Kapan Nikah?
Lebaran sebentar lagi. Wahai kalian golongan lajang, sudah siapkah menghadapi berondongan pertanyaan yang saya jadikan judul di atas? Hal remeh menurut saya, rutinitas yang diulang setiap tahun di waktu lebaran atau reuni. Kontra dengan tanggapan pertanyaan di atas, tentu menikah bukan urusan remeh. Dua kepala, dua pemikiran, dua kepribadian, dua latar belakang dan dua yang lainnya lagi itu akan dipersatukan dalam sebuah ikatan, selamanya.
Bukan perkara kesiapan, bukan perkara finansial, bukan perkara restu keluarga dan perkara-perkara lain yang menurut saya menjadi faktor penunda pernikahan. Faktor-faktor itu dan yang lainnya ada di nomor sekian untuk perlu saya khawatirkan. Tapi menikah tentu harus dengan seorang yang benar-benar kaucintai dan dia juga harus mencintaimu bukan?
Sampai pada titik ini, sejauh ini, saya harus bisa meyakinkan diri sendiri untuk bisa mencintai dan menerima apapun dari pasangam saya. Dan saya sudah. Masalah menikahnya kapan, saya semogakan. Ya, cukup saya, atau kami saja yang menyemogakan. Pandangan orang lain tentang pernikahan yang harus diusia sekian, harus begini begitu dan blablabla lainnya biarkan saja. Toh siapa yang akan menikah? Bukan mereka. Menikah bukan perlombaan, bukan persaingan, bukan ajang gengsi-gengsian. Oh ya, betewe... Kalau saya hitung-hitung sampai sekarang, mulai dari teman SD hingga kuliah, yang sudah menikah sekitar 50%, dan kayaknya presentasinya akan bertambah 10% setiap tahun. Jadi dalam 5 Tahun kedepan, semua teman-teman saya termasuk saya, kayaknya udah nggak lajang lagi. *pokoknya jangan ditanya gimana rumusnya bisa dapat hitungan segitu, jangan.* Soal “kapan nikah?”saya pribadi tidak pernah ambil pusing kalo ada yang tanya-tanya macam begitu. Paling saya jawab: “Kalo nggak sabtu ya minggu, atau senin deh, seluang kateringnya aja.” Kalau yang tanya cewek dan masih lajang, saya balik tanya aja: “Kapan dilamar?” Atau kalau yang tanya cowok saya bales tanya juga: “Kapan sunat lagi?” Masalahnya jawaban atau pertanyaan itu akan pas kalau ditujukan kepada penanya, jika si penanya adalah kawan dekat dan sebaya. Beda soal kalau yang tanya sesepuh yang pada ngumpul di rumah eyang pas lebaran. Nah, perkara, kan. Sudah nyiapin jawaban belum? *meipir*
Solo, 29 Juni 2016
* Foto dijepret oleh m.fuada; semalam, di wedangan Pak Sakir. * Abaikan kesalahan pada ejaan; jembrengan itu dibikinnya waktu khilaf, belum sadar EBI *halah*
















