Pagi ini kami berangkat menuju sebuah titik di pusat kota; tempat ratusan bahkan mungkin ribuan orang berkumpul merayakan sebuah bulan istimewa. Bulan Mei adalah bulan agung, terlebih bagi masyarakat pekerja dan mahasiswa Indonesia. Kehadiran Mei ditandai dengan parade besar di awal dan peringatan atas sebuah tragedi tahun 1998.
Aku dan dia adalah segalanya; pacar, adik, kakak dan musuh yang bisa bertukar peran kapanpun. Pagi ini kami ingin turut berpesta, meleburkan diri diantara kerumunan orang. Belajar berbagi hati dari mereka yang selalu berbagi semangat. Belajar berbagi kasih sayang dari mereka yang tak lelah berpanas-panasan demi menghidupi keluarga.
Sekilas kulihat keraguan dari matanya. Dia mengenggam tanganku begitu erat, rasa takut jelas terasa. Ya, ini memang bukan tempat yang ramah untuk seorang gadis kecil. Bisa kupahami kebingungannya mengapa kerumunan orang yang berteriak marah kusebut pesta. Kenapa tidak ada suasana nyaman disini? Kenapa banyak polisi? dan masih banyak lagi pertanyaan di benaknya.
Kugenggam tangannya memasuki pesta. Riuh rendah orasi terdengar dari pengeras suara. Ketua aksi berteriak lantang dari atas mobil komando. Pekik kemarahan terdengar dimana-mana. Jurnalis dan fotografer berebut mengabadikan momen. Sebuah pesta rakyat dalam arti sebenarnya.
Kami menolak untuk diam. Kami dengarkan betul apa yang mereka utarakan. Kami amati benar setiap momen. Tiadalah hari ini menjadi istimewa jika semuanya biasa-biasa saja. Ah, dia mulai merasa nyaman. Gadis kecilku mulai mengambil gambar dan video lewat kamera yang dibawanya. Wajah para ibu yang pantang menjadi lemah diantara kaum adam agaknya memberikan dia keberanian untuk menikmati pesta. Begitulah maksudku sayang, pesta ini bukan pesta biasa.
Keadaan mulai memanas. Tak lama lagi ribuan orang berdatangan dari Cimahi untuk berpesta. Kuajak dia pergi lebih awal sembari meminta maaf untuk kencan yang sedikit menegangkan ini. Kalian suka lagunya Tulus? Kami pulang sambil menyanyikan Internasionale.
Abay