That kind of stare... How you describe her... #kreditto #inspiredfrom @paulinaapc love her art... https://www.instagram.com/p/B5ClHQ5FHgU7P1w0-yAKlSn3dXYDdLQ6Vp3nUQ0/?igshid=9xkknsc74w6i
Mas, I called him. We went out after he left me for three months, we met and hung out. Blah blah blah, Males juga cerita pakai bahasa Inggris.
Jadi, begini ceritanya, kemarin (01/08) Saya sama Mas keluar buat ketemu setelah tiga bulan engga ketemu. Kita engga ketemu lama, malah terbilang cukup bentar *pokerface*
Untuk orang yang sudah ditinggal tiga bulan rasanya males banget kan kalau ketemu cuma bentar? Nah waktu akhir-akhir kita mau pisah, maksud Saya waktu mau pulang dia sms Saya, isinya begini:
If I give you smile, Will you stay for a while?
Jujur, rasanya hati Saya jatuh seketika. Saya terkejut sama kejutan kecil ini. Sederhana, taruhlah Saya berlebihan tapi itu berarti buat Saya. Saya jadi engga kepingin pulang, Saya mau sama dia terus sampai nanti sampai besok. Saya mau menggenggam tangannya terus.
Sederhana tapi membuat hati saya luluh, sederhana tapi benar-benar berkesan buat Saya. Saya sendiri engga bakal berpikir kalau hape saya bergetar karena dia sms gitu ke saya, saya awalnya mengira bahwa itu sms Ibu Saya yang menyuruh Saya pulang eh ternyata malah Masnya sms Saya dengan kata-kata seperti itu.
Makasih loh Mas, If I could freeze whole time I'd rather choose to be beside you and didn't go anywhere.
Malang, Hari pertama kepulanganmu. Senja yang tenggelam di balik pelangi di tengah kota.
Kami berjalan di jembatan yang berayun-ayun melintang di atas sungai, kami berjalan di sana setiap pagi untuk menyebrang. Demi menuntut ilmu, mengenali siapa pemimpin negara kami, apa lambang negara kami, apa nama mata uang kami. Yang mana? Rupiah atau Ringgit?
Yang kami tahu, kami bisa mendapat kebutuhan kami dari tetangga sebelah. Kami menggunakan mata uang mereka, kami jarang tahu berapa nilai Rupiah dan dampak inflasi terhadapnya. Entahlah.
Kami juga dirayu untuk pindah saja,
"Jadilah bahagian dari kami" kata mereka
"Pemerintah kami akan selalu perhatikan awak" rayu mereka sekali lagi
Kami gamang, kami berada dalam persimpangan. Menyeberang atau tidak? Melepaskan bara api yang kami genggam atau tidak? Jaminan kesejahteraan berada di depan mata, lantas apalagi yang menghalangi kami untuk tetap berada di sini? Di bawah naungan pemerintah tirani yang tak peduli nasib kami.
Surat Buat Bapak Presiden, dengarkan kami yang berada di penghujung negeri.
Saya tak pernah peduli lagi dengan hinaan-hinaan yang dilontarkan pada Saya. Saya bahagia dengan raihan prestasi Saya, Sarjana S3 cumlaude dengan IPK sempurna, alumnus pertukaran pelajar ke Jerman, pemegang jabatan mentereng di kabinet Republik antah berantah ini, dan pemegang saham utama salah satu perusahaan pabrikan garmen terbesar di negara yang Saya sebut tanah air.
Saya memang anak seorang lonte, tetapi Saya bukan anak haram atau anak yang mereka sebut pembawa sial.
***
Esok paginya, gadis yang permintaan tolongnya tidak digubris oleh orang-orang yang sempat lewat di daerah itu terbangun di rebahan beralaskan rumput. Tubuhnya dipenuhi bau alcohol dan bau-bau yang tak sedap lainnya. Gadis itu hanya bisa menangis dalam diam. Dia berpikir Tuhan terlalu kejam dengan membiarkannya tak kasat mata ketika meminta pertolongan. Tuhan terlalu kejam karena telah membuatnya tak memiliki masa depan lagi. Gadis itu bertekad untuk tidak pulang ke rumah tetapi ke salah satu tempat hiburan bagi mereka yang haus akan belaian.
