Kisah ini sejatinya sudah dimulai sejak aku masih di semester 2. Waktu itu, aku sedikit bebal mendengar perdebatan dua kakak tingkat satu atapku. Mereka berdebat cukup panas, hampir-hampir aku tak mengenali mereka. Karena yang kutahu, sosok mereka itu lembut, anggun, teduh. Tapi samasekali berbeda ketika mereka sedang adu pendapat. Tentang apa mereka berdebat? SKRIPSI. Yang jadi sahabatku hari ini.
“Kenapa kamu ambil topik itu? Di mana nilai kebermanfaatannya? Topikmu terlalu individualis, kalaupun hasilnya oke, manfaatnya cuma kamu yang ambil. Masyarakat tidak menerima apapun.”
Ini kalimat terpanas dari salah satu diantara mereka. Seketika otakku ikut memanas. Aku lupakan perdebatan mereka, dan berpikir. Benar juga ya. Sesuatu yang kita usahakan memang sangat layak dan sangat harus berdampak positif untuk orang lain. Apalagi, aku menyandang kata “maha” sekarang, yang hidup dibiayai negara.
Berlalulah kejadian itu, dan sampailah aku di semester 6 di saat satu persatu temanku memulai seminar proposal. Aku menghargai setiap alasan dibalik kecepatan teman-teman mengejar toga. Aku sendiri masih belum menyentuh sedikitpun. Tiap ditanya orang alasannya klise, “Aku sedang ada dalam project PKM yang sangat menyita waktu”. Padahal alasan sebenarnya adalah..
“Aku belum menemukan topik yang istimewa untuk benar-benar aku santap dengan lahap.Yang membawa nilai manfaat juga nilai dakwah. Aku tak sekedar ingin lulus dengan penelitian ala kadarnya. Aku malas menjadi sama dengan kebanyakan. I dare to be different. Meskipun kadang gagal. No problem.”
Yang dicetak tebal adalah standarku.
Biar saja orang menilai aku terlalu santai. Ada yang ikut menyemangati, ada yang menanyai terus-menerus.
And loudly I said “Everyone has their own timeline! Just enjoy your amazing way”
Yang jelas aku tidak leha-leha. Meski kuakui banyak tidurnya. And finally, awal semester 8, aku baru benar-benar menemukan topik yang sesuai dengan impian. Rasanya seperti menemukan jodoh setelah menanti lama (?) Klise. Hahaha
Topiknya tak jauh-jauh dari project PKM kemarin. Masih seputar santri, pesantren, dan remaja. Di sini aku merasakan kasih sayang Allah yang sungguh merasuk sampai nadi. Di saat aku terlihat “terlambat”, tapi aku dibimbing oleh dosen yang juga jadi pembimbing PKM ku dan dosen waliku. Itu artinya aku tak perlu beradaptasi dan lebih bisa santai dalam berkomunikasi dengan beliau. Sejujurnya aku pernah putus asa dan mulai mengajukan judul yang amat sangat biasa, karena aku sudah sangat ingin segera lulus (waktu itu). Benar saja, dosenku menolak judul itu. Alasannya apa?
“Saya ingin anak bimbing saya mengerjakan skripsi bukan yang sekedar mengejar ingin lulus. Saya ingin skripsi kamu ini justru bisa jadi modal besar dan nilai tambah nanti ketika masuk dunia kerja. Atau saya berharap skripsi ini bisa dipublikasikan ke seminar internasional. Saya berpikir jauh ke sana. Tapi kalau kamu mau segera lulus ya saya bisa-bisa saja menerima judul itu”
“Kalau mereka (dua temanku yang juga sedang bimbingan) berani membuat skripsi yang hebat, kamu juga harus menghasilkan karya yang hebat, Tan.”
Kalimat terakhir dari Pak Dosen menyihirku. Akhirnya aku mengajukan judul lain yang sejujurnya hanya terlintas barangkali sedetik dalam otakku. And he was very interest with it, acceptance detected. It’s okay! Arah kemudi harus diputar 180 derajat.
Meskipun dengan judul baru itu, aku harus keliling 4 kota untuk mencari pesantren yang benar-benar sesuai kriteriaku dan dosenku.
Ya, tulisan ini aku beri judul TERTANTANG. Tapi di mana letak tantangannya?
Di sini! Biar aku ceritakan.
Aku mengambil variabel tentang dua jenis puasa yang sering diterapkan di pesantren. Subjeknya santriwati remaja. Variabel puasanya, yang satu puasa sunnah yang memang berdalil shohih. Bahkan merupakan puasa yang paling dicintai Allah. Sedangkan satunya, adalah puasa yang sudah sangat mendarah daging di kalangan santri. Tapi sayang, puasa ini bukan termasuk dalam ajaran Islam. (Are you ever heard about bid’ah? IYKWIM)
Letak tantangannya adalah, bagaimana aku harus menggali dan menemukan data dan fakta-fakta dengan sebaik-baiknya. Tanpa rekayasa. Sampai aku mendapatkan hasil penelitian yang berharga bak permata. Selain itu belum ada judul penelitian seperti ini sebelumnya, maka aku tertantang untuk benar-benar menyusun skripsi ini sebaik-baiknya.
Aku sangat berharap hasil penelitianku nantinya akan menghasilkan data yang membuat semua orang sadar bahwa puasa yang Rasulullah perintahkan memang berdampak baik pada kesehatan manusia, sedangkan yang tidak Rasulullah perintahkan have no impact/maybe have a bad effect buat kesehatan manusia, terkhusus remaja putri.
Sehingga, sadar atau tidak sadar penelitian ini bisa jadi dakwahku. When it’s published, semua orang akan mengerti dan mulai meninggalkan puasa-puasa yang bukan sunnah Rasulullah itu. Dan beralih pada puasa-puasa yang memang shohih ada dalil dan dicontohkan Rasulullah.
Soal jadi nilai tambah di dunia kerja atau dapat dipublikasikan di seminar internasional, itu bonus.
Yang jelas ini bukan untuk memecah belah. Tetapi aku merasa berkewajiban untuk menyampaikan sesuatu yang aku yakini benar.
Maka, hari ini dan seterusnya aku benar-benar tertantang! Aku berharap dan bergantung pada Allah, karena aku yakin seratus persen yakin, Allah yang akan membukakan jalan itu. Memudahkan langkah dan itikad baikku untuk menolong agamaNya. InsyaAllah (aku mohon ikut aminkan ya?)
Akhirnya aku harus sadar, segala peluh dalam usahaku menyelesaikan skripsi ini tidak akan bermakna jika tidak dibersamai dengan kepasrahan sampai titik pasrah terendah yang mampu aku persembahkan sebagai seorang hamba untuk Tuhannya.
Bukankah setiap kegiatan akan lebih berharga jika memiliki nilai ibadah?
Inilah kisah skripsi dari si miskin ilmu.
Semarang, di penghujung Bulan Maret. Lima belas menit menuju April.