Xi’an, A Muslim-Friendly City in China
Assalamu’alaikum semuanya!
Musim panas tahun ini aku berkesempatan ikut kegiatan pertukaran pemuda ke Xi’an, China (yang awal-awalnya ku tak tahu kota ini dimana). Alhamdulillah, atas izin Allah, aku gak hanya ikut kegiatan di projectku, tapi aku bisa eksplor sedikit banyak tentang Islam di kota ini.
Xi’an adalah kota yang terletak di barat daya China, sebuah kota tua yang punya banyak banget sejarah. Kota ini juga dulunya sempat jadi Ibukotanya China, lho. Makanya ga heran, kalau kota ini termasuk kota besar dan ramai sekali. Disisi lain, Xi’an punya banyak sejarah tentang Islam. Menurut sejarah juga, XI’an jadi jalur pertama Islam masuk ke China! Jadi Xi’an itu titik awal jalur sutera yang terkenal itu. Nah, di Xi’an ini kita gampang liat muslim dimana-mana, jadi ga berasa asing-asing banget lah aku selama di China. Malah berasa aman, karena banyak saudara muslimnya. Anyway, Muslim di Xi’an kebanyakan dari suku Hui dan mereka tinggal di satu area yang namanya Muslim Quarter atau Hui Muslim Street.
Di minggu pertama di Xi’an, aku pergi ke Muslim Street dan ke Xi’an Great Mosque. Sebelum sampai di Xi’an, aku udah banyak searching di internet tentang dua tempat ini dan aku bener-bener excited dan gak sabar untuk segera sampai di China. Alhamdulillah, perjalananku ke China dilindungin Allah hingga aku bisa lihat dua tempat ini dengan mataku sendiri. Hehe. Kata temenku yang warga lokal, Muslim Street ini sebenernya tempatnya touristy banget. Lebih banyak turis yang pergi kesana daripada orang lokal.
Muslim Street / Hui Muslim Quarter
Muslim Street letaknya di pusat kota, dekat dengan Drum Tower dan Bell Tower. Untuk ke Muslim Street bisa naik Subway, Bus, atau Taksi. Muslim Street hanya sekitar 20 menit dari hostelku kalau naik Subway, makanya aku bisa sering main-main kesini. Apalagi kalau lagi bosen dan gabut, hehe.
Di Muslim Street ada apa aja sih?
Orang jualan! Hahahaha. Beneran, Muslim Street itu isinya toko semua. Dari restaurant, kafe, toko jilbab, toko baju, toko aksesoris dan souvenir, toko lukisan, toko henna dan tattoo ala timur tengah, sampai toko foot spa yang ada ikan-ikannya itu! Makanya ini tempat touristy sekali. Tapi, di tempat ini kita bisa ketemu sama penduduk lokal yang Muslim. Rata-rata semua toko disini milik penduduk muslim, lho. Gak hanya muslim lokal, tapi ada juga muslim pendatang. Jangan kaget kalau lihat banyak cowo-cowo muslim cakep pake peci lagi jualan. Berasa lihat oppa-oppa, tapi berhubung ini di China, jadi koko-koko aja. :P Juga kalau lihat cewe-cewe cipit berhijab dan stylish berseliweran. Aku jadi minder, Ci. Hahaha. Muslim disini ramah-ramah, apalagi sama pendatang sepertiku. Sering banget disapa, “Salam Alaykum,” terus ditanya darimana, ngapain disini, dan banyak lagi. Aku selalu dikira dari Malaysia sehingga besok-besok ketika ditanyain lagi aku udah harus tau gimana caranya bilang Indonesia dalam bahasa China, yaitu ‘Yin du ni xi ya’, atau ‘Yin Ni’.
Btw, semua makanan di Muslim Street ini halal! All Muslim can eat! Walaupun ada beberapa tempat yang harganya agak mahal. Tapi, kalau untuk makanan halal sih ga masalah lah ya. Yang penting halal, sis! Beberapa makanan yang bisa dicobain disini adalah; rou jia mou, semacam burger tradisionalnya China; pou mou, makanan khas Xi’an yaitu sup beef dan roti (enak!); biang-biang mian, mie yang ukurannya gede kaya udon; dan banyak lagi sih sebenernya, hahaha. Xi’an ini surga kuliner soalnya. Jadi kalau lagi di Xi’an dan pengen coba makanan khas Xi’an tapi pengen yang versi halal, ke Muslim Street aja! Atau bisa ke restoran lain yang ada bacaan halal di depan restorannya.