***
Sepuluh tahun sudah dilewati oleh Arini, Ibu Saya, di rumah bordil itu. Pelanggan datang dan pergi, ada yang menggunakan jasanya dengan baik ada juga yang menggunakan jasanya dengan cara menyiksanya dahulu. Di antara para pelanggannya, Ibu saya lebih suka mendapatkan suami-suami kesepian daripada pejabat eselon yang datang ke sana. Kadang Ibu saya juga dipanggil untuk menemani salah seorang kepala daerah yang sedang dinas di luar kota dan jauh dari istrinya. Sejak sepuluh tahun setelah kejadian memuakkan itu, Ibu saya tak pernah lagi bertatap muka dengan kedua orang tuanya, kakek dan nenek Saya.
Ada satu cerita yang membuat saya mengagumi Ibu saya. Suatu saat Ia ingin kembali ke rumah dan bersujud di kaki kedua orang tuanya, Ia benar-benar ingin membuka lembaran yang baru lagi. Ibu saya pergi tanpa pamit dari pelanggannya waktu itu. Ia kabur dan secepat mungkin kembali ke rumah tempat Ia dibesarkan. Dia mengetuk pintu rumahnya “Assalamualaikum”.
Ibunya, nenek Saya, dengan wajah kuyu dan tampak kurang tidur menyembul di balik pintu dan membukakan pintu bagi anaknya yang sudah sepuluh tahun menghilang tak memberi kabar. Mereka berdua berpelukan.
“Nak, apa yang terjadi denganmu? Kamu tidak waktu itu hingga sepuluh tahun ini. Lalu lihat penampilan kamu sekarang, mengenakan pakaian yang memperlihatkan aurat dimana-mana” Ibu saya memeluk nenek lagi.
“Saya, saya sudah bukan anak Ibu yang suci lagi. Saya sudah terjerembab dalam jalan yang dilaknat dan Saya sudah terlalu lama berkubang dalam dosa dan kumpulan setan.”
Ibu saya masuk ke dalam rumah dan menemui kedua orang tuanya, bersujud serta menangis meronta-ronta. Nenek saya menangis begitu hebatnya, sedangkan kakek saya tidak bisa memaklumi keadaan anaknya malah mengusir Ibu saya pergi dari rumah.
Begitulah, Ibu saya sudah tidak menjadi anak kakek dan nenek saya. Lagi-lagi Tuhan berlaku kejam padanya, orang tuanya menolak kehadirannya lagi di rumah dan membiarkan ibu saya berkubang bersama setan-setan ciptaanNya.
***
Ibu tak pernah merasa sebahagia ketika Ia bertemu dengan orang yang saya anggap ayah saya atau mungkin ayah saya secara biologis. Iwan namanya, dia pencopet di daerah pasar dekat lokalisasi Ibu bekerja. Mulanya mereka bertatapan mata saja berkali-kali. Ketika Iwan menggerayangi saku belakang korbannya dan kebetulan Ibu mengetahui hal itu, Iwan hanya memberinya kode untuk diam kemudian Iwan tersenyum.
Biasanya Iwan dan Ibu minum-minum di sebuah kafe yang lebih keren ketika Iwan berhasil menjarah dompet yang isinya lumayan tebal. Setelah minum-minum mereka kemudian memadu kasih, murni karena cinta bukan karena hal lain yang biasanya didapatkan Ibu dari pelanggannya. Iwan, bagi Ibu adalah sosok penerang dalam gelapnya. Meskipun secara harfiah, Iwan dan Ibu sama-sama berasal dari lubang hitam dan berlumuran dosa.
Pernah waktu itu, Iwan dikejar-kejar aparat karena ketahuan ketika melakukan aksi kriminalnya. Ibu berusaha kuat melindunginya, Ibu mengajak Iwan bersembunyi di sebuah bilik yang sedang digunakan Ia dan pelanggannya. Ibu memohon pada pelanggannya untuk membiarkan Iwan bersembunyi, sedangkan Iwan harus menyaksikan kekasihnya diperlakukan sedemikian rupa oleh orang lain. Baik ibu maupun Iwan mengalami guncangan batin yang begitu hebat malam itu.
“Mari kita keluar dari kehidupan hitam ini, Arini” ujar Iwan setelah kejadian tidak mengenakkan malam sebelumnya. Ibu saya tersentak sekaligus terharu.
“Bagaimana caranya? Apakah seharusnya kita menikah dan tinggal di tempat lain yang lebih layak?” tanya Ibu saya retorik.
Iwan mengangguk dan menggenggam jemari mungil Ibu saya. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk hidup dalam kategori yang lebih layak dan saat itulah mereka benar-benar merasa bahagia.
