kenangan yang ada. Mama Bea, sebagai istri penurut, meskipun tidak setuju dengan keputusan Papa Kurt, selalu mendampingi Papa dan mendukung apapun kata Papa.
Truly sendiri sangat menyayangkan kalau rumah itu dijual. Truly sadar arti adanya rumah tersebut bagi keluarga besarnya. Lantas Truly mulai mengumpulkan adik-adik iparnya untuk mau membahas masalah ini. Juga mulai membuka hati Wisnu yang terkesan diam saja. Sampai saat Papa Kurt dan Mama Bea pindah kerumah Wisnu Truly karna rumah Menteng direnovasi, Truly selalu berusaha mendekati dan memahami mertuanya. Ada missing link yang Truly tidak tahu dari keluarga Papa Kurt. Selain memang kakunya Papa yang membuat anak-anak enggan terbuka bahkan sampai memberontak, ada pula cerita tentang Ursula yang jadi penyebab kemarahan Wisnu makin memuncak pada sang Papa. Akhirnya, harus tahu kenyataan sedih tentang Mama Bea yang selama ini ditutup sedemikian rupa.
Seluruh keluarga besar bahu membahu mencari solusi rumah Menteng. Para menantu yang kompak, para om dan tante yang mendukung, dan para sepupu yang peduli. Akan sulit melepas rumah bersama kalau penyebab kekakuan dirumah bisa ditemukan.
----
Suka banget bacaan rame begini. Bahasanya enak. Pilihan katanya nyantai, gampang dimengerti. Perasaan juga ga dibawa senang melulu, ada mellownya juga. Ga lepas dari nasihat-nasihat bijak lewat kalimat yang halus.
Ga bisa nahan ketawa kalau baca sifat Truly yang ceroboh, lucu tapi peduli dan pengertian. Oh iya, Wisnu itu sulung dari tujuh bersaudara, laki semua. Jadi geng mantu yang diketuai Truly, yang menamakan diri bektik (bebek tjantik), bagusnya punya tingkat keributan yang selevel. Benar-benar nyeimbangin para suami yang tingkat kependiamannyapun satu nada. Kalau bektik ngumpul atau ketemu, ramenya kocak, berisik, rusuh.
Anak-anak Wisnu Truly ikut ketularan cerewet mamanya. Amel yang tertua suka banget nyeletuk, muncul tiba-tiba, komentar ini itu. Keluarga dengan anggoya begini bikin rumah lebih hangat, lebih terbuka, lebih ekspresif, selain bikin rumah kayak pasar tentunya. Keren lah cablak-cablakannya. Ajaib. Dapet darimana kata-kata itu mbaaakk? :D
Ada momen ‘silence time’ yang dimiliki Wisnu Truly. Saat dimana Wisnu dan Truly cuma duduk berdua ditemani lagu-lagu (oldies dan romantis pasti) sambil melihat langit. Cuma pelukan, bicara lewat hati. Kadang ada tangis disana, diiringi rangkulan yang makin kuat. Atau ngobrol ringan tentang bulan dan bintang. Quality time yang diperlukan untuk menjaga rasa sayang selalu ada dan ditambah. Waktu yang bikin mupeng beradh pemirsah. Penting nih. Bagaimana kalau kita mulai susun jadwalnya? Eaa.. Ngaco!
