seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Japan
seen from Yemen
seen from Germany
seen from United States

seen from Sri Lanka
seen from China
seen from Malaysia
seen from Israel

seen from Brazil

seen from United States
Typography Tuesday
ITALIAN ROTUNDA GOTHIC
One of the few incunables we hold that have all the initials rubricated (i.e., initials completed in red manuscript) is a 1481 printing of Nicolas De Lyra’s biblical commentary Moralia super totam Bibliam, printed in Mantua by Paulus de Butzbach. It uses a typeface modelled after a rounded Gothic manuscript hand known as Rotunda.
The Italian version of the Rotunda, that this typeface is based on, was developed for copying manuscripts at the University of Bologna in the 13th century, and is sometimes referred to as littera bononiensis. This rounded form seems to have developed to accommodate more rapid copying to provide materials for a voracious academic clientele. However, this also increased the amount of space letterforms would occupy, so a series of abbreviation conventions were developed to save space that are especially associated with the Italian Rotunda.
These can be seen throughout the examples shown here, but they are especially vivid in the colophonic text of the last image. For example, the lowercase q with a line beneath the bow signifying the word "qui," or the r rotunda (ꝛ) which follows a letter with a rounded stroke on the right side, such as the one following the o in the word ordine in the second paragraph, following the underlined name of “Nicolaus de Lyra.” You can also see the use of the visually-related Tironian et ⟨⁊⟩ used to signify etcetera. The rubricator has not only completed all the initials, but has also highlighted capital letters in red, marked paragraph openings, and underlined certain words or phrases for emphasis. The humorous artery-like illustration around the rubricated n in the second to last image was likely added much later, perhaps after William Harvey published his findings on the circulation of blood in 1628!
Not much is known about the printer Paulus de Butzbach, although he is quite well-noted as a printer for one of the first three editions of Dante’s Commedia, all three of which appeared in 1472. However, using the raw data in the Incunabula Short Title Catalogue (ISTC) we can say that he seems to have had a relatively short career from 1471/2 to 1481, when our book was printed. A German printer (as most early printers in Italy were), he appears to have begun his career with another German printer Georgius de Augusta at Verona in 1471 or 72. After printing a handful of classical titles in Verona, they moved operations to Mantua in 1472 where the Commedia was printed. They continued to work together and for others there until 1475, when Butzbach’s name begins to appear in colophons by itself, and he continues to print alone until about 1481. In those ten years, Butzbach participated in the printing of some 30 editions. Our copy of Moralia super totam Bibliam is one of only 95 worldwide noted in ISTC.
View other posts on 15th-century types.
View more Typography Tuesday posts.
Mission: Space
April 27 2018
sarahg170194
by castiel's name they're still at it
“why are you doing that”
castiel fucking forbid i do anything weird
istfc (i swear to fucking castiel)
NINE 500 year old QUARTOS
from 1509-1480 descending. 794J Prosper of Aquitanus ±c. 499-505 (more likely Julian Pomerius) Prosper de vita contemplatina atque actuali : sive de norma ecclesiasticorum [Speyer : Peter Drach], 1487 Price $7,500 Quarto 18 x 13.5 cm Signatures: a-c8 d-f6 g8 (g8 blank and present) Bound in early green sturdy vellum slight cracking at joint; paste-downs…
View On WordPress
Sambut World Tourism Day, ITDC Komitmen Terapkan Prinsip Pariwisata Berkelanjutan
BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Menyambut Hari Pariwisata Sedunia pada 27 September 2022, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) berkomitmen untuk terus menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Prinsip ini bertumpu pada nilai-nilai kearifan lokal, inklusivitas dan konservasi keanekaragaman hayati. Hal ini sejalan dengan 5 pilar Sustainable Development Goals (SDG) yakni People, Planet, Prosperity, Partnership dan Peace, yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan demi menuju kepariwisataan yang berkualitas dan berkelanjutan. Komitmen ini tertuang melalui penandatanganan Maklumat Pariwisata Berkelanjutan pada 7 September 2022, menyusul proses penilaian (assessment) Re-Sertifikasi Destinasi Pariwisata Berkelanjutan atau sertifikat Indonesia Sustainable Tourism Certification (ISTC) yang dilakukan 5-6 September 2022. The Nusa Dua Bali, kawasan pariwisata yang dikembangkan dan dikelola ITDC, berhasil meraih Sertifikat Peringkat Emas Nasional Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Indonesia atau Gold Indonesia Sustainable Tourism Certification (Gold ISTC) dari Kementerian Pariwisata pada tahun 2019. Asesmen dan maklumat pada September 2022 ini ditempuh dalam rangkaian untuk memperoleh kembali sertifikat ISTC kedua tahun 2022-2025, setelah sertifikat pertama berakhir dalam 3 tahun. Sertifikat ini memiliki nilai penting bagi ITDC karena menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan di kawasan pariwisata The Nusa Dua, Bali. “Pemenuhan aspek kepariwisataan berkelanjutan ini akan meningkatkan value kawasan The Nusa Dua sebagai sebuah destinasi pariwisata kelas dunia, yang kami harapkan dapat menjadi role model bagi kawasan lainnya di Indonesia yang akan dikembangkan dengan prinsip berkelanjutan,” kata Direktur Utama ITDC, Ari Respati, Juamt (23/9/2022). Sesuai dengan tema Hari Pariwisata Dunia yaitu Rethinking Tourism yang jatuh pada 27 September, Ari menyatakan bahwa penyelenggaraan pariwisata harus mampu menghadirkan semua pihak yang dapat mengelola sumber daya secara seimbang. Caranya dengan memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika, sambil tetap memastikan keberlanjutan budaya lokal, habitat alam, keanekaragaman hayati, dan sistem pendukung lainnya. Kinerja Cemerlang ITDC Dalam Upaya Meraih Kembali Sertifikat ISTC 2022-2025 Dalam proses penilaian Re-Sertifikasi ISTC yang telah dilakukan, pengelola kawasan The Nusa Dua Bali mendapat banyak apresiasi dari tim penilai. Para auditor memberikan catatan good points atas capaian ITDC, antara lain terkait tanggung jawab pengelolaan destinasi serta monitoring dan pelaporan yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan, juga pelibatan dan umpan balik dari penduduk setempat yang dilakukan secara konsisten. Penilaian positif lainnya, terkait peran sertanya dalam melakukan penerapan protokol kesehatan saat memasuki kawasan The Nusa Dua, perhatian dan komitmen ITDC kepada keberlanjutan budaya, harmonisasi hubungan antara pegawai, wisatawan dan vendor. Keberadaan anak usaha yang mengolah limbah air dan persampahan menjadi bermanfaat, juga memberikan nilai tambah bagi ITDC. Dalam tata kelola bidang pariwisata yang dilakukan di kawasan The Nusa Dua, ITDC memang menitikberatkan pada 3 tujuan: 1) Keberlanjutan sosial-ekonomi; 2) Keberlanjutan budaya; dan 3) Keberlanjutan lingkungan. Rekam jejak keberlanjutan sosial-ekonomi yang telah dilakukan oleh ITDC antara lain memberi pembinaan kepada masyarakat, dengan melaksanakan pelatihan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris kepada para pedagang, yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pantai. “Dengan penambahan skill ini, kami meyakini para pedagang bisa memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Ari. ITDC pun berhasil mengimplementasikan nilai-nilai budaya lewat pencapaian kongkrit, demi tercapainya tujuan keberlanjutan budaya. Misalnya dengan pelestarian nilai-nilai budaya dalam implementasi konsep pembangunan kawasan The Nusa Dua, yang mengedepankan arsitektur tropis yang merupakan tradisional khas Bali, juga kehadiran dalam berbagai event budaya untuk mengenalkan kebudayaan Bali yang beragam. Misalnya berlatih tari Bali sore hari di areal outdoor, juga pendirian dan perbaikan beberapa tempat ibadah pura. Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, juga terus dilakukan ITDC lewat kegiatan pengolahan limbah cair yang ramah lingkungan. Dari penggunaan sistem lagoon atau stabilization ponds, juga turut aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan masyarakat, seperti pelestarian penyu dan transpalansi terumbu karang. Ada pula penggunaan energi baru terbarukan, perolehan Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) untuk kawasan dan hotel-hotel di dalam kawasan, pemberlakukan CHSE dan SOP Covid-19 di kawasan, serta penyediaan fasilitas penyandang cacat di sekitar kawasan. Seperti dijelaskan di atas, saat ini proses assessment telah selesai dilaksanakan dan ITDC sedang menunggu hasilnya. Atas segala usaha yang dilakukan, manajemen ITDC optimis mampu meraih kembali sertifikat ISTC tahun 2022-2025. Sertifikat ini sekaligus juga merupakan bukti usaha keras yang dilakukan oleh segenap kalangan untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan, agar mampu menjaga kesinambungan sumber daya alam dengan budaya masyarakat lokal, kearifan lokal, dan sosial ekonomi atau kesejahteraan. Selamat Hari Pariwisata Internasional 2022.(bpn) Read the full article