Sabtu Pagi yang Seru!
Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau langkah untuk menjejak di dunia tulis menulis akan membawa pada kegembiraan seperti ini. Ketika memulai langkah untuk sebuah lomba pada pertengahan tahun 2020 yang lalu, menulis seakan menjadi candu bagi saya. Saya mulai berkontribusi sebagai salah seorang penulis cerpen pada satu buku antologi. Kemudian berkembang, terus, terus, dan terus. Hingga kini, lebih dari 25 buku antologi telah saya ikuti dan satu buku solo telah terbit.
Agaknya, ungkapan bahwa diri kita adalah dengan siapa kita bermain, telah saya alami sendiri. Pada awal tahun 2021, tepatnya bulan Februari, saya mencoba mengikuti sebuah program menulis. Dari program ini, saya menemukan banyak kawan baru. Teramat banyak.
Mereka adalah orang yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya, tetapi begitu riang dalam memberi dukungan. Mereka adalah para pejuang yang berkarya lewat tulisan. Pejuang yang terus berkarya di bidang masing-masing, tetapi tetap bersemangat untuk mengembangkan dunia literasi. Yah, setidaknya untuk diri mereka sendiri.
Hingga akhirnya, suatu malam saya mendapat sebuah pesan singkat dari seorang kawan yang baru saya kenal melalui program itu. Pesan singkat dari jauh. Timur Indonesia. Manokwari.
Singkat saja sebenarnya. Dia hendak memesan buku yang saya tulis bersama beberapa sahabat. Ia juga hendak membeli buku solo saya. Akan tetapi, siapa sangka bahwa obrolan malam itu menjadi pembuka bagi saya untuk terus berdiskusi dengan dia.
Kakak Ella, begitu ia biasa dipanggil. Saya mengenal Kakak Ella sebagai sosok pemalu yang memiliki keinginan teguh. Darinya, saya belajar bahwa cita-cita hanya sebatas mimpi jika tidak diupayakan. Mimpi tak ubahnya sebuah benda fiktif. Sebuah fantasi omong kosong.
Akan tetapi, jika mimpi itu diupayakan, maka dia akan bertransformasi menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang powerful dan mengerikan.
Bukan! Bukan mengerikan karena dampaknya yang buruk. Melainkan karena mimpi yang terwujud akan berubah menjadi fakta. Menjadi kenyataan tak terbantah. Pun jika belum terwujud menjadi satu bangunan utuh, bukankah meletakkan pondasi selalu menjadi hal pertama dan terpenting untuk dilakukan?
Kalau pun mimpi belum terwujud sewaktu kita hidup, biarlah anak muda dan generasi penerus yang melanjutkan pondasi itu. Membangun tiang, tembok, bahkan hingga terwujud sebuah atap yang rindang dan menaungi.
Kakak Ella memberi contoh pada saya. Dia tidak hanya bermimpi dan berucap. Dia berbuat. Rumah baca yang ia dan kawan-kawannya gagas demi kemajuan adik-adik di Papua (sejujurnya saya tidak punya gambaran utuh tentang Papua) adalah wujud nyata dari perjuangannya.
***
Suatu pagi di kantor, saya dapati sebuah status WhatsApp dari dia yang bernama Angela Torimtubun pada phonebook ponsel saya yang katanya pintar itu. Kakak Ella!
Tidak sering saya melihat ada status WhatsApp yang meluncur darinya. Oleh karena itu, saya berkesimpulan. INI PASTI SESUATU YANG ASYIK!
Sorong Mendongeng! Sebuah kegiatan yang digagas entah oleh siapa. Akan tetapi, dari flyer-nya saya berkesimpulan bahwa pada acara nanti, akan ada banyak pendongeng yang bercerita kepada adik-adik dan hadirin yang bergabung melalui media zoom.
Saya mendaftar. Pada kolom asal institusi, saya bimbang. Akankah saya melanjutkan pendaftaran? Sebab saya tidak berasal dari institusi mana pun. Sementara field isian asal institusi adalah sesuatu yang wajib diisi.
Apa yang terjadi selanjutnya? Otak saya yang tidak seberapa cerdas itu memutuskan untuk menulis sebaris kalimat.
“Temannya Kak Ella.”
Selesai, permasalahan telah ditemukan solusinya.
Hingga pada Jumat siang, saya mendapat sebuah pesan singkat. Setelah saya periksa, pengirimnya bernama Dayu Rifanto. Isinya singkat saja. Informasi link atas zoom terkait pelaksanaan Sorong Mendongeng. Untung saja. Hampir saya terlupa.
Sabtu pagi, kegiatan berlangsung. Sungguh, ini kegiatan yang amat menyenangkan bagi saya. Namun, sekaligus mendebarkan. Bagaimana tidak, saya yang tinggal di Banten bertemu dengan kawan-kawan dari Indonesia Timur.
Apa saya rasis? Sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya khawatir. Akankah saya bisa diterima, sementara saya tidak tahu sama sekali tentang kebudayaan dari teman-teman di Papua. Jangankan Papua, menyeberang dari Pulau Jawa saja, saya tidak pernah.
Ternyata semua lancar. Semua baik. Meski saya tidak dikenal, saya merasa kebersamaan dan obrolan yang tercipta dari Kakak Dayu Rifanto selaku pembawa acara begitu cair. Saya senang sekali.
Belum lagi para pendongeng yang telah membawakan berbagai cerita indah. Kalian tahu, sungguh Sabtu pagi saya kali ini terasa begitu indah dan bersemangat!
