Hujan baru saja reda,
Anak kecil itu membawa jerigen putih yang sudah hilang tutupnya, berganti plastik yang dikaretkan. Membeli seliter minyak tanah di toko mbah samping wartel. Satu drum besar warna biru, segitulah stok si mbah.
Uang empat ribu dari ibu bersisa lima ratus rupiah, Ia sudah izin membeli satu snack. Riangnya hati bocah ini. Lalu ia melenggang pulang dengan minyak satu liter yang membuatnya berjalan agak miring ke kanan,
Minyak itu berat sekali untuk anak umur lima tahun.
Didepan pintu ia lantang mengucap salam, melepas sandal yang kebesaran seraya memeriksa saku celananya. Empat ratus rupiah uang kembalian langsung diberikan pada ibu, setelah tadi dipotong seratus untuk permen berpola kaki warna merah.
Aroma minyak tanah itu sudah tercium kuat. Diamatinya ibu menuangkannya ke sisi kanan bawah kompor. Setelah itu ibu celupkan sedikit ujung batang tuas sembari memutar penaik sumbu, Korek api membakar ujung tuas. Disebarlah api di sumbu-sumbu itu.
Dan ibu mulai memasak. Bocah kecil ini mulai mondar mandir antara dapur dan ruang tamu. Seraya menggenggam tahu panas kesukaannya. Seketika rumah dipenuhi wangi balado.
Telur petai tahu balado, masakan ibu hari itu.
Demi S.