Di Muslim Street juga ada tempat khusus untuk penyembelihan hewan untuk dijual ke pemilik restoran halal yang ada di Xi’an. Biasanya sapi atau kambing. Untuk ayam sendiri, jarang sekali ada yang halal. Jadi, selama disana, aku dan teman-teman muslimku yang lain cuma bisa makan daging sapi atau kambing, itupun yang disediakan di restoran muslim.
Kaget ga kalau aku bilang kita harus bayar untuk masuk ke Masjid ini? Kalau ada konter jualan tiket?
Hahaha. Aku juga kaget pertama kali aku kesana. Ada juga beberapa turis dari Indonesia yang protes kenapa harus bayar untuk masuk ke masjid. XD Ternyata, yang harus bayar itu yang non-muslim. Bayarnya 25 Yuan atau Rp 50.000 untuk busy season, dan 15 Yuan atau Rp 30.000 untuk sluck season. Yang muslim gimana dong? Yaudah masuk aja, tapi kalau pertama kali datang, ucapin satu kalimat dalam bahasa arab ke yang jaga pintu gerbang masjidnya. Either ‘Assalamu’alaykum,’ or ‘Bismillah,’. Ngaji juga boleh kalau mau. Hahaha.
Arsitektur Masjidnya kental banget dengan ornamen-ornamen khas China. Kadang ga percaya kalau ini masjid, tapi beneran masjid. Ketika masuk ke dalam pada waktu itu, banyak bapak-bapak muslim, beberapa anak muda, dan ibu-ibu muslimah berjalan-jalan di area masjid. Banyak spot-spot bagus dan menarik di masjid ini. Kita juga bisa lihat tugu/monument bertuliskan bahasa arab dan bahasa China. Ada juga museum tempat barang-barang peninggalan Islam di China zaman dahulu.
Adzaan tetap berkumandang di Masjid ketika sudah waktunya sholat. Tapi, gak sekencang yang biasa kita dengar di Indonesia. Adzan bisa didengar cukup kuat ketika di komplek Masjid, namun samar-samar ketika sudah diluar. Jadi bisa dibilang kalau adzan cuma bisa didengar di area Muslim Quarter, itupun samar. Prayer Hall di masjid ini dipisah antara perempuan dan laki-laki. Bukan dipisah shafnya, tempatnya yang dipisah! Untuk laki-laki, tempatnya di dalam komplek masjid. Sementara untuk perempuan, kita harus keluar gerbang dan jalan sekitar 200m untuk menuju masjid khusus perempuan. Uniknya, sound dari prayer hall laki-laki dihubungkan ke prayer hall perempuan, jadi masih bisa shalat berjama’ah. Keren, gak?
Karena aku ga tau banyak tentang dalemnya Prayer Hall laki-laki ini gimana, aku bahas yang untuk perempuan aja ya. Untuk ke prayer hall perempuan, kita harus masuk gang lagi dan masuk ke sebuah gedung. Jadi ga berbentuk masjid. Di lantai bawahnya ada tempat berwudhu dan toilet, sementara tempat sholat ada di lantai atas. Ketika sampai disana, aku berdua temenku, shalat dzuhur udah di mulai dan Ibu-ibunya udah pada shalat berjama’ah. Uniknya lagi, mereka shalat dengan pakaian yang biasa mereka pakai sehari-hari, yang kaya di foto-foto sebelumnya. Tapi, ga ketat~ Kalau ibu-ibu yang kira-kira bajunya kurang bisa dipakai shalat, ada rak baju khusus shalat di dalem Masjidnya. Semacam jellaba/gamis lah ya. Jadi, ga ada mukena/telekung :D
Di bagian belakang masjid ada kursi-kursi yang biasanya akan digunakan oleh Ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Jadi, mereka shalatnya di kursi itu. Dan, selepas shalat, biasanya mereka bakal berkumpul dan dzikir bareng-bareng. Awalnya aku kaget dengan bacaan Al-Qur’an-nya, soalnya belum pernah dengar yang kaya gitu. Aku juga mencoba mencerna mereka baca surah apa, tapi butuh waktu cukup lama untuk ngerti. Orang China sulit mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Arab, makanya bacaannya ga biasa. Tapi pelan-pelan, kita bisa ngerti kok bacaan mereka.
