TIDURLAH KAWAN BERKEPALA BUNDAR.
Selamat terlalu pagi kawan, atau mungkin terlalu malam.
Dini hari tepatnya, entah pagi entah malam, terserah kau mau menyebutnya apa. Bagaimana biang keringatmu yang membuat gatal itu? Mudah-mudahan sudah mendingan setelah dibubuki oplosan Herocyn dengan air mineral, semoga.
Pagi ini, ah bukan, dini hari ini adalah awal dari bulan ke dua belas dari tahun masehi yang ke dua ribu tiga belas. Baru seratus tujuh menit desember terlewat. Seperti biasa aku disini tak bisa terlelap cepat sepertimu. Aku juga bingung dengan apa yang kulakukan. Di sudut ruangan ada empat botol yang miriip botol bir kosong bekas perayaan ulang tahun teman kita. Kau masih ingat bukan? Mudah-mudahan kau masih ingat. Saat itu kita sengaja berkumpul malam jum’at, tak peduli besok ada jadwal apa, yang penting kita berkumpul, tertawa, bahagia bersama. Kau dengan yang lainnya saat itu memanggang daging, atau mungkin membakarnya. Tidak, kau dan yang lainnya bilang kita sedang Barbeque-an. Agar sedikit lebih elit kau dan yang lainnya menyebut bakar daging itu sebagai Barbeque. Sejujurnya, sampai sekarang, aku masih belum begitu paham Barbeque itu apa. Sehabis menyelesaikan itu dan memakannya hingga habis, botol-botol berisi air kedamaian itu dibuka, dituang ke gelas kita masing-masing dan semuanya berkata ketika bersulang:
“ Untuk kematian yang sebentar lagi mencuri kehidupan salah satu dari kita. Entah siapa yang duluan…”
Apakah bersulang harus menggunakan sesloki bir? Tidak! Setelah kita bersulang, kita tidak langsung meminumnya. Kita berpandangan dulu satu sama lain, hening. Kemudian salah satu dari kita mulai terbatuk-batuk, dan pecahlah tawa kita semuanya. Gelas-gelaspun diletakan kembali. Cocktail itu tertunda untuk diminum. Bukan bir, bukan, itu hanya cocktail yang sedikitpun tidak membuat pusing setelah diminum. Tertawa lagi ayolaah. Makanya ada empat botol di sudut ruangan ini yang mungkin tidak akan dibuang. Karena itu hanyalah botol cocktail yang mirip botol bir.
Persetan dengan semua itu, hiraukan sajalah. Bagaimana ganja kering yang selalu terselip di lemari bajumu? Masihkah ada? Aku hanya bisa bengong ketika kau berhenti membakar sayur jamaika itu. Engkaulah yang paling berpengetahuan tentang rokok tersebut, engkaulah yang paling tahu bagaimana kita harus memakainya agar tidak menjadi target operasi dari mereka yang tidak tahu cara memaksimalkan tanaman ciptaan Tuhan tersebut. Ah sudahlah, lagipula itu hanya sampah kering yang dibakar. Idealismemu mungkin telah berubah selama kita tidak bertemu ini. Aku enggan membicarakannya, terlalu berat jika waktu yang tepat untuk nyantai ini digunakan untuk membicarakan idealisme. Persetan dengan idealisme.
“Masih banyak hal-hal yang harus kukejar disini..”
Tetap saja kau masih mengatakan itu, masih percaya pada suatu kekuatan yang tidak pasti bernama mimpi. Dan sekarang kekuatan itu sedang merasukimu dalam tidur nyenyak dibawah air conditioner sialan di kamarmu yang selalu membuatku masuk angin. Bermimpilah sana, aku tidak peduli, bagi bagi denganku nanti ketika kau berhasil menggapainya. Itu harus.
Setahun yang lalu, di awal desember, kita masih banyak waktu lenggang untuk menolong para pedagang (baca: Belanja) di kota kembang. Di sekitar ciroyom mencari tenda untuk keperluan pramuka, di pasar baru membeli jaket, belati, kaos, entah apalagi aku lupa. Membeli es buah di setiap gerobak bertuliskan ‘Es buah cirebon’ yang kita temui. Aku jadi kangen pada masa-masa itu. Masa-masa kau sebagai Asterix dan aku Obelixnya. Begitukah ceritanya? Kau tahu bukan? Aku lupa atau lebih tepatnya sok tahu menyebutkan nama itu tanpa mengetahui cerita aslinya. Meski begitu, nama dari dua orang tersebut begitu enak didengar juga melegenda, seperti kita yang melegenda diantara kehidupan kita berdua. Sungguh.
Berbicara soal waktu, aku ingin menyusulmu menemui hujan-hujan mimpi dalam tetesan liur-liur berbau amoniak dari mulut ini. Semoga saja tidak badai. Aku malas menjemurnya.
N.B: kudengar kau punya pacar baru? Jagalah dia, aku tidak suka ketika kau terlalu memikirkan wanita. Karena dalam keadaan tersebut, setiap kubuatkan indomie rebus telor selalu saja kuahnya berbubah menjadi ingus.
N.B.B: Oddysey dan Ulysess ternyata adalah satu.