Lantas momen harunya. Silahkan simak penjelasan panjang lebar masa kecil Wisnu ditengah keluarganya itu. Positif dan negatifnya. Silahkan amati kisah cinta Papa Kurt dan Mama Bea yang sangat menyentuh. Silahkan senyum saat tahu betapa Wisnu bersaudara sangat memuja sang Papa, dengan cara mereka. Silahkan nikmati saat Papa Kurt yang sebenarnya juga sangat mencintai anak-anaknya, mulai bisa tersenyum lebih lebar, berinteraksi lebih banyak, mulai bisa menunjukkan rasa pedulinya. Yang bikin lega adalah saat Papa Kurt berterimakasih sama Truly disuatu hari. Diiringi hujan dan keheningan setelah keramaian keluarga besar, Papa Kurt tulus menyebut Truly “My.. daughter.. my dream.. come true..”. Beuh.. mengingat Papa sempat menolak Truly, pujian ini membuat Truly merasa menemukan lagi orangtua kandungnya yang sudah tiada :”)
----
Keluarga Papa Mama itu keluarga yang besar banget. Kalau Papa Kurt sih anak tunggal ya, tinggal dengan kakek nenek karna orang tuanya sudah berpulang. Papa Kurt dan Mama Bea sendiri sebenarnya masih keluarga satu buyut. Kalau Mama Bea, anak kedua dari DUA BELAS bersaudara! Eng ing eng.. Cuma satu saudara Mama Bea yang ga punya anak. Yang lainnya berkembang pesat. Hasilnya adalah 75 orang generasi muda termasuk Wisnu bersaudara, dihitung setelah pada menikah. Sebagian besar sepupu Wisnu itu menikah dengan gerombolan bebek sejenis Truly. Makanya saat lebaran pasti rame. Nah, dengan sebanyak ini orang, salut dengan Mbak Ifa yang sudah sangat kreatif ngasih nama. Ga sekedar nyaplok nama anak-anak dan temen-temennya doang. Trus pinter padu-padan nama dan panggilan yang tetep nyambung tapi layak dikatain. Tepok tangannya manaaa? Hahaha
Sesuai kebiasaan, pasti bakal ada keturunan Jerman-Belanda-Jawanya disini. Ya keluarga Papa Kurt Mama Bea itu. Nama Papa Kurt kan Raden Aria Karta Sumintapradja, Kurt adalah panggilan Jermannya. Mama Bea diambil dari Beatrice. Jadi indonya keliatan. Tradisi keluarga juga berbau bangsawan. Mulai dari cara ngomong, nyampur-nyampur Inggrisnya itu kentara banget. Belum lagi tata kramanya, makanannya, termasuk kebiasaan dansa Leander yang wajib bagi tiap anggota. Hey, nyang mane sih ini tari? :( Rada ‘kuno’ tapi asik juga. Elegan. Unik. Klasik di jaman modern. Beda.
Daan lagu! Tiap bab aja ada lirik lagu Inggrisnya. Belum lagi dibahas oleh tokoh-tokohnya, yang pasti suka musik. Ada satu paragraf yang nyebutih deretan musisi dunia. Eumm.. ada 19 nama. Cuma Nat King Cole, Frank Sinatra, sama The Beatles yang lumayan kenal, ga kenal-kenal amat juga sih.. haha. Yang jadi bintangnya sih kayaknya bang Andy William deh. Karna sepanjang sepertiga terakhir lebih buku, dominan beliau ini yang dikeluarin. Ada lagunya yang ‘Can’t Take My Eyes Off You’, ‘Days of Wine and Roses’, ‘Canadian Sunset’, ‘Happy Heart’, sama ‘You’re My Sunshine’. Oke, yang tahu cuma satu -,-
Eh, ada lagu yang lain juga deng. Dari seabrek-abrek penyanyi yang disuguhkan, ada satu lagu yang langsung konek! Ehem..
“Putri impian dulu masih malu-malu / Putri impian dulu anak manja..”
Putri Impian oleh Denny Malik.
Ahahahaha.. beda deuh seleranya.. bedaaaa..
----
Pengen menyebarkan virus ‘suka tulisannya Ifa Avianty’ nih. Ga bosenin bacanya, sumpah. ‘Home’ nyajiin ga cuma hubungan orang tua dan anak, tapi keluarga besar. Ngajak buat lebih kenal sifat orang lain plus tahu sebabnya kenapa mucul sifat seperti itu. Gimana aplikasi ‘Home sweet home’ yang sebenarnya. Gimana berbesar hati mau menerima keadaan yang mungkin ga pernah terfikirkan. Mau dibaca sekali, dua kali, atau berkali-kali tetap dapat ‘gado-gado’nya. Tetap nemu pesan apa yang mau dibagi oleh penulis.