***
Sayangnya, tak ada kebahagiaan yang bertahan begitu lama. Begitu pula kebahagiaan semu yang diberikan Iwan pada Ibu. Pada dasarnya, manusia yang sudah terjerembab dalam lubang hitam akan susah sekali keluar dari sana karena gravitasi yang teramat kuat. Metafora itu terjadi pada Ibu dan Iwan. Hidup dalam ketegori yang lebih layak dan lebih halal tak membuat mereka berlimpahan dalam urusan finansial apalagi Ibu harus mempersiapkan kelahiran saya.
Iwan memutuskan untuk kembali melakukan pekerjaan haram lamanya, tapi itu tidak cukup. Parahnya, Iwan berkenalan dengan manusia-manusia yang semakin menyesatkan jalan hidupnya. Iwan atau lebih pantas disebut sebagai ayah saya itu menjadi gemar berjudi. Semula Ia bekerja untuk Ibu dan saya kemudian menjadi lebih suka menghamburkan uang demi peruntungan yang tidak jelas kemana arahnya. Tak berhenti dari situ, Iwan bahkan tega meninggalkan Ibu saya untuk jalang lain di luar sana yang Ia bilang lebih segar dan montok.
Kemudian lahirlah Saya di jalan gelap Ibu yang ditinggal lenteranya.
***
“Anak lonte, anak lonte! Ibunya lonte” entah berapa kali hinaan itu saya terima setiap kali saya pindah sekolah. Sejak TK hingga universitas. Awalnya saya risih, saya malu, saya benci terhadap Ibu saya. Kenapa ibu saya tidak mencari pekerjaan yang lebih layak saja? Kenapa harus pekerjaan menjijikkan seperti itu? Kenapa juga saya harus dilahirkan dari rahimnya? Saya juga berpikir Tuhan terlalu kejam mengirim saya ke dunia lewat seorang lonte.
“Kenapa Ibu tetap melakoni pekerjaan hina itu, Bu? Masih banyak pekerjaan lain yang bisa Ibu lakukan. Kenapa Ibu gak mau peduli sama perasaan Hani, Bu? Kenapa?” Saya berteriak-teriak di muka Ibu saya ketika saya sudah terlalu penat dengan segala hinaan lonte yang ditujukan pada Ibu saya waktu itu. Ibu saya hanya bisa menangis dan menangis.
Esoknya hingga beberapa bulan berikutnya Ibu tidak lagi melakoni pekerjaan yang saya anggap najis dan hina itu. Ibu menjadi buruh cuci baju tetangga-tetangga, sayangnya ketika Ibu melakoni pekerjaan yang lumayan halal itu biaya sekolah saya tertunggak banyak. Saya kemudian sadar, itu saja tak cukup. Lalu saya mulai membantu Ibu bekerja, Saya menjadi loper koran pagi hari sebelum berangkat sekolah, saya menjadi tukang parkir di sebuah pusat perbelanjaan, saya membantu bersih-bersih di beberapa tempat. Memang biaya sekolah saya akhirnya bisa dilunasi tetapi nilai saya menjadi merosot tajam.
Akhirnya saya mengerti, mengapa Ibu memilih jalan ini. Saya memahami maksud apa yang ingin disampaikan Tuhan kepada Saya atas penciptaan Saya di tengah keluarga ini. Saya lentera Ibu, Saya menjadi harapan Ibu untuk menebus dosa masa lalunya. Kemudian Saya tak lagi mempedulikan hinaan orang-orang mengenai Ibu saya, mereka hanya tak ikut merasakan kehidupan yang kami jalani.
***
Ketika usia Ibu saya tak lagi muda, Saya sudah menyelesaikan pendidikan doktoral Saya. Saya mendapatkan suami dari kalangan orang baik-baik dan saya memiliki keluarga yang bahagia. Sayangnya, semua kebahagiaan dan kesuksesan yang saya raih karena perjuangan Ibu itu tak bisa saya nikmati bersama dengan beliau. Ibu terlalu cepat dipanggil Tuhan ketika Saya ingin membalas semua perjuangannya dan budi baiknya kepada Saya. Ibu saya memang seorang lonte pada masanya, tetapi sesungguhnya Ibu saya adalah wanita suci yang paling kuat dan paling berjasa dalam hidup Saya. Meskipun saya hanya anak seorang lonte, saya bisa membuktikan bahwa saya bukan manusia yang patut dihina terlebih Ibu saya, pahlawan saya.