Karena aku dan temanku ikut hingga dzikirnya selesai, ternyata di akhir dzikir ada satu ibu yang bertugas bagiin mantou (semacam kue pao) dan sabun ke ibu-ibu lainnya. Kita juga kebagian dong, haha. Aku kira mantou-nya ada isinya, ternyata tidak dan rasanya hambar. Lidahku belum menyesuaikan ternyata XD
Setelah selesai, ada ibu-ibu yang nyamperin kita berdua dan ngajakin ngobrol. Lagi-lagi dengan bahasa China. Kita pun menjawab dengan ala kadarnya, berharap sama-sama ngerti hahaha. Ibunya kasih teh dan bilang silahkan istirahat di masjid kalau capek. Kita seneng banget :D
Kita berdua lanjut eksplor Masjid dan duduk-duduk di café depan masjid seperti biasanya.
Not only one, but there’s so many others!
Masjid di Xi’an itu gak cuma si Great Mosque ini aja. Ada banyak yang lain yang letaknya masih di sekitar Muslim Quarter. Di lain kesempatan, aku, teman Indonesiaku serta dua temanku lainnya yang dari Maroko diajak shalat dzuhur oleh salah satu Ibu muslim kenalan temanku di salah satu masjid lainnya. Letaknya gak begitu jauh dari Great Mosque. Karena bukan tempat untuk turis, kita lebih banyak ketemu sama penduduk muslim lokal. Sepertinya sistem masjid di Xi’an ini sama, karena lagi-lagi gedung tempat sholat laki-laki dan perempuan dipisah tapi tetap terhubung. Anyway, kita kesana pas di hari Jum’at dan ketika kita sampai sudah banyak laki-laki yang berjalan masuk ke dalam masjid untuk shalat Jum’at. Gedung sholat wanita letaknya di belakang bangunan utama masjid dan ruang shalat ada di lantai dua. Kita berwudu dan naik ke atas untuk ikut shalat Jum’at. Kali pertama dalam hidup aku ikut shalat Jum’at which is dari dengerin khatib sampe selesai shalat. Khatibnya ceramah pake bahasa China lah ya, aku tidak mengerti sama sekali XD
Setelah beres shalat, dua teman Marokoku pulang duluan karena salah satu dari Mereka akan pergi ke Beijing dan gak balik ke Xi’an lagi L (berpisah di masjid dong kitanya, sedih berlinang air mata~). Sementara aku dan teman Indonesiaku diajak makan siang di restoran mie dan kita ke another masjid lagi setelahnya. Ternyata, itu masjid tertua di Xi’an! Kita udah pernah kesana sebelumnya sewaktu nyasar nyari Great Mosque sama si Super-koko pemilik hostel tempatku tinggal, tapi kita gak ngeh kalau itu masjid tertua! Iyalah, si Super juga mana tau soalnya doi bukan muslim XD Bentukan masjidnya juga ga jauh beda dari Great Mosque, dan karena kali ini perginya bareng muslim lokal dan anaknya yang muslim juga, kita jadi dapat insight baru tentang masjid ini.
Di depan masjid ada tugu penjelasan tentang Masjidnya, dan ada tugu dua sisi yang ada tulisan ‘La ila ha illallah muhammadur Rasulullah’ dalam bahasa China. Serius, aku interested banget sama yang ini!
