Seperti Pagi-Pagi
Masih tentang telisik matahari yang menyilaukan pandangan. Ada yang hidup dalam kepala, selalu berteriak di depan gendang telinga, membangunkan aku yang masih jitu meragu.
Aku masih mengepalkan tangan, rapat memeluk gelas erat-erat. Isinya hanya setambun kopi gunting yang Ibu beli di ranah pertokoan di Kota. Aku hanyut ditemani bunyi gertakan kompor Ibu yang menghangatkan sayur sesore di Dapur, fikiran yang melambung dengan setungkup dan setelungkup beban manusia usia duapuluhan.
Melamun panjang dengan gawai di meja dan layar monitor menyorot mata. Ahh dan lagi, ada yang berisik, ada yang gaduh, ada yang ramai dalam semesta dikepala, ada degup dan gugup. Dan Itu adalah Kau.
Kau, manusia termenyebalkan karena selalu membuat sistem syarafku kewalahan untuk mengatur kadar dopamine. Kebahagian tidak bisa didefinisikan, hanya orang bodoh yang bisa menjabarkannya dan yaa mungkin aku orang bodoh itu, selalu merasa menjadi manusia paling bahagia karena ada kau yang berpijak di Bumi.
Kau tidak memilki apa-apa, namun padamu selalu kutemui tempat berbagi dan pulang. Tempat mengadu dan menangis. Tempat berkeluh dan mengutuk. Manusia yang tidak pernah berhenti mendengar dan menopang.
Suatu waktu kau bertanya, Mengapa kau ingin berjalan sejauh ini? karena kau orangnya. Yaa, aku mencintaimu tanpa tanda tanya, tanpa apa? dan mengapa?.
Seperti pagi-pagi, selalu menyiapkan rencana baik oleh sang Maha Perencana, aku ingin melantangkan Kau dalam do’a, embus, dan kedip. Agar sang Maha pemilik Bumi mengamini peran Kau menorehkan cerita panjang denganku.
Kabut dan Rindu, menimbun rasa mencipta bahagia, mengepalkan dan mengeratkan harap dan ingin yang sama, melewati rintik pertama November dan kemarau Maret dengan angin mendesir pada rambutmu lalu mematahkan dan menggaduhkan jantungku.
Aku selalu tidak ingin menjadi alasan seseorang untuk menyantunkan rasa sesal dalam hidupnya. Semoga kau tak menimbun rasa kesal dan sesal menghadapi sifat bebalku untuk kurun waktu yang lebih lama lagi.
Satu setengah jam, gelasku sudah menyiratkan kehausan meminta isi meredakan kejanggalan. Ibu sudah memakai Rukuh dengan Sejadah Ijo Lumut kesukaannya. Kabut sudah menyibak dipekarangan, matahari yang masih malu-malu dibalik awan kelabu, dan hariku yang masih merengek karena setumpuk pekerjaan yang tidak pernah usai dan selesai dengan degup yang bertuan pada Kau, ditemani lagu The Adams ku akhiri cerita tentang Kau kali ini.
Baik-baik dibelah bumi manapun kau berpijak.
-Garut, 18/12/2020. Alda Mei;Kawan Tumbuhmu-











