Untuk apa dan siapa?
Setelah selesai melaksanakan tantangan 30 hari secara urut dan tuntas ternyata ada hadiah yang menanti di depan tanpa kita ketahui sebelumnya.
Sajian istimewa untuk kepompong yang mendapat badge istimewa. Lebaran kepompong ini menghadirkan Rektor Institut Ibu Profesional yang siap mendengar perjalanan hingga refleksi akhir saat kita melaksanakan puasa 4 pekan dan tantangan 30 hari.
Rektor sempat memberikan pesan pembuka dan semangat. Ada satu hal yang ku ingat dan mengena dihati. "Apa yang sebenarnya kita kejar? Untuk apa kita melaksanakan puasa dan tantangan ini?" Pertanyaan ini seolah membuatku berpikir kalau bukan karena komitmen belajar yang kuat, tidak mungkin konsistensi akan terjaga sejauh ini. Dan dari proses satu bulan ini pasti tidak hanya berdampak pada diri ibu saja, melainkan anak dan suami juga. Setidaknya kita pernah berhasil menantang diri selama 30 hari tanpa jeda dan berpuasa dari hal buruk yang menjadi kendala proses latihan kita.
Aku juga merasa sayang jika cukup berhenti sampai di sini, sehingga aku memutuskan untuk melanjutkan puasaku. Terutama puasa scrolling dan menghapus apk toktok. Sampai hari di mana aku menuliskan aliran rasaku ini, setidaknya durasi layar handphoneku sudah turun 6% dibandingkan minggu lalu. Hal ini menunjukkan aku masih konsisten dan aware dengan apa yang aku butuhkan. Tapi beneran, aku ingat sekali kalau scrolling tanpa tujuan dengan durasi yang cukup lama itu melelahkan pikiran dan mata. Badan rasanya ngefreeze wkwk.
Meskipun di ruang zoom kali ini sinyal kurang bersahabat dan sempat terlempar keluar beberapa kali. Aku masih berusaha menyimak momen langka ini. Mendengarkan perjuangan metamorfa lain di tengah tantangannya 30 hari. Ada yang harus merawat papanya cuci darah sampai berkali-kali, ada yang rela liburan tetap bawa laptop sampai teringat diri ini juga sempat bawa panci listrik saat ke luar kota :D karena memang tantangan 30 hariku adalah memasak.











