Sejak Kemarin
Sejak kemarin, aku berpikir tak tuntas. Sejak kemarin aku mengangan jauh, namun sayang aku tak paham batasannya. Sejak kemarin aku berharap, pada hal yang bukan ku hendaki. Sejak kemarin, seperti melayang namun bertapak. Sejak kemarin, ku ingin tenang tapi badan ini agak payah. Sejak kemarin, sejak kemarin ternyata emosi ini tak berlajan dengan tenang. Banyak lagi sedari kemarin yang sedang melayang, ya! seperti kataku “melayang namun bertapak.” Rasanya ingin sadar, aku berjalan atas kehendak Tuhan. Tapi kenapa banyak tapi yang muncul seolah tak menerima bahwa nyatanya jalan yang sedang dilajuri memang sedang nyata adanya. Terkadang berbisik “mudah, ingatlah Yang Kuasa” namun bisikan ini sangat lirih. Seolah tak terdengar, karena aku sedang berada dalam kegaduhan. Paham kau arti lirih yang minta didengar dalam kegaduhan? Seperti senja yang datang ditengah kabut tebal, atau mereka dihadirkan dalam ujung gerimis.
Jingganya senja sedang dirindukan, tahu apa artinya? Siapa penciptanya? ya, yang juga menciptakan senyum ketika melihatnya benderang, dan sedikit kecewa saat senja harus berpayung di bawah gerimis yang agak deras. Pemilik mesin waktu.