***
Kegiatan dibuka oleh Kakak Valen. Seorang siswi kelas 1 SMP yang berpuisi melalui karyanya sendiri. Puisi berjudul Awan, sukses membuat saya tersenyum.
Asal kalian tahu, sewaktu acara berlangsung, saya tengah menjemput istri dari tugas malamnya di rumah sakit. Kami bersama mengikuti kegiatan zoom ini. Saya tersenyum. Istri saya pun tersenyum. Kami sungguh menikmati.
Kemudian perjalanan Sorong Mendongeng berlanjut pada cerita yang dibawakan oleh Kakak Ansri Nauw. Bercerita tentang Tapa Magai. Magai yang menghibur sahabatnya, hingga legenda terbentuknya Danau Sentani dan para penunggang naga. Bukan hanya menyenangkan, Kak Ansri sungguh berhasil membawa ingatan masa kecil saya yang bercita-cita naik naga suatu hari nanti.
Lalu Kak Gresella dengan kisah Lusi dan Aplena. Dua bersaudara yang sungguh nyaman didengarkan. Saya terdiam ketika Kakak Gresella mulai berkisah. Sungguh tenang.
Kami telah tiba di rumah. Istri saya harus melanjutkan aktivitas mengikuti zoom lain terkait pelatihan kegawatdaruratan pada bayi dan penanganannya. Jadilah saya melanjutkan Sorong Mendongeng seorang diri.
Selanjutnya, sahabat tersayang saya tampil. Entah mengapa, meski hanya melalui chat, saya merasa begitu dekat dengan Kak Ella. Terasa begitu hangat dan sepertinya saya sungguh riang tiap kali berdiskusi dengannya.
Kali ini Kakak Ella berkisah tentang persahabatan dua ekor burung pintar. Uri dan Wawa dari Pegunungan Arfak. Betapa pintarnya mereka yang telah mampu membangun sarang di atas tanah.
Hebat, ya, burung Urinyau. Saya saja tidak bisa membangun istana pasir. Sementara mereka mampu membangun sarang yang nyaman untuk ditinggali.
Lalu Kakak Yuli Kondjol yang bertutur tentang Naya Kore dari Distrik Kokoda, di Sorong Selatan, Papua Barat. Sebuah kisah mengenai cerita keseharian seorang anak. Saya melambung membayangkan kehidupan mereka di sana. Saya tidak paham seperti apa keadaan Papua. Namun, satu hal yang pasti. Saya sungguh ingin dapat menjejakkan kaki di tanah Papua. Entah kapan.
Selanjutnya ada Kak Alin Burdam. Kakak Grace namanya. Namun, ia biasa dipanggil Kak Alin, begitu yang saya dengar sewaktu Kak Alin memperkenalkan diri. Untuk cerita yang Kak Alin sampaikan … wah, parah sih!
Sejujurnya, saya menangis ketika Kakak Alin selesai bercerita. Pesan moral yang disampaikan sungguh dalam. Dari kisah Leo si kelinci dengan telinga menjuntai, Kak Alin berpesan, yang selanjutnya saya tuliskan dengan bahasa saya sendiri.
“Kamu itu normal dengan apa adanya kamu. Kamu itu baik-baik saja dengan sebagaimana dirimu sendiri. Tidak perlu risau dengan pandangan orang lain atas dirimu. Karena kamu normal dengan apa adanya kamu.”
Saya diam. Mata saya basah. Saya seakan diingatkan oleh Tuhan melalui cerita lucu Kak Alin. Saya seketika mendapat energi baru.
Selanjutnya ada Ape, bocah cilik dari Manokwari yang juga mau menjajal bercerita. Sungguh cerita yang disampaikan begitu apik. Bukan! Bukan karena Ape membacakan cerita di buku. Namun, cara Ape bercerita, mimik, gestur, dan kesemuanya membawa saya begitu hanyut dan menikmati sekali.
Cerita tentang mot aki (setidaknya itu yang saya dengar dari zoom), si rumah khas. Rumah kaki seribu yang menjadi rumah adat sukses membawa pikiran saya pada Bapak, orang tua saya yang sedari dulu merawat dan menyayangi. Tentulah beliau rindu untuk kembali dapat dikunjungi oleh anaknya. Terima kasih, Ape.
Terakhir, Kak Mawadda membawa cerita yang sebenarnya sudah umum dikisahkan. Tentang balap lari antara rusa dan kelomang. Akan tetapi, antusiasme Kak Mawadda, mimik, serta tiruan suara yang digunakan saat ia berperan menjadi kelomang maupun rusa, sungguh menyenangkan hati.
Saya riang sekali pagi ini. Saya sangat bahagia bisa mengikuti zoom yang terselenggara. Sederhana. Akan tetapi, begitu bersahabat, hangat, dan bergairah.
Terima kasih banyak Kakak-kakak atas penyelenggaraan kegiatan ini. Sungguh saya mengapresiasi baik. Saya suka sekali. Sangat suka.
Penutup
Kakak Ella dan seluruh sahabatnya tidak berhenti membuat saya kagum. Meski baru pertama kali melihat—itu pun hanya melalui zoom—saya begitu riang bisa menyaksikan dan mendengar beragam cerita dari kalian.
Khususnya Kakak Ella, sepertinya saya sayang pada Kakak. Sayang sekali. Jangan pernah ragu melangkah maju, ya, Kak. Saya menantikan karya Kakak lainnya. Semoga ada kesempatan suatu hari nanti kita bisa jumpa atau pun berkolaborasi.
Sabtu, 20 November 2021
Tangerang, Banten Jamal Irfani












