Banyak obrolan tentang ‘gimana sih bisa menemukan ciri khas kita tersendiri dalam berkarya?’. Sampai sekarang pun saya masih berkutat dengan pertanyaan yang sama. Serius. Saya juga masih mencari. Tapi setelah berbagai macam obrolan saya tentang hal ini dengan rekan-rekan sejawat, mungkin saya akan coba menjelaskan.
Jadi gini lo rek, kalo mau menemukan ciri khas kita selain butuh latihan disiplin dan rutin, juga butuh yang namanya referensi. Referensi ini sendiri pastinya kita dapatkan dari karya karya orang lain yang kita anggap menjadi panutan. Dari situ kita mulai ngulik, gimana sih cara mereka membuat karya tersebut. Kalau perlu kita tiru karya tersebut, semirip-miripnya. Dengan harapan kita bisa tahu proses pembuatan karya tersebut dari awal-akhir. Austin kleon aja ngomong gini, “start copying what you love. copy copy copy copy. At the end of the copy you will find your self”. TAPI, disini kadang banyak hal yang 'kurang benar’ sering terjadi.
Gapopo kok meniru karya orang lain 100% mirip. Tapi, itu hanya sebatas latihan untuk dirimu sendiri. Gak perlu di publish ke publik lewat medsos. Kalo butuh kritik dan saran, mungkin bisa tanya ke teman-teman sekitar, atau via grup. Bisa kan? Soalnya kalo kita meniru karya orang lain 100% dan kita publish ke publik, itu namanya plagiat, dan ada sanksi hukumnya soal itu. Apalagi kalo main upload karya orang lain tanpa dikasih credit ke si pembuat karya, wah itu udah lebih berat itungannya. Tapi mungkin perasaannya merasa terwakili dengan karya tersebut, jadinya langsung upload sana-sini. Dan karena saking terwakilinya sampe lupa ngasih credit. Positif thinking aja. Ehe.
Jadi, mari kita lebih bijak lagi kalo ingin membuat sebuah karya. Hargailah mereka yang sudah susah payah mencari ide untuk membuat sebuah karya. Jangan semena-mena main upload karya mereka disana-sini tanpa memberikan credit. Gak keren banget rek, beneran. Semacam mengejar eksistensi dengan cara yang bundu. Gak ada yang bisa dibanggakan.
Buat para kreator dan rekan-rekan sejawat yang mengalami plagiasi atas karya kalian, gak usah terlalu diambil pusing. Lalapo se capek-capek nanggepi mereka terus? Kalo mereka bisa dapet profit dari cara itu, ya alhmadulillah aja. Paling tidak kita bisa membantu mereka, kan. Kitanya sendiri yawes tetep fokus berkarya aja. Bikin karya lagi yang baru. Jangan lupa juga buat selalu rajin kasih edukasi tentang plagiasi dan semacamnya ke khalayak ramai. Soalnya tipe-tipe kayak gini tuh biasanya telinganya tawwebell banget, jadi susah kalo mbilangin. Lagian lohya, imajinasi dan motivasi orang yang berkarya dan yang hobi copas pasti jelas beda jauh. Gimanapun, mereka selalu ada membuntuti di belakang kita, tapi gak pernah bisa ada di depan kita.
Dimazfakhr, 19 Januari 2016