Anyway, pemerintah China gak membebaskan adanya aktivitas keagamaan di negaranya, agama apapun itu. Jadi gak untuk Islam aja yang dilarang-larang. Begitu juga dengan adzan yang gak boleh sembarang dikumandangkan. Kita juga gak bakalan nemu pelajaran agama di sekolah umum, jadi anak-anak terutama yang Muslim lebih banyak mendapatkan ajaran agama dari orangtuanya di rumah. Tapi ada sekolah agama, kaya pesantren, yang letaknya ada di sekitar komplek masjid. Untuk makanan, menurutku, makanan halal tidak begitu sulit di dapat, khususnya di Xi’an, karena akan banyak restoran muslim yang bisa kita lihat di pusat kota bahkan di pinggir kota sekalipun. Penduduk lokal lainnya sepertinya sudah terbiasa melihat perempuan dengan hijab berjalan-jalan di seputaran kota. Mungkin lain cerita untukku karena aku tidak terlihat seperti penduduk lokal dari segi pakai hijab dan muka, makanya masih sering dilihatin dari atas sampai bawah. But, nevermind, karena begitu pun mereka gak pernah macem-macem, hanya curious aja, penasaran ini makhluk darimana kok cara pake hijabnya beda :D
Additional post: Muslim Family in Weinan.
Jadi, ketika aku dan beberapa teman se-projectku pindah kota untuk melanjutkan kegiatan, kita pergi ke kota yang namanya Weinan, sekitar 3 jam dari Xi’an naik kereta. Kita ditempatin di Heyang county. Awalnya, aku sempat bingung tentang urusan makan selama di kota ini karena dari awal dibilang kalau seluruh peserta exchange dan volunteer lokal akan tinggal di hotel tapi masalahnya hotel ga nyediain makanan untuk kita. But, you know what? Isi hati musafir didengar Allah hahaha disamping hotel ada restoran muslim! Pertama kali kita sampe di Heyang, kita langsung makan siang di restoran itu. Bahkan kita semua selalu makan disitu selama dua hari kedepan sebelum kita menemukan restoran yang baru. Restoran yang disamping hotel itu hanya nyediain si pou mou aja, jadi gak ada nasi. Sebagai Indonesia asli, aku butuh nasi. Lagi-lagi do’a musafir didengar, berkat bantuan dari Finer, salah satu panitia, kita nemu restoran muslim yang baru dan menunya jauh lebih banyak dari restoran sebelumnya dan harganya gak begitu mahal. Perlu diingatkan, kalau porsi makanan di China ini super besar. Awalnya, aku gak bisa habisin satu porsi sendirian tapi lama-lama ku terbiasa huehehe. Pemilik restorannya itu muslim 4 keturunan, jadi dari kakek sampe cucu ada di restoran itu. Cucunya masih kurang dari 1 tahun malah, masih imut banget. Kita ada 8 hari di Heyang, dan selama 6 hari kita selalu makan di restoran ini dari makan siang sampe makan malem. Pemiliknya sampe hafal :D Aku dan teman-temanku yang lain sampe belajar gimana cara mesan makanan sendiri disini tanpa bantuan si Finer dan pemiliknya ketawa-ketawa liat cara kita mesan.
Beruntungnya, semua menu disini rasanya cocok ke lidah orang Indonesia dan menu favoritku adalah…. Nasi + kentang dan beef hangat! Ini enak *terbayang rasanya* *nulisnya lagi hujan-hujan* Pernah sekali aku pulang duluan dari sekolah sebelum makan siang terus minta titip makanan ini ke temanku. Aku belum abisin dan aku tinggalin di meja kamar. Pas sorenya, room-mate-ku pulang dan langsung nanya, ‘Wah kamu makan siang apa tadi? Kok wanginya enak banget?’ :’D
Jujur, aku senang sekali bisa ketemu sama keluarga muslim ini. Suasananya hangat dan kekeluargaan sekali. Aku dan teman-temanku selalu ditawarin teh dan dikasih buah-buahan. Makanya, pas hari terakhir kita di Heyang, sekaligus hari terakhir kita makan disitu, aku sedih. Tapi it’s okay, I hope we’ll meet again in Jannah!
Aku bersyukur banget Allah tunjukin kota di China yang se-muslim-friendly ini. Aku ga tau kota-kota di China yang lain gimana, bisa jadi lebih baik. Aku juga bukan yang tinggal lama disana, jadi pengalaman yang aku dapet mungkin beda sama yang udah tinggal lama di sana. Jadi.. apa yang aku tulis diatas itu berdasarkan apa yang aku dan teman-temanku alamin, kalau ada yang beda atau salah mohon dikoreksi :D