Ketika dinding-dinding membungkammu, dan peluru perkasa berlarian menghujatmu. Darah segar merintih membuatmu tersungkur pada lekuk jemari yang berduri. Langit mengutuk para jemari yang berduri. Sumpah serapah bernyanyi lihai di cakrawala. Palestina, dedaunan itu mencoba tersenyum menghiburmu tetapi di bibirmu yang padam hanya tersungkur pedih yang mengiris sayap-sayap senyummu.
Langit berduka memayungi luka yang bersiramkan bom dan nuklir. Raungan dan isakanmu terdengar jelas di gendang telingaku. Ketika darah segar menghujanimu, namun kamu tetap berdiri tegak dengan melantangkan suara yang menggelegar hingga pelosok semesta alam, “Allahuakbar!! Allahuakbar!!”.
Remaja Palestina begitu berani dan tangguh melawan tentara Israel. Ya, rasanya aku ingin menangis akan tetapi aku tak mampu mengeluarkan air mata itu. Aku memang selalu mendengar dan menyimak setiap rencana dan setiap yang dibicarakan oleh mereka.
“Hai Fatih apa rencana kita hari ini? Apakah kita hanya bisa diam saja, sedangkan serangan Israel sudah membunuh warga sipil lebih dari 600 jiwa,” tanya Rasyid teman seperjuangan Fatih.
“Tunggu dulu Rasyid, kita tidak boleh gegabah. Kita lihat dulu bagaimana HAMAS bertindak.” Haidar menegaskan
“Tapi sampai kapan, Haidar? Aku sudah muak dan rasanya tangan ini ingin sekali mendorong tentara itu, kejam dan tidak punya perasaan! Kalian lihat, anak-anak kecil tak berdosa menjadi tawanan si brutal itu, dan para wanita pun menjadi korban. Aah, terkutuk. Apa si brutal itu tidak takut azab-Nya yang pedih?”
“Cukup Rasyid! Aku paham apa yang kamu rasakan, tapi kita tidak boleh gegabah dan harus merancang rencana yang strategis. Hidup mulia atau mati syahid, itu pilihan kita. Kita jangan memutuskan sesuatu ketika sedang emosi. Lebih baik kita lanjutkan baca Al- Quran, kita baca dan hafalkan lagi surat Al Anfal, agar semakin bertambah kekuatan dan keimanan kita, wahai saudaraku!”
Di saat para tentara Israel menggunakan tank, tembakan dan alat-alat yang mampu membuat jiwa seseorang melayang begitu saja, sedangkan anak-anak Palestina, remaja Palestina hanya menggunakan batu. Ya, kebanyakan mereka hanya menggunakan batu-batu kecil. Mereka sebut intifadah. Kamu tahu? Yang lebih membuatku merinding ialah ketika mereka sebelum berperang, mereka menghafal dan terus mengingat hafalannya. Setiap hari mereka selalu membaca al quran, tak hentinya, mereka jadikan al quran sebagai kebutuhan sehari-hari layaknya makanan dan minuman. Jika mereka tidak membaca al quran dalam satu hari itu, maka mereka akan merasa lemas dan tak berdaya.
Hari ini serangan Israel tidak sebrutal kemarin. Tiga lelaki tangguh berjalan tegak menuju Al Aqsa. Mereka begitu yakin bisa memasuki masjid itu, padahal masjid itu telah dijaga oleh tentara Israel.
“Mau apa kalian bertiga ke sini?” tanya salah satu tentara Israel.
“Pertanyaan bodoh! Tentu saja kami ingin shalat subuh di masjid ini,” sahut Rasyid dengan tatapan tajam.
“Tidak bisa! Kalian tidak bisa memasuki tempat ini, kalian harus bayar! Hahaha.” Pihak Israel memang licik, selalu menginginkan warga Palestina membayar setiap kali mereka ke masjid Al Aqsa. Uang itu pasti nantinya untuk kebutuhan militer mereka.
“Licik! Saya tidak akan pernah mau membayar! Semoga Allah membalas kelicikanmu,” sahut Fatih.
“Sialan! Berani kau! Sini kau!” tentara Israel menarik Fatih dengan kasar, memukuli Fatih dan memaksa Fatih minum bensin.
“Rasakan ini! Minum, ayo minum bensin ini supaya kau mampus. Haha.” Tentara itu bengis sekali. Rasanya aku ingin membantu, tapi aku hanya bisa menyaksikan saja.
“Buuurr. Semoga Allah membalas semua kebiadaban kalian, wahai Yahudi!” Fatih menyemburkan bensin yang berada di mulutnya.
Setelah kejadian itu salah satu tentara Israel menjatuhkan rudal tepat di rumah Fatih, rumah Fatih tidak jauh dari masjid Al Aqsa. Tetapi Fatih tak gentar, Fatih masih terus berjuang. Beruntungnya, Allah masih menyelamatkan rumah dan keluarganya.
Aku memang hanya benda mati. Benda yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku bisa merasakan betapa kejam dan jahatnya orang-orang Yahudi itu. Andai saja aku bisa membuat para Yahudi itu tersungkur.
Hai kamu! Bawa terus diriku ini ke medang perangmu, lempar aku hingga manusia itu terluka dan berdarah. Aku memang hanya batu, benda mati. Tapi ajak aku, libatkan aku ketika kamu dan temanmu berperang.
Ketika malam-malam panjang terdengar begitu keras. Langit membentangkan kutukan yang menusuk rahang kegelisahan. Lalu angin malam membawa serpihan-serpihan luka yang menempel di dinding hatimu. Dizikir langit menghujam. Ribuan mata menjadi saksi nyata. Ratusan pilu tergores di rongga jasadmu. Namun jasadmu mewangi di segala penjuru, di bumi dan langit. Semua kisah tentangmu kan tertulis abadi di tinta emas-Nya. Kan terlukis di kanvas-Nya yang putih.